
Sepanjang pagi Pras disibukan karena masalah Vava. Siang hari Britney tidur dengan pulas. Vava duduk bersandar menemani sang Kakak. Apalagi Britney semalaman kurang tidur karena kepergian tetangga.
Vava mengambil sebuah novel yang ada di meja, samping tempat tidur sang kakak, sesekali Vava tangannya mengusap rambut Britney, dan mengatakan sayang.
"Kakak, Vava sayang kakak."
Setelah selesai sholat jum'at, Pras pergi untuk memeriksakan kondisi Aksa. Kerena Britney, tetap meminta sang suami untuk membawa Aksa ke rumah sakit.
"Om Pras, Aksa baik-baik aja. Kalian semua lebay." ucap Aksa dengan gayanya yang tidak basa basi.
"Iya, tapi tadi kamu pasti dengar sendiri. Britney tetap ingin tahu hasil pemeriksaan dari dokter. Aku semakin pusing waktu mendengar rengekan Britney. Aku ini lagi nggak enak badan. Dari pada aku berdebat sama istriku, mending aku ajak kamu kisini." Ujar Pras.
Mereka berdua sedang menunggu antrian. Pras sudah mendaftarkan Aksa, tinggal menunggu giliran untuk pemeriksaan dokter.
"Pasien nomor 7." Panggil seorang perawat yang berhijab.
Aksa dan Pras bergegas masuk ke ruangan serba putih, sudah ada dokter yang duduk di kursi besar.
"Siapa yang sakit?" Tanya Dokter berbadan gemuk dan tampan, menatap kedua orang yang duduk di hadapannya.
"Dia dokter. Om saya pusing." Jawab Aksa dan merangkul Pras dengan tangan kanannya.
"Bukan saya dokter. Tapi dia, Aksa ponakan saya." ucap Pras dengan tersenyum.
Sang dokter dibuat bingung mereka.
"Kamu sakit apa? Dari wajahnya terlihat sehat." Tanya dokter itu dan menatap Aksa lebih dekat.
Aksa dengan tersenyum berkata "Betul dokter, saya sehat. Ini Om saya yang sakit. Dia pusing berat dokter, maklum dokter, Tante saya sedang mengidam, jadi Om saya pusing." Ujar Aksa.
Aksa dan Pras usianya tidak terpaut jauh. Aksa seumuran Pandu dan sikap mereka itu hampir sama. Pras juga sering bercanda bila bertemu Aksa di Mushola.
"Iya dokter saya memang tidak enak badan. Tapi semalam saya sudah periksa. Saya kesini, mau memeriksakan dia, ponakan saya yang bawel. Dia tadi pagi tertabrak mobil. Saya mau melihat hasil pemeriksaan dokter. Kalau perlu di Rontgen, di CT Scan, semuanya. Biar jelas, kalau memang Aksa baik-baik saja." ucap Pras.
Dokter menghela nafasnya dan menyuruh Aksa berbaring di ranjang pemeriksaan. Dari mata dan denyut jantung. Menekan bagian dada dan perut, bahu, lengan dan kaki. Semua telah diperiksa oleh dokter tampan itu, dan dokter kembali duduk di kursinya.
Aksa duduk di ranjang dengan gayanya yang sok, yang begitulah sok kuat, sok sehat, sok hebat, sok tampan, tapi memang tampangnya sangat manis.
"Saya tulis surat pengantar, nanti bawa dia ke ruang Radiologi." Ucap Dokter dan menyerahkan surat itu.
"Baik dokter, terima kasih. Saya permisi dulu." Ucap Pras dan Aksa turun dari ranjang itu.
Perawat yang bertugas juga tampak tersenyum, saat melihat Pras dan Aksa yang sangat tengil.
Mereka berjalan melewati lorong ruangan rumah sakit, yang tadinya di ruang pemeriksaan umum, mereka pergi ke tempat Rontgen.
Skip!!
"Heeh! Orang di bilangin aku itu nggak apa-apa. Bener kan hasilnya, aku sehat. Cuma lecet ini doang." Ujar Aksa, setelah satu jam di rumah sakit itu, dan menadapatkan hasil pemeriksaan dirinya.
