PANGGIL AKU MAS!

PANGGIL AKU MAS!
Di Dalam Ruang Rindu


__ADS_3

Setelah satu jam Vava mendengarkan penjelasan dari Britney. Akhirnya, Vava mulai tenang. Suara hati seorang anak, yang pernah menginginkan sosok Papa, hadir dalam kehidupannya.


Vava dengan hati yang tersisa untuk sang Papa. Tidak di pungkiri, bahwa hatinya juga ingin segera memanggil sang Papa. Sudah lebih dari 17 tahun, seorang gadis yang menunggu sosok Papa. Ada rasa manis dan juga kesedihan. Tapi Vava juga masih mementingkan ego dan emosinya, tidak mudah untuk Angga memulai dan memperbaiki keadaan saat ini.


"Sayang, maafin Kakak." Ucap Britney sembari mengelus rambut adiknya.


Di kamar belakang, Vava berbaring menyamping sambil memeluk guling. Air matanya masih saja mengalir, tapi sudah tidak histeris. Vava yang sempat mengamuk, hanya Britney dan Pras yang bisa menghadapinya.


"Vava. Kamu masih sebal sama Bang Pras?" Tanya Pras yang duduk di sebelah istrinya.


"Iya, Vava sebel sama Bang Pras." Jawab Vava.


Britney mencium pipi Vava dan berkata "Sudah ya, jangan marah-marah lagi. Papa kamu sudah ada di sini. Waktu itu kamu bilang sama Kakak, coba aja Vava punya Papa seperti Kak Maeva. Pasti Vava akan ajak nonton bareng ke bioskop. Terus belanja ke Mall. Eh.. Kak Maeva yang punya Abah, malah malu tiap dianterin Abahnya. Kamu bilang begitu, sekarang udah ada Papa, Vava mau ajak Papa kemana?"


"Iya, itu dulu. Sekarang udah nggak lagi." Ketus Vava.


Pras memenggang tangan istrinya, dan menggelengkan kepalanya.


Britney berkata "Vava, kamu punya Papa. Kakak udah nggak punya Papa."


Vava mendengar hal itu semakin larut, air matanya mengalir deras dan menoleh ke wajah Britney "Kak Britney jangan bilang begitu."


Vava lalu bangkit dari tidurnya dan meraih Britney, memeluk sang Kakak dengan erat. "Kakak nggak boleh bilang gitu lagi. Paman Martin ada di hati Kakak. Paman Martin lebih di sayang Tuhan. Kak Britney jangan bilang gitu lagi."


Britney tak kuasa menahan sesak dalam dadanya. Berlinang air mata dalam kesedihan. Membasuh rasa rindu mendalam kepada sang ayah tercinta. Pras juga tak berani menatap sang istri. Dalam keheningan sang malam, hanya nafas insan yang bergema. Larut dalam suasana duka. Perlahan menghapus ego dan kebencian hati gadis belia.


Pras yang duduk sambil mendekap erat lututnya, dia mendongak ke atas, tidak berani melihat sang istri yang menangis. Tapi air mata Pras juga cukup membahasi wajah tampannya.


"Sayang, kamu mau maafin Kakak?" Tanya Britney.


Vava sempat memaki dan mencaci Britney selama di kamar itu. Britney selama ini, hanya diam karena itu masalah Tantenya. Vanesa juga tidak mau keluarga besarnya ikut campur urusan dirinya, bahkan Vanesa pernah mengancam Kakek Restu dan yang lain bila menceritakan hal itu kepada Vava. Awalnya Vanesa tidak mengakui siapa Papa Vava, tapi satu tahun yang lalu Vanesa bercerita kepada Britney dan juga Mamah Sarah, waktu Vava di rumah sakit. Vava pernah di rawat karena sakit, waktu itu Vava menginggau dan ingin mempunyai Papa. Vanesa tidak ingin menikah, bagaimana bisa Vava mempunyai Papa baru.


Vava sakit saat menginjak masa remaja, dimana semua temannya merasakan kasih sayang sang Papa, diantar ke sekolah, di jemput, berjalan berdua dengan sang Papa. Terlihat sangat menyenangkan. Itulah, yang ada dalam pikiran gadis belia itu. Vava masa kecilnya juga begitu, tapi Vanesa selalu bilang. Kalau Papanya sudah pergi jauh dan tidak akan kembali. Vava kecil, juga pernah menganggap kalau Papanya sudah ada di Surga bersama Tuhan. Dari situ, setiap hari minggu bersembahyang dengan Britney dan Kakek Restu, Vava kecil selalu meminta Tuhan yang Esa, agar nantinya mempertemukan Vava dan Papanya di Surga.


