
Kanan... Terus... Terus... Stop... Suara orang mengarahkan sopir mobil box di depan rumah kontrakan.
Hari Kamis telah tiba, ternyata semua berjalan dengan cepat. Setelah mengecat dinding rumah dan memasang wallpaper untuk kamar dan ruang tamu. Semua selesai sesuai keinginan sang istri, akhirnya Pras hanya menghela nafas.
Pagi sekitar jam 10.16 WIB, sebuah mobil pengangkut dari toko furniture tiba. Pras sudah meminta ijin kepada bu Nia, kalau hari ini dirinya pindahan rumah.
Tapi Britney ada rapat penting dengan direktur perusahaan dan petinggi lainnya, jadi dia tidak bisa mengurus kepindahan rumah. Namun hari rabu sore, dirinya sudah berbelanja furniture dan juga elektronik.
Suaminya cukup berdebar saat melihat perabot yang dibeli istrinya, satu persatu barang itu turun dari mobil itu.
"Pak, tolong ditanda tangani surat pengantar ini." ucap seorang pegawai dengan tulisan meuble king's dibelakang seragamnya.
Pras menandatangi itu, pegawai itu memberikan satu lembar surat yang sudah berbayar untuk Pras.
Semua barang sudah ditempatnya, spring bed ukuran queen dengan 2 bantal dan 2 guling. Sofa minimalis, satu set meja makan 4 kursi, lemari besar, lemari kecil, meja rias, jemuran baju stenlis dan beberapa bed cover.
Elektronik yang datang juga jauh dari bayangan Pras, ada AC, TV LED, kulkas, mesin cuci, kompor gas, magicom dan kipas angin berdiri, microwave, blender, dan coffee maker.
AC dipasang di dalam kamar oleh tukang AC dari toko elektronik itu. Kalau itu memang Pras juga menginginkannya, karena sudah terbiasa tidur dengan ruangan dingin.
Tapi untuk yang lainnya tidak terpikirkan oleh Pras. Itu belum seberapa masih ada pritilan perabot dapur yang sudah dibeli istrinya dihari sebelumnya.
Pras mulai merapikan, perlahan semua sudah tertata rapi "Sayang, aku harus menasehatimu" keluh Pras saat menata ruangannya.
Pras sudah memindahkan barang pribadinya, lumayan capek, tapi demi sang istri dia tidak peduli. Cuma dalam pikirannya, apa yang dibeli istrinya sangat berlebihan.
Tikkkttok... Tiikkktokk...
Sudah sore, sudah mandi, tinggal menata baju dan memasang lampu, karena ada lampu yang mati.
Adzan maghrib sudah berkumandang, Pras sudah rapi dengan baju koko, sarung dan peci, hendak berangkat ke Mushola perumahan. Pras hendak menutup pagar, melihat mobil sang istri telah tiba. Pras kembali membuka pintu pagar, mendorong ke kanan.
Britney melihat suaminya yang sudah rapi, dia turun dan mengatakan "Mas, aku bisa sendiri. Mas berangkat saja ke Mushola."
Pras hanya tersenyum dan berjalan ke Mushola. Britney melihat ada yang aneh dengan senyuman sang suami.
Britney memasukan mobilnya, ternyata motor satunya belum di rumah ini. Karena beberapa barang Pras juga masih di kost. Dan belum pamit dengan ibu kost, juga yang lain. Hanya Anton yang sudah tahu, kalau hari ini Pras pindahan rumah.
Britney masuk ke dalam rumah, melihat semua sudah tertata rapi. Mereka memiliki dua kunci, karena handle kunci pintu rumah, diganti Pras saat ada tukang merapikan rumah itu.
__ADS_1
"Mas, pasti kamu sangat capek." ucap Britney yang sudah di kamar dan melihat tempat tidur sudah rapi, dengan bedcover berwarna ungu putih. Gorden jendela juga sudah terpasang rapi dengan motif bunga berwarna ungu.
Britney hendak sholat magrib lebih dulu. Selesai sholat, dia langsung menyiapkan makanan yang tadi dia beli saat perjalanan pulang.
"Mas Pras pasti sekalian sholat isya'. Aku harus mandi dulu." ucapnya dan bergegas untuk segera mandi.
Benar, setelah selesai sholat isya' Pras baru pulang. Britney yang keluar dari kamar mandi dan hendak ke kamar, masih memakai kimono handuk berwarna ungu dan rambutnya terikat handuk putih, menatap suaminya dan Pras hanya diam.
"Mas, kamu sudah pulang." ucap Britney dan mencium tangan Pras.
"Cepatlah ganti baju dan sholat." ucap Pras dan Britney bergegas ke kamar.
