
Smith melangkahkan kaki nya dengan gaya angkuh nya dengan kedua tangan yang di masukan kedalam saku celana nya, wajah nya datar seperti biasa. Di belakang nya sang asisten juga tak jauh seperti itu, hanya saja dia membawa tas kerja berisi bukti-bukti tentang Marissa.
"Kamu datang nak, bibi sangat merindukan mu." Bibi Rose turun dari tangga dan segera memeluk keponakan yang sudah dia anggap sebagai anak sendiri.
"Alex datang karena suatu alasan yang penting dan mengkhawatirkan kondisi bibi, kata Appa darah tinggi bibi kambuh?"
"Kemarin iya, sekarang sudah membaik. Ayo duduk."
"Roy juga ikut, mari masuk. Bibi buatkan kopi dulu ya.." Kedua pria tampan itu duduk di sofa. Entah kenapa, hati nya berdebar tak karuan apalagi saat melihat Appa nya berjalan menuruni tangga dengan sebuah tongkat yang membantu nya berjalan.
"Kau benar-benar pulang Smith.." Sapa nya, lalu duduk berhadapan dengan putra nya.
"Aku datang dengan sesuatu yang sudah aku janjikan." Jawab Smith tegas.
"Baiklah, ayo buktikan jika memang semua perkataan mu tentang Marissa itu benar."
Smith melirik Roy, dia mengerti dan segera membuka tas nya, menghidupkan laptop nya dan memasukan flashdisk berisi file-file rahasia yang selama ini hanya Roy dan Smith yang tau.
"Silahkan tuan besar.."
Joseon mengerutkan kening nya, dia melihat poto-poto vulgar Marissa dengan seorang pria, mereka terlihat sangat mesra dan beberapa poto menunjukan mereka sedang bercintaa di ranjang dan keluar dari sebuah hotel.
"A-apa ini Smith?"
"Apalagi? Appa ingin tau bagaimana Marissa kan, itu fakta nya."
"Tak mungkin Marissa seperti itu, dia gadis yang baik." Kekeh Joseon, entah pengaruh apa yang sudah di berikan wanita itu pada Joseon hingga membuat nya kekeh dengan pendirian nya, yakni Smith harus menikahi wanita itu.
"Lalu yang Appa lihat itu apa? Rekayasa? Aku tak punya waktu sebanyak itu untuk mengedit semua nya, waktu ku terlalu berharga kalau hanya untuk mengurusi wanita seperti Marissa." Jawab Smith tegas.
"Roy.." Asisten nya itu menganggukan kepala nya dan memutar sebuah rekaman suara berisi suara Marissa dan pria yang menjadi selingkuhan nya.
Joseon kembali mendapat fakta yang mengejutkan, rupanya wanita itu hanya memanfaatkan putra nya demi harta dan pria itu dengan senang hati membantu Marissa karena ingin membuat perusahaan anak nya bangkrut.
"Apa semua ini dapat di percaya Smith?"
"Tentu saja, aku mempekerjakan enam orang detektif untuk menyelidiki semua ini."
"Jadi, Appa rela aku menikahi gadis buruk murahan?"
"Batalkan pertunangan mu segera Smith, sebelum wanita itu semakin besar kepala." Ucap Joseon.
"Tentu saja, aku akan mengadakan press comperence tentang hal ini secepatnya."
"Baiklah, Appa hanya bisa meminta maaf dan akan mendukung semua keputusan mu." Ucap Joseon, dia merasa bersalah karena sudah terlalu memaksa Putra nya agar meneruskan hubungan nya dengan Marissa.
Tak lama bibi Rose datang dengan dua cangkir kopi dan satu teh hangat.
"Kenapa langsung senyap saat bibi datang, apa ini hal pribadi?"
__ADS_1
"Kamu terlihat sangat senang Lex, ada apa?"
"Akhirnya, Alex bisa bebas dari wanita jalangg itu bi." Jawab Smith, senyum nya terkembang lebar.
"Benarkah? Wah selamat untuk mu sayang, kamu tak perlu lagi berpura-pura menerima gadis itu. Berbahagia lah nak, kamu pantas bahagia dengan pilihan mu sendiri." Rose kembali memeluk Smith.
"Selama ini hanya bibi yang percaya padaku, terimakasih."
"Aku ibu mu sayang, anggap saja begitu."
