
Masih bersama keluarga dan Britney tampak terlelap dalam belaian lembut Ibu mertuanya. Pemela juga tampak tidur di sebelah Pandu. Pandu tidak biasanya main game jadi tertidur, Pras mulai mengangkat istrinya dan berjalan ke kamar.
Bu'e lalu mengajak Pamela tidur ke kamar, dan Pandu yang tertidur nyenyak itu di temani Bapak. Bapaknya menatap Pandu dengan rasa sayang, anak laki-laki yang dimanjakan sekarang juga sudah bujang.
Pakde Woko dan Budhe Woko masih berada di ruangan itu. Mengatakan, perlahan satu- persatu anak- anak itu akan pergi meninggalkan rumah, seperti anak-anaknya Pakde Woko. Anak Pakde Woko juga ada yang merantau dan setelah anak- anaknya menikah semua pergi meninggalkan rumahnya.
Bapaknya Pras mendengar hal itu, sudah terjadi padanya saat Pras merantau ke Ibukota. Saat itu, baru ditinggal seminggu, Bapak dan Ibunya sangat rindu, tapi perlahan juga jadi terbiasa.
Berbicara hanya melalui telfon. Pras cukup sering mengabari dan memotret wajahnya lalu dikirim kepada kedua orang tuanya.
"Sayang... Aku mencintaimu." Ucap Pras, dan tidak lupa memgecup kening istrinya.
Pras melepas celana jeansnya dan berganti sarung, dia juga merasa sangat mengantuk.
Kedua orang itu sudah tidur nyenyak, Pandu akhinya berpindah ke kamarnya dan Bapaknya juga mulai tidur. Pakde Woko dan Budhe Woko sudah tidur lebih dulu, setalah Pras membawa Britney ke kamar tadi, tidak lama Budhe dan Pakde juga ke kamar.
Sudah sunyi, Bu'e tidur disebelah Pamela, tadi Bu'e menangis setelah berada di kamar Pamela. Bu'e membayangkan masa kecilnya Britney sambil mengelus rambut Pamela.
Pamela saja sudah beranjak remaja, setiap hari bobok masih minta ditemani Bu'e. Makan masih minta di suapin, apalagi kalau sarapan pagi, sangat susah kalau tidak disuapin Bu'e.
Baju seragam saja masih disiapkan, dan semua itu dengan cinta Bu'e. Pamela anak yang paling kecil, jadi wajar Bu'e juga sangat memanjakan Pamela.
Bukan hanya Pamela, Pandu juga begitu. Kalau Pandu itu, susah merapikan tempat tidur. Tapi kalau sudah rapi, Pandu berkata sangat nyaman serasa hidup bagaikan pangeran.
Tapi Bu'e juga tidak masalah soal itu. Hanya saja Putri yang lebih keras, setiap hari minggu Putri memberikan tugas kepada dua adiknya itu. Kalau tidak mau mengerjakan tugasnya, Putri juga tidak akan memberi uang saku, bila kedua adiknya itu meminta kepadanya. Walaupun sudah diberi uang saku kedua orang tua, tapi tetap saja ke dua adik itu masih meminta kakak pertamanya itu.
Pras juga sama, kalau Pras itu bajunya yang harus rapi, harus setrikaan. Pernah waktu itu kaosnya belum di setrika Bu'e, Pras juga ngambek. Tapi Bu'e dengan segera menyetrika kaos itu, dan Pras langsung memakainya dan pergi keluar bersama teman- temannya.
Cinta seorang Ibu tidak ada batasnya, entah itu melalui tindakannya, ataupun dari perlakuannya. Ibu tidak mudah mengungkapan rasa cinta untuk anak- anaknya. Tapi semua yang dilakukan Ibunya, semua itu karena sebuah cinta yang tulus dari hati seorang Ibu.
Ibu bukan hanya yang melahirkan mereka, tapi perlajalan kehidupan mereka semua dari tangan, cinta dan perasaan seorang Ibu.
Begitu juga Bapak, semua hal yang dilakukan untuk keluarga dan anak- anaknya. Memenuhi kebutuhan mereka dan memberikan kehidupan yang layak untuk istri dan anak- anaknya.
