
"Gadis yang cantik, terlihat sederhana dan pekerja keras." Gumam Joseon sembari melangkah ke ruangan putra nya.
Smith berpura-pura sibuk dengan pekerjaan nya, padahal dia tau kalau Appa nya sedang memerhatikan nya di ambang pintu.
"Selamat siang pak direktur, apa kabar?" Tanya Joseon dengan nada sindiran.
"Ohh ada tuan besar, saya baik-baik saja. Ada apa gerangan yang membuat tuan besar datang mengunjungi saya kemari?" Tanya Smith melayani Appa nya.
"Cukup, kemana saja kau lima hari menghilang?" Tanya Joseon, mata nya memicing serius menatap ke arah putra nya.
"Liburan, bosen kerja terus." Jawab Smith santai.
"Bagaimana hubungan mu dengan Marissa?"
"Appa tak tau skandal Marissa yang sedang viral sekarang? Tak mungkin Appa tak menonton televisi kan?" Balik tanya Smith dengan wajah kesal nya.
"Iya, tapi Marissa sudah datang dan menjelaskan kalau semua itu tak benar, dia hanya di jebak."
"Di jebak?" Smith tersenyum sinis menatap Appa nya.
"Jika kedatangan Appa kemari hanya untuk menanyakan hal yang tak penting, lebih baik Appa pergi saja. Aku sibuk." Ketus Smith, jujur saja, membahas Marissa membuat mood nya anjlok.
"Tak penting? Marissa itu tunangan mu Smith, wanita yang Appa pilih untuk menjadi istri mu.."
Smith mendengus, sebenarnya ada apa dengan Appa nya ini? Sudah jelas wanita yang dia bicarakan itu adalah jalangg, tapi kenapa seolah Joseon menutup mata dengan kebenaran ini?
"Aku sudah bilang aku tak mau memperistri seorang jalangg Appa, aku menginginkan gadis baik-baik yang akan menjadi ibu dari anak ku nanti, bukan wanita malam murahaan seperti Marissa." Tegas Smith, sorot mata nya menajam.
"Dulu kau sangat mencintai nya Smith.."
"Ya, tapi itu kan dulu sebelum aku tersadar kalau aku sudah mencintai ular berbisa dengan sejuta tipu muslihat." Jawab Smith.
"Jangan tertipu dengan wajah polos nya, nyatanya dia hanya wanita licik yang pandai memanfaatkan situasi."
"Jadi jangan paksa aku untuk menerima Marissa, aku tak mau. Jika Appa terus memaksa, silahkan Appa saja yang menikahi nya tapi mungkin aku akan gatal-gatal kalau punya ibu tiri seperti Marissa. Bisa di pastikan Appa akan jatuh miskin jika menikah dengan wanita matre seperti Marissa."
Joseon diam, apa dia terlalu dalam mengikuti apa kata hati dan keegoisan nya?
"Ahh, aku merindukan bibi Rose. Bagaimana keadaan nya Appa?" Tanya Smith antusias.
"Dia baik, hanya saja kemarin dia terjatuh dari tangga."
"Kenapa?" Tanya Smith dengan nada khawatir.
__ADS_1
"Katanya pusing, bibi mu kan memang suka pusing dari dulu."
"Apa sudah di periksa?" Tanya Smith.
"Sudah dan darah tinggi nya naik lagi, gara-gara keluarga mantan suami nya mendesak terus agar dia menyerahkan warisan peninggalan mendiang suami nya."
"Bukan nya warisan itu sudah di tanda tangani di atas materai atas nama Bibi Rose?"
"Ya, tapi entahlah keluarga nya terus memaksa bibi mu hingga membuat nya tertekan dan penyakit darah tinggi nya kambuh." Jelas Joseon.
"Serahkan saja, untuk apa? Warisan itu tak seberapa di banding dengan kesehatan bibi Rose kan? Lagi pun dia takkan miskin jika memberikan warisan itu."
"Entahlah, tapi bibi mu kekeh ingin mempertahankan warisan itu dengan suatu alasan."
"Alasan apa?" Tanya Smith, dia sangat menyayangi bibi nya seperti ibu kandung nya sendiri.
