PANGGIL AKU MAS!

PANGGIL AKU MAS!
Malam Penuh Perasaan


__ADS_3

Langkah mendekat suara lantunan ayat suci begitu syahdu, rasanya sangat menyentuh hati Britney. Sudah keberapa kalinya Britney ingin belajar mengaji, tapi kalau dia sudah berpindah keyakinannya, Britney harus pergi dari rumah kakeknya.


Britney juga berdarah Pakistan, tidak heran ketika dia mendengar Sarah mengaji hatinya seperti sangat rindu. Tapi kakeknya tidak ingin Britney pergi dari rumahnya seperti Ferdi dan Martin yang meninggalkan rumahnya karena cinta terhadap perempuan muslim.


Ferdi Setyawan adalah anak pertama Restu Mahendra, semenjak mengenal Sarah waktu dia berkuliah dulu. Dia menjadi mualaf dan menikahi Sarah. Tapi Restu Mahendra tidak masalah akan hal itu, sampai sekarang tetap rukun dengan menantunya. Hanya saja mereka tidak bisa tinggal serumah.


Martin Herdiawan adalah anak kedua Restu Mahendra. Dialah Papa Britney yang sudah meninggal, waktu itu usia Britney lima tahun. Istrinya keturunan asli Pakistan. Bahkan wajah Britney cenderung mirip Mamanya yang khas Timur Tengah.


"Mamah...." Suara Britney terdengar sendu dan memeluk Sarah.


"Kamu merindukan Ibumu?" Tanya Sarah.


Britney merasakan ketulusan Sarah. Nama kecil Britney sebenarnya Fayra Az-Zahra. Tapi semenjak diasuh oleh kakeknya yang keturunan Tionghoa, jadinya nama itu diganti sesuai kehendak kakeknya dan memasukan dalam kartu keluarganya.


Birtney Rhiannon adalah nama kesukaan Vanesa.


Vanesa sempat menyesal setelah anaknya sendiri ternyata perempuan, harusnya nama itu diberikan untuk anaknya saja. Tapi Vanesa juga sangat menyayangi Britney.


"Mama, kalau calon suami Britney nanti orang muslim, apakah Britney harus mengikutinya?" Tanya Britney.


Deg!


Perlahan Sarah mengelus rambutnya dan menatap dalam Britney. Sekarang gadis yang didepannya sudah dewasa. Sarah tidak pernah tahu apa isi hati Britney selama ini. Dia hanya menyayangi Britney sebagai keponakan saja dan tidak pernah menasehati Britney tentang keyakinan, lalu Sarah berkata dengan lembut "Sayang, kamu sudah dewasa. Kamu tanya pada hati kamu. Hanya diri kamu sendiri yang tahu akan hal itu. Mama hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan kamu sayang."


Evan dan Ferdi masuk ke mushola rumah itu, dan melihat keduanya yang berpelukan.


"Bah, sepertinya kita akan mengalami kesulitan." Ucap Evan.


Ferdi melirik Evan "Abah juga berfikir seperti itu."


Britney merasa ada orang yang menatap dirinya. Lalu tersenyum merlihat kedua pria tampan dihadapannya. "Abah.... Britney lagi galau."


Ferdi memeluknya dan berkata "Abang kamu sudah cerita. Kamu tidak perlu cemas."


Satu keluarga yang harmonis tidak ada batas antara Ferdi dan Britney. Britney menganggap Ferdi seperti ayahnya.


Mereka pergi ke ruang makan dan ada satu gadis berusia satu tahun dibawah Britney, duduk dengan santai dan tidak peduli dengan apa yang terjadi.


Dirumah yang lain ada seorang gadis yang memeluk guling ditempat tidurnya dan tidak berhenti menatap sosok Pras dalam galery ponselnya.


Dia berusaha telfon Pras tapi Pras tidak mengangkat panggilannya.


[Bang Pras, sudah punya pacar?]


Sebuah chat sudah terkirim dan Pras masih belum membukanya.


[Kalau memang benar, bilang sama Vava. Vava rela kalau bang Pras bahagia sama dia.]


Pras masih belum membaca chat itu.


Pras masih mengaji, dengan suara merdu dan sangat nyaman bila didengarkan. Dengan begitu hati Pras kembali tenang, dan tidak berfikir lagi tentang mantannya yang akan menikah.


