PANGGIL AKU MAS!

PANGGIL AKU MAS!
Bertanggung Jawab Dan Setia


__ADS_3

Kamar dengan cat dinding warna putih tampak pudar dan masih kosong tanpa ada satu barang apapun di ruangan itu. Jendela kamar dengan tralis motif ukir bunga dengan cat warna putih.


Kacanya tampak kusam karena debu dan sedikit sarang laba-laba yang terlihat menggantung disisi besi tralis itu. Bahkan kain gorden yang berukuran 65×150 dengan gambar kartun doraemon tampak kucel dan berjamur.


"Apa tidak bisa nego lagi?" Tanya Pras kepada seorang ibu yang berusia sekitar 45 tahun.


"Saya bisa kurangi 500 ribu dari harga di iklan." Jawab ibu pemilik rumah.


Seorang Ibu muda berkacamata yang terlihat mengenakan setelan yang cukup modis, karena beliau juga baru pulang dari bekerja.


"Saya menyukai rumah ini. Kalau saya bayar sekarang, apa saya bisa langsung menempati rumah ini?" Tanya Pras.


"Iya, kamu bisa langsung menempatinya. Pasti kamu sudah membaca di iklan tentang deskripsi dan detail rumah ini. Saya hanya menyewakan untuk tahunan." kata ibu itu dengan jelas.


"Iya, saya sudah membacanya. Saya akan segera membayarnya." ucap Pras.


Rumah type 36 dengan luas tanah sekitar 72 meter persegi, ada dua kamar, satu kamar mandi, dan dapur. Carport cukup untuk satu mobil dan motor, juga sedikit halaman belakang untuk menjemur pakaian. Halaman depan terdapat pohon pucuk merah dan batu alam putih hitam yang tertata rapi.


Sudah lima bulan rumah ini kosong dan ini tahun kedua rumah ini di kontrakan. Bangunannya cukup bagus dan masih kokoh, sudah ada pagar dan canopy carport tampak minimalis.


Dari luar terlihat tembok pagar dengan cat warna abu tua dan bagian tembok depan rumah juga perpaduan warna abu muda dan putih. Pintu pagar besi dengan model minimalis modern yang dicat warna hitam.


Setelah makan siang tadi bersama istrinya, Evan dan Ghea, Pras kembali ke kantor, dan mereka bertiga pergi ke rumah kakek Restu. Pras kembali bekerja dan sekitar jam empat sore, Pras pulang, lalu membuat janji dengan pemilik rumah itu.


Pras yang awalnya masih memilih di aplikasi dan ada beberapa pilihan yang dia lihat, tapi setelah melihat langsung, Pras tidak berfikir mencari yang lain. Dari segi harga juga lumayan murah dibanding yang lain dan akses jalan yang tidak begitu jauh dari jalan raya utama.


"Kamu bisa mengecat ulang atau memasang wallpaper. Kontrak untuk satu tahun sudah deal. Semoga nyaman dan betah dirumah ini." ucap Ibu pemilik rumah dengan tersenyum.


"Iya Bu Ella, terima kasih." Ucap Pras dengan tersenyum.


Bu Ella rumahnya juga tidak jauh dari rumah yang di kontrak Pras. Masih di kawasan daerah itu, tapi berbeda perumahan.


Perumahan Puri Anggrek di jalan Arjuna daerah Depok. Pras sudah mendapatkan kunci rumah, untuk listrik, air dan semuanya baik.


Keamanan juga ada satpam di pintu gerbang utama perumahan. Perumahan ini terdiri dari sekitar lima puluh rumah yang dibagi menjadi empat block.


Yang terpenting, kawasan ini bebas banjir. Pras hanya memikirkan itu. Pras sempat bertanya kepada warga sekitar, sebelum sampai di perumahan itu.


Setelah malam tiba di kost dan istrinya sudah tiba lebih dulu.


"Assalamu'alaikum" sapa Pras.


"Wa'alaikumsalam Mas" jawab Britney dengan mencium tangan suaminya.


Pras langsung memeluknya "Sayang, kita akan segera pindah." ucap Pras dengan bahagia.


"Emmss.. Mas Pras." ucap Britney masih memeluk suaminya.


Pras melepas pelukannya dan Britney meminta tas ranselnya Pras, lalu Pras melepas sepatu dan jaketnya. Sudah hampir jam delapan, Pras tadi berbincang dulu dengan ketua RT.


Ada Mushola dan taman yang tidak jauh dari rumah yang di sewa Pras, bahkan Pras sudah mengenal beberapa warga perumahan itu, saat sholat berjamaah di mushola.

__ADS_1


"Sayang, rumahnya lumayan bagus. Kamu bisa lihat diponsel aku. Nanti tinggal dicat ulang dan membeli isiannya." ucap Pras, lalu dia pergi ke kamar mandi.


Britney menerima ponsel suaminya, langsung melihat foto rumah itu. Britney tersenyum, dan mulai memikirkan apa saja yang harus dia beli nanti.


