
Sebuah pagi dengan suasana bahagia. Tersirat senyuman manis dari wajah cantiknya. Vava yang sudah bahagia, setelah semalam bertemu dengan Papa kandungnya.
"Harum." Ucap Vava.
"Minggirin itu kaki." Ucap Pras yang mendorong alat pel lantai.
"Uups Sorry." Ucap Vava dan mulai menaikan kaki ke atas sofa. Sambil memegang ponselnya, Vava tersenyum sendiri. Ternyata, baru chat dengan sang Papa. Untuk membuat janji hari ini, Vanesa ternyata sudah tahu, kalau Angga Saputra telah menemui Vava. Semalam, Britney tidak hanya telfon Bang Evan. Britney juga mengabarkan kepada sang Tante tercinta.
Yuhhuu!!
Pras sedang mengepel lantai, itu pekejaannya di kala libur kerja. Britney di dapur, untuk memasak. Setelah keadaan semalam, Pras jadi cepat pulih. Suasana baru untuk Vava, membuat Britney dan Pras yang merasakan tidak enak pada badannya, tapi karena haru biru, yang mengubah rasa cinta dengan penuh bahagia. Akhirnya membuat badan mereka lebih terasa sehat. Britney yang awalnya lemas dan mual, tapi karena sang adik yang mulai mengamuk, ternyata bisa berubah kuat dan bertenaga.
"Bang Pras, emang sering inian? Lakuin pekerjaan rumah sendiri?" Tanya Vava.
"Iya, setiap sabtu dan minggu kita berdua bagi tugas." Jawab Pras.
Vava hanya mengerucutkan bibir tipisnya, sambil memandangi Pras yang masih mengepel lantai. Vava berfikir, orang dewasa setelah menikah jadi berubah. Terutama sang Kakak, awalnya Vava berfikir sang Kakak hanya duduk manis, seperti semasa di Pondok Indah. Tidak tahunya, Kakaknya juga menjemur baju, memasak dan menyeterika baju sendiri. Sekarang malah melihat suami sang Kakak mengepel lantai.
"Kenapa nggak pakai pembantu?" Tanya Vava.
"Buat apa pembantu selama masih bisa di kerjakan sendiri. Lagian rumah kecil, di rumah cuma aku sama Britney. Kecuali, kalau Dedek utun sudah lahir. Nanti cari asisten buat bantuin Britney." Jawab Pras.
"Tapi Kakak aku jadi capek. Libur, enaknya tidur, nonton film atau jalan-jalan. Eh ini, malah banyak pekerjaan rumah. Bang Pras nggak sayang sama istrinya." Ujar Vava.
Pras menatap Vava dan berkata "Terserah, kamu menilai aku seperti apa. Yang jelas, aku tidak memaksa istriku untuk melakukan pekerjaan rumah."
Vava dengan tersenyum dan bertanya "Diantara kalian berdua, siapa yang bucin??!"
Pras mendengar kata bucin, jadi ingat waktu dia membeli cilok dan bertemu bos besar Arka dan juga bos Leon. Di depan perusahaan Jagat Raya.
"Emang, bucin apaan?" Tanya Pras yang sudah mengerti kata itu, tapi ingin tahu dari adik iparnya.
"Yang Vava tahu BUCIN itu budak cinta. Tapi, Vava juga nggak paham. Vava belum punya pacar, jadi nggak ngerti juga gimana itu Bucin." Jawab Vava.
"Terus, kamu lihat dari aku sama Britney siapa yang BUCIN?" Tanya Pras yang berdiri dan masih memegang alat pelnya.
"Emms. Kalau itu, aku nggak tahu. Makanya tadi aku tanya sama Bang Pras, habisnya Bang Pras nggak kayak budak cinta." Jawab Vava.
Pras berkata "Aku cinta sama Britney, tapi aku juga tidak ingin di perbudak hanya karena cinta."
"Heeeh, entahlah. Tapi bisa saja nanti Bang Pras jadi bucin. Week!" Ketus Vava.
Tidak lama Pras sudah selesai mengepel lantai, dan tadi pagi juga sudah menyikat lantai kamar
mandi. Britney juga sudah selesai masak, dan Vava ke dapur menemui sang Kakak.
"Kakak masih masak?" Tanya Vava.
"Udah selesai, Kakak cuma bersihin ini." Jawab Britney yang mengelap sisi kompor dan meja dapur. Britney juga sudah mencuci alat masak yang kotor.
"Aku heran sama Kakak. Kok bisa berubah drastis setelah menikah sama Bang Pras. Apa Kak Britney bucin?" Tanya Vava.
