PANGGIL AKU MAS!

PANGGIL AKU MAS!
Demi Istri Yang Mengidam


__ADS_3

Sore hari setelah pulang dari kantor bersama sang istri.


"Sayang, kamu kenapa??" Tanya Pras, saat melihat sang istri hanya menatap luar kaca mobilnya.


Dua minggu cukup Britney beristirahat di rumah Kakek Restu. Britney dan Pras kembali ke rumah kontrakan.


Hari ini Britney sudah kembali kerja, dan tidak masalah. Walaupun mual, sudah hal biasa untuk ibu hamil muda, Britney ke kantor juga membawa mangga muda dan garam halus.


Entah kenapa kebiasaannya, tidak bisa dihindari selama satu minggu ini. Ketika mual menghampiri, Britney mengambil mangga muda, dicocolkan ke garam halus.


Walaupun musim mangga sudah hampir berlalu, tapi beberapa pasar dan supermarket, masih ada yang menjual mangga muda dan mangga mengkel.


Britney sangat puas setiap sang suami membawa mangga muda untuknya. Bahkan sang istri sering menciumi aroma mangga itu, sampai suaminya iri. Bukannya sang suami yang dicium lebih dulu, tapi malah mangga itu yang dicium istrinya.


Tampak buah mangga bergelantung di tangkai, dan sangat menggoda. Mata Britney tidak henti melihat ke arah pohon itu, padahal mobilnya sudah berlalu melewatinya. Britney masih menoleh ke arah pohon mangga itu.


"Itu, mangga." Jawab Britney dengan cemberut. Ekspresi wajah Britney sudah seperti anak kecil yang meminta es krim.


"Mangga? Di rumah masih banyak. Memang ada penjual mangga?" Tanya Pras, lalu berusaha memarkirkan mobil putih itu ke sisi kiri jalan, sebelum nantinya berjalan jauh.


"Emss.. Mangga punya orang. Tapi aku pengen banget mangga itu. Mmss... Pengen!!." Rengek Britney.


"Mangga punya orang??" Tanya Pras.


"Iya, tadi aku lihat itu. Pohon mangga di situ tadi. Aku pengen Mas." Ucapnya dan merasa galau.


"Disebelah mana?? Sudah jauh?" Tanya Pras.


"He'em... Iya disitu tadi setelah perempatan jalan. Sebelah kiri jalan rumah pagar putih." Jawab Britney.


Ibu hamil ada saja kemauannya, dan Pras mulai memutar mobil yang dikendarainya itu.


Dengan rasa sabar dan mencoba menyenangkan perasaan hati istrinya.


Pras menuju ke rumah berpagar putih itu. Mereka tiba di depan rumah pagar putih itu. Tampak sepi dan tidak ada orang di luar, tapi ada mobil yang parkir di halaman rumah pagar putih itu.


Pras berusaha mencari bel pagar rumah itu tidak ada. Pras memberanikan diri untuk membuka pintu pagar yang warnanya hampir pudar. Sebagian sudah terlihat lempengan besi yang memerah karena berkarat.


Greeeett!!


Pras mendorong pelan setelah menarik gagang besi yang mengunci disisi tengah. Pras masuk ke dalam halaman rumah itu. Pohon mangga apel itu memang sangat menggoda Britney. Buah mangga apel yang berwarna hijau keunguan, dan sudah ada yang berubah warna kuning kemerahan.


Yuhuuu!!


Britney mengidam buah mangga apel milik seorang TNI angkatan udara.


Pras sudah bertemu dengan pemilik rumah, tadi seorang pembantu rumah tangga yang menerima Pras, dan menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Britney tadinya hanya di mobil saja, tapi Pras menghampiri istrinya setelah bertemu dengan pemilik rumah itu.


"Maaf Bu Erna, kalau saya sudah merepotkan." Ucap Pras kepada nyonya pemilik rumah.


Teh hangat dalam cangkir putih sudah diletakan diatas meja berlapis kaca oleh seorang pembantu. Britney dengan senyuman manis, dan menatap nyonya pemilik rumah itu.


"Mari silahkan diminum." Ucap nyonya rumah yang usianya sekitar 45 tahun.


"Iya, terima kasih." Balas Britney dengan tersenyum.


