
Saat masih berpelukan, pintu di ketuk lirih dari arah luar, membuat pelukan itu terlepas.
"Kamu duduk dulu ya, aku buka pintu. Gak usah takut, ada aku." Smith membingkai wajah Amelia.
"I-iya Oppa." Amelia menurut dan duduk di sofa.
Pintu terbuka, menampilkan seseorang yang sangat tak ingin Smith lihat, bahkan seumur hidup nya.
Seorang pria berwajah blasteran tersenyum ke arah nya, tapi Smith hanya menunjukan wajah datar nya. Pria itu nyelonong masuk dan duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi kebesaran Smith.
"Hai Smith, kawan lama. Apa kabar mu?" Tanya Gerald, ya pria itu datang dengan tanpa rasa malu.
"Baik, bahkan sangat baik. Ku kira kau sudah mati Gerald, ternyata kau masih hidup." Sindir Smith dengan sinis nya.
"Hahaa, aku kan kuat masa mati cepet sih.." Jawab Gerald.
"Hih, sangat percaya diri."
"Oh ya, aku dengar pertunangan mu dengan Marissa di batalkan ya?" Tanya Gerald, dia tak tau kalau kartu as miliknya sudah ada di tangan nya.
Lagi pun yang menangkap pria itu dan membawa nya ke tempat kosong itu kan Smith dan Roy, hanya saja mereka memakai topeng, jadi Gerald tak tau siapa mereka.
"Jelas, mana mau aku sama bekasan. Aku mau gadis segel." Jawab Smith, tampak menyeringai menatap Gerald.
"Kamu sering memakai Marissa kan? Lalu kenapa masih berani bertanya hal seperti ini pada ku?" Sindir Smith, membuat wajah Gerald berubah pias.
"Dari awal kau tau sendiri, aku tak suka berbagi apapun, apalagi wanita."
"Selagi suka sama suka, gapapa kali Smith." Jawab Gerald tanpa malu.
"Oh ya? Kalau ku tukar posisi nya, bagaimana? Apa kau masih mau?" Tanya Smith datar.
"Tentu saja, aku sudah terbiasa berbagi."
"Ckkk, ku harap kau terkena penyakit kelaminn Gerald."
"Tentu saja takkan mungkin, aku selalu memakai pengaman jika bermain." Bangga Gerald.
"Pengaman saja bukan jaminan kau takkan terkena penyakit kelamiin menular Gerald, lebih baik setia dengan satu wanita yang sudah jelas asal-usulnya,"
"Itu bukan kebiasaan ku Smith, aku lebih suka mencoba berbagai rasa lubang." Jawab Gerald.
"Terserah kau saja, jadi ada apa kau kesini?" Tanya Smith, dia rasa sudah cukup dengan basa-basi yang unfaedah ini.
"Hanya mampir sebentar menemui sahabat lama ku, apa tidak boleh?"
"Tentu saja tidak, aku muak melihat wajah mu itu Gerald. Pintu perusahaan ku akan selalu tertutup untuk mu, disini tak menerima pria yang tak bisa menghormati wanita."
__ADS_1
"Halah kau ini, seperti tak doyan lubang wanita saja." Ledek Gerald.
"Pantasan saja Marissa mencari pelampiasan dengan lelaki lain, kau tak bisa di andalkan. Apa pisang mu bisa bangun Smith?" Gerald bertanya dengan nada mengejek, berusaha memancing emosi seorang Smith Alexander, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Pria itu nampak tenang.
"Wanita gatal dan pria otak mesoom memang sangat cocok ya. Dan jika kau pikir pisang miliku tak bisa bangkit, kau salah besar Gerald. Pisang ku tentu nya akan bangun jika pada wanita yang tepat, tidak pada pelacurr."
"Pisang ku begitu pilih-pilih, kemana dia akan masuk. Tak seperti terong milik mu yang suka sekali masuk lubang sembarangan." Sindir Smith, tapi Gerald memang tebal muka. Jadi dia tak merasa tersindir, dan masih bisa senyam-senyum.
"Hahaha, terlalu pilih-pilih juga tak menguntungkan Smith. Aku jadi ragu, apa kau sudah pernah bermain dengan wanita? Aku curiga kau belum pernah merasakan betapa nikmat nya lubang wanita."
"Kau begitu percaya diri dan menghina ku ya?" Tanya Smith, berusaha setenang mungkin. Bukan apa-apa, dia mengkhawatirkan keadaan gadis nya yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka dari sofa.
Dan bodohnya Gerald, dia seperti tak menyadari ada gadis cantik yang duduk di sofa di belakang nya.