Balasan dari anak tidak akan ada artinya kalau tahu seberapa besar arti cinta dan ketulusan kedua orang tuanya. Hanya dengan menjaga diri mereka, tidak memberikan masalah kepada kedua orang tuanya. Sudah cukup menjadi anak yang berbakti bagi kedua orang tua Pras.
Pak Heru selalu meminta anak- anaknya untuk menjaga diri mereka sendiri, setelah mereka remaja dan mengenal kehidupan dunia luar. Apalagi orang tua juga tidak akan bisa memantau anak-anaknya selama di luar. Pras juga pernah nongkrong di sebuah tempat, kala itu masih SMP.
Ternyata ada tetangga sebelah rumah yang melihat dan memberi tahu Pak Heru. Kemudian setelah Pras di rumah, di tanya sama Bapaknya tadi pergi kemana, Pras berkata jujur. Pras juga takut sama tatapan Bapaknya yang sepertinya sedang marah. Tapi Bapaknya lega, anaknya berkata jujur dan tidak berbohong. Pras ternyata bisa menjaga dirinya.
Sugeng Enjing ( Selamat Pagi)
Pak Heru sudah bersiap ke kantor dengan seragamnya. Pras mendekati Bapaknya dan berkata "Bapakku paling gagah koyo Werkudoro."
(Bapakku paling gagah seperti Bima.)
"Teros kowe koyo opo?" Tanya Bapak dengan senyuman.
(Terus kamu seperti apa?)
"Aku bagus ngene. Mesti koyo Janoko." Jawab Pras dengan percaya diri.
(Aku tampan beginu. Pasti seperti Arjuna.)
__ADS_1
"Sik.. Sik.. Bapak koyo werkudoro, Mas Pras koyo Janoko. Terus aku koyo opo??" Pikir Pandu, yang masih bingung sosok wayang yang cocok untuk dirinya.
(Bentar.. Bentar.. Bapak seperti Bima, Mas Pras seperti Arjuna. Terus aku seperti apa??)
"Kowe kui koyo... Emmss.. Nakulo. Ganteng, adiku ganteng." Ujar Pras.
(Kamu itu seperti... Emmss.. Nakula. Tampan, adikku tampan.)
"Tenane Mas?" Tanya Pandu.
(Beneran Mas?)
"Tenan, mosok aku arep ngelek-ngelek anak Bu'e." Ucap Pras, lalu dia duduk di kursi yang ada di meja makan dan menyomot tempe goreng yang masih hangat.
(Benar, masak aku mau jelek-jelekin anaknya Ibu.)
Britney berjalan mendekati meja itu dan Pandu masih mencari tahu tentang tokoh Nakula dalam pewayangan.
"Iyo Mas, ganteng jebule." Ucap Pandu yang menyamakan dirinya dengan tokoh wayang itu.
(Iya Mas, tampan ternyata.)
"Jenengmu wae wis koyo wayang, iku Pandu Dewanata." Ujar Pras dan tidak henti mengambil tempe.
(Namamu saja sudah seperti wayang, itu Pandu Dewanata.)
"Mas, mau makan soto enggak?? Sudah matang itu, Budhe Woko yang masak."Tanya Britney.
"Boleh, aku juga sudah lapar." Jawab Pras.
Bapak mertuanya sudah cukup makan bakwan dan minum teh hangat, lalu berangkat ke kantor. Pamela yang sudah selesai sarapan indomie goreng pakai telur, juga berangkat ke sekolah diantar Bapaknya
Masih setengah 7 pagi, tapi suasana rumah Pak Heru cukup ramai karena Pras dan Pandu. Britney dari setelah subuh, menemani Budhe Woko yang sibuk di dapur.
Ibu mertuanya mencuci baju dan Britney sudah mencuci baju- bajunya kemarin.Karena satu minggu sudah banyak tamu di rumah dan harus menggelar hajatan, jadi mana sempat Bu'e mencuci baju. Sebagian masuk mesin cuci, sebagian dicuci tangan, lalu menjemur bajunya.
Pakde Woko tadi menyembelih ayam jago sisa acara kemarin. Masih ada dua, kemarin cukup banyak di kandang itu. Karena acara ritual adat jawa sangat banyak memerlukan ayam jago.
