
Smith terbaring dengan tubuh yang basah dengan keringat, nafas nya tersengal karena baru saja dia meraih pelepasan nya setelah hampir dua jam kedua sejoli itu bertarung di ranjang.
Amelia bangun dan berjalan pelan ke kamar mandi, meski sudah sering merasakan betapa dahsyat nya goyangan Smith tapi tetap saja di hajar begitu lama membuat inti nya ngilu.
"Kemana baby?" Tanya Smith.
"Ke kamar mandi, mau pipis tuan." Jawab Amelia pelan.
"Jangan lama, setelah itu kita tidur."
"Baik.." Amelia masuk ke kamar mandi dan seperti biasa dia selalu mengunci nya dari dalam, waspada jika pria itu kembali bernafsuu dan masuk tiba-tiba saat dirinya tengah menikmati me time nya di kamar mandi.
"Fiuhh, rasa nya lega sekali.." Gumam nya, dia keluar dan kembali menutup pintu kamar mandi nya.
"Sayang.." Panggil Smith, tadi dia mendengar bunyi pintu tertutup tapi gadis itu tak kunjung naik ke ranjang.
"Ya tuan, saya haus ingin minum dulu sebentar."
"Aku saja, tidurlah.."
"T-tapi.."
"Ingat kan? kalau aku tak suka di bantah?"
"Baiklah tuan.." Pasrah Amelia, daripada pria itu marah dan menghajar nya lagi, lebih baik mengalah saja. Padahal dia menginginkan jus mangga segar, pasti enak apalagi setelah di hajar habis-habisan tadi.
Tapi dia tak bisa merealisasikan keinginan nya karena Smith yang membawakan nya, huhh pasti air putih.
Tak lama Smith masuk dengan sekotak jus mangga dan dua gelas di tangan nya, dia tau dengan jelas apa maksud gadis nya ingin pergi ke dapur sendirian, pasti jus lah tujuan nya.
Jangan tanya kenapa Smith tau, karena beberapa kali Amelia terciduk minum jus malam-malam setelah mereka bercintaa lebih tepat nya, jadi itu sudah seperti kebiasaan.
Senyum Amelia merekah saat melihat Smith membawakan minuman kesukaan nya.
"Kok senyum, kenapa?"
"Mau itu.." Jawab Amelia manja.
"Nih minum, jangan kebanyakan udah malem. Jangan nimbun lemak."
"Makasih oppa.."
"Apa? Coba katakan sekali lagi." Pinta Smith pura-pura tidak kedengaran.
"Terimakasih oppa."
"Mulai sekarang panggil aku sayang atau oppa saja, jangan tuan." Putus Smith.
"Baik Oppa Smith."
__ADS_1
"Berani sekali kau menyebut nama ku!"
"Maafkan saya tuan."
"Haduh ini mulut kagak bisa di jaga banget, ku kira dia kagak bakalan marah. Alamat gak bakal tidur malam ini." Batin Amelia merutuki kebodohan nya, beberapa kali dia menepuk bibir nya.
"Tak apa, cepatlah minum jus nya. Setelah itu kita tidur, besok kita mulai bekerja lagi. Kau siap?" Amelia hanya menganggukan kepala nya, karena mulut nya penuh dengan jus mangga.
Telunjuk Smith bergerak seperti menusuk kedua pipi Amelia yang menggembung berisi jus mangga hingga jus itu muncrat.
Smith tergelak puas melihat wajah kesal gadis nya, entahlah semakin hari tingkah absurd nya semakin menjadi.
"Lap yang bener, nanti di kerubutin semut." Ucap nya kembali datar, seolah dia tak melakukan kesalahan apa-apa.
Amelia memutar mata nya sebal, dia mengambil alat pel dan membersihkan sisa jus yang tadi tumpah dari mulut nya dengan ekspresi wajah yang di tekuk.
Smith cekikikan di balik selimut, membuat gadis nya kesal seperti hobi baru untuk nya. Apalagi saat melihat bibir yang mengerucut lucu, Smith semakin bucin pada gadis kecil itu seperti nya.
Setelah selesai, Amelia ikut membaringkan tubuh nya di samping pria yang menggelung seluruh tubuh nya di dalam selimut tebal.
Amelia berbaring dengan bibir manyun nya, Smith yang sedari tadi diam-diam mengintip gadis nya segera menyosor bibir kemerahan milik gadis nya.
Awalnya Amelia biasa saja, tapi kelamaan dia juga ikut ke dalam permainan bibir pria handal itu. Amelia membalas ciuman itu tak kalah hebat nya, dia terbiasa dengan ciuman nakal pria nya.