"Iya, tapi kalau seperti ini semua jadi lega. Bukan hanya Britney, Pak RT dan Bu RT pasti juga lega. Kalau soal Vava nggak usah di tanya. Biarin aja, ini lagian aku pakai duit Vava." Ucap Pras dan lanjut tertawa.
Yuuupsss!!
Selama tadi ke bengkel Pras juga ingin yang terbaik untuk motor Aksa, entah habis berapa duit, yang jelas pakai duit dari rekening Vava. Jadi tidak masalah untuk Pras yang sekedar mengantar Aksa saja.
Pras selalu bilang sama istrinya kalau Vava harus belajar untuk tanggung jawab atas kesalahan yang dilakukannya. Sebagai Kakak, boleh memanjakan adiknya, tapi kalau sudah salah ya salah, Vava harus mengerti dan Pras juga cukup berdebat dengan sang istri. Perlahan Britney paham, dan mengalah. Karena apa yang Pras katakan itu memang benar.
"Om, tapi Aksa enggak enak. Padahal tadi pagi Aksa beneran tersinggung waktu dia teriak, Kamu butuh duit berapa. Kalau habisnya terlalu banyak. Nanti si Vava, anggap Aksa manfaatin dia lagi." Ucap Aksa seraya mereka berjalan.
"Tenang, kamu tidak perlu lembek. Tunjukan sikap kamu kayak tadi. Pasti Vava juga tidak masalah. Lagian nanti aku yang bilang. Sesekali Vava juga harus diginiin, biar dia ngerti, kalau salah harus minta maaf dan tanggung jawab." Ucap Pras.
Mereka sudah tiba di parkiran, dan Aksa masuk ke dalam mobil dengan rasa tidak nyaman. Entah apa yang dia pikirkan.
Beeemm!!!
"Aksa kita mampir ke restoran dulu ya, kamu mau makan nggak?" Tanya Pras.
"Aksa sudah makan Om, tadi sebelum Om Pras datang udah makan. Bunda masak rendang, buat pesanan nanti malam." Jawab Aksa.
"Mmmh. Iya, Bu RT punya catering ya, jadi lupa." Ucap Pras seraya tersenyum.
Tidak lama Pras mampir di sebuah restoran, dan menelfon sang istri tapi tidak di angkat.
"Sayang, kamu lagi apa? Kenapa nggak di angkat telfonnya." gumam Pras yang duduk sambil menatap ke ponsel.
"Pak, ini pesanannya." Ucap pelayan restoran, yang memberikan dua kardus kotak di dalam sebuah kantong plastik.
"Iya, terima kasih." Balas Pras dan mengambil itu lalu bergegas pergi meninggalkan restoran itu.
Aksa yang di dalam mobil mendengarkan musik sambil bernyanyi, pelan mengikuti lirik lagu yang sedang di putar.
"Om cepet banget." Ujar Aksa yang tidak menunggu lama.
"Ya cepet cuma beli ayam kremes, sama sambel goreng aja. Tadi Britney pesennya cuma itu. Ini barusan di telfon nggak diangkat." Balas Pras.
"Mungkin Tante lagi tidur Om." Ucap Aksa.
"Bisa jadi, soalnya semalam nggak bisa tidur." Ucap Pras dan mulai menyetir mobil itu.
Sudah meninggalkan area parkiran restoran. Pras dengan santai menyetir dan Aksa masih bernyanyi pelan, Pras cukup nyaman dengan suara Aksa.
"Memang Om Bagas kemarin sakit apa Om? Aku tadi pagi subuh juga kaget, waktu ayah ajak Aksa ke rumahnya." Tanya Aksa.
"Kena serangan jantung. Aku juga kaget, padahal kemarin pagi, masih sempat ngobrol-ngobrol. Tapi kemarin sore, di kantor katanya bilang nggak enak badan. Terus lemas, pingsan di kantornya, di bawa sama temannya ke rumah sakit. Sudah ditangani dokter tapi nggak sadar juga, terus sekitar jam 10 malam, udah nggak ada. Om Pras, tahunya dari cerita teman kantornya ada Pak RT juga. Mungkin emang udah takdirnya." Ucap Pras dan mengucap do'a dalam hatinya.