Vava kecil yang manis cukup menurut, Vava remaja sudah berubah sikapnya.


"Vava yang salah. Vava yang marah-marah sama Kakak. Vava minta maaf, Kak Britney maafin Vava." Ucapnya dan memeluk erat sang Kakak.


"Kamu berhak marah sama Kakak." Ujar Britney dan menciumi rambut adiknya.


"Mmh. Vava sayang Kakak." Suara manja dan memanyunkan bibirnya.


"Kakak juga sayang sama Vava." Balas Britney dan meraih wajah adiknya, mengusap lembut dengan jari-jarinya. Vava menatapnya dengan senyuman. Britney mencium kening adiknya dengan sayang.


Pras mulai tersenyum, saat melihat kedua wanita yang saling mengungkapkan perasaannya.


Di ruang tamu, Angga dan Aksa hanya diam, beberapa waktu lalu mereka masih mendengar teriakan Vava. Tapi sekarang cukup hening, dan tidak ada suara jeritan dari Vava.


"Tangan Bang Pras sakit??" Tanya Vava.


Pras sedikit geregatan berkata "Sakit, untung aja kamu gigitnya tanganku, bukan Britney."


"Nggak mungkin Kak Britney aku gigit. Ya udah, Vava minta maaf." Ucap Vava.


"Aduh. Sayang, ini lihat hasil gigitan adik kamu, sakit banget." Ucap Pras sambil memperlihatkan tangannya ke Britney.


"Iidiih ngaduan. Kak Britney, suaminya gitu banget yak. Perasaan aku dulu kenal nggak kayak gini." Ujar Vava.


Britney tersenyum dan berkata "Iya, suami Kakak memang begini. Kalau dulu itu, dia jaga imeg dan suka tebar pesona."

__ADS_1


"Udah kalian mau mojokin aku. Sana keluar, temui Om Angga. Vava, kamu sudah dewasa. Kasih kesempatan buat Om Angga. Tidak ada salahnya memberikan kesempatan kedua. Aku yakin, Om Angga sayang banget sama kamu." Ucap Pras.


"Mmmh. Tapi Vava malu." Ucap Vava.


Pras dan Britney menatapnya dengan heran.


"Malu kenapa?? Kamu anaknya, kenapa harus malu?!" Tanya Pras.


"Iya, Vava malu. Pasti yang di luar dengar ocehan Vava." Jawab Vava dan menatap kedua orang yang ada di hadapannya.


"Baguslah, kalau kamu masih punya malu. Aku mau keluar dulu." Ucap Pras dan mulai bergegas keluar dari kamar itu.


Vava masih berusaha menahan dirinya dan Britney mulai tersenyum melihat sang adik yang mulai mengerti situasi ini.


"Kak Britney, apa Om itu benar-benar Papanya Vava?" Tanya Vava yang masih menata perasaan dalam hatinya. Pikiran Vava juga masih tidak percaya dengan hal ini. Semua ini sulit baginya dan Vava masih mencerca semua perkataan Britney, saat menjelaskan tentang Papa kandung Vava.


"Iya, Om Angga itu Papa kamu sayang. Kamu mau berkenalan sama Papa kamu? Om Angga sayang sama kamu." Jawab Britney.


Di ruang tamu.


"Prasetya, yang penting Vava sudah tenang. Om besok kesini lagi." Ucap Angga.


Pras hanya tersenyum, Aksa yang duduk di sebelah Pras, hanya mendengarkan obrolan mereka berdua.


Tidak lama Britney mengajak Vava keluar dari kamar itu. Vava masih menduduk diam, tangan kanan Britney merangkul bahu Vava, dan tangan kirinya digenggam Vava erat-erat.


"Sayang, kamu bilang mau berkenalan sama Papa kamu. Sekarang Papa kamu ada disini, Papa kamu sayang sama kamu Vava." Ucap Britney dengan pelan.


