PANGGIL AKU MAS!

PANGGIL AKU MAS!
Sangat Serius Dan Mengobati Rindu


__ADS_3

...πŸ‚Pelangi yang cantik,...


...dengan warna yang berbeda,...


...tampak menghiasi langit,...


...dikala hujan sudah mereda.πŸ‚...


Vava mulai memikirkan ungkapan cinta Nicholas, untuk dirinya. Vava yang memeluk guling, dan baru bangun dari tidur siangnya.


Tadi pagi itu, sesuatu yang tidak disangka oleh Vava, bahwa sahabatnya yang lama bersamanya, menyatakan perasaan cinta untuk dirinya.


"Nicholas sudah tidak waras." Ketus Vava, yang masih memeluk erat gulingnya.


Vava mulai tersenyum dan berkata "Sahabatku yang bikin kesal, kenapa setelah lama tidak bertemu, sekalinya bertemu semakin membuat aku kesal."


Nicholas Madava sudah kembali ke hotel, rasanya ada perasaan yang lega. Setidaknya, dirinya sudah mengungkapkan perasaannya. Walaupun Vava tadi, tetap menolak dan menyuruhnya agar segera pulang ke Jakarta.


"Vava, aku tahu. Kamu tidak akan bisa marah sama aku." Ucapnya dengan tersenyum manis, sambil bergulung ke kanan dan ke kiri, Nicholas cukup kekanakan, tapi terkadang dia lebih bisa bersikap lebih dewasa dari Vava.


Sungguh siang hari yang menyenangkan bagi Nicholas Madava, tapi cukup mengesalkan untuk Vava, dan sampai sekarang Vava masih enggan bangkit dari tempat tidurnya.


"Vava, kamu sudah bangun." Suara Evan terdengar nyaring, dan tangannya mengetuk pintu kamar Vava.


Vava menyahut dari kamarnya dengan suara yang tidak kalah nyaring "Iya Bang Evan, Vava sudah bangun. Bentar Bang, Vava ganti baju."


Vava yang tadinya hanya mengenakan tengtop, lalu mengambil kaos big size yang ada di atas meja. Kaos-kaos baru yang tadi dibeli Vanesa, waktu berbelanja dengan Evan.


"Bang Evan, ada apa?" Tanya Vava, yang sudah menatap sosok Evan yang tampan.


"Abang, mau ngomong sama kamu." Jawab Evan dengan santai.


"Ngomong soal apa?" Tanya Vava, yang masih berdiri mematung di sisi pintu, dan tidak beranjak keluar dari kamarnya.


Evan dengan tersenyum berkata "Kamu sudah sehat, ayo kita jalan keluar. Sambil ngobrol, soal kamu."


"Soal Vava? Aku kenapa Bang Evan? Vava sudah tidak ada masalah." Jawab Vava.


"Iya, kamu tidak ada masalah. Tapi seseorang dalam masalah." Ucap Evan dengan tersenyum manis.


Vava menarik bibirnya ke kanan dan bersedekap, dengan tatapan tajam berkata "Jangan bilang ini soal Nicholas."


Evan dengan tersenyum berkata "Bukan sayang. Ayo kita jalan dulu, siapa orangnya nggak penting."


Vava dengan kesal, akhirnya mengambil coat warna biru muda, dan mengikuti ajakan Abangnya.


Evan sangat menyayangi Adik-adiknya, Vava juga sangat menyayangi Abangnya. Evan berjalan dan tampak mengandeng Vava, sangat mesra bagi dua bersaudara ini.


"Bang Evan, jangan bikin Vava penasaran. Maksud Bang Evan siapa yang dalam masalah?" Tanya Vava yang tampak bingung, dan sangat penasaran.


Sudah menjelang sore hari, udara dingin membuat Evan mengajak Vava ke sebuah kafe kopi. Tadinya mau ke taman yang tidak jauh dari apartemen, tapi udaranya begitu dingin, apalagi Vava baru saja pulih dari sakitnya.


Evan dan Vava sudah memesan sebuah minuman, dengan tatapan tanya, Vava bertanya "Bang Evan, buruan cerita sama Vava. Siapa orangnya? Apa masalahnya? Nicholas? Atau Jonathan?"


Evan menyernyitkan dahi, tidak lama pesanan sudah datang. Lalu Evan berkata "Bang Evan haus, harus minum dulu sebulum ngomong."