"Santai saja, kau bisa belajar memuaskan wanita dari ku Smith. Kau bisa mencoba berbagai gaya yang akan membuat para wanita memuja keperkasaan mu."
"Aku tak perlu belajar dari pemain amatiran seperti dirimu, lagi pun aku lebih suka bermain di kasur." Jawab Smith.
Di tengah pembicaraan itu, Roy datang dengan wajah datar nya. Dia membawa beberapa berkas penting, seperti biasa nya materi untuk meeting besok pagi.
"Saya sudah mempelajari nya Tuan, jadi anda bisa menanda tangani nya." Ucap Roy, fokus hanya pada tuan muda nya,tanpa peduli pada keberadaan Gerald.
Smith mengambil pena mahal nya dari balik saku jas, dan segera membubuhkan tanda tangan nya.
"Suruh Rena menemani Amel Roy,"
"Baby, ikut lah bersama Roy.." Amelia yang merasa terpanggil segera berjalan mendekat ke arah Smith.
"Oppa, t-tapi.."
"Pergilah, aku akan menemui mu nanti. Bicara lah bersama Rena," Smith bangkit dari kursi kebesaran nya, memberi gadis nya pengertian agar pergi dari tempat yang terasa memanas ini.
"Baiklah, segera telepon aku jika sudah selesai."
"Ya, tentu saja baby." Smith mengecup kening gadis nya dengan mesra, memamerkan kemesraan nya pada Gerald.
Amelia mengekor di belakang Roy, pergi dari ruangan pria nya.
"Waw, ternyata kau punya barang bagus juga ya.."
"Kau mau merebut nya juga Gerald?" Tanya Smith sinis.
"Kalau boleh, aku juga ingin menyicip nya. Pasti lubang nya sangat legit, juga suara desahaan nya akan terdengar merdu di telinga ku." Jawab Gerald dengan berani.
"Coba saja goda dia, jika dia mau padamu Gerald. Dia bukan tipe wanita gatal seperti Marissa,"
"Oh ya, kau lupa pesonaku sebagai cassanova Smith?"
__ADS_1
"Seperti nya dirimu takkan ada apa-apa nya di depan gadis ku, Gerald."
"Ayolah, kita berbagi. Atau kita bermain bersama, bagaimana?" Tanya Gerald, semakin lama dia semakin berani.
Smith tak peduli apapun lagi, dia marah karena pria itu berani membayangkan gadis nya.
Dia bangkit dari kursi, tangan nya mengcengkeram kerah kemeja yang di pakai Gerald, hingga membuat pria itu berdiri.
"Berbagi? Ayo berbagi.."
Bughhh..
Gerald tersungkur saat tinjuan kuat mengenai wajah tampan nya, tapi belum selesai disitu. Smith menduduki tubuh Gerald, kembali melayangkan bogeman ke arah wajah pria itu lagi.
"Dan itu pelajaran untuk mu karena sudah berani membayangkan gadis ku.."
Uhukk..
Gerald batuk darah saat kepalan tangan itu meninju perut nya.
"Masih mau berbagi dengan ku brengseek?" Tanya Smith, dada nya naik turun pertanda emosi nya tak stabil.
"Tak kusangka, kau bisa move on dari Marissa Smith. Ternyata kau punya barang bagus dan masih muda, pasti.."
Dughh..
Kaki Smith melayang ke arah punggung pria itu, menendang nya hingga pria itu kembali terbatuk.
"Cassanova sialan, biawak air, kecoa busuk, baru begini saja kau kalah? Cemen." Ucap Smith.
"Roy.." Teriak Smith, tak lama pria itu datang dengan beberapa security berbadan tegap dengan otot-otot yang menonjol.
"Seret pria sampah ini, dan ingat jangan biarkan pria ini masuk lagi ke perusahaan ku. Jika dia memaksa hajar saja, kalau perlu habisi di tempat." Perintah Smith dan langsung di angguki oleh security itu. Mereka menyeret tubuh lemas Gerald, membawa nya keluar secara paksa.
"Dimana Amel?"
"Di ruangan saya bersama Rena, Tuan."
"Biarkan dia disana dulu, emosi ku sedang tak stabil, aku takut menyakiti nya. Kau sebaiknya disini, jangan mengambil kesempatan untuk curi-curi pandang pada gadis ku." Peringat Smith.
"Baik tuan.." Selain patuh terhadap perintah, apalagi yang bisa dia lakukan? Memancing kemarahan harimau buas pasti akan sangat merugikan nya.
...
π»π»π»
Selamat yang udah jawab Gerald, kalian benar. Ketebak banget ya alur nya?π€
__ADS_1
jangan lupa gift bunga sama kopi nya yaπππ