OG Simpanan Tuan Muda

OG Simpanan Tuan Muda
Drama Keripik


__ADS_3

Sesampai nya di rumah, Amelia dan ibu nya segera mengupasi kulit singkong nya, mencuci nya dengan bersih, karena ini keripik istimewa untuk calon menantu.


"Mel, buat bumbu nya di ulek ya. Kasih garem sama micin, apa pacar mu itu tidak alergi micin?" Tanya Ibu Rara, setau nya orang kaya itu sangat menjaga makanan nya.


"Amel tanya dulu.." Jawab Amel, dia pergi ke kamar menghampiri pria itu yang sedang mengganti pakaian.


"Tuan, Mamak tanya apa tuan alergi micin?" Smith membalikan badan nya dan menatap dalam gadis nya.


"Tidak, tapi jangan banyak-banyak. Aku suka pusing kalo makan banyak micin." Jawab Smith, dia sedang mengancingkan kemeja nya.


Amelia mendekat dan mengambil alih mengancingkan kancing kemeja itu dengan tangan mungil nya.


Smith tersenyum senang dan mengelus puncak kepala gadis nya dengan lembut.


"Sudah, tuan mau makan sekarang? Biar saya siapkan.."


"Aku mau sayur yang kemarin, enak."


"Tumis sawi pake teri ya tuan?" Tebak Amelia. Smith mengangguk antusias.


"Yasudah ayo, Amel masakan." Amelia menarik tangan Smith keluar dari kamar dan membawa nya ke dapur.


"Benda apa ini?" Tunjuk nya pada batu bulat dengan cekungan di tengah nya.


"Cobek, buat ngulek bumbu." Jawab Amelia, dia sibuk membersihkan sawi dan mengiris-iris bawang merah.


"Aku baru melihat nya pertama kali yang, apa ini benda antik?"


"Antik apanya, di pasar banyak. Sebelum ada blender, menghaluskan bumbu tuh pakai ini tuan." Jelas Amelia.


"Ohh, aku gak pernah ke pasar yang makanya gak tau." Ucap nya sambil nyengir.


Amelia menggelengkan kepala nya, maklum lah kan Smith orang kaya. Mana pernah dia ke pasar, paling ke supermarket.


"Pake cabe gak tuan?"


"Persis kayak kemarin yang," Jawab Smith, dia sibuk dengan meneliti cobek yang bulat.


"Mel, lagi apa?" Suara mamak terdengar dari dapur belakang, tempat dapur tungku dengan bahan bakar kayu.


"Lagi masak tumis sawi buat makan siang, kenapa mak?"


"Bumbu nya belum di ulek? Selesaikan cepat, terus kita motong-motong singkong nya." Ucap Mamak.


"Iya mak, tunggu sebentar lagi mateng kok." Jawab Amelia, tangan nya sibuk mengaduk masakan nya di wajan.


...


"Silahkan di makan tuan, Amel mau motongin singkong nya dulu."


"Ngikut.." Rengek nya manja. Amelia memutar mata nya jengah, Smith sudah seperti ekor yang kemana-mana selalu ikut.


Amelia tak menjawab, dia melengos pergi. Tapi bukan Smith nama nya kalau dia mau kalah begitu saja, dengan membawa piring berisi makan siang dia mengikuti Amelia ke dapur tungku.


"Makan nya di sana Nak Smith, disini berdebu."

__ADS_1


"Tau tuh, ngikut mulu. Aku udah kayak buronan yang di kejar polisi," Ketus Amelia, tapi Smith hanya tersenyum manis.


Amelia mulai memotong singkong dengan pisau kecil yang terlihat mengkilap, menandakan kalau pisau itu sangat tajam.


"Hati-hati kena tangan sayang.." Peringat Smith.


"Oke." Jawab Amelia singkat, dia sudah terbiasa melakukan ini. Dulu, dia sering membantu mama nya membuat keripik untuk jualan.


"Sayangg..." Panggil Smith, Amelia menoleh dan..


cupp...


Smith memberi nya flying kiss pada Amelia di depan ibu nya, apa pria itu tak malu atau urat malu nya lagi putus?


Ibu Rara tersenyum simpul melihat interaksi kedua pasangan yang menunjukan keromantisan nya.


Amelia memberi Smith senyuman manis nya sebagai balasan, tak di pungkiri kelakuan absurd pria itu membuat hati nya berbunga.


Tapi, entah karena kurang fokus Amelia tak sengaja melukai tangan nya.


"Awww.." Pekik Amelia, gadis itu mengibas-ibaskan tangan nya. Darah segar mengalir dari jari nya yang terluka, Smith yang melihat itu segera mendekati gadis nya.


Smith mengambil tangan gadis nya dan memasukan jari nya yang terluka ke dalam mulut nya.


"Kan aku sudah bilang, hati-hati kena tangan sayang. Kamu ini susah banget di bilangin." Ucap Smith tegas, dia membungkus luka Amelia dengan kemeja nya.


