PANGGIL AKU MAS!

PANGGIL AKU MAS!
Akhir Cerita Panggil Aku Mas!


__ADS_3

Suatu pagi di kamar berdinding pinky dengan gambar hellokitty, tampak gadis kecil yang menyikap selimut bulu pinky.


"Selamat pagi, cantiknya Papa." Ucap Pras, yang mendekati sang putri kecilnya. Putri kecil yang sedang menatap ke sebuah cermin dan memastikan, giginya yang tanggal sudah mulai tumbuh lagi.


"Morning, Papa." Balas Alishba, dan masih menatap cermin besar, yang ada dihadapannya.


Rhiannon Alishba Nuha, nama sang gadis kecil itu. Yang artinya, anak perempuan cantik dan cerdas.


"Papa, what are you doing?" Tanya Alishba, yang melihat Papanya merapikan meja belajarnya, dan menata buku-buku, memasukan ke dalam tas merahnya.


(Papa, apa yang kamu lakukan?)


"Papa menata buku kamu. Hari ini, kamu ada kegiatan melukis, terus siang nanti, ada kegiatan menari ballet." Ucap Pras dengan santai.


Alishba menggeleng dan berkata "I can do it myself, Papa."


(Aku bisa melakukannya sendiri, Papa.)


"Aku gemas sama Alishba, kenapa selalu memakai bahasa Inggris. Aku jadi semakin pusing mendengarnya." Batin Pras yang mengehela nafas pelan.


Pras mendekati Alishba, dan menatap lekat putri kecilnya. Alishba tersenyum manis, dan memegang wajah sang Papa.


Kedua tangan Pras memegang kedua sisi lengan Alishba, lalu berkata "Alishba sayang, kamu jangan berbicara bahasa Inggris terus. Kalau kamu masih begitu, Papa mau sita tablet kamu. Papa juga akan melarang kamu menonton youtube."


"Why? Am I wrong in English?" Tanya Alishba, dengan mengerucutkan bibir imutnya.


(Kenapa? Apa aku salah dalam berbahasa Inggris?)


"Tidak salah sayang, tapi teman-teman kamu kadang katakan. Mereka, kadang nggak ngerti apa yang kamu bilang. Makanya kamu di sekolah, nggak punya teman. Bu guru juga bilang, kamu suka bermain sendiri." Jawab Pras dengan tenang.


Wajah kecil mungil itu perlahan menjadi sendu, mendengar perkataan sang Papa. Menurut pikiran Alishba, sang Papa telah memarahinya.


Alisha dengan cemberut, lalu berkata "Friends have Mama, Alishba doesn't have Mama."


(Teman punya Mama, Alishba tidak punya Mama.)


Pras mendengar hal itu tidak bisa berkata apapun. Pras meraih tubuh kecil itu, dan mendekapnya erat-erat.


"Alishba, Papa sudah sering bilang. Mama ada disini, dalam pelukan Alishba. Papa dan Mama, sayang Alishba. Mama peluk Alishba setiap hari, hanya saja Alishba tidak bisa melihat Mama." Ucap Pras dengan tenang.


"Why can't Alishba see Mama?" Tanya Alishba.


(Mengapa Alishba tidak bisa melihat Mama?)


"Alishba sudah tahu, Papa udah cerita sama Alishba." Jawab Pras dengan sendu dan berusaha tegar.


Alishba menatap ke wajah sang Papa, dan berkata "Papa, don't cry. Papa, not a kid."


(Papa, jangan menangis. Papa, bukan anak kecil.)


"Papa tidak menangis sayang. Papa cuma kelilipan. Coba kamu tiup mata Papa." Ucap Pras, dan Alishba memegang wajah sang Papa. Bibir imut itu meniup mata sang Papa.


Pras jadi tersenyum melihat tingkah Alisha. Anak berusia 6 tahun, tapi sangat pintar. Alishba memang suka menyendiri, dan tidak pandai bergaul. Tapi dia sangat ceriwis, bila sudah mau mengobrol.


Seperti Britney, yang tidak pandai bergaul. Tapi kalau sudah mengenalnya, pasti bisa mengobrol panjang lebar.


