
Amelia sibuk membersihkan kekacauan yang dibuat oleh awak media tadi, mereka meninggalkan banyak sekali sampah. Hingga membuat beberapa pekerja kebersihan harus extra membersihkan nya.
Amelia nampak akrab dengan beberapa petugas kebersihan laki-laki, mereka terlihat mengobrol sambil menyapu, Amelia juga terlihat senang dengan obrolan itu, sesekali dia tertawa bersama dengan rekan-rekan nya.
Hal itu tak luput dari penglihatan seorang Smith, dia mengawasi gadis nya dari jendela ruangan khusus di lantai 2. Dia dengan jelas melihat gadis nya tertawa bersama orang lain, entah kenapa rasa nya dia tak suka melihat gadis nya tertawa, tapi bukan dengan dirinya.
Smith beberapa kali berdecak sebal saat melihat interaksi gadis nya, dia tiba-tiba saja ingin marah-marah tak jelas. Mungkin ini yang disebut cemburu.
Roseanne yang sedari tadi ada disana juga, memperhatikan perubahan ekspresi keponakan kesayangan nya itu.
"Kenapa Smith, apa ada yang membuat kesal?" Tanya Bibi Roseanne.
"Aku mencintai nya Bi, aku melakukan semua nya demi gadis cantik ku, tapi lihat lah dia malah asik tertawa bersama pria lain." Jawab Smith lesu.
"Gadis mu yang mana?" Tanya Bibi Rose dengan dahi yang berkerut.
Mendengar itu, Smith tentu saja gelagapan. Sejauh ini belum ada yang tau siapa kekasih baru nya, kecuali Roy asisten nya.
"Sudah, lupakan.." Ucap Smith berpura-pura acuh.
"Keponakan bibi sudah dewasa ternyata, sudah tau mana yang baik sama yang buruk. Dari dulu bibi aneh sama kamu Smith, kok wanita sundall kayak Marissa kamu pertahanin gitu." Bibi Rose memang sangat dekat dengan Smith, ketimbang dengan Appa nya, Smith lebih dekat pada bibi nya. Menurut nya, sosok ibu lebih bisa di ajak mengobrol santai, dia bisa berkeluh kesah pada bibi nya, tapi tidak pada Appa nya. Karena Appa nya hanya pekerjaan dan pekerjaan yang menjadi bahasan nya dan itu membuat Smith muak.
"Entahlah, aku juga bingung Bi. Kenapa dulu aku bisa tergila-gila dengan wanita itu, tapi sekarang aku sudah bangun dari mimpi ku dan mencoba mencari wanita baik-baik."
"Iya pengen nya wanita baik-baik, udah dapet yang baik jangan di bikin rusak." Ketus Bibi Rose, dia tau kalau Smith tak lagi perjaka ting-ting.
__ADS_1
Mendengar ucapan bibi nya, Smith hanya cengengesan. Benar yang di katakan bibi nya, secara langsung dia sudah merusak gadis baik-baik. Seketika rasa bersalah menyeruak, menghantam dada nya.
"Melamun dah, pasti itu sudah terjadi yakan? Jadi tunggu apalagi? Segera bawa dia ke rumah, kenalkan sama Appa mu. Jangan menunggu lama-lama, keburu gadis nya bosan terus dia pergi. Jangan sampai kamu nyesel, apalagi kalau gadis itu sampai hamil."
Lagi-lagi ucapan bibi nya bagai pukulan keras yang tepat mengenai sasaran. Benar yang di katakan Bibi Rose, dia harus segera membawa Amelia menemui Appa nya. Apapun cara nya, dia harus bisa menikahi gadis cantik nya.
"Kau tau Smith, saat bibi menikah Appa mu tak memberi restu sedikit pun pada mendiang paman mu, karena kamu tau sendiri. Paman hanya karyawan biasa, juga dari keluarga sederhana, jauh dari kata mampu."
"Tapi itu lah cinta, tak tau pada siapa akan berlabuh, kapan cinta itu datang, dan dimana cinta itu bertemu. Semua menjadi misteri, termasuk apa yang bibi mu ini alami."