Angga Saputra perlahan bangkit dari sofa dan mendekati Vava. Dengan perasaan yang sangat syahdu, dadanya berdebar kencang, tangannya mulai bergetar dan seolah ini suatu keajaiban. Angga hanya seorang Papa, yang memiliki cinta untuk putrinya. Tidak ada kata terlambat untuk mengungkapan perasaan cintanya, kepada sang putri yang baru diketahuinya beberapa bulan yang lalu. Angga dengan mata berkaca-kacanya, dan rasanya sangat ingin memeluk putri kandungnya.


"Va-Va... I-ni Pa-pa Kamu Saya-ng." Ucapnya dengan terbata-bata, air mata membahasi wajah tampannya, suara terdengar sengau dan sangat mengharu biru.


"Sayang, berikan kesempatan untuk Papa kamu." Ucap Britney dengan pelan.


"Pa-pa." Suara terdengar pelan dan sangat sendu keluar dari bibir tipis nan imut.


Angga mendekat dan Britney melepas tangannya.


"Pa-paa" Ucapnya dengan lebih jelas tapi masih menunduk, air mata yang mengalir dengan lembut, dan wajah cantiknya sangat muram, tapi cukup bersyukur atas kehadiran Papa kandungnya.


"Iya Vava, aku Papa kamu sayang." Ucap Angga dan memeluk erat putri kandungnya. Angga dengan rasa cinta dan kasih sayang untuk anaknya.


Deraiaan air mata berharga mengungkapkan perasaannya. Hanya seorang Papa yang ingin memberikan cinta dan kasih sayang, begitu juga dengan Vava yang ingin dicintai dan disayangi Papa kandungnya. Penantian yang panjang untuk seorang gadis kecil, akhirnya terbalaskan oleh malam yang penuh cinta dari sang Papa.


Aksa menjadi saksi sebuah pertemuan dengan penuh suasana syahdu. Pras dan Britney juga tidak kuat menahan haru, melihat Papa dan anak saling mengungkapkan perasaan.


"Maafkan Papa yang datang terlambat." Ucap Angga dan melepaskan pelukannya, jari-jarinya mengusap lembut air mata putrinya.


Vava hanya mengangguk dengan bibirnya yang cemberut.


"Kamu mau memaafkan Papa?" Tanya Angga.


Vava dengan tatapan syahdu dan berkata "Vava maafin Papa, tapi Papa harus janji sama Vava. Kalau Papa tidak akan ninggalin Vava lagi."


"Iya, Papa janji. Papa tidak akan jauh dari kamu. Papa tidak pernah berniat pergi dari Mama kamu. Papa juga mencari keberadaan Mama kamu, tapi Papa cukup terlambat. Kamu sudah menjadi gadis yang cantik. Papa sayang kamu." Ucap Angga dengan tersenyum bahagia.


"Vava dari dulu juga pengen kayak Jihan dan Hanny yang bisa jalan-jalan sama Papanya. Vava nggak pernah, Mama juga sibuk sendiri. Kadang Vava iri sama Jihan yang sering berlibur sama Papa Mamanya. Vava nggak bisa, paling cuma Kak Britney sama Bang Evan yang nemenin Vava jalan-jalan." Ucap Vava yang masih sesenggukan.


Angga Saputra mengerti dan berkata "Mulai besok kamu bisa jalan-jalan sama Papa. Kemana saja kamu mau, Papa akan menemani kamu sayang. Papa akan menjaga putri Papa ini."

__ADS_1


Tangan sang Papa mengusap lembut rambut Vava dengan sayang. Vava mulai bersandar di dada sang Papa dengan tersenyum.


"Papa, Vava mau tanya." Ucap Vava.


Mereka berdua duduk di sofa, Aksa di luar bersama Pras. Britney di kamar menghungi Evan dan menceritakan soal keadaan saat ini. Britney tadinya ingin menelfon Tante Vanesa tapi bukan waktu yang tepat. Akhirnya, memilih bercerita dengan Evan. Apalagi sudah larut malam, hanya Evan yang masih bisa di telfon, walaupun sudah tidur, setiap itu dari Britney, Evan menjawab telfonnya.


"Apa yang mau kamu tanyakan sama Papa?" Tanya Angga.


Vava menatap wajah sang Papa dan bertanya "Apa Papa sudah menikah?"


"Papa belum menikah." Jawab Angga dengan senyuman manis.