"Ya maaf kan gak sengaja, jangan marah. Kamu terlihat menakutkan kalau marah." Smith menatap nya tajam, membuat Amelia menundukan pandangan nya. Kapan lagi dia bisa bilang begini, kalau di apartemen bisa di pastikan nasib nya akan berakhir di ranjang. Tapi karena disini ada mamak, jadi aman.


"Kamu semakin berani ya, tunggu hukuman mu setelah kita pulang. Aku pastikan kamu takkan bisa berjalan." Bisik Smith membuat Amelia merinding.


"Ulek bumbu sana, jangan motong ini lagi. Pacar nya marah nanti,"


Amelia mengupas bawang putih dan merah, kencur dan beberapa bumbu lain. Smith diam memperhatikan, terlihat mudah saat gadis itu mengulek nya.


"Mau nyobain.."


Amelia memberikan nya, tapi karena tak hati-hati dan terlalu bersemangat, akhirnya bawang-bawang itu kabur dari cobek.


Amelia tak tahan, dia tertawa saat melihat ekspresi Smith yang menurut nya sangat lucu.


"Apa yang kau tertawakan hemm?" Amelia menghentikan tawa nya.


"E-enggak kok, kalau mau ngulek bumbu pelan-pelan tuan jangan kayak mau ngajak berantem sama bumbu nya."


"Aku kira kalau pake tenaga jadi cepet halus nya." Jawab Smith.


"Orang kaya mana bisa sih ngulek bumbu, sini biar aku aja. Terusin aja makan nya."


Smith menekuk wajah nya, dia kesal karena tak bisa membantu gadis nya. Bukan nya membantu, malah di buat berantakan. Amelia memunguti bumbu yang tadi beterbangan dan mulai menghaluskan nya menjadi satu.


"Daripada nganggur cuma lihatin aku, lebih baik tuan bantu mama di dapur gih motongin singkong."


"Baik kapten." Jawab Smith dan segera pergi ke dapur. Kapan lagi bisa menyuruh Pak Direktur yang menakutkan ya kan? Ini lah kesempatan yang sangat bagus.


..

__ADS_1


"Aku bantuin ya mak?" Tawar Smith, dia duduk di kursi kecil berhadapan dengan ibu nya Amelia.


"Boleh, potong nya tipis-tipis ya jangan tebel. Nanti keras pas udah di goreng."


"Baik mak." Smith mengambil pisau dan mulai mengikuti Ibu Rara mengiris tipis singkong nya. Sesekali Ibu Rara mengomel karena potongan nya tak jelas bentuk nya, dan terlalu tebal.


Tapi Smith hanya diam saja, tak berani melawan. Kalau dia melawan bisa-bisa hubungan nya dengan Amelia tak di restui.


...


Amelia mengulum senyum nya saat melihat tangan Smith yang sedari tadi diam-diam mencomot keripik yang habis di goreng dari wadah dan mengunyah nya dengan perlahan, mungkin agar tak terdengar suara kriuk nya.


"Mak, keripik nya berkurang tuh.." Cetus Amelia dengan senyum jahil nya.


Ibu Rara melirik pipi Smith yang menggembung, pasti berisi keripik curian dari wadah.


"Bagus ya di makanin terus, kata nya mau di bawa ke kota." Omel Ibu Rara.


"Enak mak, gurih." Jawab Smith sambil cengengesan.


"Udah jangan di makanin terus,"


"Iya mak.." Jawab Smith pelan, tapi saat Ibu Rara lengah dia kembali mengambil keripik dan kabur ke ruang depan.


"Astaga, pacar mu itu Amel.. Awal datang dia terlihat dingin dan kaku, tapi sekarang kok jadi begini?"


"Amel gak tau mak, di kota dia datar kok." Jawab Amelia.


"Kelihatan nya dia sayang banget sama kamu Mel, jangan di sia-sia kan ya. Nyari cowok yang baik dan mau nerima apa adanya di jaman sekarang itu susah."


"Iya mak." Amelia mesem-mesem saat mamak nya bilang Smith terlihat sangat menyayangi dirinya.


"Jangan senyam-senyum terus, mendingan bumbuin keripik ini."


"E-ehh iya mak.."


Amelia terus tersenyum sambil mengaduk keripik di wajan besar, apalagi mengingat sifat pria itu yang berubah 180 derajat.


"Kenapa senyum-senyum sayang nya aku ini?" Tegur Smith.


"Nggak kok, nih cobain. bumbu nya udah pas apa belum."


Smith mengambil keripik nya dan meniup nya pelan, dia memakan nya dengan cepat mengunyah nya dengan penuh perasaan.


"Enak sayang, gak ada yang kurang. Yang kurang cuma aku,"


"Kurang apa memang nya tuan?" Tanya Amelia polos.


"Kurang kehangatan." Bisik Smith sensual.


"Jangan menggoda ku tuan." Amelia menepuk pelan lengan Smith karena kesal.


...


🌻🌻🌻

__ADS_1



Permisi abang tukang gombal mau lewat🤭🤭


__ADS_2