
Pagi hari, Smith mogok pergi ke kantor. Mood nya begitu hancur setelah dia merasa senang karena perkembangan kondisi sang istri.
"Smith, gak pergi ke kantor?" Tanya Bibi Rose saat melihat keponakan nya masih duduk di sofa ruang tamu.
"Males Bi, pengen di rumah aja seharian." Jawab Smith lesu, membuat Bibi Rose ikut mendudukan diri di samping Smith.
"Merasa sedih lagi karena Amel belum bangun juga?"
"Tentu Bi, kemarin aku sudah sangat senang. Aku kira Amel bakalan bangun, tapi nyatanya sampai sekarang Amel masih belum sadarkan diri." Jawab Smith.
"Sabar ya Smith, cinta kalian sedang di uji."
"Andai saja Amel gak hamil, mungkin semua ini gak akan terjadi." Gumam Smith.
"Jangan menyalahkan takdir Smith, setiap wanita pasti ingin mempunyai keturunan, merasakan hamil dan melahirkan, dia akan merasa sempurna jika sudah merasakan nya Smith."
"Entahlah, tapi aku menyesali nya Bi."
"Jangan begini Smith, mau bagaimana pun semua nya sudah terjadi, Aliya dan Ares membutuhkan kamu Smith, jadilah ayah yang baik. Amel gak bakalan suka kalau kamu mengabaikan anak kamu kayak gini.."
"Nanti saja, aku pusing." Jawab Smith, pria itu memijat pelipis nya yang terasa berdenyut hebat.
...
Aliya dan Ares sedang bermain di ruang tamu, dengan Smith yang memperhatikan nya dari sofa. Tapi, entah kenapa mereka berdua malah berebut mainan dan berujung Ares mendorong Aliya yang sedang berdiri, hingga membuat gadis mungil itu menangis kencang.
Smith buru-buru menggendong putri bungsu nya, menenangkan nya.
Di kamar, Amel mendengar tangisan sang putri. Dia berusaha sekuat tenaga untuk membuka kedua mata nya, tapi tak bisa. Mata nya terasa berat, tubuh nya juga sakit.
"*Maafin mama nak, mama gak bisa jaga kalian. Mama sudah berusaha bangun, tapi tak bisa!"
"Sudah sebesar apa kalian nak? Mama ingin melihat kalian, mama rindu papa*.." Batin nya, hanya air mata yang dapat mengekspresikan semua kesedihan nya, dia hanya bisa menangis tanpa berbuat apa-apa.
__ADS_1
"Oppa, tolong aku.."
...
"Amelia..." Panggil seseorang dengan pakaian serba putih. Entahlah, kini Amel berada di sebuah ruang hampa yang terang.
"Siapa disana?" Amel memanggil orang yang menyebut nama nya, tapi nihil. Dia tak melihat nya, hanya ada bayangan seseorang mendekati nya.
"Amel, ini ayah dan ibu Nak.."
"Ayah, Ibu, Amel rinduu.." Pekik Ica beringsut mendekati ke arah bayangan itu, tapi semakin dia mendekat, bayangan itu semakin menjauh.
"Pergilah Amel, ada pria yang membutuhkan mu, berbahagia lah Nak." Setelah mengatakan itu, bayangan itu menghilang. Amelia terus memanggil nama ayah dan ibu nya, tapi mereka tak kembali.
Dan keajaiban datang, Amelia bisa membuka kedua mata nya, tangan nya bergerak, kaki nya juga bisa di gerakan, meski masih terasa sakit.
Amelia tersenyum, dia berhasil melewati koma nya, meski membutuhkan waktu yang sangat lama.
"Berapa lama aku tidur?" Tanya Amel pada diri nya sendiri, tak ada satu pun orang yang menyambut momen nya bangun dari tidur panjang nya.
Tapi tak lama, pintu berderit menandakan seseorang yang masuk. Itu Smith, Amelia hafal wangi parfum nya.
Smith menghela nafas nya kasar, lalu duduk di kursi yang ada di samping ranjang dan memegang tangan kurus sang istri, Smith belum menyadari kalau Amelia sudah sadar.
"Haii Baby, selamat siang. Apa kabar mu hari ini? Baik kan? Kalau baik, ayo bangun lah.."
"Aku merindukan istri ku, sangat, sangat rindu."
"Sampai kapan aku harus menunggu kamu terbangun dari tidur panjang mu sayang, aku tak sekuat itu.." Tangis Smith pecah, dia mengecupi punggung tangan sang istri, bahkan air mata nya ikut membasahi tangan Amelia.
Smith memeluk tubuh Amelia dengan sebagian tubuh yang duduk di kursi, pria itu menangis tersedu-sedu, Amelia tak tahan. Dia sangat ingin mengusap kepala suami nya, dan dia melakukan nya.
"Jangan menangis Oppa, aku sudah bangun dan aku juga merindukan mu."
__ADS_1
"Ohh tidak, aku berhalusinasi lagi.."
"Aku nyata, aku sudah bangun Oppa." Ucap Amelia, hingga membuat Smith mendongak melihat wajah sang istri, bibir itu tertarik ke samping, hingga senyuman manis tersungging dari bibir Amelia.
Senyuman yang sudah begitu lama tak dia lihat, kini senyuman itu kembali. Smith berkaca-kaca, dia begitu senang melihat istri yang begitu dia rindukan kini kembali.
"Tunggu sebentar sayang, aku akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaan mu sayang."
Smith berlari keluar kamar, dan memanggil dokter agar segera ke ruangan Amel.
Tak lama, pria itu datang dengan di ikuti dokter di belakang nya.
"Saya periksa dulu Nona." Dokter perempuan itu memeriksa keadaan Amelia dengan sangat detail, tanpa terlewat sedikit pun.
"Apa kaki Nona bisa di gerakan?"
"Bisa dok, tapi sedikit ngilu." Jawab Amelia.
"Itu wajar Nona, karena Nona tertidur sangat lama."
"Memang nya berapa lama aku tidur, dok?" Tanya Amelia.
"13 bulan, satu tahun lebih Nona.." Amelia menganga, selama itu kah dia beristirahat.
"Nona perlu istirahat dulu, kondisi nya sudah stabil jadi kita bisa membuka alat-alat penunjang hidup nya sekarang."
"Baik dokter, terimakasih." Dokter itu tersenyum samar dan mengangguk pelan, lalu mulai membuka seluruh alat-alat kesehatan yang selama satu tahun ini menemani nya.
....
🌻🌻🌻
Amel bangun juga😊
__ADS_1