
Evan dengan gelisah telfon karyawannya yang bertugas mantainance lift. Beberapa orang juga merasa panik dan Britney di dalam lift itu.
Evan khawatir liftnya bisa jatuh dan dirinya semakin cemas, setelah tahu ada adiknya di dalam lift itu.
Bagaimana keadaan karyawan dan adiknya di dalam lift tersebut. Ada tiga orang terjebak di lift nomor 2, Britney dan dua karyawan wanita dari divisi HRD. Setelah rapat dengan direktur dan hendak kembali ke ruangannya malah terjebak dalam lift.
"Evan, apa adikmu juga di dalam?" tanya Ferdi.
"Iya, Abah. Ini Tania yang mengatakan." jawab Evan dan tiga orang yang di depan lift juga cemas.
"Maaf Pak Ferdi, tadi saya ke toilet, lalu saya kembali, Bu Britney sudah tidak ada disini, sepertinya di dalam lift dengan Bu Anwar dan Saskia. Soalnya saya sudah keruangan, tapi Bu Britney tidak ada." ucap Tania.
Sudah lebih dari setengah jam. Teknisi juga belum datang.
"Eh... Kalian.. Ada info penting, barusan gue dari ruangan Bu Nia. Bu Tania panik nyariin Bu Britney. Ternyata, lift nomor 2 macet. Bu Nia otw kesana." ucap Maristha.
Mendengar hal itu semua karyawan akunting kaget, Pras tidak berkata langsung bergegas mencari istrinya.
Pras menghubungi ponsel istrinya tapi tidak diangkat. Berarti benar, dengan apa yang dikatakan oleh Maristha.
Run....... Wosssh.... Tak! Tak! Tak!
Pras lari dan menaiki tangga, dirinya di lantai 5 dan posisi istrinya di lantai 8.
"Pras ngopo mlayu?" Batin Pak Miko dan semua karyawan juga mengikuti Pras untuk melihat situasi di lantai delapan.
(Pras kenapa lari?)
"Abah..." Panggil Pras saat melihat Ferdi.
"Pras, Britney di dalam dengan Bu Anwar dan Saskia." ucap Ferdi.
Evan yang masih mengubungi seseorang, lalu Pras mendekati lift. Beberapa orang yang disitu juga semakin panik.
Evan melihat Pras lalu menghampirinya "Pras kamu disini?"
"Bang Evan, kenapa teknisinya belum ada yang datang??" tanya Pras.
"Teknisi akan segera datang. Tapi Tania bilang, Britney juga di dalam." jawab Evan.
Raut wajah Pras berubah seketika. Orang-orang semakin berdatangan. Pak Miko dan yang lain juga melihat keadaan disana. Mereka jadi melihat Pras yang tampak dekat dengan Ferdi dan Evan.
Tangan kanan Pras masuk kesaku celananya, tangan kiri mengayak rambut dengan kesal.
"Pras tenang. Kamu jangan bikin Abah semakin panik." ucap Ferdi menepuk pundak Pras.
Para teknisi akhirnya datang dengan membawa peralatan. Evan lalu mengatakan kalau di dalam semua perempuan. Bahkan ada wakil direktur juga.
Pras mondar mandir di depan Evan dan Ferdi. Tania sangat panik, matanya berkaca-kaca. Ferdi juga melihat ketakutan Tania.
Doogh!
Railing lift tampak bergerak tapi berhenti lagi. Pras semakin berdebar. Dalam hatinya terus berdo'a untuk istrinya.
"Pak, tolong hati-hati." ucap Pras, saat mendekati teknisi itu.
Dari kejauhan beberapa karyawan Restu Mandiri melihat Pras yang tampak sangat gelisah. Evan dan Ferdi juga sangat cemas.
__ADS_1
Grrreeettt.... Ssshiiing...Ssshiiing...
Akhirnya railing bergerak dan mulai normal. Pras merasa lega. Awalnya Pras meminta teknisi untuk langsung membuka paksa saja pintu liftnya, tapi teknisi satunya mengatakan tidak bisa, karena posisinya ditengah.
Otomatis pintu terbuka, Britney yang dari tadi berusaha tenang dan juga dua karyawan itu, akhirnya mereka melihat banyak orang disitu.
Perlahan Britney keluar, setelah dua orang keluar dengan cepat karena takut.
Tangan Pras langsung menariknya dan setiba di luar, Pras memeluknya dengan rasa bersyukur.
Ssshhhhhttt *pelukan ala oppa korea
Britney hanya diam dan mematung. Evan dan Ferdi mendekati mereka. Beberapa orang juga melihat mereka berdua, bahkan teman-teman yang satu ruangan dengan Pras tampak terkejut dengan tindakan Pras. Apalagi ini masih suasana jam kerja.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Pras.
"Mmm... Aku kaget." jawabnya.
"Kamu kaget??" tanya Pras, lalu menyentuh wajah Britney.
"Iya, sangat kaget." jawab Britney.
Pras menatap dalam istrinya.
"Mas, aku kaget karena kamu tiba-tiba memelukku. Ini kita di kantor." Britney masih dalam tapapan mata Pras, lalu bertanya "Mas, kamu sadar?"
"Aku sadar sayang. Aku cemas." jawab Pras.
"Emms... Aku mengerti" ucap Britney, lalu berjalan dan karyawan juga mulai berhamburan.
Evan dan Ferdi mendekati Britney dan memeluknya.
