
Smith tengah senyam senyum sendiri sambil memerhatikan gadis nya yang tengah mengepel, saat bekerja gadis itu bahkan tak pernah melirik ke arah nya, hanya fokus pada pekerjaan saja. Bagi nya, pekerjaan adalah yang utama di kantor, dan di rumah Smith adalah tuan nya jadi dia harus melayani nya dengan baik.
Berbeda dengan di ruangan sebelah, Roy tengah memangku Rena. Meski gadis itu beberapa kali berontak, tapi tenaga kecil nya tak sebanding dengan tenaga Roy yang doyan olahraga.
"Lepaskan aku pak, aku sedang bekerja."
"Tidak, ruangan ini masih bersih dan aku sedang menginginkan dirimu, Rena." Jawab Roy kekeh, dia melingkarkan tangan nya ketat di pinggang ramping gadis itu.
"Tapi.."
cupp...
Roy mengecup bibir kemerahan milik Rena, dia gemas karena sedari tadi bibir itu terus mengatakan penolakan pada nya.
"Jangan seenaknya cium-cium, tukang nyosor.." Rena mencebikkan bibir nya, tapi hal itu justru membuat Roy kembali gemas dan kali dia menyerang bibir itu dengan buas.
Roy melumaat bibir kemerahan itu dengan mesra, tangan Rena di kunci di belakang tubuh nya hingga gadis itu tak bisa berontak selain pasrah dan membiarkan pria itu bermain dengan bibir nya.
Merasa kesal karena gadis itu tak membalas ciuman nya, dia menggigit bibir Rena hingga membuat gadis itu memekik dan refleks membuka mulutnya. Tentu nya kesempatan ini takkan di sia-sia kan oleh Roy, dia menelusupkan lidah nya dan mengajak lidah gadis itu bergelut.
Rena yang awalnya biasa saja, kini mulai terbawa permainan lihai pria itu. Dia mulai membalas permainan pria itu, memainkan lidah nya memutar seperti yang pria itu lakukan pada lidah nya.
Bunyi decapan nikmat memenuhi ruangan kedap suara milik asisten direktur itu. Roy merasa gadis itu sudah terbiasa, jadi dia melepaskan tangan yang tadi nya dia pegangi, tapi tanpa di sangka-sangka, kini tangan itu malah melingkar di leher Roy.
Mereka terus bergelut bibir hingga suara dering ponsel mengacaukan kenikmatan sepasang sejoli itu.
"Siapa sih, ganggu aja.." Gerutu Roy, dia merogoh ponsel nya di saku celana bahan nya.
"Angkat saja dulu, siapa tau penting." Rena memalingkan wajah nya saat beberapa detik tatapan mereka bertemu, wajah nya memerah karena malu.
"Issshhh, bisa-bisa nya aku malah terbuai dengan perbuatan pria mesumm ini." Rutuk Rena, dia berusaha turun dari pangkuan pria itu. Tapi tak bisa, tangan itu terlalu ketat melingkari pinggang nya, bahkan saat pria itu menerima panggilan telepon.
Roy selesai dengan telepon nya, dia menenggelamkan kepala nya di dada gadis itu, menyusup di antara belahan buah dada yang empuk dan montok itu.
"Hentikan pak, kamu sudah keterlaluan. Aku.."
"Apa? Lanjutkan!" Roy mendongak dan menatap wajah kemerahan gadis itu.
"Apa bapak tak merasa kalau sudah merendahkan harga diri saya? Mencium saya seenak nya, sekarang bermain di dada saya."
"Kamu membalas nya tadi jika kau lupa, jadi itu artinya kamu juga menikmati nya kan?" Tanya Roy, tatapan mata nya sayu seperti sedang menahan sesuatu.
__ADS_1
Mendengar ucapan Roy, wajah Rena malah semakin memerah. Kenapa juga dia membalas ciuman Roy, kan jadi malu sendiri.
Tangan Roy terulur mengusap wajah manis Rena, menyelipkan beberapa anak rambut ke belakang telinga nya.
"Rena, apa kamu tau saya menyukai kamu?" Tanya Roy membuat Rena membulatkan mata nya.
"Sejak kapan?"
"Sejak pertama kali kita berciuman dan terciduk Amelia." Jawab Roy.
Mendengar pernyataan itu, Rena kembali membulatkan mata nya. Ternyata selama ini perasaan nya tak bertepuk sebelah tangan.
Dari awal bekerja di kantor ini, Rena sudah mengagumi sosok humble Roy. Ya meski pria itu sangat dingin dan kaku, tapi kelamaan rasa kagum itu berubah menjadi cinta yang setiap hari bertambah semakin besar karena ada nya respon yang baik dari pria itu.