Pak Tentara yang gagah mendekati Pras dan mengajaknya untuk mengambil sendiri mangga yang masih menggantung di atas pohon itu.

__ADS_1


Britney tersenyum manis, ikut keluar rumah dan melihat suaminya memetik buah mangga apel itu. Britney juga ikut menggambil sendiri mangga yang bergelantung di tangkai bawah.


Tidak lupa Britney mengabadikan suaminya yang nangkring diatas pohon.


Cekkreek!!


"Kamu lucu banget sih Mas, aku semakin cinta." Ucap Britney dengan gemas.


Pak tentara yang dipanggil dengan nama Pak Budi itu, juga senang berkenalan dengan Pras yang tidak basa basi. Tadi Pak Budi juga baru pulang dari tugasnya.


Pak Budi memiliki dua anak, yang besar masih les bimbingan belum pulang, dan satunya masih kecil hanya bermain di dalam kamar saja.


"Mas Pras, yang itu diambil saja sekalian." Ucap Pak Budi, yang menunjuk mangga yang sudah mateng.


"Mbak Britney, saya dulu juga begitu. Ada saja yang dipengen." Ucap Istri Budi, yang kebetulan istrinya itu juga asli dari Boyolali.


"Iya, Bu Erna. Terima kasih banyak. Saya jadi tidak enak, ini malah dikasih banyak begini." Balas Britney dengan manis.


Pras tadi sudah mengambil beberapa, begitu juga Britney memetik tiga buah. Tapi Pak Budi malah menyuruhnya mengambil yang banyak, anak- anak Pak Budi tidak begitu suka dengan buah mangga. Biasanya yang memetik hanya pembantu, dan beberapa temannya kalau main ke rumahnya.


"Kalau masih seperti ini, masih asem. Saya tidak doyan. Tapi buat yang ngidam, buah ini segar sekali." Ucap Bu Erna saat memegang mangga yang masih hijau kemerahan.


"Iya Bu Erna, padahal saya dulu tidak suka buah yang masam. Tapi semejak ngidam saya suka sekali, tadi ke kantor saja bawa mangga muda." Ucap Britney.


Mereka tersenyum, pembantu Pak Tentara itu juga sangat baik, mengambilkan kantong untuk Pras dan memilihkan yang mengkel, Pras tidak terlalu mengerti ternyata yang hijau rasanya asam sekali.


"Aku kira yang ini sudah mengkel, ternyata masih mentah." Ucap Pras setelah selesai memetik buah mangga apel.


"Emms.. Mas harusnya tanya dulu sama Bibi, Mas asal petik saja." Ketus Britney.


Sudah sabar suaminya nangkring di pohon, masih saja salah di mata ibu hamil satu ini.


"Tidak apa-apa, nanti bisa dibuat manisan." Ucap Pak Budi dan tadi pembantunya yang milihin, biasanya kalau masih mentah bisa dibuat manisan.


Britney dan pembantu Pak Budi jadi akrab, sudah dipilihin mangga yang mengkel, dan Britney hanya mengambil beberapa yang masih mentah, setelah merasa masam banget Britney juga tidak kuat, ternyata segar yang sudah matang.


Walaupun sudah matang tapi buahnya masih keras dan hanya berair, tidak lembek.


"Enak yang mateng di pohon seperti ini." Ucap Pak Budi saat mengupas mangga itu, Pras ikut mencobanya, awalnya merasa asam juga, tapi memang segar dan aromanya sangat khas.


Kiyer-kiyer Mas Pras *Author


(istilah jawa ketika merasa masam)


"Enak kan Mas??!! Aku suka banget." Ucap Britney yang sudah senang.


Setelah cukup lama berbincang, dan sholat maghrib di rumah Pak Budi mereka segera pamitan.


Pak Budi dan Bu Erna sangat senang mengenal keluarga baru ini, rumahnya juga tidak terlalu jauh dari kontrakan Pras. Mereka akan berkunjung lagi nantinya, karena Bu Erna cukup senang. Saat tadi tahu kalau Pras kelahiran Boyolali, akhirnya jadi semakin asyik berbincang. Kalau Pak Budi sendiri asli dari Jakarta, cuma kedua orang tuanya juga dari Jawa Tengah.