"Bibi menikah dengan paman mu, setelah melewati perjuangan panjang dan berbagai ujian yang sulit. Hingga kami bersatu, tapi ternyata tak berlangsung lama, karena tuhan lebih menyayangi nya. Disaat terakhir pun dia melindungi bibi, dia melemparkan bibi keluar beberapa detik sebelum mobil itu terjun ke jurang."
"Setelah kejadian itu, Joseon meminta maaf pada bibi karena sudah melarang bibi menikahi pria yang bibi cintai, dan saat itu dia juga memberikan restu nya, Smith. Tapi itu sudah sangat terlambat, suami bibi sudah meninggal juga dengan anak bibi yang masih kecil."
"Jadi, perjuangkan lah cinta mu Smith. Berpisah dari orang yang paling kita cinta itu rasa nya sakit, apalagi harus terpisah alam." Roseanne beberapa kali menyeka ujung mata nya yang mengeluarkan buliran bening.
"Kamu tau puncak rasa sakit dari rindu? Rindu pada orang yang sudah mati, bibi mengalami nya sendiri. Kamu tak perlu menanyakan bagaimana rasa nya, kamu pasti tau karena kamu juga merasakan nya."
"Ini alasan kenapa sampai sekarang bibi memilih sendiri, bagi bibi menikah cukup satu kali seumur hidup, cinta bibi di bawa mati oleh paman mu."
"Apa semua ini juga alasan kenapa bibi tetap mempertahankan warisan mendiang paman?" Tanya Smith, sedari tadi dia diam mendengarkan perjalanan cinta bibi nya.
Rose mengangguk pelan, bagi nya hanya itu yang tersisa dari mendiang suami nya. Satu buah rumah sederhana yang memiliki banyak sekali kenangan, juga mobil bekas kecelakaan maut beberapa belas taun silam yang dia museumkan.
"Smith akan memberikan mereka uang, agar tak mengganggu bibi lagi."
__ADS_1
"Bibi takkan pernah menyerahkan rumah itu Smith, rumah itu menjadi saksi bisu bagaimana bahagia nya kehidupan rumah tangga kami berdua, meski semua tak berjalan lama." Rose kembali mengusap butiran bening yang lolos dari mata nya.
"Apa bibi benar-benar tak membuka hati lagi untuk pria manapun?" Rose menggeleng.
"Bibi sudah nyaman sendiri dan bibi rasa, paman mu tetap hidup. Jadi bagaimana bisa bibi menghianati suami bibi sendiri, itu suatu hal yang mustahil untuk bibi lakukan." Jawab Roseanne, Smith tergugu mendengar jawaban bibi nya. Benar-benar kisah cinta sehidup semati yang memilukan, berakhir tragis.
"Jangan cengeng Smith, yang harus kamu lakukan sekarang hanya berjuang. Bibi selalu mendukung setiap keputusan mu, kamu laki-laki harus tegas dalam mengambil keputusan."
"Baik bi, secepat nya aku akan membawa gadis yang mampu membuat aku jatuh cinta setiap hari nya."
"Jangan terlalu lama, perempuan butuh kepastian bukan hanya omongan saja." Peringat Roseanne.
"Bibi yang terbaik, terimakasih bi." Smith memeluk wanita baya itu dengan erat, dia lega karena bibi nya begitu memahami nya.
Hal itu juga tak luput dari tatapan tajam Joseon, pria tua yang selama ini selalu mengutamakan keegoisan nya tampak menitikan air mata nya, dia sangat menyesal.
Dulu dia mengabaikan pria yang datang secara baik-baik untuk meminang adik nya, hanya karena pria itu orang miskin. Hingga dia merasakan penyesalan yang teramat besar pada mendiang adik ipar nya, selama hidup dia tak pernah memperlakukan pria itu dengan baik.
....
🌻🌻🌻
Puncak rasa sakit dari rindu adalah rindu pada orang yang sudah mati..
-Roseanne Park-
__ADS_1