Evan menatapnya dan berkata "Iya, semua tadi lagi di gedung marta graha. Ada satu teknisi di kantor juga sudah berusaha, tapi enggak bisa. Suami kamu sangat cemas."
Pras masih berbicara dengan Ferdi.
"Tania, ayo kita ke ruangan." ajak Britney sambil berjalan.
Pras mengikuti Britney dari belakang menuruni tangga. Karena kedua lift masih di perbaiki oleh teknisi.
"Sayang...." panggil Pras.
Tania mendengar hal itu dan mulai menjauh dari mereka.
"Mas.... Kita di kantor, bukan di rumah." ketus Britney.
Di tangga menurun, Pras memeluknya "Aku tahu, kita di kantor. Tapi aku mengkhawatirkan istriku."
"Mmm... Kamu khawatir??" tanya Britney dan mulai merasakan pelukan hangat.
"Aku cemas" jawab Pras.
Pras menggandeng Britney mengantar keruangannya. Britney hanya terdiam atas perlakuan suaminya. Ada beberapa karyawan yang melihat mereka berdua, yang saling menggenggam tangan.
Pak Miko tersenyum saat kembali ke ruangan dan ruangan itu tampak tenang. Setelah mengantar istrinya ke ruangannya. Pras kembali ke ruang divisi akunting.
Jeegh!
__ADS_1
Pras tidak berkata apapun dan langsung duduk. Ini baru jam 2 siang dan harus kembali bekerja. Pak Miko mendekatinya dan berkata, kalau dirinya paham kenapa Pras tidak berusaha mengenalkan istrinya dan selalu mencari alasan ketika Pak Miko bertanya tentang sosok istri Prasetya.
Wkwkwkwk
Akhirnya.... Tragedi terjabak dalam lift, membuat karyawan jadi tahu status Britney. Mereka jadi tahu kalau Prasetya, karyawan divisi akunting adalah suami wakil direktur perusahaan RM.
"Pras, loe keren." ucap Maristha.
"Pras, jangan lupa sama teman." sahut Pak Surya menatap Pras.
"Akhirnya rasa penasaran gue terjawab. Gue jadi bisa tidur nyenyak." ucap Fika tersenyum.
"Pras, selamat ya. Maaf waktu itu gue enggak tahu. Gue jadi enggak enak sama bu Britney." ucap Annisa, setelah dirinya pernah berboncengan satu motor dengan suami wakil direkturnya.
"Kalian semua sudah tahu. Jadi tidak perlu dibahas lagi. Sekarang kerja, istriku juga tidak masalah dengan semua ini. Nanti aku kenalin secara khusus sama kalian semua." ucap Pras.
"Aku dadi eling. Bu Britney neng ruangan iki, lungguh neng kursimu, bahas pajak kantor karo aku. Aku wae dadi degdegan." ucap Pak Miko.
(Aku jadi ingat. Bu Britney di ruangan ini. Duduk di kursimu, bahas pajak kantor sama aku. Aku saja jadi berdebar.)
"Iyo, bojoku crito soal kui. Bojoku yo pengen kenal konco-koncoku." ucap Pras.
(Iya, istriku cerita soal itu. Istriku juga ingin kenal teman-temanku.)
Dalam ruangan, Britney berbicara dengan Tania dan Bu Nia. Britney juga mengatakan Pras akan tetap biasa saja selama di kantor. Jadi Bu Nia harus profesional ketika memberikan pekerjaan. Tidak perlu merasa tidak enak, walaupun Pras suami wakil direkturnya, Pras tetap bawahan Bu Nia.
Bu Nia dan Tania paham, apa yang diperintahkan atasannya. Mereka kembali bekerja dan Britney juga kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Jam 4 sore, karena semua sudah tahu, Britney masuk ke ruangan suaminya.
"Selamat sore." sapa Britney dan semua menatapnya.
"Selamat sore, Bu Britney." jawab semua karyawan.
Britney berjalan mendekati suaminya "Mas, aku tahu kamu lembur. Aku mau pulang dulu, ada janji sama Ghea." ucapnya.
Pras menatapnya, berkata "Iya... Kamu hati-hati, salam untuk kak Ghea."
Pras lalu menarik tangannya, karena semua teman kerjanya juga masih di ruangan itu. Akhirnya Pras mengenalkan kepada semua temannya, Pak Miko dan lainnya tampak tersenyum bahagia, begitu juga dengan Britney. Lalu Britney mengundang semua teman suaminya, untuk berkunjung ke rumah.
Setelah cukup berkenalan Britney pergi dan Pras mengantarnya sampai tempat parkir.
Hemmsss!
"Mas juga hati-hati, jangan suka ngebut." pinta Britney.
"Hemss.. Aku akan berhati-hati." jawab Pras.
Britney masuk ke dalam mobil dan tidak lama mobil itu telah pergi dari hadapan Pras.
"Sayang, aku semakin mencintaimu." gumamnya, lalu kembali ke ruangannya.
Sungguh kesempurnaan dimataku disaat melihat kamu. Aku tak akan berhenti untuk mengungkap perasaan ini. Semakin hari, hatiku penuh dengan rasa cinta untukmu. Aku percaya bahwa kamu satu-satunya wanita yang ditakdirkan untukku.
Prasetya
__ADS_1
Para pembaca hebat, terima kasih atas dukungan kalian semua. Semoga kalian semua tidak bosan dengan cerita Mas Pras dan Britney. 😍