
Roy dengan sigap membukakan pintu untuk Tuan dan Nona muda nya, setelah sepasang kekasih itu masuk, baru lah dia melajukan nya dengan kecepatan sedang, ikut meramaikan suasana jalanan kota yang padat oleh kendaraan.
"Roy, bagaimana kalau weekend kita jalan-jalan ke mall, semacam double date.." Ucap Smith memecah keheningan.
"Weekend ini tuan?"
"Terus weekend mana lagi Roy, aku kan ngajak nya sekarang. Pacar mu juga butuh liburan kali, jangan cuma keluar rumah pas kerja doang, selebihnya hanya melayani hasrat mu di ranjang." Amelia yang mendengar ucapan yang terlontar begitu saja dari mulut lemes kekasih nya refleks menepuk lengan nya.
"Omongan nya saring dikit dong Oppa.." Peringat Amel.
"Halah, dia tuh udah kecanduan lubang berlendir By. Jadi yang ada di otak nya hanya ranjang aja, hingga lupa memberi hiburan buat sarang pisang nya." Jawab Smith malah semakin melantur, membuat Roy memerah di depan sana.
"Jadi, bagaimana Roy?"
"Saya terserah Rena nya saja, Tuan. Kalau dia mau, saya oke oke saja." Jawab Roy.
"Rena terserah sama kamu katanya, tadi aku tanya tapi dia malu buat nanya sama Pak Roy nya langsung, jadi nyuruh aku buat tanya."
"Iya, kamu malah nyuruh aku yang ngomong By." Cetus Smith, membuat Amelia cengengesan dan langsung memeluk lengan pria nya, bermanja-manja di bahu kekasih nya.
"Ohh baiklah kalau begitu, saya ikut saja tuan.."
"Baguslah, kita bisa menonton drama korea terbaru. Pasti seru.." Ucap Amelia dengan semangat.
"Seru apanya? Seru buat kaum lubang, kita yang kaum pedang cuma jadi pajangan."
"Apaan sih pake kaum-kaum segala, kamu pasti suka Oppa. Ini bukan tentang uwwu-uwwuan kok."
"Terus?"
"Nanti aja lihat sendiri, ada horor-horor nya gitu.." Jelas Amelia.
__ADS_1
Tak terasa, karena asyik terlibat pembicaraan kemana-mana, mobil yang Roy kendarai sudah sampai di depan gedung apartemen di kawasan elit, tempat Tuan dan Nona muda nya tinggal selama ini.
"Silahkan Tuan dan Nona muda.." Roy membukakan pintu seperti biasa.
Smith keluar dengan wajah datar nya di ikuti Amelia dengan wajah yang tampak lebih ramah.
"Ayo baby, selamat sore Roy." Smith menarik tangan gadis nya agar mengikuti nya, tapi Amelia memberi sedikit perlawanan, dia ingin menyampaikan sesuatu yang penting menurut nya.
"Pak Roy, jangan lupa beliin Rena concealer dong buat nutupin tanda di leher nya, kasian kalau dia jadi bahan tatapan benci orang yang sirik." Ucap Amelia pada Roy.
"Concealer tuh apa? Terus hubungan nya sama tanda merah apa?" Tanya Roy dengan polos nya, dia lelaki jadi mana tau barang-barang yang berhubungan dengan wanita, ya kecuali braa atau segitiga mungkin, karena dia doyan isi nya.
"Lupa ya? Itu loh yang waktu itu Pak Roy beliin, buat menyamarkan kan bisa. Kasian aja kalau dia kerja dapet tatapan tak bersahabat dari yang lain, ngerti kan maksud aku?"
"Ohh yang bentukan nya kayak lipstick gitu, terus sama spons yang kayak pup itu kan?" Tanya Roy, mulai ingat benda bernama concealer dan beauty blender.
"Enak aja kayak pup, nama nya beauty blender. Jangan lupa beliin yang full coverage, merk yang sama punya ku ya. Aku permisi, Oppa ku keburu ngambek." Pamit Amelia, lalu gadis itu pergi dengan menggandeng tangan Smith.
"Huh, iya juga yah.. Rena pasti malu kerja dengan leher yang banyak stempel, kenapa aku bisa sebodoh ini."