Vava tampak semakin kesal, dan menggigit tangan Evan dengan kencang.

__ADS_1


"Kamu dari dulu nggak berubah." Ujar Evan, dengan tersenyum.


"Habisnya Bang Evan selalu gitu. Ngomongnya di putus-putus. Mendingan, tadi nggak usah bilang gitu. Vava jadi penasaran." Ketusnya dengan tidak senang.


Evan sudah minum dan meletaknya cangkirnya lagi ke atas tatakan. Kedua tangannya tampak memegang cangkir putih, dan Vava tidak mau menatap Evan, yang sepertinya ada masalah serius.


"Vava, jujur sama Abang. Sejauh mana hubungan kamu sama Jonathan?" Tanya Evan dengan serius, dan Vava belum berani menatap Evan yang begitu teguh dan sangat berwibawa.


Vava mengaduk-aduk minumannya dan mulai minum dengan pelan. Kembali mengaduk dan minum dengan cepat. Lalu Vava berkata "Ya, selayaknya orang berpacaran, kencan, jalan, makan bareng, nonton, ya gitulah."


"Iya, Abang tahu aktivitas orang berpacaran. Tapi, maksud Abang itu ke hubungan intim. Apa kalian_" Belum sampai Evan melanjutkan ucapannya.


Vava lebih dulu berkata "Belumlah Bang, Vava nggak ada hubungan intim dengan siapapun. Kalau ciuman iya, dan itu sering terjadi."


Evan mengehela nafas lagi dan berkata "Vava, ada dua orang pria dengan serius sudah melamar kamu. Bang Evan, tadi sudah ngobrol sama Papa dan Mama kamu, mereka juga bingung. Makanya Bang Evan, pengen tahu dulu gimana kamu, dan hubungan kamu dengan Jo Jo."


"Dua pria? Maksud Bang Evan Jo Jo dan Nicholas?" Sentak Vava dengan tidak percaya.


Evan dengan tenang berkata "Iya, Jonathan dan Nicholas. Kedua orang tua Jonathan sudah telfon Mama kamu, kamu pasti tahu sendiri gimana Mamanya Jo Jo. Terus Nicholas, dia sudah bilang sama Papa dan Mama kamu, kalau dia mau serius dan akan segera menikahi kamu."


Vava mengangkat cangkir yang ada dihadapannya dan meminumnya sampai habis. Tatapan mata Evan sangat teduh dan sangat serius, Vava tidak tahu harus berkata apa. Jonathan sampai saat ini masih mengisi hatinya, walaupun sudah cukup tergores oleh sikap Jonathan yang sempat uwu dengan gadis Perancis. Lalu Nicholas, hanya seorang sahabat, bahkan setiap bertemu yang ada hanya kekesalan, dan selalu ada perdebatan Vava dengan Nicholas.


"Bang Evan, bisa nggak kalau Vava tidak memilih keduanya. Vava tidak bisa lanjut sama Jonathan. Vava nggak suka sama Nicholas." Ucap Vava dengan sangat jelas dan jelas sekali.


Evan mulai mengangkat cangkirnya dan kembali minum. Vava sangat gelisah, lalu menoleh ke arah sekitar cafe. Dengan gemas Vava, mengambil ponselnya, mulai mengirim pesan kepada seseorang.


"Vava, kalau menurut Bang Evan. Nicholas sangat mencintai kamu, peduli sama kamu. Dari dulu, Bang Evan juga suka sama Nicholas yang apa adanya, dia nggak aneh-aneh. Memang terkadang seperti anak kecil kalau kalian lagi berantem, tapi Bang Evan tahu, kalau Nicholas bisa menjaga kamu. Buktinya dulu, waktu sekolah kalian sama-sama terus. Nicholas juga selalu jagain kamu." Ucap Evan dengan santai, lalu menyungging bibirnya.


Senyuman Evan juga sangat khas dan menarik perhatian orang yang ada di sekitarnya, bahkan ada gadis bule yang dari tadi menatap Evan dengan jelas dan tidak berkedip. Tapi Evan dan Vava tidak mengetahui kalau ada orang yang memperhatikan ke arah meja itu.



"Nanti dulu, buat keputusan kamu. Papa dan Mama kamu nungguin jawaban kamu. Kamu sudah lulus kuliah. Kita semua bisa pulang ke Jakarta, dan mengatur pernikahan kamu." Ucap Evan dengan jelas, dan Vava mendengar itu menjadi gelisah.


