
"Sayang.." Smith segera mendekati gadis nya, meletakan kepala gadis itu di paha nya. Dia mengusap-usap wajah pucat gadis nya dengan raut wajah yang penuh ke khawatiran.
"Kamu kenapa sayang? Bangunlah, aku mohon.." Ucap Smith, pria itu tak tahan lagi dan mendekap erat tubuh lemas gadis nya.
Smith memangku tubuh mungil gadis nya dan membaringkan Amelia di ranjang, dia segera mengambil ponsel nya dan menghubungi dokter.
Tak lama, Roy datang dengan penampilan berantakan nya.
"Bagaimana Roy? Kau berhasil menangkap mereka?" Tanya Smith.
"Mereka ada di tempat biasa tuan, sebaiknya besok saja kita interogasi. Ada apa dengan Nona muda?"
"Aku tak tau Roy, saat aku masuk kesini Amelia sudah tergeletak tak sadarkan diri dengan tissu-tissu ini Roy." Jelas Smith, Roy meneliti setiap lembaran tissu yang berubah warna menjadi merah dan berbau amis.
"Ini darah tuan, tapi darimana?"
"Seperti nya dari hidung nya Roy, lihat.." Smith menunjukan ada sedikit darah di atas bibir gadis nya.
"Sudah panggil dokter, atau mau di bawa ke rumah sakit saja tuan?"
"Aku sudah menyuruh nya kemari, bagaimana ini Roy? Apa gadis ku akan baik-baik saja.."
"Percayalah dia akan baik-baik saja tuan," Jawab Roy, dia tau tuan muda nya sedang khawatir dengan keadaan gadis nya.
Tak lama, bel berbunyi menandakan ada seseorang di luar unit apartemen ini. Roy segera turun dengan terburu-buru, tak mungkin tuan muda nya yang membukakan pintu.
"Silahkan masuk dokter Firman."
Dokter Firman adalah dokter pribadi keluarga Alexander, jadi tak perlu di ragukan lagi ke ahlian nya dalam bidang medis.
"Apa tuan Smith sakit Roy?" tanya Dokter Firman.
"Tidak dok, kekasih nya yang sakit."
"Marissa? Ada apa dengan wanita itu?" tanya dokter Firman, setau nya kekasih tuan muda keluarga Alexander itu adalah model cantik Marissa.
"Lihat lah dulu, jangan banyak tanya. Semakin banyak yang dokter tau, bisa memperpendek usia mu. Jadi sebaiknya dokter tak banyak tau."
"Ckkk, kau ini selalu saja mengancam." Dokter Firman berdecak sebal.
...
Dokter Firman masuk ke dalam kamar yang menurut Roy disana ada tuan muda dan kekasihnya.
__ADS_1
"Permisi.."
"Ahh ya, silahkan masuk dok." Jawab Smith.
Dokter itu mengernyitkan kening nya saat melihat seorang gadis yang terlihat asing tengah berbaring lemah tak berdaya di ranjang dengan selimut yang hampir menutupi seluruh tubuh nya.
Gadis muda dengan wajah manis meski terlihat pucat, bulu mata nya lentik, hidung nya mancung, kulit nya putih mulus, sangat cantik.
"Siapa gadis ini tuan muda?"
"Memang nya kenapa? Jangan memandang gadis ku lebih dari dari tiga detik, atau kau tau akibat nya." Ancam Smith dengan tatapan tajam nya.
"Maaf tuan muda."
"Cepatlah periksa gadis ku, jangan berani-berani menyentuh tubuh gadis ku."
"Tapi mana mungkin saya bisa memvonis nona muda sakit apa tanpa menyentuh nya?"
"Terserah kau, aku tak peduli."
"Begini saja, aku akan berusaha tak menyentuh nya. Kalau hanya stetoskop saja yang menyentuh nya, apa boleh?" Tanya dokter Firman.
"Dengan pengawasan ketat." Jawab Smith, pria itu benar-benar tak mau membiarkan gadis nya di sentuh pria lain.
"Harus nya aku menelpon dokter perempuan, kau terlihat genit sekali Firman." Rutuk Smith dari samping, tatapan mata nya sinis.