Britney meninggalkan Pras saat melahirkan Alishba. Seperti putri tidur, dan dalam detik terakhirnya, memejamkan matanya, dalam pelukan suami tercinta.


Britney masih sempat mencium anaknya, dan memberikan nama yang cantik untuk sang putri.


Yuupss!


Nama Alishba, adalah pemberian Britney. Setelah itu, Britney tidur panjang untuk selamanya. Pras menjadi Papa tunggal diusia 25 tahun. Sampai sekarang, Pras tidak membiarkan seseorang mengusik perasaannya. Dalam hatinya, hanya ada nama Britney Rhiannon, sang istri tercinta.


"Iya Papa, Alishba nanti bermain sama teman-teman. Tapi, Alishba mau Mama." Ucap Alishba dengan sendu.


Pras mengelus rambut putri kecilnya, dan tersenyum manis.


"Ayok mandi. Nanti kamu bisa terlambat." Ujar Pras yang mengalihkan suasana.


Sudah lebih dari jam 6 pagi, dan gadis kecil itu menuju kamar mandi, dengan membawa kimono kecil. Pras sudah menyiapkan air hangat, disebuah ember khusus untuk Alishba mandi. Semenjak Alishba sekolah TK B, Alishba bisa mandi sendiri, dan mengerjakan apapun sendiri. Dari mulai berpakaian, makan, merapikan mainan dan lainnya.


Tapi sang Papa tetap tidak tega. Seperti tadi, Papanya menata bukunya. Tapi Alishba tidak mau, kalau Papanya yang merapikan buku, dan memasukannya ke dalam tas.


"Alishba, buruan mandinya." Ujar Pras yang menunggu sang putri, mandinya sangat lama dan masih bermain air.


Alihsba keluar kamar mandi, dengan memakai kimono bewarna pink bergambar hellokitty. Alishba dengan senyuman manisnya, lalu mendekati sang Papa.


"Kenapa kesini? Buruan pakai baju, sayang." Ujar Pras.


"Papa, buat sarapan apa?" Tanya Alishba, dengan suaranya yang sangat menggemaskan.


"Papa bikin spaghetti kesukaan kamu." Jawab Pras dan si kecil ingin melihat, tapi tidak bisa. Karena kompornya terlalu tinggi. Pras lalu berkata "Sayang, ayo buruan pakai baju. Papa udah siapain baju kamu di atas kasur."


"Okay, Papa." Ucapnya dan bergegas ke kamarnya.


Pras menggeleng dan kadang berfikir tentang pola tingkah anaknya itu. Kata keluarga sang istri, Alihshba malah sangat mirip karakter Maeva kecil. Entah, mungkin waktu istrinya hamil, sempat tidak suka dengan Maeva, atau malah menggemari Maeva, mereka berdua kalau bertemu pasti ada saja yang diperdebatkan. Mungkin karena itu, tingkah Alishba jadi mirip seperti Maeva. Oma Sarah juga melihat, kalau Alishba yang bertingkah menggemaskan, seperti Maeva kecil.


"Papa, ini sudah lembek." Ucapnya, dengan bibir imutnya yang sangat menggemaskan.


"Bukan salah Papa, tapi kamu yang dandan terlalu lama. Ayo buruan makan. Nanti kamu terlambat ke sekolah." Ucap Pras.


Pras menikmati kopi paginya. Sudah jam 7 pagi. Putri kecilnya masih sibuk makan. Sekolah akan dimulai jam 8 pagi. Tapi tetap saja, Alishba tidak mudah. Drama pagi hari selalu ada, dan membuat Papa muda ini gemas.


Pras masih tinggal di puri anggrek. Bahkan Pras sudah membeli rumah itu setelah kepergian sang istri. Rumah yang banyak kenangan dengan sang istri, dan Pras tidak mau pergi dari situ. Bu Ella selaku pemilik rumah, mengerti keadaan Pras, akhirnya merelakan rumahnya untuk dibeli Papa muda ini.


Warga puri anggrek juga semakin akrab dengan Pras. Setelah kepergian Britney, para ibu-ibu berhenti mencuri pandang dengan Pras. Mereka semua merasa kehilangan sosok Britney, dan malah mendukung Pras yang masih menduda. Terutama Aksa, Bu RT, Bu Mirna dan Bu Betty. Setiap Pras tidak bisa menjemput Alishba, mereka bergantian menjemput Alishba, dan mengajak pulang ke rumah mereka.