_______________


🌻🌻🌻


Di sebuah rumah bercat ungu, tampak memeluk erat dan sudah malam. Pras memeluk Alishba, mengelus punggungnya, dan membuat putri kecil itu tertidur. Sang Mama tersenyum, saat melihat suaminya dengan cinta, dan penuh perasaan untuk putri semata wayangnya.


"Mas, kamu juga capek. Tidurlah, Alishba sudah tidur pulas." Ujar Britney yang mendekat dan mengelus rambut suaminya.


"Sayang, kamu tadi telfon siapa? Sepertinya sangat serius." Tanya Pras yang sudah menoleh ke istrinya.


Pras bangkit dari tempat tidur dan Britney berkata "Tadi itu aku di telfon Om Angga, terus aku telfon Tante Vanesa dan Nicholas."


"Ada apa? Apa Vava sakit lagi?" Tanya Pras dan menatap istrinya.


Mereka masih di kamar serba pink putih. Sebuah kamar yang sangat di sukai Alishba. Britney dan Pras masih saling menatap. Britney tersenyum manis dan berkata "Bukan Mas, tapi ini soal pernikahan Vava."


Pras tersenyum saat mendengar hal itu, lalu dia pergi keluar kamar itu, dan Britney menciumi pipi Alishba. Tidak lupa mematikan lampu kamarnya dan hanya menyalakan lampu redup berwarna pink dan putih juga. Lampu tidur yang sangat unik, berberntuk hellokitty yang sedang duduk.


Alishba menyamping ke kanan, dan memeluk guling dengan erat. Britney masih menoleh ke arah putri kecilnya, dan menutup pintu kamar itu dengan pelan. Sudah 2 bulan ini Alishba tidak lagi merengek ketika malam, bahkan tidur sendiri dengan nyanyak.


Mungkin karena sudah bertambah usianya. Karena sudah 6 tahun, dulu sering kali Alishba rewel dan selalu meminta sang Papa memenemi tidur, Pras beranjak pergi, dan sang putri kecil itu selalu merasakan kalau sang Papa pergi, pasti menangis dan rewel semalaman.


Britney mendekati suaminya, yang duduk di sofa, dan Pras mengirim pesan kepada Nicholas.

__ADS_1


"Mas, tapi masalahnya kedua orang tua Jo Jo juga melamar Vava. Tante Mesti, memaksakan dirinya, agar Jo Jo menikahi Vava. Bahkan Tante Mesti bilang, hubungan Vava dan Jo Jo sudah terlalu jauh. Makanya Bang Evan aku suruh tanya sama Vava. Ya, aku percaya sama adik aku. Vava suka curhat, selama hubungan sama Jo Jo. Tapi Tante Mesti berkata begitu, Om Angga dan Tante Vanesa juga tidak tahu. Sampai dimana hubungan Vava dan Jo Jo." Ucap Britney dengan resah.


"Aku cuma bilang sama Nicholas, agar dia tidak berlebihan. Aku waktu itu cuma bilang, ungkapkan saja perasaannya, tapi aku tidak nyuruh dia buat langsung nikahin Vava." Ucap Pras dengan santai.


"Iya, aku tahu. Tadi aku tanya sama Nicholas. Tapi sepertinya, dia sangat yakin untuk menikahi Vava." Ucap Britney.


Pras tersenyum dan tangan kanannya merangkul istrinya, lalu berkata "Vava sudah dewasa, biar saja dia membuat keputusannya sendiri. Yang penting saat ini kita."


Britney menatap suaminya dengan teduh dan bertanya "Apa maksud kamu kita? Apa kita juga ada masalah?"


"Iya, masalahnya sangat serius sayang. Bahkan sudah lebih dari satu minggu, kita terpisah jarak dan waktu. Bahkan aku tidur sendirian. Setelah kamu pulang, semalam tidur di kamar Alishba. Apa itu tidak masalah besar?? Kamu tidak kangen sama aku? Aku mau ada adik-adiknya Alishba, aku mau anak laki-laki. Ternyata bermain bareng Giel, buat aku jadi suka anak laki-laki." Ucap Pras dengan tengil, dan gayanya yang begitulah.


