
Tepat tengah malam, Amelia merasakan dingin yang datang tiba-tiba. Tubuh nya menggigil karena angin yang terasa menyejukan di ruangan kecil ini, apalagi AC yang menyala.
Smith yang merasakan tubuh gadis nya bergetar segera membuka mata nya, dia melihat gadis nya menggigil dengan bibir yang pucat dan gigi yang bergemeletuk.
"By, kamu kedinginan?" Tanya Smith, dia merapatkan selimut ke tubuh gadis nya. Tapi, Amelia terlihat masih kedinginan.
Smith meraih selimut dan menghubungi anak buah nya.
"Hallo tuan.."
"Pergi dan belikan selimut tebal untuk gadis ku, sekarang." Smith memberi perintah dengan tegas.
"Baik tuan, saya berangkat sekarang." jawab anak buah nya yang berjaga di luar.
"Sabar ya By, sebentar lagi selimut hangat datang." tangan panjang nya meraih remote AC dan mematikan nya.
"O-oppa.."
"Iya By, aku disini.." Jawab Smith, padahal gadis itu menggumam saking dingin nya.
"Tolong, aku takut." Smith tercengang mendengar gumaman gadis nya, ternyata gadis itu trauma dengan kejadian yang menimpa nya kemarin.
"Lihat saja kau Gerald, akan ku pastikan kau meregang nyawa dengan cara yang paling menyakitkan." Smith mengepalkan tangan nya, dia begitu marah pada Gerald, mantan teman baik nya dulu.
Tak lama, pintu terbuka menampilkan anak buah nya yang menenteng dua buah selimut tebal.
"Ini pesanan anda tuan.." Smith bangkit dari posisi nya, membuka bungkusan selimut itu dan menyelimutkan nya pada Amel.
"Apa sudah ada kabar dari Barry?" Tanya Smith tanpa mengalihkan pandangan nya dari Amelia.
"Menurut info terakhir, sasaran berada di bandara internasional tuan, tapi Barry segera tau dan tadi sudah memblokir bandara agar pria itu tidak kabur."
"Cihh, ingin melarikan diri dariku? Bahkan dalam mimpi pun kau takkan aku lepaskan!"
"Kau boleh keluar, tetap berjaga."
"Baik tuan, saya mengerti." Anggota itu keluar dan melanjutkan tugas nya, yaitu berjaga di luar ruangan yang merawat calon Nyonya Alexander.
__ADS_1
Smith menatap wajah gadis nya yang mulai tertidur kembali, infus nya sudah di buka karena sakit di perut nya tak lagi terasa. Lagi pun, besok dia sudah bisa pulang dan lusa mereka akan melangsungkan pernikahan mereka yang tertunda.
Itu sudah jadi kesepakatan mereka berdua sebelum tidur tadi.
....
Pagi hari nya, Smith segera membawa gadis nya pulang setelah mendapat informasi dari bawahan nya kalau Gerald sudah di tempat biasa.
Dia tak sabar ingin memberi pelajaran pada pria sialan itu dengan hukuman yang paling menyakitkan.
"By, kita pulang ke rumah besar saja ya? Aku ada pekerjaan penting, jadi kamu ada teman nya disana, kan ada mamak, bapak, bibi Rose." Ucap Smith memberi pengertian.
"Tapi, apa nanti setelah kita menikah apa kita akan tetap tinggal di rumah besar Oppa?" Tanya Amelia.
"Terserah kamu saja, mau di apartemen ayok, mau sama bibi Rose, Appa juga ayok By."
"Kalau saja aku hamil nanti, aku ingin tinggal di rumah besar. Tapi sebelum moment itu datang, apa tidak sebaiknya kita tinggal di apartemen saja Oppa?"
"Boleh-boleh saja By, apapun keputusan mu, aku ikut." Jawab Smith, dia melirik sekilas ke arah gadis nya dan kembali fokus mengemudikan mobil nya.
"Iya By, kenapa lagi?"
"Aku udah sembuh, pengen makan rujak boleh ya?"
"Lagi? Kamu belum sembuh total Baby, nanti ya kalau sudah sembuh."
"Heumm, iya Oppa. Tapi makan ramyeon boleh?"
"Boleh, tapi jangan yang terlalu pedas ya By. Perut kamu pasti perlu membiasakan diri dulu."
"Terimakasih Oppa, itu pun kalau Appa tidak melarang aku memakan makanan instan itu." Gumam Amelia.
"Appa penganut gaya hidup sehat By, pasti akan ada sedikit larangan kalau beliau melihat kamu makan makanan tak sehat."
"Tapi di balik itu semu, niat nya kan baik demi kesehatan juga. Appa baik kok, jika pada orang yang tepat."
"Iya Oppa, rasa takut ku sudah mulai berkurang sekarang."
__ADS_1
"Kenapa harus takut sih By? Sama-sama manusia yang makan nasi, kalau Appa makan batu, baru kamu harus takut."
"Makan batu? Apa gak protol ya itu gigi kalau makan batu.."
"Ya kan perumpaan Baby.."
"Hehe, iya tau Oppa."
"Makin lama, kamu makin gemesin By." Smith mengacak rambut Amelia dengan gemas, memang benar semakin hari Amelia terlihat semakin menggemaskan, mungkin karena efek cinta juga ya..
...
Smith memarkir mobil nya di tempat biasa, setelah mengantar calon istri, dia segera meluncur ke tempat biasa, yaitu bangunan tua yang dia jadikan markas berkumpul nya para anggota.
Smith masuk dengan langkah tegap nya, langkah kaki nya terdengar sangat menakutkan bagi orang-orang bersalah, termasuk Gerald. Pria itu sudah ketar-ketir sendiri saat mendengar langkah kaki yang dia yakini sebagai Smith yang datang dengan sejuta amarah yang siap dia luapkan.
Smith sampai di depan Gerald, pria itu memalingkan wajah nya, seakan tak ingin melihat wajah Smith, mantan teman nya.
"Selamat siang Gerald, apa kabar? Sudah siap mati?" Gerald tersenyum samar saat mendengar ucapan Smith, entah darimana keberanian nya itu datang, kini dia bertatapan dengan mata elang Smith.
"Aku sangat baik, apalagi setelah membuat kau kalang kabut karena gadis mu itu.." Jawab Gerald bangga.
"Tapi sayang nya hidup mu takkan lama lagi, mungkin sekitar dua jam lagi, sudah siap?"
Gerald terdiam, mau bagaimana pun dia belum menikmati kehidupan layaknya orang normal. Selama ini hidup nya hanya tentang sexx dan wanita, tak ada lain lagi.
Jadi, wajar saja jika dia mendapat gelar raja ranjang. Berbagai macam model wanita pernah ikut meramaikan ranjang nya, termasuk Marissa.
Terakhir, target nya adalah Amelia. Tapi gadis itu selalu menghindar, dan setelah tau dia gadis milik tuan penguasa, bukan nya mundur dia malah lebih penasaran, gila memang.
....
🌻🌻🌻
Bab ini pendek, maafkan author ya. Mood author jelek sekali hari ini, apa kalian gak ngeh novel ini cerita nya gak nyambung? Ya, karena ada 10 bab yang di tolak pihak NT padahal udah di publish dan banyak yang baca, entah ada apa dengan sistem Noveltoon.
Jadi, untuk beberapa hari ini mungkin author akan libur up atau up sehari satu bab, karena mau revisi dulu, maaf kalau kalian kecewa ya🙏
__ADS_1