Eithss! Aksa sudah menikah, tapi dia masih tinggal di puri anggrek. Anaknya berumur satu tahun. Aksa sudah seperti Paman buat Alishba.


Pandu juga tinggal di Jakarta, tapi cukup jauh dari rumah Pras. Sesekali Pandu menjemput Alishba, dan mengajaknya ke taman rekreasi, bersama istri dan anaknya.


"Papa, are you ready?" Tanya Alishba, yang sudah siap dengan tas dipunggungnya, dan menjinjing satu set alat lukis.


(Papa, apakah sudah siap?)


"Yes baby. Come on." Jawab Pras, yang sudah memakai helm, dan duduk di jok motor maticnya.


(Ya sayang. Ayo.)


Alihsba meletakan kotak lukisnya di dekat kakinya, dan berdiri di atas dak motor, kedua tangan Alishba berpegang pada gagang spion.


Gadis kecil yang memakai helm bergambar hellokitty, dan dia sangat suka, ketika berdiri diatas dak motor.


"Let's go!! Papa." Ucapnya dan Pras mulai menjalankan motornya.


(Ayo berangkat!! Papa.)


Ngeeeng!!!

__ADS_1


Cinta, sebuah hal istimewa. Bukan lagi hanya dirasakan dengan raga, melainkan akan selalu tersimpan dalam hati.


Pambaca sekalian, ini sebuah kisah. Tidak, ada kesan manis saat ini. Sebuah perjuangan yang di lalui Mas Pras begitu panjang.


Di saat cinta itu bersemi dan tumbuh, lalu tenggelam bersama kepergiannya.


Tidak seperti itu, rasa cintanya semakin dalam. Merasuk ke dalam hati, jiwa dan raganya.


Sungguh ironis bukan, seorang Mas Pras yang baru merasakan manisnya cinta bersama istri yang dia cintai. Tapi dalam sekejap, bahkan belum ada setahun, dirinya membina rumah tangga, tapi dia telah ditinggal pergi, untuk selama-lamanya.


Dulu sekali sakit hati karena ditinggal menikah, bisa terobati karena bertemu jodohnya. Saat setelah bertemu sang jodoh itu. Ternyata, jodoh maut telah memisahkan mereka berdua.


Pras yang sangat mencintai istrinya. Begitu pula, sang istri yang sangat mencintai suaminya.


Sebenarnya, bukan masalah dalam melahirkan sang buah hati. Britney sudah lama menderita penyakit kanker. Hanya Britney yang tahu hal itu, semua keluarga juga syok setelah tahu, alasan kepergian Britney.


Vava, Evan, dan Ghea sangat terluka. Bahkan Vava sampai sekarang sikapnya tampak berubah. Vava sempat dilarikan ke rumah sakit. Semua keluarga Pras sangat berduka.


Britney pergi, Kakek Restu juga pergi. Sang Kakek tidak lama menyusul cucu kesayangannya.


Selama ini Britney tampak ceria, tidak ada tanda apapun dengan dirinya, yang membuat dia sakit. Bahkan Pras sendiri, juga tidak menyadari hal itu sama sekali.


😭😭😭😭😭


Bye bye



...Tapi itu semua hanya tulisan othor gesreknya Mas Pras. He. he. he....


Beberapa hari lalu Mas Pras bermimpi itu, dan semakin bertambah rasa cintanya kepada sang istri.


Moment special diakhir cerita


"PANGGIL AKU MAS!"


Pagi datang dengan mentari terbit dari ufuk timur. Setelah sholat subuh Pras kembali tarik selimut.


"Papa, Papa wake up. Papa wake up." Suara gemas dari bibir imut Alishba.


(Papa, Papa bangun. Papa bangun.)


Pras yang tengkurap memeluk guling dan matanya masih terpejam, lalu berkata "Alishba, sekarang hari sabtu sayang."


"Papa, promise. Want take Alishba to the Ragunan." Ucap Alishba sambil menarik tangan sang Papa.


(Papa, janji. Mau ajak Alishha ke Ragunan.)