Britney tersenyum dan berkata "Mas, sepertinya kamu sekarang banyak kemauan juga. Aku bahkan tidak berfikir tentang anak laki-laki, atau anak perempuan. Bagiku sama saja, Alishba sudah cukup menggemaskan hari-hari kita. Tapi, kita tidak ada salahnya mencoba itu, siapa tahu memang anak laki-laki seperti yang kamu mau."


Pras yang masih menatap istrinya dan berkata "Sayang, siapkan dirimu. Ada sesuatu di kamar."


Pras beranjak pergi dan Britney bingung, apa yang sudah suaminya persiapkan untuk dirinya. Hal itu membuatnya penasara, Britney segera bergegas ke kamarnya.


Ada subuah kotak putih berpita ungu muda, Britney tersenyum dari atas penutupnya yang seperti kaca, sudah tampak terlihat apa isi di dalam kotak itu. Sebuah lingerie putih soft, tampak cantik dengan renda yang menarik. Lingerie dengan brand ternama, sudah dipegang Britney.


"Sangat cantik, kenapa suamiku begitu pandai memilih beginian. Dimana dia membeli ini?" Batin Britney dengan tersenyum, dan ada tanda tanya dalam pikirannya.


Pras bergitu tampan dan masuk ke kemarnya. Britney yang sudah mempersiapkan dirinya, dengan cantik dan sangat menggoda mata.


Mata liar suaminya, ternyata tepat memilih gaun tidur itu. Sangat cocok dan pas di tubuh sexy sang istri. Suangguh menggairahkan malam Pras dan matanya masih menatap sosok cantik yang ada dihadapannya.


"Sayang, kamu sangat cantik. Aku merindukanmu." Ucapnya dan mulai mendekati istrinya, tangan kiri memegang pinggang istrinya dan tangan kanan itu mulia membelai wajah cantik istrinya.


Sosok Britney yang terlihat dewasa, tapi Pras sangat tegoda, karena istrinya memang sangat mengguggah hasrat kelakiannya. Tidak dipungkiri, istrinya itu memang sangat sexy, Britney selalu menjaga badannya dan semakin montok, tapi tidak melebar.


"Sayang, kamu siap?" Bisikan suaminya sangat menggoda Britney. Suaranya itu membuat Britney merinding. Padahal belum ada dua minggu dia berpisah dengan suaminya, tapi kenapa, hal ini membuat dirinya berbebar. Desirannya sangat kuat, entah kenapa terjadi, sudah sangat lama dirinya tidak berdesir seperti itu.


Britney tidak berani menatap mata liar suaminya dan berkata "Iya Mas, aku sudah siap." Menunduk malu-malu tapi mau, dengan senyuman manis dan kenakalan pada wajah suaminya sangat terlihat jelas, senyuman manis Pras begitu nakal. Bahkan dari tadi sepertinya lidahnya sudah bermain sendiri, terlihat saat memainkan bibir manisnya.


Pras mengangkat tubuh sexy itu dia atas ranjang. Sebuah malam penuh pesona dengan liar akan dimulai, rasa rindu menusuk kalbu akan segera terobati dengan pergulatan romance vaganza di malam ini.


Tangan itu menentuh lembut wajah istrinya dan perlahan mencium ubun-ubun sang istri, tidak lupa dalam hatinya sebuah do'a ia panjatkan serta harapan sebagai Papa ingin dikabulkan.


Britney yang menutup matanya, juga melakukan hal yang sama, hanya do'a dan meminta agar harapan sang suami tercinta bisa terkabulkan.


"Aku mencintaimu istriku." Ucapnya dengan pelan dan tatapan matanya membuat Britney berdesir lebih kencang.


Britney dengan tesenyum berkata "Aku juga sangat mencintai suamiku."


Pras dengan tersenyum tengil, dan sudah mulai beraksi.


Skip!



Hayo haluannya jangan lebay ya thor, eling thor eling 😌. Maafkan Othor gesrek 🀭.


πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


Semoga kalian suka cerita ini.


Entah apa yang othor gesrek ini ceritakan. Rasanya selalu hambar saja, tapi demi kalian pembaca setia Mas Pras, Othor selalu usahakan nulis kisah Mas Pras dan Britney.

__ADS_1


Terima kasih atas Like, Komentar dan Vote yang masih kalian berikan. Padahal sudah END, tapi kalian yang setia, ternyata semakin setia dan cinta sama Mas Pras dan Britney. πŸ€—πŸ˜˜


Loppe Loppe seabreak dari Othor gesrek ini. πŸ€—πŸ˜˜


__ADS_2