OG Simpanan Tuan Muda

OG Simpanan Tuan Muda
Bonus Raib


__ADS_3

Smith kembali memakai sarung tangan hitam nya, tangan nya sudah gatal ingin memulai penyiksaan pada pria brengsekk di depan nya.


"Dengan apa sebaiknya aku memulai?" Smith mengetuk-ngetukan jari nya di dagu.


"Mungkin silet saja, atau kater? Kau mau yang mana dulu Gerald?" Tak menjawab, pria itu malah membuang muka nya ke samping.


Smith tersenyum menyeringai, dia berjalan mendekati Gerald yang duduk terikat di kursi dengan langkah perlahan nya.


Smith menggenggam silet di tangan nya, dia menggoreskan nya dengan penuh penghayatan ke lengan pria itu, hingga darah nya mengalir deras dari luka yang dia sayat.


"Sakitt sialan.." Pekik Gerald.


"Aku sih bodo amat, memang ini yang aku inginkan. Berani berurusan dengan ku, berarti kau siap mati."


"Kenapa harus mati? Apa tak ada hukuman lain, atau ampun untuk ku? Setidak nya kita pernah berteman dulu, Smith." Ucap Gerald.


"Kau takut? Tentu nya kau pasti tau apa konsekuensi nya bermain kotor dengan ku Gerald, kau dengan jelas tau siapa aku dan siapa Amelia."


"Cihhh, hanya karena gadis itu kau seakan melupakan segalanya Smith."


"Jangan lupa, kau bahkan berusaha menggoda nya Gerald." Cetus Smith datar.


"Smith, aku mohon beri aku satu kesempatan lagi. Aku berjanji takkan mengusik kehidupan mu lagi, aku akan pergi jauh."


"Tempat yang pantas untuk mu hanya di neraka, pria seperti mu bahkan tak pantas untuk hidup, penjahat kelaminn, kau hanya membuat dunia ini sempit tapi tak berguna."


"Roy..." Smith memanggil asisten kepercayaan nya itu, dan dengan sekejap mata pria itu datang dengan sebuah kotak berwarna hitam.


"A-apa itu?"


"Tentu saja alat untuk membunuh mu, Gerald. Aku sudah berjanji akan menghukum siapa pun yang sudah berani mengusik hidup ku atau gadis ku, akan mati dengan cara yang paling menyakitkan." Tegas Smith, tatapan mata nya tajam, bisa di pastikan pria itu sangat serius dengan kata-kata nya.

__ADS_1


Mendengar kata-kata yang terdengar menakutkan keluar dari mulut Smith, Gerald merasa takut setengah mati, bahkan tubuh nya bergetar dengan keringat yang membanjiri kening nya.


"Hanya mendengar kata-kata ku saja kau sudah ketakutan ya? Cemen sekali.."


Smith kembali menggoreskan silet itu di lengan kanan Gerald, pria itu memekik tapi Smith tak menghiraukan nya dan tetap fokus dengan kegiatan nya.


"Berisik sekali. Roy..." Roy menyumpal mulut Gerald dengan celana dalamm pria itu.


"Hukuman yang paling pantas untuk mu adalah di sunat.." Gerald menggelengkan kepala nya, dengan suara-suara samar yang keluar dari mulut nya.


Smith belum puas, dia kembali mengambil pisau lain dan kembali melakukan kegiatan nya.


Pria itu tak sadarkan diri dengan tubuh yang di penuhi luka sayatan, Smith sangat menakutkan jika marah. Itu lah sifat asli nya, sangat bertolak belakang jika di depan orang yang dia sayangi.


"Baru begitu sudah tak sadarkan diri, lemah.."


"Barry, jaga pria ini dengan ketat jangan biarkan sedikit pun celah untuk dia melarikan diri apalagi mengacaukan pernikahan ku besok."


"Baik tuan muda.."


Roy mengemudikan mobil nya ke rumah besar, karena perintah dari tuan muda nya, besok pagi-pagi buta dia sudah harus stand by di mansion besar itu untuk mengantar sang calon mempelai pengantin ke gedung pernikahan yang sudah di siapkan.


"Jam 4 pagi harus sudah disini, jangan lupa bawa pacar mu juga."


"Kenapa harus sama Rena, Tuan?" Tanya Roy polos, dia tak tahu menahu soal Rena yang di tunjuk menjadi bridesmaid di hari istimewa Amelia.


"Kau tak di beri tau oleh kekasih mu itu Roy? Dia di tunjuk menjadi bridesmaid besok.."


"Benarkah? Maafkan saya tuan, tapi saya benar-benar tidak tau. Baik, saya akan membawa Rena besok pagi."


"Roy.."

__ADS_1


"Iya tuan.." Jawab Roy, pria itu melirik sedikit ke arah tuan muda nya, tumben-tumbenan pria itu mau duduk di depan.


"Apa aku bisa tidur malam ini? Aku harus menghafal janji suci untuk besok kan ya?" Mendengar pertanyaan yang di lontarkan tuan muda nya, membuat Roy menganga.


"Apa tuan gugup?"


"Tidak, tentu saja tidak. Hanya aku belum hafal janji suci nya saja." Jawab Smith, tetap berusaha se cool mungkin, padahal dalam hati dia membenarkan pertanyaan Roy, dia gugup sekali.


"Santai saja tuan, besok pagi kan bisa di hafalin sambil nunggu pengantin wanita nya di siap." Usul Roy.


"Benar juga ya, tapi nanti malam aku juga di pingit. Jangan kan mau masuk lubang, tidur bareng aja gak boleh, padahal tidur sendiri itu dingin kan Roy?"


"Sabar tuan, besok malam kan bisa tidur berdua lagi. Mau bercocok tanam lagi kan bisa, cuma ya jangan di hajar semalaman juga, kan nona Amel baru sembuh." Ucap Roy.


"Aku tau, jangan menasehati aku. Memang nya kau siapa? Berani sekali." Ketus Smith, padahal dia tak suka Roy memasukan nama gadis nya di dalam pembicaraan, ya seposesif itu Smith pada Amelia.


"Maaf jika saya lancang tuan.."


"Kau ini semakin lama, semakin ngelunjak ya. Gak ada bonus bulan ini, aku tak peduli walau kau sudah bekerja keras."


"Baik tuan.." Jawab Roy lesu, tadinya dia ingin membelikan Rena sepatu baru jika dia mendapat bonus bulan ini, tapi seperti nya itu semua takkan terlaksana, apalagi tanggal gajihan nya masih dua minggu lagi.


Setelah perbincangan menakutkan tentang bonus bulan ini yang raib, hanya ada keheningan. Hingga mobil itu berhenti tepat di depan mansion, Smith keluar dengan gaya datar nya.


"Selamat malam Roy, ingat pagi-pagi harus sudah disini. Jangan malas-malasan atau kau ku pecat." Ancam Smith.


"Baik tuan muda.." Jawab Roy cepat, mana bisa dia di pecat dari pekerjaan terbaik yang di dambakan setiap orang? Ohh no! dia tak bisa kehilangan pekerjaan sultan nya.


....


🌻🌻🌻

__ADS_1


besok part amel sama smith wedding ya, tetap semangat baca nya, jangan lupa bunga sama kopi dan vote nya biar author semangat buat revisi bab yang di tolak😊🙏


__ADS_2