
Sabtu sore setelah tadi pagi Britney dibawa Pras ke rumah sakit. Sudah tampak segar dan sangat semangat. Dokter yang memeriksa juga sudah mengijinkan Britney untuk di bawa pulang. Yang penting harus banyak istirahat dan harus mau makan.
Britney yang duduk bersandar di tempat tidur, Pras membawakan rujak bebeg buatan Budhe Woko. Tadi siang setelah tahu kalau Britney mengidam, Budhe Woko di antar Tante Fitri ke pasar untuk membeli bahan rujakan. Tante Fitri juga sekalian membeli oleh-oleh untuk di bawa pulang ke kota kembang.
"Sayang, cobain ini." Ucap Pras dan memberikan rujak bebeg yang disajikan dengan pincuk.
"Apa ini??" Tanya Britney.
"Rujak bebeg buatan Budhe Woko." Jawab Pras.
Pras menyuapi istrinya. Britney merasakan rujak buah dengan sajian berbeda. Rujak bebeg yang di sajikan dengan pincuk daun pisang dan makannya menggunakan suruh (sendok daun pisang).
Rujak yang di tumbuk menggunakan lesung dan alu, isiannya juga beraneka ragam buah muda. Ada mangga muda, kedondong, jambu biji, ubi mentah, babal (putik nangka), bengkoang, dan pisang klutuk muda (pisang batu).
Di tumbuk jadi satu dan diberi bumbu cabai rawit, garam, gula jawa dan terasi juga sedikit gula pasir. Bumbu itu juga di haluskan lalu setelah tercampur jadi satu, siap disajikan menggunakan pincuk daun pisang.
"Emmss. Iya Mas, di Jakarta juga ada yang jual seperti ini. Tapi aku tidak pernah beli. Ternyata ini enak banget Mas." Ujar Britney setelah merasakan kesegaran rujak itu.
Yang di luar rumah juga sedang mengantri, Budhe Woko seperti orang yang sedang berjualan rujak bebeg.
Tante Fitri padahal hendak berangkat pulang ke Bandung, tapi masih menikmati rujak bebeg ala Budhe Woko. Apalagi Om Satria minta dibuatkan yang pedas.
"Mules pora kui engko!" Tegur Pakde Woko.
(Mules tidak itu nanti!)
"Kurang pedes, kurang mantul Mas." Ucap Om Satria.
(Kurang pedas, kurang mantul Mas.)
"Mas Woko, Mas Satria rajanya cabai. Aku susah kalau cabai sedang mahal." Ucap Tante Fitri.
"Wah wah...... Iki wis koyo antri neng bakulan. Mbakyu.. Aku gelem, tapi sing peudes." Ucap Pak Heru yang mendekati para saudaranya itu.
(Wah wah...... Ini sudah seperti antri di penjual. Mbakyu.. Aku mau, tapi yang pedas.)
Pandu dan Pamela hanya menatap saja, karena mereka berdua sudah makan rujak itu lebih dulu, bersamaan yang dibawa Pras tadi.
"Pras mau yo pesen sing pedes, tapi dipenging Ningsih. Sesok arep bali neng Jakarta. Engko nek loro weteng." Ucap Budhe Woko dan menyajikan rujak untuk Pras.
(Pras tadi juga pesan yang pedas, tapi dilarang Ningsih. Besok mau pulang ke Jakarta. Nanti kalau sakit perut.)
Pamela mengantarkan rujak pesenan Pras dan cukup berbeda dengan rujak bebeg yang Britney makan tadi. Pesanan Pras itu harus ada nanas dan buah mengkudunya tapi tidak pakai terasi.
"Mas, rujakmu." Ucap Pamela.
"Dokoke mejo sik." Balas Pras.
(Letakan meja dulu.)
"Mas Pras, engko rujake kutah!" Ujar Pamela.
(Mas Pras, nanti rujaknya tumpah.)
Britney mengambil yang dipegang Pras itu, lagian tinggal sedikit. Pras mengambil miliknya dan pergi keluar. Pamela mengambil kursinya, berganti menemani Britney.
"Enak tidak Mbak??" Tanya Pamela.
"Enak!! Aku doyan. Tapi aku besok sudah pulang. Jadi bingung kalau nanti pengen rujak ini." Jawab Britney.
"Ajak aja Budhe Woko. Nanti setiap hari dibuatin rujak bebeg." Ujar Pamela dengan bercanda.
"Kamu bisa saja." Balas Britney.