__ADS_1
"Iya, Om Bagas juga baik, kalau orang baik selalu pergi lebih cepat. Aksa sering ketemu dia kalau di Mushola, nggak nyangka aja." Ucap Aksa dalam hatinya turut mendo'akan Alm. Bagas.
Mereka berdua cukup dekat. Sudah hampir tiba di perumahan puri anggrek.
"Om, Ini bawa aja hasil dari dokter. Biar Tante Britney baca sendiri hasilnya. Nanti malam aku ambil kesana." Ujar Aksa.
"Oke, tapi ingat istirahat dulu. Iya, kamu sehat, tapi kata dokter kamu di suruh tidur." Ucap Pras.
"Iya, makannya ini mau minum vitamin dan tidur. Sampai ketemu nanti malam Om. Thank you." Ucap Aksa dan keluar dari mobil.
Pras mengendarai mobilnya Vava, si merah menawan. Interior mobil Vava juga keren, memang mobil baru dan semuanya serba canggih.
"Ini bocah, mobil baru udah banyak luka. Hehz." Gumam Pras yang menggeleng melihat tampilan luar mobil itu, sudah banyak goresan di beberapa bagian.
Setelah masuk ke dalam rumah, Pras berdiri mematung melihat dua perempuan yang tidur saling memeluk.
"Pantas saja aku telfon nggak di angkat." Ucap Pras dengan pelan.
Pintu kamar itu terbuka, jadi mereka berdua tidur pulas. Britney jarang mengunci pintu rumah, jadi Pras bisa masuk rumah tanpa membangunkan istrinya. Kecuali pintu pagar, keduanya membawa kunci gembok pagar.
"Sayang, kamu bangun. Kamu belum makan." Ucap Pras yang menatap istrinya, sambil mengusap lembut rambut istrinya.
"Mmm..." lirih Britney dan mulai membalikan bandannya, menghadap suaminya.
"Bangun sayang, sudah jam 3. Kamu belum makan siang. Aku udah beliin pesanan kamu." Ucap Pras dengan pelan.
Britney perlahan membuka mata dan tangannya meraih lengan suaminya bertanya "Mas, gimana keadaan Aksa? Apa dia baik-baik saja?"
"Iya, semua baik. Itu hasil pemeriksaan udah aku bawa. Kamu bisa lihat sendiri." Jawab Pras.
Britney semakin mendekat ke wajah suaminya. Pras dengan gemas mencium pipi istrinya. Ada gadis di dekat mereka yang tidur pulas, tapi Pras sungguh menikmati perasaannya untuk sang istri.
"Ayo bangun. Aku juga lapar, bahkan aku belum minum obat. Apa kamu lupa aku juga tidak enak badan." Ujar Pras.
Britney meraih wajah suaminya dan berkata "Iya, tapi angkat aku ke kamar mandi."
Pras membopong istrinya dan kedua tangan Britney mengalung di leher suaminya. Sungguh pemandangan epic di sore hari. Untung saja si gadis masih tidur nyenyak dan belum terbangun dari tidurnya.
"Mas, ini hasil Rontgen Aksa?" Tanya Britney yang melihat amplop besar dengan logo rumah sakit swasta.
"Iya, itu hasilnya. Kata dokter tidak masalah. Tapi Aksa tetap di kasih obat, vitamin dan dia disuruh istirahat." Jawab Pras.
"Syukurlah, kalau dia baik-baik aja. Aku cemas, kalau begini aku bisa lega." Ucap Britney.
Pras mengambilkan makan untuk istrinya, Britney malas beranjak dari sofa setelah membuka dan melihat hasil Rontgen Aksa.
"Mmms. Makan dulu." Ucap Pras. Menyodorkan piring lebar warna putih dengan aneka isi diatasnya.
"Suapin Mas." Pinta Britney.
Pras duduk di samping istrinya, dan hendak menyuapi sang istri.
Pras kembali ke dapur, untuk cuci tangan, dan mengambil piringnya sendiri, tadi dia juga menyiapkan makannya dan tidak lupa membawa air minum di cangkir merah.