"Budhe, yang ini apa?" Tanya Britney.
"Itu botok ati ampela sama usus." Ucap Budhe.
Britney kembali ke ruang makan, meletakan racikan soto di sebuah rantang besar.
Pandu juga langsung mengambil piring yang tersusun diatas meja itu, kemudian mengambil sedikit nasi. Pandu juga mengambil paha ayam yang terlihat lezat.
Pras diambilkan Britney, terus bertanya "Mas, mau botok ati ampela?"
"Emss... memang ada botok ampela?" Tanya Pras.
"Iya, budhe bikin itu." Ucap Britney.
"Bilang sama budhe, nanti buat makan siang aku." Ucap Pras.
__ADS_1
Pandu mendengar itu juga berkata "Mbak Britney, aku sisain satu buat makan siang."
Padahal Britney sudah jalan, tapi Pandu dengan suara yang lantang. Pakde Woko mendekati dua lelaki itu, dan mulai duduk di dekat mereka.
"Mengko nek kurang, sesok tuku pitik dewe- dewe, mumpung aku isih neng kene." Ujar Pakde woko.
(Nanti kalau kurang, besok beli ayam sendiri- sendiri, mumpung aku masih disini.)
Pakde Woko juga mulai sarapan dengan soto ayam kampung, di tambah tempe dan sambal. Sangat menggugah selera makan. Apalgi dikala pagi, perut kosong disuguhi soto panas-panas, rasanya pasti sangat mantul.
Britney sudah memberi tahu Budhe Woko soal botok ati ampela itu. Bu'e yang mendengar itu tersenyum. Anak- anaknya itu sangat tertarik dengan makanan pedas, apalagi botok mercon.
Britney tidak begitu tahu soal masakan jawa yang sangat beraneka ragam. Budhe Woko bertanya kapada Britney "Britney kamu suka makanan apa?? Nanti budhe masakin."
Britney sendiri juga tidak tahu dan berkata "Apa saja budhe. Britney juga doyan aneka masakan jawa."
"Besok budhe bikinin jangan lombok (Sayur cabai)." Ucap Budhe.
"Jangan lombok itu seperti apa budhe?" Tanya Britney dengan penasaran.
"Jangan lombok itu sayur kuah santan dengan irisan cabai, isinya ada tahu, tempe, kalau ada, bisa ditambah krecek sama pete." Ucap Budhe Woko.
Britney juga masih bingung dan sangat penasaran, lalu hanya mengatakan kalau dirinya mau makan jangan lombok. Padahal Britney tidak suka pedas, tapi sangat penasaran.
Britney kembali ke meja makan, karena Budhe juga sudah selesai masak. Setelah merapikan dapur dan mencuci tangan, Britney juga ingin menikmati soto ala Budhe Woko. Dari waktu tadi Budhe Woko menumis bumbu soto itu, Britney sudah mencium aroma yang sangat harum dan menggoda lidahnya.
"Pantas suamiku masih tertahan di meja makan." Ujar Britney setelah menikmati tempe goreng, dan makan dengan kuah soto.
"Memang kenapa??" Tanya Pras.
"Masakan Budhe juara. Aku mau nambah lagi sotonya." Ucap Britney dan yang lainnya tersenyum.
Pakde Woko bahagia, melihat Britney menikmati masakan istrinya. Pakde Woko juga mengatakan kalau Budhe itu sangat pandai memasak.
Selama Pras masih di rumah, Budhe mau tinggal sementara, bantuin Ibu mertua Britney yang masih sibuk.
Kemarin saja masih ada beberapa tamu yang datang. Ibu mertuanya itu, sama seperti sang suami, murah senyum dan temannya.
Bahkan di pasar bukan hanya pedagang saja yang mengenalnya. Terkenal dengan nama Bu Ningsih pemilik toko beras Barokah.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Terima kasih atas kesetiaan kalian semua, dan terima kasih banyak sudah suport author dengan Like, Komentar dan juga Vote. ππ₯°π€
πΌπΌπΌπΌπΌ
Haii, ini ada beberapa novel karya sahabat author dengan tema Misteri, jika berkenan silahkan mampir ke novel yang ada dibawah.πππ€©π
__ADS_1