__ADS_1
Britney juga merasa terhibur oleh sang adik, lalu Pamela mengambil bekas daun pincuk itu dan membawanya keluar.
Britney juga menurut nasehat dari dokter dan juga beberapa nasehat dari Bu'e. Tadi Britney jadi ingat, mungkin juga berkat jamu dari Bu'e waktu itu. Jadi Britney segera menjadi Mama.
Tapi ini juga berkat do'a sang suami tercinta dan do'a dari semua keluarganya. Apalagi saat resepsi kemarin, semua orang mendo'akan agar Britney segera diberi momongan.
"Pras, besok kamu berangkat pagi?" Tanya Tante Fitri.
"Iya Tante, paling tidak jam 6 pagi. Soalnya senin sudah harus kerja lagi." Jawab Pras.
"Terus Britney nanti gimana? Kasian, masih hamil muda." Ujar Tante Fitri.
"Sepertinya harus istirahat dulu Tante. Tadi Pras juga sudah telfon Kakek sama Abah, semua tidak keberatan kalau Britney harus istirahat dulu." Balas Pras.
"Pras, yang penting kamu harus selalu siaga." Ujar Om Satria.
"Pasti lah Om, Pras selalu siap siaga, belum hamil saja sudah siaga terus." Balas Pras dengan tengil dan semua tertawa.
Makan rujak dibawah pohon mangga, berkumpul bersama keluarga.
Mantuull!!
Britney di kamar masih ditemani Pamela, setelah keluar membuang pincuk, membawakan minuman untuk kakak iparnya.
Kemarin sepanjang hari Britney bercanda dengan Claudia karena Pamela sekolah. Tapi pagi-pagi Claudia sudah pulang ke Boyolali. Jadi Claudia tidak tahu kalau Britney tadi dibawa ke rumah sakit.
Tahunya setelah siang sampai di rumah, Pandu telfon menanyakan tentang dirinya, karena tadi pagi lupa tanya soal adik sepupunya itu sudah sampai di rumah atau belum.
Pagi tadi semua orang sibuk mengurus Britney, jadi lupa dengan Claudia yang sedang perjalanan pulang ke Boyolali.
Keluarga Boyolali juga sangat bahagia saat mendengar kabar baik itu. Tapi ada tetangga rumah yang sedang berhajatan, jadi mereka tidak bisa ke Semarang. Padahal Bulek dan juga Omnya, ingin sekali bertemu Britney, sebelum nantinya Britney kembali ke Jakarta.
Setelah maghrib.
"Hati-hati dijalan Om, semoga perjalanannya lancar. Nanti Britney akan berkunjung ke Bandung." Ucap Britney.
"Iya Britney, yang penting kamu jangan terlalu capek dulu. Ada suami kamu yang siaga, kamu berhak bermanja, suruh suami kamu untuk selalu mengerjakan semuanya." Ujar Om Satria dengan canda tawa.
Pras hanya tersenyum dan memainkan bibirnya. Bapak dan Bu'e juga tersenyum mendengar ucapan Om Satria itu.
"Fitri, hati-hati dijalan. Terima kasih sudah mau sibuk bantuin Mbakyu." Ucap Bu'e memeluk adik iparnya itu.
"Sama-sama Mbakyu, kakaknya Mas Satria cuma Mbakyu, siapa lagi saudara kita selain Mbakyu." Balas Tante Fitri.
Om Satria juga berpamitan dengan sang kakak, hanya Bu Setyoningsih yang masih menemaninya. Bu'e juga sangat menyayangi adiknya itu, Bu'e juga sudah menyiapkan oleh-oleh untuk keluarga Tante Fitri. Bu'e tidak lupa membawakan beras sekarung untuk Tante Fitri.
Setiap mudik ke Semarang, sudah jadi tradisi Bu'e membawakan beras untuk para saudaranya yang pulang kampung.
"Mas, sing sehat. Titip Mbakyu, aku kapan-kapan bali meneh." Ucap Om Satria kepada Pak Heru.
(Mas, yang sehat. Titip kakak, aku kapan-kapan pulang lagi.)
"Iyo, kowe yo sing sehat. Ngati-ngati, aku gur iso wenehi pangestu. Sukses, lancar golek rezeki." Ucap Pak Heru setelah memeluk adik iparnya.
(Iya, kamu juga yang sehat. Hati-hati, aku cuma bisa memberikan do'a. Sukses, lancar mencari rezeki.)