"Aaakkk!!" Ucap Pras seraya mendekatkan tangannya.
"Mmm... Enak Mas." Ucap Britney setelah menerima suapan dari tangan suaminya.
Pras juga bergantian makan, menu yang ada di piringnya tadi, sudah bersatu di piring yang disiapkan untuk sang istri.
"Kamu tidak membangunkan Vava?" Tanya Pras.
Masih berlanjut menyuapi sang istri tercinta.
"Biarkan saja dia tidur. Tadi dia habis makan mie instan, terus aku tidur. Dia ikutan tidur." Jawab Britney.
"Mie instan? Tumben Vava minta instan." Tanya Pras.
"Iya, gara-gara aku cerita tadi, mie warkop enak. Ewh.. Vava langsung, buatin buat aku. Ya udah tadi aku masakin buat dia. Habis itu, aku tidur." Jawab Britney.
Sepuluh menit makan sambil berbincang. Tidak lama sang gadis bangun dan mendekati mereka.
"Kakak." Rengek Vava dan mendekat ke Britney.
Memeluk kakaknya dan masih mengantuk.
"Kamu masih ngantuk, kenapa bangun??" Tanya Britney.
"Aku mimpi buruk. Aku mimpi nabrak cowok. Terus dia bentak-bentak aku." Jawab Vava.
Pras tersenyum dan berkata "Vava, itu bukan mimpi. Tapi udah terjadi."
Vava berkata "Iya, tapi tadi serem. Vava takut. Vava nggak bawa mobil dulu deh. Besok bang Pras anterin Vava pulang ya, atau nanti minta jemput Bang Evan."
"Emangnya mau nginep??" Tanya Pras.
Vava masih memeluk Britney bertanya "Memang kenapa kalau nginep? Vava nggak boleh nginep disini?"
"Boleh sayang. Sampai hari minggu juga boleh. Nanti Kakak telfon Mama kamu sama Kakek." Jawab Britney.
Pras cukup cemberut dan tidak berkata apapun, lalu merapikan piring kotornya dan membawa ke cucian piring.
"Terus nanti Bang Pras tidur dimana?" Tanya Vava.
"Mas Pras bisa tidur di kamar belakang. Ada kasur kecil, kamu nggak usah bingung." Jawab Britney.
__ADS_1
Pras tidak mengerti lagi harus bagaimana, dan hanya bergumam "Kenapa??? Aku enggak enak badan, malah apes begini. Harusnya aku yang dimanja, Vava datang aku terabaikan. Hemms."
Britney sangat menyayangi adiknya itu, apalagi sudah jauh-jauh datang sendirian. Sampai dia mengalami kecelakaan, jadi Britney tidak ingin perasaan Vava sedih.
"Ya udah, aku mau mandi. Tapi aku nggak bawa baju." Ucap Vava.
"Hemms. Kakak ada baju baru, tapi pasti kegedaan. Nanti kakak beliin di tetangga."
"Emang ada yang jualan baju sama buat dalam?" Tanya Vava.
"Ada, bentar kakak chat dulu. Tanya sama penjualnya." Jawab Britney.
Britney dari tadi juga sibuk sama ponselnya. Waktu makan saja dia tidak melepaskan ponselnya.
Britney baru hobby memainkan game barbie yang bertema make up. Entah kenapa Britney suka saat memadu padankan baju dan aksesoris di sebuah game.
Tidak lama Britney sudah menerima jawaban dari Bu Betty, dia mengatakan kalau meriman orderan itu, akan segera diambilkan dari tokonya, dan langsung mengantarkan ke rumah Britney.
"Sana mandi, nanti baju kamu datang." Ucap Britney.
"Ya udah, nanti aja nunggu baju datang." Balas Vava.
Pras setelah mencuci piring kembali ke ruang tamu dan berkata "Sayang, aku yang sakit. Kamu lebih merhatiin Vava."
Pras langsung duduk disamping istrinya. Tangan kiri Britney lengannya di ikat tangan Vava. Dan sebelah kanan ada suami manja yang bersandar di bahunya.
Tangan kanan Britney mengusap pipi kanan suminya yang bersandar itu, dan bertanya "Mas, udah minum obat??"