Ciie... berduaan *Author gabut


"Mas, kalau begitu besok aku segera membeli perabotnya." ucap Britney dan Pras menatapnya dengan tersenyum.


"Besok baru dicat dulu. Aku sudah dapat tukang. Paling tidak tiga hari rumahnya baru rapi." ucap Pras.


"Kamu sudah melakukan semuanya sendiri." ketus Britney dengan kecewa.


"Sayang, aku tidak mau kamu terlalu capek." Ucapnya, tapi melihat bibir istrinya yang cemberut, Pras berkata "Iya... Tugas kamu beli perabotan. Kamu pasti lebih tahu, apa saja yang harus dibeli."


Britney tersenyum malu, lalu dia berkata. "Mas, mulai sekarang jangan begitu lagi, duit aku duit kamu sama ajah. Sekarang yang ada hanya kita."


"Iya, aku mengalah. Karena duit aku juga sudah habis." Pras tertawa tengil dan mengusap rambut Britney dengan gemas.


Britney tersipu malu, saat Pras menarik dirinya untuk bersandar didada suaminya.


"Tapi untuk kebutuhan dasar kamu, tetap aku yang bertanggung jawab." jelas Pras.


"Emmss... Ok!! Aku akan meminta setiap nanti berbelanja. Sepertinya, aku harus jadi ibu rumah tangga agar bisa hemat." ucap gemas Britney.


"Tidak begitu juga sayang, kamu masak kalau libur saja. Aku tidak mau kamu capek. Apalagi kita sama-sama jarang di rumah." ucap Pras dengan gemas, lalu menarik hidung istrinya.


"Ohh.... Iya mas, tadi Bu'e telfon. Dokumen yang kemarin, sudah kamu simpan?" tanya Briney.


"Iya, tadi telfon mas, tapi enggak diangkat. Bu'e telfon aku." jawab Britney.


"Pamela juga chat, sudah aku balas."


Bapaknya kemarin memberikan surat pengantar untuk Pras pindah tempat dan membuat kartu keluarga di Jakarta. Pras juga memikirkan itu, akan berunding dulu dengan abah Ferdi.


"Mas, sudah makan belum?"


"Belum."


"Aku juga belum makan malam."


"Ayo kita keluar."


"Kemana?"


"Ke warung bang Junet."


Pras dan Britney sudah siap jalan dan mereka di parkiran motor.


"Mas, kenapa pakai motor itu?"


"Memang kenapa? Kamu nggak mau?"

__ADS_1


"Bukan, tapi aku takut."


Walaupun sudah di perbaiki, Britney masih trauma dengan motor lama itu, teringat dirinya waktu menabrak Pras.


Pras tidak jadi menaiki motor lamanya, akhirnya si matic macho yang mereka kendarai.


Mereka berjalan melawati gang dan keluar ke jalan raya.


"Mas, kenapa motor lamanya masih disimpan??Kenapa tidak dijual saja." Britney penasaran, dan memeluk suaminya dengan erat.


"Tidak, itu motor dari jaman aku kuliah. Aku tidak pernah membuang apapun yang aku sayangi." ucap Pras.


"Tapi aku takut melihat mas pakai motor itu."


"Iya, kamu harus tahu satu hal. Kalau bukan karena motor itu yang kamu tabrak, kita tidak mungkin menjadi dekat."


Benar apa yang dikatakan suaminya, walaupun satu kantor tapi Britney tidak pernah dekat dengan karyawannya. Begitu juga karyawannya menjaga jarak dengan atasannya.


Dulu setiap Pras ketemu Britney di dalam lift atau berpapasan di kantin. Mereka tidak pernah kenal. Hanya menyapa itupun kalau Pras berani. Pernah satu lift berdua saja, Pras hanya berdiam dan merasa dirinya kecil. Britney juga hanya memandang, kalau laki-laki tampan itu hanya karyawan kantornya.


Mereka sampai di warung bang Junet, tempat langganan Pras setiap membeli nasi goreng. Pras memilih nasi goreng special dan Britney ingin makan kwetiau goreng.


"Mas, kenapa kamu sayang motor itu?"


"Emss... Motor itu seperti aku. Ketika aku lulus SMA dan keterima di Universitas Negeri. Bapak kasih hadiah motor itu. Jadi motor itu yang setia sama aku, panas, hujan, tapi batman tetap setia." ucap Pras.


Batman itulah Pras ketika menyebut motornya.


"Aku mengerti. Kamu sesuai nama kamu. Prasetya, laki-laki yang setia."


"Kamu tahu arti nama aku?"


Britney dengan malu tersenyum "Cari tahu di google."


"Hahaaha... Iya.. Aku juga akan setia sama istriku."


"Harus!! Kalau kamu berani macam-macam. Awas ajah."


"Memang kamu mau apaain aku?"


Britney tidak menjawab lalu menarik tangannya "Mas, ayo kita pulang."


Pras tersenyum dengan kode istrinya dan saat bayar ke bang Junet, Pras juga tampak di goda oleh bang Junet.


"Mas.. Buruan!!"


"Iya, Sayang."



__ADS_1


__ADS_2