
Roy masih kalang kabut mencari kekasih hati nya, entah kenapa hati nya merasa tak tenang saat melihat wajah murung gadis nya.
"Yang, kamu kemana sih.." Gumam Roy, dia mencoba menghubungi ponsel gadis itu, tapi tak di angkat, malah di reject.
"Sayang, ayolah.." Roy frustasi, dia ingin sekali membanting ponsel nya, tapi mengingat dirinya masih dalam acara pesta pernikahan tuan muda nya jadi dia mengurungkan nya dan memilih menyimpan kembali ponsel nya ke dalam saku. Tak mungkin dia membuat kekacauan di pesta bos nya sendiri, mau di taruh di mana muka nya nanti? Bisa-bisa dia di panggang hidup-hidup jika itu sampai terjadi.
"Barry.." Panggil Roy saat melihat anak buah kepercayaan Smith lewat di depan nya. Pria itu menoleh dan dengan isyarat tangan nya, Roy menyuruh pria itu mendekat.
"Ada apa tuan?" Tanya Barry.
"Aku kehilangan gadis ku, bisa kah kau bantu aku menemukan nya? Aku khawatir, apalagi tadi dia dalam keadaan kesal." Jelas Roy dengan raut khawatir nya.
"Baik tuan, saya akan mencari nya bersama anggota yang lain, jika sudah ketemu nanti saya hubungi. Saya permisi.." Barry pergi dari hadapan Roy setelah pria itu mengiyakan perkataan Barry.
"Semoga kau menemukan nya Barry, secepatnya.." Gumam Roy setelah melihat Barry dan anggota lain pergi menjauh dari ruangan utama pesta.
...
Rena masih duduk di luar gedung, dia tak bersemangat untuk kembali masuk ke dalam aula pesta. Entahlah, mood nya benar-benar hancur setelah pria nya tak mampu menjawab pertanyaan se simpel dari kedua pengantin itu.
"Aku pulang saja, nanti aku kabari Amel setelah sampai di apartemen." Gumam Rena, gadis itu bangkit dari duduk nya, dia berjalan dengan tas yang dia selempangkan di bahu nya.
Rena menyetop taksi dan segera masuk ke dalam nya, pokok nya dia ingin menghindari dulu pria itu.
Taksi itu melaju membelah jalanan padat khas ibukota dengan Rena di dalam nya, gadis itu terlihat melamun dengan tatapan kosong.
"Nona, tujuan nya kemana?"
"Apartemen xxx di jalan Mawar merah." Jawab Rena singkat, setelah mengatakan tujuan nya, gadis itu kembali larut dalam lamunan nya.
"Sudah sampai nona.." Tak terasa, taksi itu sudah berhenti tepat di halaman gedung apartemen mewah milik Roy.
"Maaf pak, saya melamun tadi. Berapa?"
__ADS_1
"57 ribu Non.." Jawab supir taksi, Rena mengeluarkan selembar uang berwarna merah dan memberikan nya pada supir taksi itu.
"Kembalian nya.."
"Ambil saja, buat anak bapak. Saya permisi, terimakasih." Jawab Rena, dia pergi tanpa mendengarkan jawaban sang supir taksi yang baru saja mengantar nya.
Di lokasi pernikahan, Roy semakin panik setelah membaca pesan dari Barry.
"Ada yang melihat Nona naik taksi dan pergi, tuan. Tapi tak ada satu pun yang tau kemana Nona Rena pergi." isi pesan dari Barry membuat Roy semakin kalang kabut, pikiran nya kacau sekacau kacau nya.
"Kira-kira kemana gadis nakal itu pergi?"
"Apartemen? Apa dia pulang?" Roy menggumam.
Dia berjalan tergesa-gesa ke arah pelaminan untuk berpamitan pada Tuan nya untuk pulang lebih dulu, dan pria itu mengizinkan.
Roy berlari ke parkiran dan menaiki mobil nya, melajukan nya dengan kecepatan tinggi, tujuan nya hanya satu, ingin menemukan Rena.
...