"Kenangan yang masih membekas." Jawab Joseon pelan, dia paham betul kalau Rose sangat mencintai suami nya. Pasti akan sangat sulit melupakan semua kenangan yang pernah mereka ukir bersama, meski itu sudah berlalu puluhan tahun yang lalu.
"Itulah alasan nya kenapa aku tak mau salah memilih pendamping hidup, aku menginginkan wanita yang mampu menjaga kehormatan nya sebagai wanita untuk menjadi ibu dari anak ku nanti." Smith menyandarkan tubuh nya ke sandaran kursi, tiba-tiba saja bayangan saat Amelia tersenyum membuat nya berdebar.
"Jadi kau yakin ingin membatalkan pertunangan mu dengan Marissa, Smith?"
"Kenapa harus bertanya lagi, sangat yakin."
"Beri aku waktu seminggu, bukti nya akan aku kirim ke rumah."
"Secepat itu?"
"Tunggu saja, nanti aku akan pulang dulu menjenguk bibi Rose."
"Ya jenguklah, dia pasti sangat senang. Kau kan anak kesayangan nya." Cibir Joseon, Smith hanya tersenyum tipis mendengar cibiran itu.
....
Joseon berjalan pelan menyusuri lobi kantor putra nya, tapi tiba-tiba saja dia mendengar suara gaduh dari ruangan belakang khusus pegawai wanita.
Karena penasaran, dia masuk dan melihat seorang gadis tengah di rundung. Pakaian nya basah dengan cairan berwarna hitam, rambut nya penuh dengan tepung.
Mereka tertawa puas melihat gadis itu menangis, meringis seperti kesakitan.
"Ada apa ini?" Tanya nya dengan suara tegas.
Sontak mereka menoleh dan kompak membulatkan mata mereka. Termasuk gadis yang terduduk di lantai dia menoleh, pipi nya membiru seperti bekas pukulan dan sudut bibir nya yang terlihat berdarah.
__ADS_1
"Dia kan gadis OG yang tadi keluar dari ruangan Smith? Astaga!" Batin Joseon.
Dia berjalan mendekati kumpulan wanita pembuli itu dengan langkah tegas nya, tatapan mata nya menajam membuat nyali para gadis itu menciut seketika.
"Lanjutkan tawa kalian, kenapa? Takut padaku? Berani sekali kalian melakukan hal serendah ini di perusahaan putra ku."
"Apa alasan kalian membuli gadis ini hah, apa dia punya kesalahan fatal?"
Joseon merogoh ponsel nya di saku dan menelpon seseorang.
Tak lama datang beberapa petugas keamanan dan asisten Roy.
"Seret para gadis laknat ini, bawa ke tempat dengan sinar matahari terik." Perintah Joseon.
Roy melotot saat melihat keadaan Nona muda nya yang terlihat menyedihkan.
"Urus gadis itu Roy dan pastikan semua pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal, aku pamit untuk urusan hukum menghukum aku serahkan pada Smith."
Joseon pergi dengan langkah tegap nya, tak di sangka perbuatan tak manusiawi itu masih terjadi di jaman seperti ini dan ini terjadi di perusahaan anak nya sendiri.
Roy mengambil ponsel nya dari saku jas dan menghubungi Smith.
"Ya hallo, ada apa Roy?" tanya Smith di seberang telepon.
"Tolong ke ruangan belakang khusus OG, sekarang."
"Ada apa Roy? Pekerjaan ku banyak sekali."
"Ini tentang Nona muda."
"Aku kesana sekarang, pastikan tangan mu jangan menyentuh gadis ku."
"Baik tuan." Jawab Roy, Smith mematikan sambungan telepon secara sepihak.
"Bisa-bisa nya bucin di saat seperti ini." Gumam Roy.
Amelia masih menangis sesenggukan, tak di sangka dia akan menjadi korban bully. Padahal selama ini dia merasa tak merugikan siapapun, hanya karena dia lama di ruangan Direktur para gadis pemuja pria tampan itu membuly nya dengan kejam.
....
🌻🌻🌻
Besok up lagi ya🤭
__ADS_1
jangan lupa jejak nya ya readers😘