Britney yang masih memegang kain lap kecil dan berkata "Mau Kakak bucin atau tidak, yang jelas Kakak punya kewajiban sebagai istri. Apalagi Kakak juga mau jadi Mama. Kakak belajar banyak dari Mamah Sarah. Kamu pasti tahu, gimana Mamah Sarah. Mamah Sarah, berpesan sama Kakak, agar jadi istri yang baik, Kakak harus mengikuti langkah suaminya, istri tidak boleh melawan suaminya, istri harus di sisi suaminya, dan Kakak berusaha belajar untuk seperti itu saja. Tapi Mas Pras juga suami yang baik, jadi kita sama-sama belajar untuk mengerti posisi kita, baik di rumah, di kantor dan di mana saja. Kalau soal bucin atau nggak, kalau Kakak lebih ke cemburuan, setiap Mas Pras ada di luar dan bertemu perempuan, Kakak cemburu."
"Vava jadi mengerti." Ucapnya dan mulai duduk di meja makan.
"Sayang, makan ini. Kakak mau mandi dulu." Ujar Britney.
"Oke, siap. Vava suka nasi goreng buatan Kakak." Ucap Vava.
Vava menikmati makan paginya, baru jam 7 pagi. Tapi semua sudah sibuk dengan pekerjaan rumah, kecuali Vava yang masih memakai piyama, duduk dan memainkan ponselnya.
Sudah jam 10 pagi.
Vava yang tampil manis dan sangat cantik. Ini hari pertama dirinya, akan berjalan-jalan dengan sang Papa.
"Kakak Vava pergi dulu ya. Maafin Vava kalau udah ngerpotin Kakak." Ucap Vava.
__ADS_1
"Iya sayang, kamu harus bersenang-senang. Kakak nggak merasa di repotin, malahan Kakak seneng banget, kamu mau main kesini." Balas Britney dengan memeluk adiknya.
"Emms. Kakak, nanti mobil Vava mau diambil sama Pak Sakir." Ucap Vava.
"Iya, Mama kamu udah chat Kakak juga. Nanti jangan lupa kabarin Kakak." Ucap Britney.
"Ok, siap. Vava pasti akan chat Kakak." Ucap Vava.
Vava ingin ke pantai dengan sang Papa. Mereka akan liburan, dan Britney sangat bahagia. Awalnya Vanesa tidak mengijinkan anaknya pergi dengan Angga. Tapi Vava tetap merengek, dan hanya untuk dua hari saja. Minggu sore, Vava akan pulang ke Pondok Indah.
"Bang Pras, maafin Vava. Bang Pras yang sehat, biar bisa jagain Kak Britney." Ucap Vava.
"Iya, kamu juga harus sehat. Selamat bersenang- senang. Kamu juga harus bahagia." Balas Pras.
"Iya pasti Bang. O Ya, itu kartu ATM nanti kasih ke Kakak aja. Terus soal Aksa. Vava titip salam aja. Vava memang salah." Ucapnya dengan santai.
"Oke! Iya, nanti aku sampein salam kamu." Ucap Pras.
Motor Aksa belum beres, jadi masih butuh biaya. Vava cukup bertanggung jawab atas itu. Pras dan Britney melihat sosok Vava yang mulai berbeda.
Mobil hitam itu sudah pergi dari pandangan Pras dan Britney. Angga Saputra juga sangat menyanyangi anak kandungnya. Angga ingin sekali mengajak Vava, untuk bertemu dengan kedua orang tuanya di kota asalnya. Tapi Vanesa belum memberi ijin, Angga juga tidak memaksakan diri, perlahan pasti Vanesa akan memberikan kesempatan untuk dirinya yang bertindak sebagai seorang Papa.
"Papa, itu Aksa." Ucap Vava.
Angga menglakson dan Aksa menoleh ke arah mobil Angga.
"Pagi Om Angga." Ucap Aksa yang mendekati mobil Angga, dan Angga membuka jendela mobilnya.
"Pagi Aksa, kamu rajin juga, mau mencuci mobil." Ujar Angga.
"Iya, Om Angga sudah tugas Aksa. Tapi ini tadi kesiangan. Habis subuh Aksa tidur lagi, baru bangun, cuci mobilnya Ayah." Ucap Aksa.
"Aksa, sorry ya soal kemarin. Tapi semuanya mau di urus sama Bang Pras. Vava mau ada acara sama Papa." Ucap Vava dengan manis.