Tadinya Pak Budi ingin Pras dan Britney makan malam bersama di rumahnya, tapi Pras dan Britney menolaknya dengan halus. Pras merasa tidak enak sudah merepotan keluarga Pak Budi. Britney juga khawatir, kalau nanti makan bersama keluarga Pak Budi takut merepotkan lagi, dan Britney juga masih sering mual kalau sedang makan.


"Mas, dedek utun kita ternyata dapat perhatian dari banyak orang." Ucap Britney.


"Iya, itu rezeki dedek utun sayang. Papa mau nyetir dulu. Dedek utun baik-baik disini." Ucap Pras dan memakaikan seatbelt istrinya.


BEEM!!!

__ADS_1


Mobil mulai melaju lagi.


Kemarin hari minggu siang, teman-teman akunting datang ke rumah kontrakan, dan membawakan banyak buah segar untuk dedek utun.


Pak Miko dan istrinya juga datang, apalagi istrinya Pak Miko juga hamil muda, jadi saling tukar pikiran.


Britney juga bertanya kepada Annisa dan Maristha yang lebih pengalaman saat mengurus anak. Fika dan lainnya juga cukup senang saat di rumah itu, Tania juga datang dengan calon suaminya. Pak Surya hanya mengajak anaknya yang paling kecil.


Cukup sederhana, mengenal, berteman, dan menjadi saudara.


"Sayang, kalau kita baik sama orang. Orang juga akan baik sama kita. Makanya kamu jangan terlalu sinis sama...." Ucap Pras, tapi tidak melanjutkan perkataannya.


"Sama siapa?? Elleanor, Helga.. Siapa?? Kenapa enggak dilanjutkan??!!" Ketus Britney.


"Kamu sama Ghea aja cemburuan. Sudahlah, aku cuma mau kamu itu berfikir positif. Jangan terlalu sinis sama orang, kamu belum mengenalnya. Aku tidak mau nantinya anak aku itu jadi ngambekan." Ucap Pras.


"Aku ngambekan karena sebab. Aku sendiri juga bingung, semenjak menikah sama kamu, aku lebih sensi." Ketus Britney.


Pras tersenyum dan mengingat dulu pertama kali bertemu Britney di kantor, memang sosok yang berbeda. Kenapa setelah menjadi istrinya Pras juga heran, istrinya tidak lagi dewasa, bahkan seperti anak kecil yang suka ngambek.


"Bawaan hamil aku tidak masalah. Tapi jangan keterusan. Aku juga tersiksa sayang..." Keluh Pras.


"Kamu teriksa, cuma manjat pohon pendek saja tersiksa. Huuffttt!!" Cebik Britney dengan kesal.


"Kamu kira cuma manjat pohon saja, setiap hari aku tidur jauh dari kamu. Apalagi semenjak di rumah Kakek kemarin, kamu milih tidur sama Vava. Gimana aku tidak tersiksa sayang." Ketus Pras.


"Semalam tidur dekat aku. Emangnya kurang??" Tanya Britney.


"Hemmss... Tidur iya dekat, tapi masak aku cuma meluk guling. Ya enggak apa-apa, aku tahu kamu hamil berubah moodnya. Tapi jangan sering gitu juga." Ketus Pras.


"Emmss.. Aku tahu, Mas... Mas... Mas Pras." Ledek Britney.


"Aku masih nyetir. Lihat saja nanti kalau sudah di rumah." Ucap Pras.


Britney tersenyum, suaminya sangat kekanakan.


"Mmuuuaachh... Makasih Mas." Kecupan Britney ke pipi suaminya.


Nyeess!!


Pras tersenyum manis.



🌼🌼🌼🌼🌼


Haii Haii.. Gimana ya, kalau suami begini enaknya diapain ya?? Hehehe πŸ˜…πŸ˜‚βœŒ


Semoga kalian suka cerita dalam bab ini.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian semua, supaya author semakin semangat menulis cerita selanjutnya. πŸ€—πŸ˜…βœŒ


Roso troso iki, ojo ngasi ucul soko atine Mas Pras.


(Rasa cinta ini, jangan sampai lepas dari hatinya Mas Pras.)


Matur Nuwun πŸ™πŸ˜˜

__ADS_1


Jangan lupa mampir juga ke novel author yang baru ini πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡



__ADS_2