"Nyaman sekali, aku lelah ingin tidur. Sebaiknya aku mandi dulu.." Gumam Rena, gadis itu masuk ke dalam kamar mandi dan tak mengunci nya, dia fikir siapa yang akan masuk? Hanya ada dia sendiri di unit ini.
Rena masuk ke dalam bath up, merendam tubuh lelah nya dengan air hangat dan busa sabun yang menguarkan wangi semerbak.
Roy berlari masuk ke dalam gedung Apartemen setelah sampai, tanpa mengulur waktu dia segera membuka unit nya dan masuk dengan nafas yang menderu karena kelelahan berlari.
Dia kembali berjalan cepat ke kamar di lantai atas, dia membuka nya dan bertepatan dengan Rena yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk selutut nya.
Aroma segar langsung memenuhi indra penciuman Roy, pria itu melongo melihat penampilan gadis nya yang terlihat begitu menggoda.
"Ngapain pulang? Kan acara belom selesai."
"Aku nyariin kamu yang, kenapa gak bilang kalau mau pulang duluan yang, kan aku bisa anter dulu." Tanya Roy beruntun.
__ADS_1
"Kepala aku pusing, gak tahan." Jawab Rena, gadis itu pergi ke ruang ganti dengan santai, tanpa menghiraukan Roy yang sudah panas dingin.
Karena kesibukan nya, dia sudah lama tak menikmati kehangatan tubuh gadis nya.
Roy berjalan menyusul gadis nya ke ruang ganti, dia memeluk Rena dari belakang membuat Rena terkejut dan melepaskan baju yang sedang dia pegang.
"Ada apa sih? Udah keluar sana, aku mau pake baju."
"Yang, pengen.." Rengek Roy dengan wajah memelas nya.
"Gak ada jatah-jatahan sekarang, aku bukan pelampiasan kamu, lagi pun kamu gak ada niatan buat nikahin aku kan?" Tanya Rena ketus, gadis itu melepaskan pelukan lelaki itu dengan mudah dan pergi keluar dari ruang ganti dengan bathrobe yang menutupi tubuh polos nya.
"Kok gitu sih yang, aku bukan gak ada niatan buat nikahin kamu. Aku cuma perlu waktu, itu aja."
"Terus kenapa kamu diam aja pas Tuan sama Amel nanya kapan mau nyusul hmm? Kamu diam kan? Lalu artinya hubungan kita selama ini tuh apa? Tiba-tiba saja aku merasa kalau aku hanya menjadi pelampiasan hasratt mu saja, tak lebih." Rena mengeluarkan semua unek-unek nya dengan amarah yang menggebu.
Roy terdiam, lagi-lagi dia tak bisa menjawab pertanyaan dari gadis nya.
"Tegas dikit napa jadi laki, kalau mau serius kita lanjut, kalau cuma buat main-main, maaf tapi aku bukan wahana permainan di ancol yang bisa kamu mainkan sepuas nya dan setelah itu di tinggalkan."
Roy menatap manik mata gadis nya, di dalam nya tersirat kesedihan yang mendalam. Jelas saja, dia merasa di gantungkan status nya. Mereka pacaran, tapi pria itu tak kunjung juga memberi kepastian untuk hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.
"Pergilah Roy, lanjutkan tugas mu. aku bisa sendiri disini, kalau pun kau sudah keberatan aku tinggal disini, aku bisa pergi ke kontrakan ku yang dulu."
"Tidak sayang, jangan kembali ke kontrakan kumuh itu.." Jawab Roy cepat, dia takkan rela gadis nya hidup di tempat kecil nan kumuh itu.
"Untuk apa aku disini? Lagi pun aku orang miskin yang terbiasa dengan kehidupan seadanya, lingkungan kumuh sudah menjadi bagian hidup ku dari kecil. Aku tak mau melupakan asal-usul ku hanya karena di angkat menjadi kekasih seorang pria kaya, tapi tak punya keberanian." Ucap Rena pedas, dia pergi keluar kamar dan membanting pintu.
....
🌻🌻🌻
Marahan aja terus, makanya tegas bang jadi laki😁
__ADS_1
Masih ada yang nunggu gak? Kalau nggak dah lah aku gak up lagi🙄🙄