"Aamiin." Ucapnya dan Tante Fitri juga anak- anaknya berpamitan dengan semuanya.
Keluarga Om Satria sudah berangkat, mobil hitam itu sudah hilang dari pandangan mereka semua. Budhe dan Pakde Woko masih duduk di teras dan yang lainnya sudah masuk ke dalam rumah.
"Britney, yang ini untuk kalian bawa besok." Ucap Bu'e, sambil menunjuk karung beras cap super.
Pras hanya menggeleng saja, bagaimana mobilnya muat.
__ADS_1
"Bu'e mboten sah dibetani beras." Sahut Pras yang mendekati Bu'e.
(Bu'e tidak perlu dibawain beras.)
Bu'e menatap Pras dan Britney hanya tersenyum manis. Pandu yang menjelaskan, kalau mobilnya tidak akan muat. Di dalam bagasi saja sudah ada koper dan oleh-oleh dari Jogja.
Belum lagi tadi Tante Fitri juga membelikan aneka oleh-oleh khas Semarang untuk Britney, saat Tante Fitri tadi membeli oleh-oleh untuk saudara juga temannya.
"Yowis nek ngono. Tapi sing neng kerdus kui ojo lali di gowo. Pandu koyo sisan delehi mobile Mbakyumu." Ujar Bu'e.
(Ya sudah kalau begitu. Tapi yanh di kardua itu jangan lupa di bawa. Pandu sana sekalian taruh mobilnya kakakmu.)
"Nggeh Bu'e niki mawon sing dibetho." Ucap Pras.
(Iya Bu'e ini saja yang dibawa.)
"Bu'e, Britney mau berasnya. Tapi sedikit saja. Jangan sekarung begitu." Ucap Britney, yang tidak ingin mengecewakan hati Ibu mertuanya.
"Ganti sing iki wae, gur 5 kilo mesti amot." Ujar Pak Heru yang mengambilkan kantong beras lain.
(Ganti yang ini saja, cuma 5 kilo pasti muat.)
Pras mulai menata pakaian di koper satunya, Pandu tersenyum saat melihat kesibukan sang kakak.
Pras tadi pagi sudah telfon Rendy. Agar Rendy tidak membawa banyak barang, karena bawaan Britney sudah banyak. Lalu saat bertemu di rumah sakit, Rendy bilang hanya akan membawa satu kardus kecil, karena isinya pesanan saudaranya.
"Mas, aku pengen makan mie ayam." Pinta Britney.
"Iya, biar Pandu yang beli." Balas Pras.
"Aku pengennya makan di warungnya. Itu yang kemarin sama Claudia. Dekat rumah Pak Lurah." Ucap Britney.
Pras tidak bisa menolak keinginan Ibu hamil. Akhinya meninggalkan kopernya begitu saja. Mengantarkan sang istri untuk membeli mie ayam. Pandu dan Pamela ternyata juga ikut bersama mereka.
Setengah jam kemudian.
"Sudah kenyang, ayo kita jalan-jalan Mas." Pinta Britney.
"Jalan kemana?? Sudah malam. Kamu harus istirahat." Ujar Pras dan menatap sang istri.
"Tapi besok sudah pulang, setidaknya muter aja di dekat Simpang Lima. Enggak perlu turun dari mobil. Ayolah Mas, sebentar saja." Pinta Britney dengan merengek sedih.
Pamela dan Pandu tertawa saat melihat ekspresi Pras ketika menghadapi Britney. Tapi itulah kenikmatan seorang suami ketika memiliki istri dan sekarang sang istri sedang hamil, apapun keinginannya harus dituruti.
Tapi tidak begitu juga, Pras tidak menuruti semua keinginan Britney. Seperti tadi siang melarangnya menonton drakor, dan malah menyuruh istrinya untuk menatap dirinya saja.
*Pahmud *Mahmud
πΌπΌπΌπΌπΌ
Semoga kalian suka cerita dalam bab ini.
Jangan lupa berikan dukungan kepada author dengan Like, dan Vote.
Komentar kalian begitu manis dan author jadi seperti membaca pesan dari pacar. Hehehe.
O iya... Buat Para author lain yang kemarin mencari novel "KELUARGA GABUT CHECK!!" mohon maaf, novelnya sudah tidak bisa ditampilkan lagi karena sesuatu hal.
Tapi jangan lupa dukungan kalian di novel terbaru author dengan judul
"CALON ISTRI TUAN MUDA L"
__ADS_1
Author tunggu kehadiran kalian semua. π€π