Vava tampak senang mendengar jawaban Angga, dan berkata "Kalau begitu, Papa bisa menikah sama Mama."


Angga tampak menghela nafas dengan pelan, lalu berkata "Sepertinya Mama kamu sudah tidak menyukai Papa."


"Apa Papa sudah bertemu Mama?" Tanya Vava yang penasaran.


"Papa sudah bertemu Mama kamu, tapi kita berdua malah berdebat. Mama kamu tidak berterus terang soal kamu. Papa mencari tahu sendiri soal anak Papa ini." Jawab Angga.


"Jadi selama ini Mama udah bohongin Vava." Ucap Vava dengan rasa kecewa.


"Mama kamu tidak berniat membohongi kamu. Tapi Mama kamu tidak ingin Papa tahu soal kamu sayang. Kalau kamu tahu siapa Papa kandung kamu, pasti kamu akan mencari Papa." Ujar Angga.


Vava cukup mengerti dan berkata "Papa, Vava dulu cuma tahu, kalau Papa sudah di Surga Tuhan, sama seperti Paman Martin. Ujar Vava.


"Mama kamu yang bilang begitu?" Tanya Angga.


"Mama bilangnya Papa udah pergi jauh. Terus Papanya Kak Britney juga pergi jauh. Vava pikir, Papa seperti Papanya Kak Britney yang jauh, dan dekat dengan Tuhan. Setiap Vava sembahyang Vava berdo'a, agar Papa disayang Tuhan. Vava pernah sakit, dan berdo'a ingin sekali bertemu Papa. Sekarang, Tuhan sudah menjawab do'a Vava." Ucapan dengan rasa tulus dari kepolosan seorang gadis belia.


"Selama sebulan ini, setiap Papa sholat, Papa juga berdo'a, agar putri Papa mau menerima Papa." Ucap Angga dengan manis.


Vava menatap ke arah Angga dengan heran dan bertanya "Papa muslim?"


"Iya, Papa muslim." Jawab Angga dan mulai bertanya kepada Vava dengan tersenyum "Memang kenapa kalau Papa muslim?"


"Nggak, Vava kaget aja. Ternyata Mama pernah dekat dengan pria muslim. Soalnya setahu Vava, Mama selalu teguh sama keyakinannya. Walaupun kita jarang sering bersembahyang bareng, tapi Vava tahu banget Mama seperti apa, ya memang jiwa toleransi Mama itu ada, apalagi keluarga Abah Ferdi muslim, terus sekarang Kak Britney muslim, tapi Vava heran aja sama Mama." Jawab Vava.


"Papa dulu nggak terlalu dekat sama Mama kamu." Jawab Angga dengan benar adanya.


"Terus, kenapa kalian bisa punya aku kalau tidak pacaran?" Tanya Vava.


"Papa juga tidak mengerti, itu sudah sangat lama. Tapi setelah itu, Papa jadi teringat terus sama Mama kamu sayang. Tapi Mama kamu pergi, Papa sudah mencari kemana-mana, mecari ke kampusnya, tapi sudah nggak ada di kampus itu. Pihak kampus juga nggak mau kasih tahu alamat Mama kamu. Setelah itu Papa berjanji, Papa harus menyelesaikan kuliah Papa dan tidak mencari Mama kamu lagi. Tapi, setelah melihat Mama kamu di IG, Papa gencar mencari Mama kamu. Sampai Papa pindah kesini. Setelah bertemu, tapi Vanesa tidak bercerita apapun tentang kamu. Papa melihat video kamu yang mengucapkan selamat atas karir Mama kamu. Dari situ, Papa tahu kalau Mama kamu punya anak. Papa, tidak tinggal diam, apalagi mengingat usia kamu. Papa yakin, Vanesa telah menutupinya dari Papa." Ucap Angga dengan jelas. Vava cukup mendengarkan cerita dari sang Papa.


Vava cukup diam dan tidak berkata apapun lagi, hanya memeluk erat sang Papa. Tapi di dalam kamar Britney menangis, entah apa yang dirinya obrolkan di telfon dengan Kakak sepupunya itu.



Hallo pembaca setia Mas Pras.


Masih dengan cerita Vava. 😌


Terima kasih atas dukungan kalian semua 😘


Semoga kalian suka cerita di bab ini. 🤗


salam bawel


Vava 👧👑

__ADS_1


__ADS_2