Dokter itu menyingkap sedikit pakaian gadis itu, tapi belum dia menempelkan alat pemeriksaan suara bariton membuat dokter itu terkejut.
"Mau apa kau hah?" Tanya Smith.
"Bukan nya tadi tuan muda menyuruh saya memeriksa Nona muda?"
"Lalu untuk apa menyingkap baju nya, kau mencari kesempatan ya kan?" Pekik Smith ketus.
"Ohh ya tuhan, jangan terlalu posesif tuan. Saya hanya akan memeriksa keadaah nya saja."
"Kau berani sekali menasehati ku."
"Jadi Nona muda mau di periksa atau tidak? Jangan buat saya darah tinggi tuan muda, meski pun saya dokter pribadi keluarga Alexander tapi saya juga memiliki batas kesabaran." Akhirnya kekesalan dokter Firman keluar juga.
"Biasa aja kali, ngegas gitu. Aku tak mau membayar mu." Ketus Smith dengan kedua tangan yang bersedekap di dada.
"Jadi bagaimana? Lanjutkan atau tidak?"
__ADS_1
"Terserah." Jawab Smith singkat, kalau saja Smith bukan tuan muda keluarga Alexander, dokter Firman pasti sudah menendang nya keluar jendela.
Sepanjang memeriksa keadaan nona muda itu, Smith terus memberikan tatapan tajam nya.
"Apa Nona punya phobia, trauma atau semacam nya?" Tanya dokter Firman serius.
"Mana aku tau, aku tak pernah menanyakan nya."
"Astaga.." batin dokter itu meronta, ingin sekali dia memukul wajah tampan itu, tapi sayang nya tak bisa dia lakukan. Bisa mati muda dia jika itu terjadi.
"Jika Nona sudah bangun sebaiknya tanyakan tuan, karena menurut pemeriksaan saya Nona muda baik-baik saja."
"Lalu kenapa dia bisa tak sadarkan diri jika dia baik-baik saja Firman?" Tanya Smith dengan ekspresi wajah yang seperti ngajak ribut.
"Maka dari itu tadi saya tanya, apa nona muda punya phobia atau trauma?"
"Aku tak tau, tapi saat aku masuk kesini gadis ku sudah tergeletak tak sadarkan diri dengan tissu yang berserakan penuh dengan darah."
"Berarti nona muda pingsan karena kekurangan darah tuan, sebaiknya di infus saja." Usul dokter Firman.
"Lakukan saja yang terbaik." Dokter Firman mengangguk dan segera memasang jarum infus di punggung tangan gadis itu.
"Apa kau yakin diagnosa mu tak meleset Firman? Aku takut gadis ku punya penyakit yang berbahaya, bagaimana bisa di mimisan sebanyak itu."
"Kalau tuan muda kurang yakin, silahkan bawa ke rumah sakit spesialis dalam."
"Baiklah, setelah gadis ku membaik aku akan membawa nya ke rumah sakit dan jika diagnosa mu salah, kau akan menerima akibat nya Firman."
Dokter Firman meneguk ludah nya dengan kepayahan, ucapan tuan muda itu bukan hanya suatu ancaman, tapi pasti akan terjadi jika pria itu menghendaki nya.
Dokter Firman adalah dokter muda di rumah sakit Husada Bunda, salah satu rumah sakit milik keluarga Alexander.
Selain di bisnis iklan, keluarga itu juga membangun beberapa rumah sakit dengan dokter terbaik khusus untuk orang-orang yang kurang mampu.
Setelah selesai dengan tugas nya, dokter Firman pun pamit di antar Asisten Roy.
"Bangunlah sayang, jangan buat aku khawatir." Ucap Smith lirih, dia mengusap punggung tangan gadis nya.
Tapi tiba-tiba saja dia ingat perkataan dokter Firman, apa benar Amelia memiliki phobia atau trauma? Tapi kenapa, pasti ada alasan nya.
"Aku memang belum terlalu mengenal dirimu sayang.."
...
__ADS_1
🌻🌻🌻
maaf baru up, baru beli.kuota🤣🤣