Pras selesai mengaji dia masih berdoa untuk kedua orang tuanya dan seluruh keluarganya agar diberikan kesehatan dan dilancarkan rezekinya.


Pras yang masih diatas sajadahnya mengambil ponsel, ada panggilan masuk dan dia langsung menjawabnya.


"Assalamu'alaikum cah bagus." Sapa Ibunya Pras.


(Assalamu'alaikum anak tampan.)


"Wa'alaikumsalam Bu'e. Pras wau nembe ngaji. Bue telfon terus." Ucap Pras.


(Wa'alaikumsalam Ibu. Pras tadi baru mengaji. Ibu telfon terus.)


"Ibu lagi wae iki telfon." Ucap Ibunya Pras.

__ADS_1


(Ibu baru telfon saat ini saja.)


Pras berfikir siapa yang dari tadi sudah telfon, bahkan lebih dari lima kali. "Nggih sampun, sanes Bu'e. Bu'e pripun kabare, sehat?"


(Iya sudah, bukan Ibu. Ibu bagaimana kabarnya, sehat?)


"Bu'e sehat, Bapakmu yo sehat. Iki ono kabar penting." Ucap Ibunya Pras.


(Ibu sehat, Bapak kamu juga sehat. Ini ada kabar penting.)


"Kabar nopo Bu'e?" Pras meletaknya sajadah dan pecinya diatas meja lalu duduk di tempat tidur.


(Kabar apa Ibu?)


"Putri wis lamaran, karo sing iki wis setuju." Ucap Ibunya, setelah Putri menerima lamaran dan selesai acara Ibunya tidak sabar menghubungi Pras.


(Putro sudah lamaran, sama yang ini sudah setuju.)


"Alhamdulillah... Mengke kulo whatshapp mbak Putri." Ucap Pras yang merasa senang kakaknya sudah mau menikah.


(Alhamdulillah... Nanti saya whatshapp Kak Putri.)


"Iyo, mau kabeh seneng. Calonne mbakmu kui anakne Pak Lurah Kebon Kulon." Ucap Ibu Pras.


(Iya, tadi semua senang. Calonnya kakakmu itu anaknya Pak Lurah Kebon Kulon -Kebun Barat-)


"Sinten Bu'e? Mas Cahya?" Tanya Pras yang mengenal anaknya Pak Lurah.


(Siapa Ibu? Kak Cahya?)


"Candra Kusuma, koncomu. Nek Cahya wis rabi sasi wingi." Ucap Ibunya Pras.


(Candra Kusuma, temanmu. Kalau Cahya sudah menikah bulan lalu.)


Deg!


Tapi saat ini kakaknya bahagia. Seluruh keluarga menantikan pernikahan ini, apalagi Putri usianya sudah sangat cocok untuk menikah, bahkan kalau tetangga bilang malah kelewat umur.


"Nggih Bu'e, kulo kenal Candra." Ucap Pras yang tidak ingin mematahkan kebahagiaan Ibunya.


(Iya Ibu, saya kenal Candra.)


Tidak banyak yang Pras bicarakan dengan Ibunya, karena Ibunya ingin mengabari saudaranya. Pras menutup panggilannya.


Pras masih dengan ponselnya.


Ada beberapa chat dari Vava dan Britney secara bersamaan.


[Pras besok temui saya dialamat ini. Karena saya tidak bisa ke kantor ☺.]


Itu isi chat yang dibuka lebih dulu dan Pras langsung membalasnya.


[Baik, besok saya kesana ☺.]


Lalu berganti menjawab chat dari Vava dan Pras membalasnya.


[Benar, tadi aku jalan sama pacarku. Aku harap kamu mengerti. Kamu harus rajin belajar, jangan sering bolos sekolah ☺.]


Pras merasa sudah berbohong, tapi juga merasa lega, dengan begini Vava tidak mengharapkan dia lagi. Pras tahu ini akan melukai perasaan Vava, tapi Pras berfikir dia masih remaja seperti adiknya yang hanya merasakan cinta monyet.


Vava membaca pesan itu dan hanya mengirim ucapan selamat diiringi emoticon bahagia. Padahal hatinya tidak nyaman dan tanpa sadar ada yang membasahi pipinya.


Pras adalah cinta pertama Vava. Baru kali ini dia memiliki perasaan cinta. Di usianya yang baru 17 tahun, tapi dia sudah mengalami patah hati.


