
Smith kembali dari kamar mandi dengan pakaian santai nya, luka nya di balut hanya dengan perban dan sedikit obat merah.
"By.." Panggil Smith, tapi tak ada jawaban apapun dari gadis nya, dia masih belum sadarkan diri.
"Tidurlah, beristirahat dengan tenang. Aku disini, aku mengkhawatirkan dirimu Baby." Gumam Smith lagi, dia kembali menggenggam tangan gadis nya, menciumi nya hingga terlelap dengan posisi terduduk di kursi samping brankar.
....
Pagi hari nya, Amelia perlahan membuka mata nya. Mata nya menyipit menyesuaikan cahaya matahari yang mengintip dari celah gorden, dia merasakan pusing luar biasa.
"Oppa.." Panggil Amelia, tapi pria itu tak ada.
"Dimana aku? Kemana Oppa, apa dia tak tau aku disini?" Gumam Amelia lirih.
Tapi tak lama, pintu terbuka menampilkan sosok pria yang dia cari.
"By, kamu sudah bangun? Apa yang sakit?" Tanya nya khawatir.
"Hanya pusing saja Oppa, aku kenapa?"
"Kamu tak sadarkan diri kemarin, mimisan kamu kambuh."
"Ehmm ya, kemarin sebelum aku tak sadarkan diri, aku melihat bayangan Oppa memukul salah satu orang itu, apa benar?" Smith menganggukan kepala nya.
"Apa Oppa baik-baik saja, ada yang terluka. Apa itu luka nya?" Tunjuk Amelia pada lengan yang terbalut perban tipis.
"Hanya luka kecil By, ini tak sakit di bandingkan sakit nya aku melihat mu tak sadarkan diri." Jawab Smith, dia mengusap lembut wajah gadis nya.
"Bagaimana pak Amir? Dia juga tak sadarkan diri karena di pukuli kemarin.."
"Dia di rawat di ruangan sebelah By, tak usah khawatir."
"Oppa, perut ku sakit lagi.." Keluh Amelia, gadis itu memegangi perut nya yang terasa nyeri.
"Itu akibat nya kalau menyembunyikan sesuatu dari ku,"
"Maksud Oppa?" Tanya Amelia polos.
"Apa kamu merasa sudah menyembunyikan sesuatu dari ku, By?"
"Aku tak ingat, aku lupa.."
"Saat pembully an, ada yang memukul perut mu. Benar?" Mendengar pertanyaan itu, wajah Amelia berubah menjadi pucat pasi, dia takut dengan tatapan tajam pria itu.
"Oppa tau dari.."
"Rena.." Jawab Smith singkat.
"Jadi katakan, kenapa kau menyembunyikan hal ini dari ku By? Apa karena aku orang asing hmm?"
"T-tidak, bukan begitu Oppa."
"Lalu kenapa?" Tanya Smith lagi.
"Karena saya tak mau membuat Oppa repot, apalagi hubungan kita belum sedekat saat ini, Nona Marissa juga masih berstatus tunangan Oppa. Sungguh, aku tak berniat menyembunyikan apapun. Hanya saja aku takut Oppa akan merasa aku terlalu bergantung pada Oppa."
"Apa salahnya By? Aku mencintai mu dari awal, bukan nya kau tau itu semua? Semua tentang dirimu tak pernah merepotkan bagi ku, itu sudah tugas ku untuk menjaga mu, karena kau segalanya bagi ku, apa kamu belum mengerti By?" Tanya Smith lagi.
__ADS_1
"Maaf kan aku Oppa."
"Dan kamu tau apa akibat dari pukulan itu? Rahim mu terluka, dan kau di vonis susah hamil." Jelas Smith.
Amelia tercengang, dia membulatkan kedua mata nya. Sedetik kemudian, air mata nya meluncur begitu saja, tanpa bisa di cegah.
"Jangan menangis By, kita lakukan pengobatan apapun ya. Kalau perlu kita berobat ke korea, disana teknologi nya lebih canggih."
"Oppa, apa tidak sebaiknya kamu membatalkan pernikahan kita?"
"Hah? tapi kenapa By.."
"Secara tidak langsung, aku di vonis mandul kan? Apa tidak sebaiknya Oppa mencari wanita lain?"
"Kenapa harus?"
"Aku takkan bisa mempunyai anak kan? Sedangkan kamu adalah anak tunggal keluarga Alexander, pasti Appa mu membutuhkan penerus keluarga Alexander."
"Hanya karena itu By? Itu takkan membuat aku meninggalkan dirimu, aku mencintai mu. Aku menerima semua kekurangan mu, kita bisa berobat By. Bahkan jika harus ke ujung dunia sekali pun untuk berobat, ayo kita lakukan asal kau tetap bersama ku By." Jelas Smith, dia menggenggam kedua tangan gadis nya.
"Oppa yakin akan menikahi aku?"
"Aku sangat yakin By, demi apapun aku menerima mu apa adanya." Jawab Smith.
"T-tapi.."
"Tapi apalagi By? Jangan terlalu banyak berfikir, kamu akan sembuh dan kita akan bahagia."
"Oppa harus berfikir dua kali sebelum memutuskan, aku hanya takut Oppa akan menyesali keputusan Oppa suatu saat nanti."