....
Di lain sisi, di sebuah unit apartemen. Sepasang sejoli juga tengah bersama, ya Marissa dan Gerald.
Pria itu sedang di obati luka memar nya oleh Marissa, sedangkan pria itu sesekali meringis menahan perih di kedua sisi wajah nya yang babak belur.
"Kamu ngapain sih, pake acara pergi ke kantor nya Smith? Kamu tuh datang dengan sendirinya buat nyerahin nyawa mu Gerald, kayak bunuh diri." Marissa menggerutu sedari tadi karena menurut nya tindakan Gerald sangat ceroboh dan membahayakan.
Dia sendiri tau, bagaimana Smith jika marah. Dia bahkan tak segan-segan membunuh orang yang berani mengusik nya, ya termasuk Gerald dan dirinya sendiri.
"Tadinya pengen lihat aja dia frustasi kehilangan kamu yang, tapi dia malah punya yang lebih bagus, sialan."
__ADS_1
"Makanya update dong, cassanova kere."
"Hehe, kartu ku semua nya di blok sama papa yang.."
"Nah makanya itu aku bilang kamu kere, kenapa gak aku tendang aja kamu dari apartemen ku, merugikan aja." Ketus Marissa, Gerald memang jatuh bangkrut karena papa nya membekukan semua kartu dan mencabut semua fasilitas nya.
"Terus kenapa sih yang?"
"Dia kan udah ngelamar tuh si pelakor, nama nya Amelia. Dia Office girl kampungan yang berhasil ngerebut Smith dari tangan ku." Jawab Marissa datar.
"Jadi udah resmi yang? Gak ada harapan lagi dong buat kamu dapetin Smith lagi, terus nasib kita gimana ini?" Tanya Gerald panik.
"Kita? Kamu aja kali, aku mah tinggal nyari pria kaya baru buat aku jadiin tambang emas." Jawab Marissa santai.
"Misi kita gimana?"
"Terserah, aku udah gak peduli lagi. Aku udah angkat tangan, kalau kamu mau lanjutin ya silahkan. Tapi aku masih pengen hidup tenang, meski jadi miskin." Jawab Marissa lagi, dia benar-benar menyerah tentang Smith sepertinya.
"Kok segampang itu kamu gagalin rencana kita sih? Bagaimana dengan banyak rencana jahat yang sudah kita susun sedemikian rupa,"
"Cari partner lain aja, aku udah gak berminat Gerald. Sejauh apapun aku mengejar Smith, jika pria itu terus menjauh, sampai ujung dunia pun dia takkan pernah tergapai." Jawab Marissa lirih.
"Gak bisa seenaknya gitu dong Risa, kita udah sepakat dari awal buat hancurin Smith dengan cara apapun."
"Aku capek Gerald, aku lelah. Kamu tau apa yang sudah aku hilangkan selama menjadi egois? Karir ku hancur, aku terbelit hutang ratusan juta saat ini, dan lebih parah nya kepercayaan orang tua ku juga hilang Gerald, mereka tak lagi memperdulikan aku. Kamu puas kan? Aku hancur, sehancur hancur nya. Jadi aku tak mau mengikuti cara licik mu lagi."
"Jika kau masih punya dendam pada Smith, balaskan sendiri, jangan menyeret ku dalam masalah mu." Ucap Marissa, wanita itu pergi dengan menenteng kotak p3k di tangan nya. Dia masuk ke dalam kamar dan mengunci nya dari dalam, meninggalkan Gerald yang masih terpaku di tempat nya.
"Benar kah yang aku dengar ini? Marissa sudah menyerah, lalu dendam ku bagaimana? Aku harus cari partner baru, Marissa sudah tak bisa di andalkan." Gumam Gerald, pria itu lalu merebahkan tubuh nya di sofa. Tadinya dia ingin bermain kuda-kudaan dengan Marissa, tapi hasrat yang tadi nya menggebu hilang sudah saat mendengar penolakan wanita itu saat dia berusaha menyentuh nya.
...
__ADS_1
🌻🌻🌻
Cihh, siapa yang mau sama pria kere ya kan? Meskipun ganteng kalau gak berduit terus otak mesoom ya percuma aja🙄🙄