
Tak lama, Roy keluar dengan handuk sepinggang dan rambut yang di gulung handuk kecil. Dia benar-benar mencuci semua nya, agar Rena nyaman.
"Lho sayang, kamu dimana?" Teriak Roy, karena dia tak melihat Rena di kamar nya, padahal bungkusan sate nya baru di buka satu.
"Yang.." Roy terus berteriak memanggil Rena, tapi tak ada jawaban.
Sedangkan di dapur, Rena sedang membuat susu hamil nya. Biasanya Roy yang aka membuatkan nya, tapi kali ini dia ingin membuat nya sendiri.
"Apaan sih itu teriak-teriak? Aku kan gak mungkin kabur." Gerutu Rena, lalu melangkah pelan sambil menenteng secangkir susu berwarna coklat.
"Yang.." Roy keluar dari kamar dengan handuk nya, tapi dia berhenti saat melihat Rena sudah berdiri di ambang pintu.
"Apa?" Tanya Rena dengan sinis, lalu nyelonong masuk dan kembali duduk di sofa.
"Aku kira kamu pergi yang.."
"Sebelum nuduh yang enggak-enggak, lebih baik cari dulu ke seluruh ruangan. Jangan cuma teriak-teriak aja, berisik." Ketus Rena, dia kembali melahap sate.
"Iya maaf sayang, aku cuma panik karena kamu gak ada di kamar, itu aja."
"Terserah, ayo makan dulu."
"Pengen makan kamu aja." Ucap Roy manja, lalu menggelayut mesra di lengan sang istri.
"Aku perlu tenaga buat ngelayanin nafsuu kamu itu, pasti gak cuman satu ronde kan? Aku tau betul gimana kamu, kamu gak bakal berhenti sebelum puas."
"Hehe, iya dong apalagi sekarang, aku puasa nya lama."
"Jadi kapan mau nikahin aku? Keburu dedek nya gede." Tanya Rena.
"Aku sudah urus berkas nya sayang, hanya tinggal menemui orang tua mu."
"Besok napa?"
"Besok?" Tanya Roy, lalu dia terlihat seperti mengingat-ingat sesuatu.
"Aku paling bisa malem yang, soalnya Tuan Smith besok berangkat ke korea."
"Terserah kamu aja, tapi secepatnya ya." Ucap Rena, bukan apa-apa. Mumpung kandungan nya belum terlalu membuncit, jadi takkan terlihat kalau dia sudah hamil.
"Udah belum sih yang?" Tanya Roy, dia tak tahan hanya karena melihat leher putih Rena, sudah lama dia tak memberi stempel kepemilikan disana.
Berkali-kali dia kesusahan meneguk ludah nya, hanya karena melihat leher Rena.
"Kenapa sih? Mau, tuh masih banyak." Rena kira, Roy menginginkan sate yang sedang dia makan.
__ADS_1
"Pengen ini, boleh gak?" Tunjuk Roy pada leher Rena, jujur saja dia tak tahan.
"Mau di apain?"
"Di hisap sampe merah, boleh ya?"
"Terserah aja, tapi jangan ganggu aku lagi makan, masih laper." Roy semringah mendengar nya, dia segera menyurukan kepala nya kedalam ceruk leher Rena, menghirup aroma nya dalam-dalam.
"Seger banget.." Gumam Roy, dia mulai mengecupi leher Rena, hingga membuat Rena bergerak tak karuan karena sensasi geli.
"Geli.." Roy tak menyahut mendengar ucapan Rena, dia fokus dengan kegiatan nya, mengendus aroma yang menguar dari leher Rena, aroma segar yang memabukan.
"Ehmm..." Rena melenguh pelan saat mulut pria itu mulai menghisap leher nya dengan kuat.
Entah sejak kapan juga posisi nya jadi berbaring di sofa, dengan Roy di atas nya sibuk bermain di leher nya.
Sejujurnya, dia juga merindukan sentuhan Roy. Tapi dia menginginkan sebuah kejelasan yang sampai saat ini belum juga pria itu berikan.
Roy semakin nakal, tangan nya mulai meraba-raba dua buah kenyal Rena dari balik daster nya.
Rena tak merubah kebiasaan nya yang doyan pake daster, karena kata Roy dia cantik jika memakai daster, apalagi yang tipis atau transparan.