"Iya. Gue ngerti, ya udah loe juga harus hati-hati. Kalau perlu belajar mobil itu sama Papa kamu. Bahaya kalau sampai nabrak orang lagi." Ucap Aksa yang berdiri di sisi jendela kanan.
"Aksa, Om Angga jalan dulu. Kapan-kapan Om Angga main kesini lagi." Ucap Angga.
"Iya Om, kalau ke rumah Om Pras. Calling Aksa, kalau Aksa di rumah, pasti datang." Ujar Aksa dengan gayanya yang clengekan.
"Oke." Ucap Angga.
Aksa mulai menjauh dari mobil itu, dan Angga mulai melajukan mobil hitamnya. Vava cukup menjadi gadis yang manis.
Suasana manis dan dengan perasaan manis. Seorang gadis belia, tetap saja membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, mungkin setelah bertemu dengan sang Papa. Vava akan berubah menjadi gadis yang lebih baik dan manis.
Britney dan Pras duduk di sofa, Britney tampak bersandar di dada suaminya.
"Mas, tapi kenapa Tante Vanesa masih saja bersikap dingin dengan Om Angga?" Perasaan Britney yang memikirkan tentang sang Tante.
"Entahlah, kita tidak perlu ikut campur terlalu jauh masalah Tante Vanesa. Kita cukup melihat Vava sudah menerima Papanya dan Vava bahagia. Pasti perlahan Tante Vanesa juga akan luluh. Biarkan dulu, Tante Vanesa menangani masalahnya sendiri. Kamu cukup mendengarkan saja, bila Tante Vanesa bercerita. Kalau tidak, kita tidak perlu ikut campur." Ucap Pras dengan tenang.
"Kamu benar Mas." Balas Britney.
Kedua orang yang tampak manis di hari sabtu.
Sebagai keluarga mereka hanya merangkul dan mendampingi, tapi tidak lebih dari hal itu. Masalah antara Tante Vanesa dan Angga Saputra, itu bukan lagi masalah Britney, sebagai suami Pras cukup mendengarkan dan menasehati sang istri, agar tidak terlalu ikut campur masalah kedua orang tua Vava.
"Sayang, ada hal yang harus dan tidak kita ketahui. Kalau soal Vava, kita sebagai Kakak pasti harus mendukung Vava. Tapi kalau masalah perasaan Tante Vanesa kita tidak berhak ikut campur, pasti ada hal lain yang tidak kita tahu. Makanya, selama ini Tante Vanesa menutupi dari keluarganya dan juga anaknya." Ucap jelas Pras.
"Iya Mas, sepertinya memang begitu. Semalam, aku juga ngobrol sama Bang Evan dan Abah Ferdi, ternyata Bang Evan di rumah Abah. Jadi kita juga bingung. Disisi lain, Abah Ferdi cukup mengenal Om Angga, tapi hanya rekan kerja. Tidak lebih dari itu. Abah juga cukup kaget semalam." Ucap Britney.
"Semalam aku juga kaget. Apalagi waktu bilang Prasetya Wardana, kaget banget aku. Orang asing tapi tahu nama lengkap aku. Padahal teman kerja juga bukan." Ucap Pras.
Britney yang masih bersandar dalam dekapan suaminya, masih memikirkan sang Tante.
Di tempat lain.
__ADS_1
"Abah apa tidak sebaiknya ke menemui Vanesa?" Tanya Mamah Sarah.
"Tidak usah, kamu tahu sendiri bagaimana sifatnya Vanesa. Biarkan saja dia berfikir." Jawab Abah Ferdi.
Sebagai Kakak yang paling tua dan hanya Abah Ferdi yang ada. Tapi Abah Ferdi sangat mengerti perasaan Vanesa. Lebih baik membuatnya diam sementara, dari pada mengusik masalah Papa kandung Vava. Ferdi juga cukup mengenal Angga sebagai kenalan kerjanya saja, tidak lebih dari itu.
"Jadi Abah sudah kenal sama Papanya Vava dan itu sudah satu tahun lamanya?" Tanya Mamah Sarah.
"Iya, kurang lebih satu tahun. Waktu kerja sama proyek yang di Jawa Barat." Ucap Abah Ferdi.
Evan yang duduk di sofa, lalu berkata "Evan juga kenal Om Angga. Tapi, Evan tahunya hanya sebatas pekerjaan."
"Mungkin, Angga saputra itu sudah tahu lama tentang kita keluarga Vanesa. Tapi, kenapa dia baru datang Abah." Ujar Mamah Sarah.