"Mmmsh barusan sayang." Jawab Pras.
"Mas Pras udah gede masih manja." Ujar Vava.
"Biarin, aku suaminya. Terserah aku, suka-suka aku." Balas Pras.
"Aku nyesel pernah jadi Fans Bang Pras." Ujar Vava.
"Baguslah kalau kamu nyesel." Balas Pras.
"Idiih. Aku cuma bercanda, serius amat balasnya. Bang Pras nggak suka Vava disini." Ujar Vava.
"Mau bercanda atau nggak terserah aku. Mulut-mulut aku. Kenapa juga kamu bawel." Ucap Pras.
"Kakak, lihat suami kakak nggak suka Vava disini." Ujar Vava.
"Mas, sudah dong. Adik aku jadi kesel nanti." Ujar Britney kepada suaminya.
"Terserah kalian, aku mau tidur. Kamar itu aku yang nempatin. Sayang, bangunkan aku sebelum maghrib. Ingat, jangan ganggu aku." Ucap Pras.
Britney hanya menggangguk dan Vava cemberut.
"Kakak, itu Bang Pras ngeselin."
"Mas Pras emang gitu. Udah, nggak usah di hiraukan. Sana mandi, nanti bajunya datang."
Britney mengambilkan handuk baru dan memberikan kepada Vava.
Vava bergegas ke kamar mandi, peralatan mandi lengkap yang baru sudah disiapkan Britney untuk Vava.
"Mas, tadi kamu udah sholat?" Tanya Britney mendekati suaminya.
"Udah, sebelum bangunin kamu." Jawab Pras.
"Ya, udah kamu tidur. Nanti aku bangunin." Ucap Britney dan mencium bibir yang tampak cemberut itu. Pras menerima sentuhan bibir manis istrinya, dan perlahan tangannya meraih badan istrinya.
"Mmm... Aku mau tidur dulu." Ucapnya.
Britney mengusap lembut rambut suaminya. Sudah jam 4 sore, tapi sangat lelah.
"Selamat tidur Mas Pras."
πΌπΌπΌπΌ
Haii semuanya,, π€
Semoga kalian suka cerita di bab ini.
Jangan lupa like, komentar, vote dan rate 5.
Jujur othor mau mengatakan, sedikit kekecewaan.
πππ£
Ternyata bukan cuma othor yang mengalaminya.
Othor merasakan sendiri waktu menulis cerita "CALON ISTRI TUAN MUDA L." itu baru saja othor tulis, baru 1 bab, dan othor share ke beberapa GC. Setelah balik dan lihat-lihat. Ada beberapa yang udah like dan komentar, disitu othor nyesek. Rate seketika jadi 3,2. bintang itu menurun tiba-tiba. Othor salah apa, kenapa bisa setega itu. Kecuali dari alur cerita berubah membosankan, rate/bintang itu diturunkan tidak masalah, tapi othor baru nulis dan baru satu bab. Dari situ othor minta batuan dari beberapa sahabat othor yang satu grup chat, akhirnya perlahan naik jadi 4,5. Makanya dari situ, othor END tiba-tiba. Banyak yang tanya kenapa END, padahal seru. Ini salah satu alasannya. Sekarang novel itu othor share di Facebook grup Noveltoon dan banyak yang suka.
Jadi tolong, buat siapa saja, yang mainan Rate/ bintang, othor mohon jangan begitu lagi. Tidak cuma othor, ada beberapa teman yang merasakan hal sama. Harap dimengerti, pembaca luar pasti ketika melihat bintang dan rate minus, pasti tidak jadi baca. Tolong saling mendukung satu sama lain. Othor juga tidak pilih2, misal promosi disini tidak masalah, saling dukung, saling berbagi ilmu dan belajar menulis. , π€π€π€
Maaf, jadi curcol. βπ ππ
Buat yang di Facebook, pasti juga sudah melihat Novel "CALON ISTRI TUAN MUDA L." π€π
πΌπΌπΌπΌ
__ADS_1
Perkenalkan, ini novel karya sabahat author, yang bertema remaja dan romantis. Cerita Sandra sangat menarik. πππ€