Britney menggeleng melihat putri kecilnya, yang begitu menggemaskan ketika membangunkan Papanya.


"Alishba, biarkan Papa tidur sayang. Ke Ragunan nanti jam 9. Ini baru jam 6." Ujar Britney.


"Mama, I can't wait." Balas Alishba.


(Mama, aku tidak sabar.)


Britney mendekati anaknya, dan menggendongnya. Mengajaknya keluar dari kamar itu.


"Alishba, try you see." Ujar Britney.


(Alishba, coba kamu lihat.)


(Apa sepeda itu untukku?)


"Yes, a bicycle for you, baby." Jawab Britney.


(Ya, sepeda itu untukmu, sayang.)


Alishba langsung turun dari gendongan sang Mama, melihat lebih dekat dan menaiki sepeda pinky unyu itu.


Hari ini ulang tahun Alishba, dan ingin sekali punya sepeda baru. Pras semalam pulang kerja sudah membelikan sepeda pink itu, tapi karena Alishba sudah tidur. Britney menyimpannya di bagasi mobil.


"Papa, buy that for me?"


(Papa, membelikan itu untukku?)


Pras yang masih malas beranjak dari kasurnya, dan Alishba perlahan duduk di tengah kasur.


"Nduk, ojo ngomong Inggris terus. Papa, bingung." Ujar Pras.


(Nak, jangan bicara Inggris terus. Papa, bingung.)


"Papa, beli sepeda itu buat Alishba?" Tanya Alishba dengan suaranya yang manja.


Pras gemas dan mengangkat gadis kecil itu ke atas dadanya. Gadis kecil yang saat ini, telah menginjak usia 6 tahun.


"Selamat ulang tahun Alishba, cantiknya Papa. Mmuuaach." Ucap Pras dan menciumi wajah Alishba.


"Cium pipi Papa." Pinta Pras.


Mmuuuacch!


"Kanan?"


Mmuuuachh!


"Hidung belum!"


Mmuuuachh!


"Papa, Papa, itu sepeda Alishba?" Tanya Alishba yang masih ingin tahu dari Papanya. Padahal sang Mama sudah cerita. Tetap saja, Alishba masih ingin mendengar dari cerita sang Papa.


"Bukan, itu punya Kakak Giel." Jawab Pras yang menggoda.


Seketika wajah Alishba berubah, kenapa sepada itu diberikan untuk Kakak sepupunya, bukan untuk dirinya.


Pras tidak kuat melihat bibir imut putri kecilnya yang sudah berkerucut, dan matanya mulai berkaca-kaca.


"Hems, Iya sayang. Itu sepedanya Alishba. Bukan punya Kakak Giel. Kakak Giel, kan cowok. Masak pakai sepeda pink." Ucap Pras dan Alishba menangis.


Huuuwwaaa!! Hiikks! Hikkss


"Mama.... Mama... Mama...." Teriak Alishba yang menangis kencang.


Pras semakin gemas melihat anaknya yang sudah menangis.


Britney yang di halaman depan rumah, mendengar anaknya berteriak, dan langsung bergegas ke kamar.


"Sayang, kamu kenapa nangis?" Tanya Britney, lalu duduk di tempat tidur, dan Alishba langsung memeluk sang Mama.

__ADS_1


Pras sangat nakal dan tersenyum "Sayang, aku cuma bercanda."


Britney mencubit paha suaminya dengan gemas. Anaknya menangis tersedu-sedu. Tapi sang Papa, tampak tidak bersalah.


"Mama, Papa nakal. Papa nakalin Alishba." Ucapnya dengan sesenggukan dan tidak terdengar jelas.


"Sayang, Mama udah cubit Papa kamu. Sayang udah dong nangisnya. Katanya, tadi mau main sepeda dulu. Mama baru nyiram tanaman, tapi kamu malah ke kamar." Ujar Britney, sambil mengelus rambut Alishba.


Alishba dalam pangkuannya dan memeluk erat sang Mama. Masih sesenggukan. Pras bangkit dari kasurnya, dan bergegas ke kamar mandi.


Alishba sudah diam dari tangisnya, dan masih dalam dekapan Mamanya. Pras yang sudah mencuci muka, berjongkok di depan anaknya.