"Mau lagi boleh?" Tanya Smith, Amelia yang sudah memanas tak bisa menolak nya karena tak dapat di bohongi dia juga kembali menginginkan nya.
Akhirnya mereka kembali melakukan ronde kedua di tengah malam yang sepi nan dingin.
Keesokan pagi nya, Amelia terbangun karena suara berisik yang berasal dari ponsel pria yang masih tertidur pulas dengan tangan yang melingkari pinggangnya dengan erat.
"Siapa ya, kok nelpon pagi-pagi?" Amelia memberanikan diri mengintip siapa yang menelpon pria itu pagi-pagi begini.
"Nona Marissa? Ada apa menelpon sepagi ini, angkat atau bangunin tuan Smith?" Amelia melirik Smith yang masih tertidur lelap.
"Biarkan saja, nanti juga nelpon lagi mungkin. Aku akan memberitahukan nya nanti saja." Putus Amelia, dia kembali merebahkan tubuh nya dengan perlahan agar Smith tak terbangun dari tidur nya.
...
Sedangkan Marissa tengah kesal setengah mati, awalnya dia senang bukan main karena nomor Smith bisa di hubungi kembali, tapi lagi-lagi dia harus menelan ke kecewaan karena Smith tak mengangkat telpon darinya.
"Berfikir lah positif Marissa, mungkin saja tunangan mu itu masih tertidur."
...
Smith dan Amelia kembali memulai hari sibuk mereka dengan bekerja, Roy sudah menunggu dengan wajah berbinar nya saat melihat Tuan dan Nona muda nya keluar dari kawasan Apartemen.
"Selamat pagi Tuan dan Nona muda." Sapa Roy ramah.
"Ceria betul kau hari ini, kenapa?" Tanya Smith setelah dia dan Amelia duduk manis di kursi belakang.
__ADS_1
"Tak apa tuan, saya hanya merasa sedikit beban saya berkurang."
"Beban apa?" Tanya Smith datar.
"Setiap hari saya di teror dengan kedatangan Nona Marissa ke kantor." Jawab Roy apa adanya.
"Belum lagi kemarin tuan besar juga tiba-tiba datang ke kantor."
"Mau apa dia?" Tanya Smith masih dengan ekspresi datar nya.
"Beliau hanya menanyakan kemana tuan pergi dan bertanya apa tuan punya wanita lain di belakang Nona Marissa."
"Lalu kau jawab apa?"
"Seperti yang tuan perintahkan, saya tutup mulut tuan." Jawab Roy, membuat senyuman terbit dari kedua sudut bibir Smith, Asisten nya memang paling bisa di andalkan.
"Bagus, saya beri kamu bonus bulan ini sebagai uang tutup mulut." Kabar yang sangat menggembirakan ya Roy.
"Terimakasih tuan.."
"Kau pantas mendapatkan nya." Ucap Smith lagi.
"Tuan.."
"Ya sayang, kenapa?"
"Tadi pagi-pagi sekali Nona Marissa menghubungi anda, tadi saya sempat melihat di layar ponsel tuan yang tergeletak di meja nakas." Jelas Amelia takut-takut kalau pria itu marah karena dia telah menyentuh benda pribadi nya.
"Biarkan saja, itu tak penting sayang.."
"Tuan tidak marah?"
"Marah karena apa?" Tanya Smith dengan kerutan di kening nya.
"Karena saya lancang menyentuh ponsel anda."
Smith terkekeh mendengar penjelasan gadis nya, jangan kan ponsel benda yang lebih pribadi saja sering keluar masuk tubuh Amelia.
"Kau mau melihat ponsel ku? Ini.." Smith menyodorkan ponsel mahal nya ke tangan Amelia.
"Bukan kah di antara kita tak ada lagi rahasia? Jadi untuk apa? Aku tak melarang mu untuk menyentuh atau memakai ponsel ku." Roy menganga mendengar ucapan tuan muda nya, bukan maksudnya untuk menguping tapi tetap terdengar karena dia juga punya telinga yang masih berfungsi normal.
Smith paling anti kalau ponsel nya di sentuh orang lain, bahkan Marissa dan dirinya sendiri pun di larang keras untuk menyentuh atau memainkan ponsel milik nya. Tapi pada Amelia? Pria itu dengan senang hati memberikan nya secara sukarela.
"Benar-benar bucin akut.." Batin Roy.
...
🌻🌻🌻
__ADS_1
Si rambut biru jangan sampai lolos🤭🤭🤭