
Di saat Britney bersiap berangkat dari Jerman, tapi yang di rumahnya cukup menggemaskan Papa muda.
"Alishba!" Suara anak tampan yang bernama Giel itu begitu nyaring. Berlari dan mendekati Alishba.
Alishba yang masih makan mie goreng, hanya menatap sekilas Giel.
"Kamu makan mie goreng, tadi aku makan pizza." Ucapnya dengan suara gemas.
Giel Al Ghani adalah putra tampan dari Evan dan Ghea. Anak tampan yang baru berusia 5 tahun itu, begitu tampan dan sangat menggemaskan. Giel tampak aktif dalam bergerak, tapi tidak banyak bicara. Berbeda dengan Alishba yang lebih ceriwis saat berkata.
Ghea yang masih di dalam mobil, tapi jagoan kecilnya sudah turun lebih dulu, dan mencari Alishba.
Pras yang mendengar teriakan Giel, langsung ke depan dan menyapa Giel. Tetap saja, Giel tertuju pada adiknya.
"Pras, kamu sibuk?" Tanya Ghea, yang sudah cantik dengan dress warna toska. Karena Ghea mau pergi ke sebuah acara pesta pernikahan.
"Iya, aku sibuk. Sibuk ngurusin Alishba, dari kemarin rewel terus. Ada saja yang buat dia nangis." Jawab Pras.
"Pasti kangen sama Mamanya." Ucap Ghea, dan berjalan masuk ke ruang tengah, lalu mendekati Alishba.
Pras menatap dua bocah itu, Giel duduk di depan Alishba, dan melihat wajah adiknya lebih dekat. Tapi Alishba tampak cuek dan tidak menghiraukan Giel, yang dari tadi sudah memperhatikannya.
"Alishba, cantiknya Mommy Ghea. Lagi makan mie." Ujar Ghea yang mendekat dan mengelus rambut Alishba.
Alishba menoleh dan memeluk Ghea "Mommy, Alishba kangen Mama, Mama belum pulang." Dengan suara menggemaskan, seraya mengadu kepada Mommy Ghea.
"Alishba jangan nangis. Aku peluk Alishba." Ucap Giel yang ikut memeluk Alihsba.
Ghea mengelus rambut Alishba, dan mencium pipinya, lalu berkata "Alishba, hari ini main sama Kak Giel dulu ya. Mommy mau ada acara, Kak Giel nggak mau ikut Mommy, tapi Kak Giel maunya mainan sama Alishba."
"Mommy mau kemana??" Tanya Alishba yang sendu, dan bibir mungil itu masih belepotan bekas minyak mie goreng.
"Mommy mau ke resepsi pernikahan. Nanti lama, makanya Kakak Giel nggak mau ikut Mommy." Jawab Ghea dengan tersenyum, dan masih mengelus rambut Alishba.
"Alishba, Alishba, aku boleh mainan disini?" Tanya Giel dengan gemas dan menatap Alishba.
Alishba menatap Giel dan berkata "Boleh, tapi maninan Alishba cuma barbie sama boneka. Kak Giel kan anak cowok."
"Alishba sayang, Kakak Giel juga bawa mainan. Nanti mainan bareng ya, nggak boleh berantem, nggak boleh rebutan. Mommy nanti jemput Kakak Giel lagi, jadi Alishba yang temani Kakak Giel." Ujar Ghea yang merayu Alishba.
Alishba menatap jauh ke wajah sang Papa. Pras masih berdiri, dan hanya melihat kedua bocah kecil itu, yang sedang berbicara dengan Ghea.
"Papa, Papa. Kakak Giel mau disini. Kakak Giel mau mainan sama Alishba." Ucapnya dengan gemas.
Pras berjalan mendekat ke arah Alishba, dan Ghea mengambilkan mainan Giel dari mobilnya.
__ADS_1
Pras mengangkat anaknya, dan menggendongnya di sebelah tangan kirinya. Alishba menatap lekat wajah Papanya, tangan kecil itu memegang pipi Papanya.
Pras berkata "Iya cantiknya Papa. Kakak Giel mau mainan sama Alishba, nanti mainan berdua. Kak Giel sayang sama Alishba, jadi Alishba juga harus sayang sama Kakak Giel."
Giel yang mendongak ke atas, dan seraya ingin di gendong Pras. Pras tersenyum melihatnya, dan akhirnya tangan kanan Pras mengangkat bocah tampan itu, dan menggendongnya di sisi kanan.
"Kakak Giel, ini Papa Alishba." Ucapnya, saat Giel juga digendong sang Papa.
"Om Pras, Papanya Alishba. Tapi Omnya Giel." Balas Giel. Tangan kecil Giel mengusap pipi Alishba, dengan rasa sayang.
Giel selalu bertindak seperti sang Daddy, seperti Evan yang menyayangi Britney. Giel begitu sayang dengan Alishba. Tapi Alishba cenderung jutek dan ketus ketika bersama Giel. Sikap Alishba seperti Maeva kecil, yang jutek kepada Evan.
"Alishba sayang, Kakak Giel itu saudara Alishba, jadi harus sayang sama Kakak Giel." Ucap Pras, lalu mencium pipi cubby itu.
Alishba hanya diam dan menatap tajam Giel. Pras dengan gemas masih mencium pipi anaknya itu. Ghea yang datang, dan membawa box kontainer plastik, yang berisi berbagai jenis mainan Giel.
"Alishba sayang, Mommy Ghea pergi dulu ya. Mommy titip Kakak Giel dulu." Ucap Ghea, dan mengelus rambut Alishba.