"Yang.." Panggil Roy, membuat Rena yang sedang memejamkan mata nya menikmati sentuhan Roy, sontak membuka mata nya lebar-lebar.
"Iya, kenapa?"
"Pindah ke kasur napa?"
"Boleh sayang, kamu duluan ya. Aku tutup sate nya dulu, kan bisa di angetin buat besok."
"Gak usah, nanti malam aku pasti lapar lagi. Nanti aku makan lagi, tutup aja dulu." Rena membuka daster nya, juga dengan dalaman nya sekalian.
Setelah menutup makanan nya, Roy menyusul Rena yang sudah terbaring dengan tubuh polos nya.
Lagi-lagi, pria itu kesusahan menelan ludah nya jika sudah di suguhi pemandangan yang membuat pisang tanduk nya berdiri tegak.
"Cepetan dong, kok malah bengong? Jadi gak nih?" Tanya Rena.
"Jadi dong sayang, ya kali aja.." Roy merangkak naik ke atas ranjang dan langsung menindih Rena.
Dia langsung menyerang bibir mungil kemerahan kekasih nya, melumaat dan mengulumm atas bawah bergantian.
Rena terhanyut dalam permainan pria di atas nya, dia membalas permainan bibir Roy.
Kedua nya sudah terbakar hasratt dan sudah tak tahan dengan sensasi panas.
__ADS_1
Roy segera menyatukan diri, dia begitu merindukan lubang kesayangan nya yang begitu sempit.
Roy memekik kenikmatan saat miliknya terbenam sempurna ke dalam lubang hangat nan basah milik sang kekasih.
"Yang.."
"Hemm.." Rena hanya berdehem sebagai jawaban, mata nya terpejam.
"Buka mata mu sayang, kenapa selalu merem." Roy mengusap wajah Rena.
Perlahan, Rena membuka kedua mata nya. Dia di buat merona karena wajah Roy begitu dekat dengan nya, pria itu terlihat begitu sexy saat bergerak naik turun di atas tubuh nya.
"Kenapa memerah sayang? Makanya, kalau lagi di pake tuh buka mata, jangan merem terus. Kan baru tau aku begitu menggairahkann saat bergerak di atas mu."
"Diamlah dan cepat.."
.....
Sudah hampir dua jam berlalu, tapi pria itu masih melanjutkan permainan nya. Entah kenapa pria itu begitu kuat dan tahan lama, apa mungkin karena sudah lama berpuasa.
"Sakit, sudah apa belum?" Tanya Rena, nafas nya tersengal.
"Sesak gak?" Roy malah balik bertanya. Rena menganggukan kepala nya,
"Ganti posisi.." Roy membalik tubuh Rena dan membuat nya menunggiing membelakangi nya.
"Awwshhhs, sakit jangan cepat-cepat." Ringis Rena, dia selalu kewalahan melayani hasratt Roy, selain tahan lama pisang nya juga terlalu besar dan keras menurut nya.
Jika di hajar dalam waktu lama, tetap saja rasa nya menyakitkan, belum lagi gerakan nya yang cepat membuat nafas nya tersengal.
"Sudah ya, sakit. Ingat, aku lagi hamil. Kata dokter gak boleh terlalu lama berhubungan, masih rentan." Ampuh, satu kata yang menggambarkan kemampuan kata yang baru saja di ucapkan Rena.
Pria itu langsung mencabut pisang nya yang masih tegang, urat-urat nya masih menonjol.
"Sudah sayang, aku selesaikan di kamar mandi."
"Iya, lagian kenapa lama keluar nya sih? Kamu pake obat ya?" Tanya Rena dengan tatapan menyelidik.
"Enggak yang, aku gak pernah pake begituan. Buat apa? Tanpa obat pun, milik ku tahan lama. Buktinya, kamu sampe kelelahan dan lemas gitu."
"Aku lemas, laper lagi mau makan. Sana kalau mau bersolo karir." Usir Rena, membuat Roy mencebik dan pergi ke kamar mandi sebelum rasa pusing menyerang kepala nya karena gagal muntah lahar panas.
....
๐ป๐ป๐ป
__ADS_1
Author bawa novel karya temen author, mampir juga yuk,๐๐ฅ