
Sedangkan di ruangan Roy, Rena tengah di landa kegugupan luar biasa. Sedari tadi Amelia terus memperhatikan nya.
"Kenapa terus menatap ku, Mel?"
"Kenapa tak kau tutupi tanda merah di leher mu itu, Rena?" Balik tanya Amelia, membuat Rena terkejut. Sudah pasti sahabat nya itu akan membahas tanda kemerahan yang Roy buat.
"A-aku lupa.."
"Harus nya kamu lebih bisa menghargai dirimu sendiri Ren, tak apa kalau pun kita menyerahkan hal berharga untuk seseorang. Tapi, setidak nya tutupi bekas nya sampai terlihat orang lain. Akan berfikir apa orang tentang dirimu dengan tanda di leher mu itu Ren?" Tanya Amelia lagi.
"Kita sama-sama perempuan yang masa depan nya sudah hancur di tangan pria asing, dan kau di tangan kekasih mu. Kita punya tujuan masing-masing, kita sama Ren. Hanya saja jangan teledor dan tutupi tanda itu,"
"Dengan apa Mel? Apa kamu juga tak pernah mendapat tanda merah ini dari Tuan Smith?" Tanya Rena.
Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Rena membuat Amelia menggelengkan kepala nya.
"Astaga Ren, kalau kamu percaya leher ku selalu penuh dengan tanda seperti itu. Belum hilang yang di buat kemarin, nanti malam sudah di buat lagi. Tapi aku bisa menyamarkan nya dengan make up." Jawab Amelia.
"Make up?"
"Ihh jadi cewek jangan tomboy-tomboy amat lah sampe gak tau benda bernama concealer." Ucap Amelia sambil mengeluarkan benda bundar dari tas nya.
"Kok kayak lipstik?" Gumam Rena.
"Apa make up yang kamu tau hanya lipstick Ren?" Rena menganggukan kepala nya, membuat Amelia terkekeh.
"Ini concealer, penyamar bekas jerawat. Tapi bisa di pakai untuk menutupi bekas kissmark." Jawab Amelia.
"Kemarilah.." Rena mendekat dan Amelia segera mengoleskan krim itu pada beberapa tanda kemerahan itu.
Benar saja, tersamar sempurna hingga membuat Rena heran.
"Kok bisa hilang ya.." Ucap nya, sambil meraba-raba leher nya yang baru saja di oleskan krim concealer.
"Itu lah hebat nya make up Ren, kamu harus suruh Pak Roy membeli barang ini. Ini penting.."
"Aku malu kalo harus minta Mel."
"Sama pacar sendiri, tentu nya Pak Roy juga takkan keberatan."
__ADS_1
"Oh iya, weekend kita jalan-jalan ke mall yuk. Semacam double date." Ucap Amelia.
"Apa pak Roy bakalan setuju? Sekarang yang dia inget cuma jatah malam."
"Enak ya Ren? Gimana rasanya pecah perawann?" Tanya Amelia jahil.
"Sakit Mel, terus ini ku bengkak gitu." Jawab nya malu-malu.
"Ternyata sama ya, aku juga. Itu wajar kok, karena pertama kali. Tapi kelamaan kok jadi enak dan nyandu gitu, ketagihan. Ya gak?" Tanya Amelia.
"Hheee, iya Mel. Tapi aku suka malu kalau mau minta duluan, kalaupun Pak Roy yang minta aku selalu jual mahal."
"Kalau aku gak bisa, status aku sama Oppa kan dulu nya simpanan bukan kekasih. Jadi aku gak bisa menolak.."
"Aku ngerti kok Mel, gapapa lah. Kamu pasti punya alasan tersendiri kenapa mau lakuin hal seperti ini." Rena menepuk pundak sahabat nya.
"Makasih Ren, jadi gimana? Atau aku yang bilang sama Pak Roy?"
"Hehe, boleh deh sekalian beli barang yang tadi kamu rekomendasiin. Jalan-jalan gitu biar gak bosen."
"Nah itu tau, yaudah aku ke ruangan Oppa dulu. Jangan berbuat mesoom lagi di ruangan ini ya, Ren." Mendengar ucapan Amelia, Rena merona. Sebenarnya dari awal dia sudah tau kalau orang yang sedang bercumbu bersama Roy saat itu adalah Rena, tapi karena merasa tak yakin jadi dia memendam nya dan cukup tau aja.