Kedua bocah itu masih dalam dekapan Pras, dan perlahan mereka turun dari gendongan Pras. Berlari dan melihat Ghea yang bergegas pergi.
Giel cukup melambaikan tangannya, saat sang Mommy pergi, dan Alishba menatap Ghea sampai mobil warna hitam itu pergi dari pandangannya.
Pras kembali ke ruang tengah, merapikan piring bekas mie goreng. Mie goreng tadi hanya bersisa sedikit dan meletakan di cucian piring.
Pras dengan tersenyum menatap kedua bocah itu berlari ke ruang tengah. Kedua anak yang sangat menggemaskan. Membuat Papa muda itu, akan sangat sibuk nantinya.
"Om Pras, bukain ini. Aku nggak bisa." Suara lucu dan sangat menggemaskan. Pras mendekati Giel dan bersama-sama membuka box mainan itu.
"Kak Giel punya robocar poli?" Tanya Alishba, yang ikut mengobrak-abrik isi box itu.
Tangan kecil itu mencari-cari, dan ada di sebuah kotak, ada satu set robocar poli yang masih baru.
"Ini Alishba." Ucap Giel yang memberikan itu.
"Papa, Papa, ada Amber, Alishba suka. Papa lihat." Ucapnya dengan gemas, saat memegang mainan seperti ambulan yang berwarna pink putih.
Giel mengambil mobil yang pemadam merah, dan berkata "Aku suka Roy, Om Pras lihat. Bagus Roy kan? Om Pras suka yang mana?"
Pras bingung dan mengambil satu dari beberapa mainan Giel, lalu berkata "Om Pras suka yang ini, tembak-tembakan, doorr... doorrr... chuu...chuu." Suara Pras begitu gemas, dan mengarahkan pistol mainan itu ke arah Giel.
Giel dengan cepat mengambil pistol satunya, dan Alihsba cukup melihat aksi sang Papa.
"Papa,... Papa.. Awas Papa. Kakak Giel bawa tembakan besar." Teriak Alishba, yang sudah mulai tersenyum manis.
Pras dan Giel cukup menikmati permainan tembak-tembakan. Alishba ikut berlari, dan membawa tongkat peri yang dia miliki.
Sebuah tongkat mainan, berwarna pink putih dan ada aksen bintang diatas tongkat itu, bila ditekan tombolnya bisa menimbulkan suara, dan lampu pink menyala.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian.
"Om Pras capek Giel." Ucap Pras dan bersandar sofa.
Alishba naik ke sofa, dan berdiri di sisi kiri Papanya. Kedua tangan Alishba menarik wajah sang Papa dan memeluknya, Alishba berkata "Papa, Alishba sayang Papa. Papa jangan sakit."
"Alishba cium Papa. Papa cuma capek." Ucap Pras.
Giel yang melihat Pras cukup berkeringat saat bermain dengannya.
"Om Pras capek?" Tanya Giel dan duduk bersandar di sebelah Pras.
"Iya, Om Pras capek Giel." Jawab Pras, lalu Giel memeluknya.
Pras sudah kalah dengan tenaga kedua anak kecil itu. Anak-anak memang lebih aktif bergerak, dan tidak kenal lelah. Walaupun masih muda, tapi Pras ternyata bisa lelah juga, saat bermain dengan Giel dan Alishba.
Alishba turun dari sofa dan menuju ke dapur, membuka kulkas, tangan kanannya mengambil sebuah botol minuman.
"Papa, Papa minum ini." Ucap Alishba. Kedua tangan kecil itu, sudah memegang botol minuman berlabel biru dan memberikan kepada Papanya.
Pras menerima botol minuman itu, dan berkata "Cantiknya Papa pintar. Terima kasih sayang."
"Alishba minum buat aku mana?" Tanya Giel, dan masih memeluk Pras.
"Kakak Giel ambil sendiri." Jawab Alishba, dengan suara jutek.
Pras menggeleng dengan sikap anak yang cantik itu. Dengan pelan Pras berkata "Alishba, tolong ambilin Kakak Giel minuman ya. Ambilin yang susu coklat."
"Papa, tapi itu susu punya Alishba." Jawabnya dengan ketus.
Pras menarik badan mungil itu, dan memangku Alihsba dengan rasa sayang. Lalu Pras berkata "Sayang, itu susu kotak ada 2. Satu buat Alishba, satu buat Kakak Giel. Nanti kita beli lagi, Alishba bisa jajan lagi sama Kak Giel."
Alishba menoleh ke Giel, dan berkata "Kak Giel, ayo kita ambil susu. Nanti Alishba mau jajan lagi."
Giel beranjak dari sofa dan menggandeng Alishba.
Pras menggeleng saja melihat sikap putri kecilnya itu, dan sangat gemas. Pras begitu menyayangi Alishba, dan sangat memanjakannya.
Alishba juga cukup mengerti, bila sang Papa menasehati dirinya. Walaupun, terkadang tetap saja ada drama diantara Papa dan anak.
"Aku maunya yang ini Alishba." Ucap Giel dan menarik susu kotak warna coklat dari tangan Alishba.
"Papa. Papa. Papa." Teriak Alishba, yang menangis kencang.
Hallo semuanya, masih berlanjut ya dari bagian awal PANGGIL AKU MAS! Season 2. Semoga kalian suka dan masih setia.
__ADS_1
Terima kasih para pembaca setia Mas Pras.
Loppe loppe seabrek 🤗🥰😘