Tapi dia memilih mundur beberapa waktu karena mendapat ancaman dari seorang wanita yang mengaku sebagai kekasih Roy Aditia. Sebenarnya dia tak yakin, karena selama bekerja di perusahaan dia belum pernah melihat pria itu membawa gadis atau kekasih nya.
"Bagaimana dengan wanita yang bernama Riska, apa dia juga korban gombal mu pak?" Tanya Rena berani, dia menatap manik mata pria itu.
"Riska? Kamu tau wanita itu, atau pernah bertemu?"
"Ya, dan dia mengancam ku agar menjauhi mu." Jelas Rena.
"Emmm, Riska adalah cinta pertama ku yang sudah lama pergi entah kemana, dia meninggalkan aku karena aku jelek, dekil. Tapi aku tak pernah bertemu dengan nya lagi,"
"Tak perlu di hiraukan, sudah lah. Sekarang jawab aku, kau mau menjadi kekasih ku?"
"Maksud nya?"
"Kamu ini polos atau budek sih? Tapi aku tau kamu mengerti apa maksud perkataan ku dan aku serius." Ucap Roy, mata nya memancarkan keseriusan.
"Baiklah, tapi sebaiknya hubungan ini di sembunyikan dulu. Bisakah?"
"Ohh tentu saja, jadi hari ini kita resmi jadi sepasang kekasih?" Rena mengangguk malu-malu, membuat Roy gemas dan kembali memagut bibir kekasih nya.
Tangan Roy sedari tadi sudah gatal ingin memainkan bulatan kenyal yang ada di dada kekasih nya, dia membuka kancing seragam Rena dan mengeluarkan sebelah buah dada kekasih nya, memainkan puncak kemerahan nya, memilin nya hingga membuat Rena melenguh, karena sensasi geli dan nikmat di saat bersamaan.
Roy melepaskan bibir gadis nya, kini bibir pria itu berpindah ke leher jenjang putih mulus kekasih nya. Memberi kecupan-kecupan basah hingga meninggalkan beberapa jejak kemerahan tanda cinta.
"Eeemmhhh..."
Mendengar lenguhan Rena, Roy kembali bersemangat. Kali ini, dia turun dan mengulumm puncak dada gadis nya dengan nikmat.
__ADS_1
"Pak, su-dah cukup.." Pinta Rena, dia tak tahan lagi meski rasa yang menginginkan sentuhan lebih intimm begitu mendominasi.
"Tunggu sampai aku puas." Roy tetap memainkan buah kenyal itu dengan nikmat, mencecap rasa yang begitu membuat candu.
Rena memejamkan mata nya, kaki nya bergerak tak karuan karena rasa tak nyaman di area bawah nya. Apalagi saat tangan nakal Roy mengelus bagian dalam paha nya.
Rena terus bergerak-gerak tak nyaman, hingga membuat Roy menggeram karena gerakan itu membuat senjata nya yang sudah lama hibernasi itu terbangun.
"Jangan bergerak-gerak cantik, kamu membangunkan senjata ku." Roy berkata dengan suara berat nya, seolah ada beban berat yang tengah menimpa nya.
Mendengar ucapan yang keluar dari bibir pria itu, membuat Rena membeku. Mana dia tau kalau gerakan nya membuat sesuatu bangkit? Ini kan yang pertama untuk nya di perlakukan begini oleh seorang pria.
Tokk... tokk..
Kedua kali nya kegiatan nikmat nya harus tertunda, tadi karena bunyi ponsel dan sekarang karena ketukan lirih di pintu.
"Sembunyi di bawah meja.." Perintah Roy, Rena mengangguk dan segera masuk ke dalam bawah meja, dengan tangan yang sibuk merapikan kancing seragam nya.
"Masuk.."
"Permisi pak, apa ada Rena disini?" Tanya Amelia, sang nona muda yang seperti nya habis di terjang angin ****** beliung, terlihat bibir nya memerah dan bertambah volume nya.
"Baru saja keluar dan meninggalkan ember nya disini, ada apa?"
"Ti-tidak pak, kalau begitu saya permisi." Pamit Amelia, meski tatapan mata nya sempat mengedar di ruangan luas milik Asisten kekasih nya.
Roy mengelus dada nya, hampir saja keciduk dua kali. Mau di taruh dimana tuh muka kalau sampe keciduk lagi.
...
🌻🌻🌻
Hadeuh, baru aja sehari jadian udah maen panas-panasan Roy..🤣
nih tak kasih visual, ini cuma versi author, kalau nggak suka bisa bayangin versi sendiri ya☺️
Roy Aditia
Rena
__ADS_1
happy reading❤️❤️