Adegan mengharukan pun terjadi, hanya pada bibi nya lah dia bisa mencurahkan setiap keluh kesah di hati nya, dia bisa menangis di depan bibi nya, tapi tidak di depan orang lain. Ralat, di depan bibi Rose dan Amelia pasti nya.
"Menginap saja disini ya?"
"Tidak bi, aku ingin beristirahat di apartemen saja. Disana lebih nyaman."
"Lalu kapan kau akan kembali tinggal di rumah ini, sudah cukup kau menghindari ku." Tanya Joseon.
"Setelah aku menikah nanti." Jawab Smith.
"Kalau begitu segera lah menikah dengan gadis pilihan mu, umur Appa sudah tua. Setidaknya Appa ingin segera menimang cucu darimu sebelum Appa pergi."
"Kamu anak Appa satu-satunya Smith, pewaris tunggal keluarga Jeon. Jadi hanya kamu yang Appa andalkan," Ucap Joseon.
"Tentu Smith akan menikah, setelah semua ini selesai. Mungkin sebentar lagi akan ada tangis bayi di rumah ini."
"Appa sangat menantikan nya, pasti rumah ini ramai dengan tangis bayi penerus keluarga Jeon."
Smith segera membuka ponsel nya, dia membaca pesan yang di kirim oleh gadis nya.
"*Tuan, apa masih lama? Di luar ada orang yang menggedor-gedor pintu apartemen, saya merasa tak nyaman dan takut tuan."
"Kalau bisa, segera lah kembali*." Isi pesan dari gadis nya, Smith langsung panik dan meminta Roy untuk segera mengantar nya ke apartemen.
"Mau kemana Smith?"
"Ada urusan penting.." Teriak Smith karena dia sudah berlari dan masuk ke dalam mobil.
"Anak itu memang suka seenak nya sendiri."
"Ya, persis seperti dirimu." Ketus Roseane.
....
Di apartemen, Amelia meringkuk ketakutan di kamar nya. Meski sebenarnya dia merasa penasaran siapa di luar, tapi rasa takut nya lebih besar dari rasa penasaran nya.
"Cepatlah pulang tuan.."
"Aku membutuhkan mu.." Lirih Amelia.
__ADS_1
"Awwhhhsss..." Amelia memekik saat merasakan sakit yang teramat di hidung nya, dia mengambil tissu dan mengelap hidup nya.
Penyakit nya kambuh, dari kecil jika dia ketakutan pasti mimisan dan darah nya selalu mengalir banyak, bahkan bisa membuat nya tak sadarkan diri.
"Ayolah berhentii.." Amelia terus mencabuti tissu dari wadah nya, tissu itu menumpuk dengan warna yang berubah merah.
Dia merasakan dada nya sesak sedangkan bunyi gedoran pintu di luar masih terdengar bahkan lebih keras.
"T-tuan Smith..." Lirih Amelia sebelum dia jatuh tak sadarkan diri dengan tissu yang berserakan.
....
Smith segera keluar mobil, dia berlari menuju unit nya di lantai atas.
"Kenapa lift ini terasa sangat lambat." Gerutu Smith.
"Harusnya aku membeli unit di lantai satu."
"Sudah tuan, jangan terlalu panik. Nona Amelia pasti baik-baik saja." Roy mencoba menenangkan.
"Bagaimana bisa aku tak panik Roy? Oh, aku lupa! Kau kan jomblo akut, mana pernah ngalamin hal mendesak kayak gini." Masih sempat saja pria itu meledek asisten nya sendiri di saat-saat seperti ini.
Roy memilih diam, tuan nya galak seperti ayam beranak jika itu menyangkut gadis nya.
tingg...
Bunyi lift yang terbuka, Smith segera berlari menuju unit nya. Dia melihat dua orang dengan pakaian serba hitam tengah berusaha masuk ke unit nya.
"Woyy..."
Sontak kedua pria itu menoleh dan segera melarikan diri.
"Kejar Roy, aku akan melihat keadaan gadis ku."
"Baik tuan." Roy segera berlari mengikuti kedua pria itu.
....
Smith masuk ke dalam unit nya dengan tergesa, tujuan nya hanya satu. Dia ingin memastikan keadaan gadis nya.
"Pasti Amel di kamar.."
Smith membuka pintu kamar nya, dia terbelalak saat melihat Amelia terkapar dengan tissu berwarna merah dan berbau amis yang berserakan.
"Sayangg..."
....
🌻🌻🌻
__ADS_1
Besok author mungkin gak up ya, tapi tetep di usahain dua bab☺️🙏