"Ayok kita main sepeda." Ucap Pras.


Alihsba masih diam, dan tidak mau mendengarkan omongan Papanya.


"Alishba, kalau tidak mau. Kita nggak jadi pergi ke Ragunan. Nggak jadi lihat gajah." Ucap Pras.


"Mama, tell Papa. Alishba doesn't want to be with Papa." Ucapnya dan suara pelan.


(Mama, bilang Papa. Alishba tidak mau bersama Papa.)


"Papa, Alishba tidak mau sama Papa." Ucap Britney.


"Kenapa nggak mau sama Papa??" Tanya Pras dan mengelus rambut Alishba.


"Mama, tell Papa. Papa was told to play with Giel's brother."


(Mama, bilang Papa. Papa suruh main sama Kakak Giel aja.)


"Papa, katanya Alishba. Papa main aja sama Kakak Giel." Ucap Britney dengan tersenyum.


"Beneran, Papa disuruh main sama Kakak Giel?? Ya udah, Papa mau ke rumah Kakak Giel aja." Ujar Pras, yang menggoda putri kecilnya itu.


Alihsba semakin menempel Mamanya. Alishba mulai menangis lagi.


Hiikksss!!


Pras sangat gemas dibuatnya, dan mengangkat gadis kecil itu dari dekapan sang Mama. Alishba memberontak, dan menendang sang Papa. Tapi, perlahan mau juga digendong sang Papa.


Pras mengajak anaknya keluar rumah, dan melihat sepeda barunya. Alishba sudah punya yang roda dua, dan ada tambahan roda samping. Tapi kali ini minta yang warna pink, dan ada keranjang kecil di sisi depan sepeda itu.


"Mas, ada telfon." Ucap Britney.


Pras masih menggendong Alishba di depan rumah.


"Ini Papa, bukan Mas." Ketus Alishba.


"Iya, ini Papa." Ucap Pras.


Britney menggeleng, dan selalu lupa ketika di depan anaknya.


"Sayang, kalau di depan Alishba jangan PANGGIL AKU MAS! Alishba selalu protes." Bisik Pras, yang masih menggendongnya putri kecilnya.


"Iya, aku lupa Mas." Balas Britney dengan berbisik pelan.


Akhir-akhir ini Alishba sering protes, dan tidak terima bila Papanya dipanggil mas.



😅😅😅


Gimana teman-teman setia Mas Pras??


Sekarang sudah ada yang protes, bila dipanggil Mas.


Ini hanya cerita, bila suka tekan jempolnya.


Mas Pras cukup sekian dulu. Sebuah cerita dan hanya cerita, tidak ada yang istimewa.


Sekian dari othor gesreknya Mas Pras.


Salam hangat dari othor 🤗😍😘


"Terima kasih para penggemar setia Mas Pras. Semoga kalian terhibur." Ucap Britney.


Pras berkata "Mohon maaf, bila ada yang kurang dari saya, dicerita PANGGIL AKU MAS! Terima kasih untuk semua para pembaca setia. Salam manis dari saya. Love you. Bye bye."


🤗🤗😘😘😘


...TAMAT...


Bila nanti ada yang meminta kelanjutan ceritanya.


Mungkin bisa othor pertimbangkan. Soalnya dari beberapa komentar, minta yang manis-manis. Tadinya malah, othor pengen Mas Pras nikah lagi, Eh...malah kabur naik bus, pulang ke Semarang.


😅😅😅



Eitts, kalau Mas Pras beneran jadi duda gimana?


Terus misalkan Mas Pras menikah lagi gimana?


Apa kalian masih setia sama Mas Pras??


🤭🤭🤭


Othor mau istirahat dulu nulisnya.


Bila nanti masih minta dilanjut,


othor lanjut disini saja,


tapi tidak update setiap hari. 🤗😘


Jadi tetap difavorite aja ya. 🤗🤗😘


Love Love seabrek buat semuanya 😘😘😘


Eh.. othor sok English, padahal translate hahaha.


Mas Pras dadi bingung. 😅


Buat yang penasaran ketengilan Mas Pras, bisa cek di ig: vie_gv05.


Terima kasih pembaca setia,


Sampai jumpa 🤗🤗😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2