Perasaan Pras sangat tidak nyaman, apalagi dia sudah menolak Vava. Pras juga memikirkan kakak perempuannya. Bagaimana kehidupan kakaknya nanti, apalagi pernikahan bukan sekedar pacaran.

__ADS_1


Tapi Pras tidak ingin melukai perasaan kakaknya. Pras mengirim pesan kepada kakaknya.


[Mbak, kowe tenan karo Candra? Wis sholat istikharah durung? Aku kenal Candra.😘]


(Kak, kamu serius sama Candra? Sudah sholat istikharah belum? Aku kenal Candra.)


Tidak lama sudah dibalas kakaknya.


[Iyo dek, aku wis istikharah. Aku ngerti polahe Candra. Kowe cukup meneng wae. Percoyo karo mbakmu iki. Kowe piye, ojo mikirke mantanmu terus, ndang golek liyane. Adikku bagus, mesti akeh sing pengen sesanding karo kowe.🥰]


(Iya adik, aku sudah istiqoroh. Aku tahu kelakuan Candra. Kamu cukup diam saja. Percaya sama kakakmu ini. Kamu gimana, jangan mikirin mantan kamu terus, cepat cari yang lain. Adikku tampan, pasti banyak yang ingin jadi pendampingmu.)


[Iyo, mbakku sing ayu. Aku lagi wae move on. Akeh sing pengen cedak, tapi aku isih galau.😞]


(Iya, kakak yang cantik. Aku baru saja move on. Banyak yang ingin dekat. Tapi aku masih galau.)


[Yowis, sesok bali opo ora? Nek ora mengko tak jagongke. Aku wingi wis entuk undangan. Bapak yo entuk soko kantor.☺]


(Ya sudah, besok pulang tidak? Kalau tidak nanti aku yang amplopin. Aku kemarin sudah dapat undangan. Bapak juga dapat dari kantor.)


[Aku tetep bali, aku pengen dadi saksi, nek kono wis bahagia karo wong liyo. Aku kudu teko, opo meneh wingi kono wis telfon aku 😌.]


(Aku tetap pulang, aku ingin jadi saksi, kalau dia sudah bahagia dengan yang lain. Aku harus datang, apalagi kemarin dia sudah telfon aku.)


[Siip.. adikku ora ambyar. Tetep, legowo ya. Ojo mergo kahanan kowe ora iso nompo 😘.]


(Keren, adikku tidak runtuh. Tetap, lapang dada. Jangan karena masalah ini kamu tidak bisa menerima kenyataan.)


[Tenang mbak, adikmu koyo Janaka. Pergi satu datang seribu 😎.]


(Tenang kak, adikmu seperti Arjuna. Pergi satu datang seribu.)


[Iyo.. aku percoyo adikku sing bagus dewe 🤗.]


(Iya.. aku percaya adikku yang tampan sendiri.)


[Hayo, sing bagus dewe? Pandu piye? Tak omongke Pandu 😅.]


(Hayo, yang tampan sendiri? Pandu gimana? Nanti dibilangin ke Pandu.)


[Asem kowe. Yowis...nek ora trimo, tak tarik meneh omonganku 😭.]


(Masam kamu *stilah memaki*. Ya sudah... kalau tidak terima, aku tarik lagi perkataanku.)


[Iyo.... ojolah. Aku tetep sing bagus dewe. Pandu sing ganteng dewe 😎.]


(Iya.... Janganlah. Aku tetap tampan sendiri. Pandu yang ganteng sendiri.)


[Opo bedone bagus karo ganteng? Artine podo 🤔.]


(Apa bedanya taman sama ganteng? Artinya sama.)


[Bedo mbak, tulisanne wae bedo 😜.]


(Beda Kak, tulisannya saja beda.)


Masih banyak rententan chat kepada kakaknya dan Pras lalu mengalihkan ke grup keluarga, adiknya lalu ikut mengroyok Putri.


Kedekatan Pras dengan saudaranya sangat akrab, ternyata Putri sudah cukup mengenal sosok Candra. Pras tidak kepikiran lagi. Yang jelas selama kakaknya bahagia, Pras juga bahagia.


.


.


.

__ADS_1


Semoga kalian semua suka dengan cerita ini, jangan lupa Like, Komentar, Rate dan Vote untuk cerita ini. Terima Kasih semuanya 😍


__ADS_2