"Sepertinya bukan Mah, Abah dan perusahaan Era Sentosa waktu itu memang kerja sama. Tidak mungkin Angga tahu tentang RM dan Vanesa begitu saja. Apalagi Vanesa, tidak pernah mengungkap siapa dirinya. Di dunia Vanesa, hanya foto-foto dan pergi liburan. Ada gosip, katanya Vanesa bermalam dengan pria bule. Abah juga sudah bilang sama Vanesa, katanya itu hanya teman. Jadi kalau masalah Papanya Vava. Mungkin Angga tahu dari sosial media." Ucap Abah Ferdi.
Evan juga merasa sependapat dengan Abah Ferdi dan Evan berkata "Mamah, sebaiknya yang di pikir bukan Tante Vanesa, tapi Vava. Apa Mamah tidak cemas, kalau nanti Papanya Vava menginginkan Putri kandunganya, membawa ke kasus hukum, dan Vava memilih Papanya. Apa kalian semua akan terima. Kalau Evan nggak bisa kalau Vava harus pergi jauh dari kita. Kota asalnya Om Angga itu jauh Mah, nggak seperti Jakarta - Depok." Ucap Evan.
"Kamu malah nakutin Mamah." Ucap Mamah Sarah.
"Evan, kalau itu sepertinya tidak akan di lakukan Angga Saputra. Abah cukup mengenal dia, Vava juga sudah dewasa, pasti bisa mengerti. Kalau hanya sekedar bertemu dengan keluarga Angga yang di sana, Abah tidak masalah. Tapi, Tante kamu pasti akan melarangnya."
"Mamah pusing, mamah bingung. Terus Britney gimana? Kenapa nggak telfon kita lagi." Ujar Mamah Sarah.
"Ini, barusan WA Evan. Bilang kalau Vava pergi sama Om Angga ke Ancol. Besok baru pulang. Mobil Vava masih disana. Mau diambil Pak Sakir. Tadinya Evan mau kesana. Tapi Ghea malah pergi sama Maeva." Ucap Evan.
"Kenapa, kamu baru kasih tahu Mamah?!" Ujar Mamah Sarah.
Di sebuah Mall.
"Kak Ghea, jangan yang itu." Ucap Maeva.
"Terus yang mana?" Tanya Ghea.
"Britney nggak cocok pakai kayak begitu. Ntar dikira emak-emak." Ucap Maeva.
"Emang Britney udah jadi emak-emak Maeva. Kalau kamu beliin yang branded, pasti Britney bingung pakainya. Pasti nanti nggak dipakai. Apalagi sekarang Britney jadi tukang ghibah juga." Ujar Ghea sembari masih memilih dress ibu hamil.
"Ghibah apaan?!" Tanya Maeva yang tidak mengerti.
"Kata Britney, tukang gosip." Jawab Ghea.
Maeva mematung saat melihat katalog dan banyak gambar ibu hamil. Ghea sibuk memilih dan menatap ke Maeva.
"Maeva bantuin nyari. Bukan duduk manis." Ujar Ghea.
"Iya, ini aku bantuin nyari di katalog. Jadi nggak usah keliling lagi. Tinggal minta ukuran sama pelayan, udah beres." Ucapnya dan Ghea mendekat.
"Tetap enakan milih sendiri, bisa tahu bahannya." Ujar Ghea.
"Ini ada keterangan jenis bahan dan ukuran." Ucap Maeva.
"Aku tetap mau pilih sendiri." Ucap Ghea dan berjalan lagi. Akhirnya Maeva membuntuti Ghea.
"Kak Ghea, apa kalau aku hamil akan seperti Britney?" Tanya Maeva.
"Memangnya Britney kenapa, ibu hamil sama aja. Pasti ngidam." Jawab Ghea.
"Bukan itu, Britney kan jadi cemburuan, terus dia juga gemuk. Sekarang, dia jadi malas make up. Aneh aja aku pikir. Aku nggak mau seperti dia." Ucap Maeva.
"Hormon Ibu hamil beda-beda Maeva. Sudahlah! Ayo buruan cari. Pilih yang bagus-bagus. Britney suka warna ungu." Ucap Ghea.
Maeva dengan gayanya yang feminine memilih beberapa dress untuk adiknya yang tersayang. Walaupun setiap bertemu selalu saja ada yang diperdebatkan. Tapi dalam hati Maeva, sangat menyayangi adiknya yang sedang hamil itu.
πΌπΌπΌπΌ
Semoga kalian suka
__ADS_1
Terima kasih π€π