
Smith menyandarkan tubuh nya di tembok, sungguh dia lelah, dia merindukan istri nya, tapi dia masih berada di ruangan dingin dengan dokter dan berbagai alat kesehatan.
Mengingat semua itu, air mata Smith kembali luruh. Dia tak tenang sebelum melihat sang istri baik-baik saja.
"Smith, makan dulu ya.." Tawar Bibi Rose, menyodorkan sekotak bekal buatan nya.
"Gak Bi, sebelum Amel sadar Smith gak mau makan." Jawaban yang sama, sedari tadi bibi nya terus membujuk Smith agar mau makan walau sedikit, tapi jawaban nya tetap sama, dia menunggu istri nya bangun.
"Smith, Amel pasti baik-baik aja. Ingat, kamu punya tanggung jawab dengan dua anak sekarang, Amel tentu nya gak bakal seneng kalau kamu begini."
"Jangan menyiksa diri sendiri Smith, bibi tau rasa nya berat, begitu menyakitkan. Tapi, pikirkan anak-anak mu juga nak, dia membutuhkan mu. Sejak mereka lahir, kamu belum melihat nya kan? Pergilah Nak, beri mereka sedikit kekuatan." Nasehat bibi Rose, membuat hati Smith bergemuruh.
Smith segera bangkit dan berlari menuju ruangan khusus perawatan bayi, karena ibu nya belum bangun, jadi mereka di rawat sementara di ruangan khusus.
Smith melihat kedua anak nya tengah tertidur di dalam box bayi, lagi-lagi tangis nya pecah melihat sang anak yang bahkan dia lupa mereka sudah terlahir karena terlalu sibuk memikirkan keadaan istri kesayangan nya.
"Maafkan papa nak, Papa mengabaikan mu.." Ucap Smith, pria itu berdiri di depan kaca ruangan, tak ada yang di perbolehkan masuk ke dalam ruangan khusus itu selain dokter atau perawat.
"Mel, kamu lihat anak kamu kan? Mereka sepasang bayi yang lucu, cantik dan tampan. Cepatlah bangun sayang, anak kita membutuhkan mu."
Smith bersandar di depan ruangan bayi itu, dia tak sanggup menahan tangis nya lagi, pada akhirnya sekuat apapun Smith, dia tetap manusia biasa yang punya kelemahan.
"Tuan Smith? Mau melihat anak anda?"
Smith mendongak menatap seorang dokter yang kemarin menangani istri nya melahirkan dengan sendu.
"Mari.." Ajak nya, Smith bangkit dari duduk nya mengikuti dokter wanita itu ke dalam ruangan.
"Cuci tangan dulu Tuan, kulit bayi masih sangat sensitif." Smith menurut dan mencuci tangan nya dengan sabun khusus.
Smith berdiri di antara dua box bayi berisi putra putri nya.
__ADS_1
Smith mengusap lembut pipi putri nya, kulit nya masih memerah, tapi sudah terlihat bahwa dia mewarisi kecantikan Amelia. Bibir nya tipis kemerahan, bulu mata nya lentik dengan hidung mancung.
Sedangkan putra laki-laki nya sangat dominan dengan nya, bahkan dia memiliki tahi lalat di bawah bibir nya, persis dengan milik Smith.
Smith tersenyum melihat putra putri nya nampak tenang.
"Tuan, apa anda sudah menyiapkan nama nya?"
"Belum, aku bahkan belum berdiskusi dengan istriku untuk nama mereka. Aku akan memikirkan nya terlebih dulu,"
"Baik tuan," Ucap dokter itu, setelah di rasa cukup dia melihat anak-anak nya, Smith keluar dari ruangan khusus bayi dan kembali duduk di samping bibi Rose di depan ruangan Amel.
"Apa Amel sudah bisa di jenguk, Bi?"
"Belum Smith, dokter masih di dalam." Jawab Bibi Rose.
"Aku tak tahan, bagaimana istri ku di dalam. Dia pasti kedinginan.."
...
3 jam sudah berlalu, dan kedua orang itu masih setia menunggu di luar ruangan.
Dokter keluar dengan pakaian steril nya, Smith bangkit dari duduk nya.
"Bagaimana keadaan istri saya, dok?"
"Sudah cukup stabil, tapi masih belum sadarkan diri." Jawab dokter itu.
"Apa istri saya masih kritis Dok?" Dokter itu mengangguk pelan.
"Lalu apa yang kalian lakukan di dalam ruangan selama berjam-jam hah?" Smith marah sambil menarik kerah kemeja dokter laki-laki itu.
__ADS_1
"Smith, jangan begini.."
"Aku menyesal membawa istri ku ke rumah sakit yang pelayanan nya buruk seperti ini, aku tutup rumah sakit ini sekarang juga." Dokter itu menelan ludah nya dengan kepayahan mendengar ucapan Smith.
Smith merangsek masuk tanpa mempedulikan larangan dokter, dia menutup pintu nya dengan kasar.
Smith bersandar di ambang pintu, dia belum siap melihat istri nya, tapi dia pun takkan tenang sebelum dia melihat keadaan sang istri dengan mata kepalanya sendiri.
Smith mengepalkan kedua tangan nya, dia berjalan pelan dan menyibak gorden hijau yang menutupi istri nya.
Smith termangu, dia melihat Amelia berbaring tak berdaya dengan mata yang tertutup rapat dan berbagai alat kesehatan yang melekat di tubuh nya.
Lagi-lagi, Smith menangis tergugu melihat istri nya.
Smith meraih tangan Amelia, mengecup nya singkat dan meletakan pipi nya di punggung tangan sang istri.
"Sayang, ayo bangun. Seperti nya kamu sangat menikmati tangisan ku, kamu tau aku paling tak bisa melihat mu terluka."
"Jangan buat aku merasa sendiri, aku membutuhkan mu, anak-anak kita juga."
"Kamu sakit? Aku lebih sakit sayang, jadi cepat bangunlah." Air mata Smith terus mengucur deras membanjiri wajah nya, bahkan pria menangis hingga sesenggukan.
Smith mengecup singkat kening sang istri, suami mana yang mau istri nya mengalami hal semacam ini? Takkan ada!
"Kalau saja aku bisa memilih, lebih baik aku tak punya anak selamanya daripada melihat mu seperti ini sayang, kita bisa mengambil anak dari panti asuhan."
....
🌻🌻🌻
__ADS_1
gak jadi tamat deh😂😂