"Takkan pernah, aku tak pernah menyesali apa yang sudah aku putuskan." jawab Smith.
"Jangan merasa rendah hanya karena kamu punya kekurangan By, aku takkan pernah mempermasalahkan apapun. Aku hanya ingin dirimu mendampingi ku di setiap langkah ku, dan yang harus kamu tau, aku mencintaimu." Smith mengecup singkat kening dan bibir gadis nya.
"Kamu lapar? Mau sarapan?" Amelia menganggukan kepala nya.
Smith mengambil sekotak bubur dan mulai menyuapi Gadis nya dengan telaten.
Hingga bunyi pintu terbuka membuat kedua nya memalingkan pandangan nya ke arah pintu.
Appa Joseon, bibi Roseanne, Mamak dan Bapak datang dengan raut wajah penuh ke khawatiran.
"Amel.." Mamak langsung memeluk tubuh lemah Amelia, dia mengecupi wajah sang putri dengan penuh kasih sayang.
"Kamu baik-baik saja sayang? Kamu tak apa-apa kan?"
"Iya Mak, aku gapapa kok. Kalian bisa kesini?"
"Tadi calon besan mendapat telepon dari asisten calon suami mu, dia bilang kamu di rawat karena penyakit mu kambuh nak." Jelas Mamak.
Sedangkan Joseon dan Bibi Rose memandang pada Smith yang masih memegang kotak berisi bubur dan sendok yang masih dia pegang.
Itu sangat menunjukan kalau Smith sangat menjaga gadis nya, dia mana mau menyuapi orang lain, bahkan saat Appa nya sakit, dia tak mau melakukan nya. Tapi pada Amelia? Sudahlah, Smith memang benar-benar sudah cinta mati pada gadis cantik bernama Amelia.
"Bagaimana keadaan Amelia, Smith?"
"Sudah lebih baik Bi, hanya saja.."
__ADS_1
"Kenapa Smith?" Tanya Bibi Rose, saat melihat wajah keponakan nya terlihat murung.
"Kita bicara di luar ya.." Joseon dan Bibi Rose, kompak menganggukkan kepalanya.
"By, aku keluar dulu ya. Ada mamak sama bapak disini, jangan bangun dulu ya."
"Ini mak, Amel belum selesai makan, terus nanti kalau sudah habis suruh minum obat." Ucap Smith.
"Jangan berhenti kalau belum habis, pokoknya harus habis biar kamu cepat pulih ya By. Aku keluar dulu." Smith melabuhkan kecupan singkat lagi di kening Amelia.
Setelah nya pria itu pergi keluar di ikuti Appa dan bibi nya.
"Ada apa Smith?"
"Appa ingat saat Amelia di bully?" Tanya Smith, Joseon menganggukan kepala nya.
"Ternyata salah satu dari mereka sempat memukul perut Amel dengan balok kayu, dan itu membuat rahim Amel terluka.."
"Terus?" Tanya bibi Rose.
"Amel di vonis akan sulit hamil.." Bibi Rose terkejut bukan main saat mendengar jawaban Smith.
"Lalu, tindakan apa yang akan kau lakukan selanjutnya Smith? Kau anak tunggal keluarga Alexander, dan jelas saja Appa butuh penerus untuk meneruskan kerajaan bisnis kita."
"Kata dokter, kemungkinan untuk hamil masih tinggi kalau luka di rahim nya sembuh. Jadi, Smith akan membawa Amel berobat ke korea jika sudah menikah nanti. Dan Appa, jangan melarang aku lagi, karena aku akan tetap menikahi Amelia, dengan atau tidak restu Appa."
"Siapa yang akan melarang mu Smith? Appa mendukung keputusan mu, selama kau bahagia."
"Terimakasih Appa.." Smith bergerak memeluk pria paruh baya itu, dia sangat bahagia karena Appa nya sudah benar-benar berubah.
"Lalu bagaimana pernikahan mu Smith?"
"Mau bagaiamana lagi, terpaksa harus di undur hingga Amel benar-benar sembuh."
"Apa kau sudah menangani orang-orang itu?"
"Roy yang menangani nya, aku pastikan orang yang menjadi dalang dari semua ini mati secara mengenaskan."
"Tebas saja leher nya Smith, berani sekali membuat calon menantuku ketakutan hingga sakit begini." Usul Roseanne.
"Kenapa kau berubah menjadi seperti seorang psikopat Rose?"
"Entahlah tapi kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut ku, mungkin karena aku terlalu kesal Jose."
"Bibi benar, aku juga berfikiran seperti itu. Aku sendiri yang akan menebas leher nya jika orang nya sudah berhasil tertangkap." Jawab Smith, dia malah sepemikiran dengan bibi nya, membuat Joseon geleng-geleng kepala.
"Jadi, kira-kira siapa menurut mu pelaku nya?"
"Hanya satu, pasti dia." Smith menyeringai jahat, dia sudah mencurigai seseorang.
....
🌻🌻🌻
Siapa nah? penasaran gak? Makanya jangan unfav ya!😁
....
__ADS_1
Oh ya, hari ini author mau promoin karya temen author, mampir juga yuk.