Amelia masuk ke dalam ruangan Smith, ruangan itu tampak lebih sejuk dari pada tadi saat ada pria lain di dalam nya.
"Baby.." Panggil Smith, dia menepuk paha dan Amelia datang duduk di pangkuan nya.
"Kenapa Oppa tampak berantakan? Oppa bertengkar?" Tanya Amelia lembut, gadis itu mengusap lembut kedua pipi pria nya.
"Tidak, aku tidak bertengkar. Hanya memberi nya sedikit pelajaran karena sudah berani membayangkan dirimu."
"Oppa tau? Pria itu yang aku maksud tadi, aku takut hanya dengan melihat sorot mata nya. Pria itu juga yang waktu itu sok akrab di taman dan membuat aku pulang duluan." Jelas Amelia.
"Ya, dia Gerald cassanova tengik yang doyan selangkangann, terong busuk sampe lubang Marissa saja dia tau. Sialan."
"Sudah marah-marah nya hemm?" Tanya Amelia, dia tersenyum menatap pria nya.
Smith menyurukan kepala nya dada empuk gadis nya, mendusel kan kepala nya, sedang gadis itu mengusap lembut kepala belakang Smith.
"Jangan marah-marah terus dong,"
__ADS_1
"Sebel aja baby, berani sekali pria itu datang setelah menghianati ku." Jawab Smith.
"Mau bagaimana lagi, semua nya sudah terjadi. Lagi pun kalau Nona Marissa tak berhianat, kamu pasti takkan begini pada ku. Ambil hikmah nya saja,"
"Iya baby, bagaimana kata Rena? Apa dia setuju dengan rencana kita weekend nanti?"
"Dia tak berani bilang pada Asisten Roy, Oppa. Jadi gimana kalau Oppa yang bilang sama Roy?" Tanya Amelia.
"Heemm, baiklah. Pengen nyusu boleh gak by?" Tanya Smith, wajah tampan nya di buat se memelas mungkin agar gadis itu mengizinkan nya.
"Boleh.." Jawab Amel, Smith langsung mendongak dan segera membuka kancing blouse rajut yang di pakai gadis nya.
Dia mengeluarkan satu buah bongkahan kenyal itu dari penyangga nya, hingga puncak nya mencuat terlihat menggoda bagi pandangan Smith.
Smith segera mengulumm puncak nya dengan nikmat, sesekali mata nya terpejam menikmati rasa manis dari benda kecil itu, meski tak ada susu yang keluar dari benda itu, tapi entahlah kegiatan itu seolah tak boleh absen setiap hari nya.
"Apa ini hanya perasaan ku saja, atau memang buah kenyal mu bertambah besar By?" Tanya Smith di sela-sela kegiatan favorit nya.
"Mungkin iya Oppa, br* ku yang biasa sudah terasa sesak. Kalau pun di pakai, buah nya meluber." Jawab Amelia.
"Bagus lah, lebih kenyal dan lebih menggairahkan."
"Mau gak nambah besar gimana, setiap hari oppa mainin kan? Padahal sekarang lagi ngilu." Amelia memang selalu merasa ngilu di bagian buah dada nya jika sedang menstruasi.
"Habis nya enak By, gak boleh yah?"
"Ya boleh, udah cepetan aja keburu ada yang masuk." Smith menganggukan kepala nya dan kembali melanjutkan kegiatan nya, mengerjai kedua buah kenyal milik gadis nya.
Setelah beberapa menit berlalu, dia merasa cukup untuk hari ini, jadi dia melepaskan kulumaan bibir di puncak kemerahan milik gadis nya.
Untung saja sudah selesai, kalau tidak pasti terciduk oleh Asisten Roy. Karena pria itu datang dengan wajah datar nya.
"Sudah waktu nya pulang Tuan dan Nona muda.."
Smith mengangguk, dia menggandeng tangan Gadis nya dengan mesra menuju parkiran mobil.
...
🌻🌻🌻
__ADS_1
Udah ngebosenin belum? Masih aman gak alur nya sejauh ini?😁 maaf ya kalau banyak typo disini, happy reading ❤️