Pras berjalan ke dapur untuk mengambil minum, dia melihat meja makan sudah tersaji makanan. Mangkok berisi sop dan ayam goreng dipiring putih, sambal dipiring kecil, yang tertutup tudung saji berwarna ungu.
Hampir semua yang dibeli Britney berwarna ungu dan putih. Pras duduk di kursi dan minum sambil membuka tudung saji. Lalu mengambil dua piring dan sendok, Pras juga menyiapkan dua minum.
"Mas, biar aku saja." ucap Britney mengambil gelas yang dibawa Pras.
Mereka berdua makan malam bersama di rumah itu, dan Pras cukup terdiam, Britney merasa ada yang salah dengan situasi ini.
"Mas, kenapa? Apa makanannya tidak enak?" tanya Britney.
Britney diam, memang suaminya tidak seperti biasanya. Setelah makan, Britney mencuci piringnya dan Pras ke kamar mandi. Britney juga diam, tidak berani bertanya lagi.
Setelah cuci piring, Britney memasukan baju kotor ke mesin cuci dan menyalakan mesin cuci itu. Lalu dia bergegas ke kamar mandi untuk bergosok gigi. Britney kembali ke kamar dan duduk di kursi menghadap cermin, memakai serum vitamin dan pelembab untuk wajahnya. Tangannya juga sudah wangi karena bodylotion.
Pras masuk ke dalam kamar, menatap istrinya yang masih duduk di depan meja rias. Britney menoleh.
"Mas..." Britney memeluk suaminya.
Pras awalnya hanya diam lalu berkata "Kamu sudah menghabiskan banyak uang kamu."
Britney mendengar hal itu merasa takut, ternyata suaminya marah. Britney tidak berani berkata dan hanya menunduk diam.
"Aku harap, kamu tidak mengulanginya." ucap Pras lalu mengambil ponselnya dan keluar dari kamar itu.
Britney juga salah, tidak bertanya dan memberi tahu suaminya lebih dulu. Dia asal memilih dan membeli barang-barang itu. Padahal suaminya sudah memberi kesempatan untuk dirinya berbelanja sesuai kebutuhan saja.
Britney selesai menjemur baju di ruang belakang, yang tertutup atap kaca. Britney masuk ke kamar.
__ADS_1
Pras sudah bersandar di tempat tidurnya dan kedua tangannya sibuk mengetik. Matanya hanya tertuju pada layar laptop dan tidak melihat istrinya yang ada disebelahnya.
"Mas, masih marah sama aku?" tanya Britney dan tangannya memegang lengan kiri Pras.
"Aku tidak marah." ucap Pras, tapi dia tidak menatap istrinya.
Britney merasa suaminya masih marah. Britney menyandarkan kepalanya dipundak sang suami. Tangannya masih memegang lengan kiri Pras dan berharap suaminya tidak marah lagi.
"Kamu jangan lupa untuk membayar zakat." ucap Pras dan Britney hanya mengatakan, kalau dirinya tidak akan lupa untuk membayar zakat.
Pras meletakan laptopnya yang masih menyala itu "Lain kali, kamu harus bilang sama aku." ucap Pras, lalu memeluk istrinya.
"Mas tidak marah lagi?" tanya Britney.
"Aku tidak marah, asalkan kamu juga harus memanfaatkan semua barang yang kamu beli. Aku tidak suka hal yang berlebihan." ucap Pras sembari memeluk istrinya dengan erat.
"Iya mas, aku mengerti. Maafin aku." ucap Britney, lalu Pras mencium pipi Britney dengan gemas.
Pras menatap istrinya dan berkata "Aku sayang kamu. Aku juga tidak bisa marah sama kamu."
"Eemmm.. Aku takut kalau mas marah sama aku." ucap Britney dengan matanya yang berkaca-kaca dan jantungnya berdebar kencang.
Pras menciumi wajah cantik itu dengan perlahan, hampir semua bagian wajah cantik itu sudah dirajai oleh suaminya.
"Kamu sudah mengamalkan do'a itu??" tanya Pras.
"Iya, mas." jawab Britney.
Pras seketika membuat Britney terjatuh dalam keganasannya. Pria dengan penuh pesona dalam gairah cinta untuk istrinya. Britney yang sudah siap lahir dan batin, kedua tangan itu dalam genggaman, berselimut, bercumbu rayu, dalam mantera peraduan pertama dan menjadi malam mereka berdua.
Malam jum'at, malam panjang untuk mereka berdua. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mereka berdua dalam puncak kenikmatan yang sejati.
Ooohhh... Rasanyaa aauuuu *Author
Yuupss...
Malam ini adalah malam pertama mereka. Kedua insan beradu dalam kehangatan dan ini yang pertama bagi keduanya.
Semoga lancar, tanpa ada gangguan lagi. *Authorr๐ ๐
__ADS_1