PANGGIL AKU MAS!

PANGGIL AKU MAS!
Rasa Cinta Itu Selalu Ada


__ADS_3

...πŸ‚Senja datang dengan warna jingga,...


...Dilema perasaannya berganti bahagiaπŸ‚...


"Bang Evan yakin?" Tanya Vava, yang berjalan santai menikmati senja di sore itu.


Saat di rumah ungu sudah larut malam, dan sedang uwu, beradu serta bercumbu mesra.


Yang ada di Jerman, masih belum ada kepastian. Vava masih berfikir, Evan masih menunggu, dan Vava belum memberi jawaban pasti.


"Bang Evan yakin. Kamu lihat Britney sama Pras, mereka tidak pacaran. Tapi mereka berdua sangat harmonis." Ucap Evan, saat Vava memikirkan perkataan Abangnya soal Nicholas. Karena Bang Evan lebih setuju dengan Nicholas, dibandingkan dengan Jonathan, yang jelas-jelas sudah menyakiti hati Adiknya.


"Tapi Vava nggak cinta sama Nicholas. Bang Evan tahu gimana Vava kalau sama Nicholas. Yang ada malah nanti ribut terus." Ketus Vava, dan tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya nanti setelah menikah.


Mereka berjalan dan melewati sebuah taman, Evan dengan tersenyum, mengamati ekspresi Adiknya itu. Yang dari tadi sudah berfikir, Vava masih memikirkan, bila nantinya menikah dengan Nicholas, kalau dengan terpaksa, apa bisa ada cinta dan harmonis.



"Vava, Bang Evan cuma memberikan contoh kecil. Yang pacaran lama dan menikah, belum tentu pernikahan mereka berakhir bahagia. Kalau kamu maunya berpacaran dulu, Nicholas nggak mau. Malah bagus, kalian ada ikatan yang menyatukan. Apalagi, kalau nanti sudah punya anak, pasti semakin cinta. Kamu pasti tahu, dulu Abang sama Ghea gimana, tidak ada cinta. Perlahan cinta itu ada, bahkan dulu Abang menolak rasa cinta itu. Tapi sekarang, Abang cinta banget sama Ghea." Ucap Evan.


"Iya, Vava tahu Bang Evan. Tapi tetap aja, Bang Evan pacaran dulu sama Kak Ghea, walaupun kalian LDR. Kalau Vava langsung menikah, apa jadinya nanti sama pernikahan Vava. Apalagi ini Nicholas, Vava harus mikir dulu. Pernikahan bukan sebulan dua bulan, Vava nggak bisa jawab sekarang." Ucap Vava dengan perasaan aneh.


Evan mengerti, banyak hal yang dipikiran adiknya, kedua tangan Evan memegang bahu Vava, dan berkata "Ya udah, kalau gitu nanti Bang Evan akan bilang sama Papa Mama kamu. Kalau kamu, tidak bisa menerima kedua cowok itu."


Vava mulai tersenyum, dan berkata "Vava masih muda Bang Evan, soal pernikahan Vava, nanti dulu aja. Kalau sekarang, Vava nggak mau."


Kedua orang itu mulai berjalan lagi, Evan tampak bahagia melihat Vava yang tidak berubah. Waktu bersama dirinya, Vava selalu manja, dan masih kekanakan. Sama seperti Britney, walaupun sudah punya suami dan anak, Britney masih bermanja bila bersama Evan.


"Bang Evan, jadi berangkat besok?" Tanya Vava.


Evan yang berjalan dan menoleh ke arah Vava, berkata "Iya, besok malam sama Nicholas."


"Vava masih ngurus dokumen dulu. Nanti Vava akan pulang sama Mama. Kalau Papa katanya bulan depan, setelah Armeez lulus sekolahnya. Dan akan tinggal di Jakarta." Ucap Vava.


"Iya, Papa kamu sudah cerita. Tante Zahra juga sudah mulai mencari sekolah baru buat Armeez, terus Hafiz juga mau TK. Kata Tante Zahra udah daftar di sekolahnya Giel. Papa kamu juga bilang, akan menetap di rumah yang ada di Jakarta Selatan." Ucap Evan.


Armeez anak dari Bunda Zahra dengan suaminya yang sudah tiada. Tapi kalau Hafiz adalah adik Vava, sedarah sama Papa Angga. Bunda Zahra juga sangat menyayangi Vava, bahkan selama mereka tinggal bersama, dan ada perbedaan keyakinan. Papa dan Bundanya tidak pernah membedakan Vava, dengan kedua putranya. Bahkan Vava, selalu menjadi seorang putri yang sangat di sayangi. Sampai sekarang, di usia 24 tahun, Vava tidak pernah mendapatkan perlakuan yang menyakitinya. Vava masih saja, dengan dirinya yang keras kepala, tapi Papanya tidak masalah, dan Bunda Zahra juga tahu sifat Vava.


"Kamu sudah dewasa. Jadi Bang Evan akan bilang sama Nicholas. Mama Papa kamu, akan bilang sama kedua orang tua Jonathan. Tante Mezti sangat berharap, kamu bisa menikah dengan putra kesayangannya. Tapi, apa boleh buat. Jo Jo malah menyakiti perasaan kamu." Ucap Evan.


Vava dengan gemas berkata "Bang Evan, soal Tante Mezti, Vava pasti menemuinya nanti setelah pulang ke Jakarta. Vava memang nggak bisa lagi sama Jo Jo. Entahlah, Jo Jo selalu begitu, Vava sudah jenuh."


Evan mengayak rambut Vava, dan Vava dengan gemas menarik tangan Evan, memegangnya erat-erat dan berkata "Bang Evan, kalau besok pulang, jangan lupa bilang sama Kakek, Vava akan segera pulang."


"Iya, kita waktu berangkat juga nggak bilang sama Kakek kalau kamu sakit. Mama kamu cuma bilang kalau mau jenguk kamu seperti biasanya." Ucap Evan.


"Ya udah, ayo kita pulang. Sudah mau gelap, Bang Evan juga mau sholat kan?!" Ujar Vava.


Evan merasa terkadang adiknya sudah sangat dewasa. Dulu waktu kecil, Vava suka menggangu Evan yang sedang sholat. Evan terkadang juga gemas. Vava dulu waktu kecil sangat gemuk, tapi semenjak SMP, Vava semakin susah makan, dan perlahan semakin kurus.


Mereka berdua, telah kembali ke apartemen, ternyata sudah ada pria tampan, yang duduk di sofa ruang tamu.


"Kamu?!" Sentak Vava, dengan rasa tidak karuan.


_________________


Di rumah putih ungu berpagar putih, rumah blok A no. 12 yang dekat rumah Pak RT. Sebuah mobil HR-V dengan plat B warna putih, sudah terparkir di pinggir, samping pagar rumah itu.


Ting tong... Ting tong...


Suara bel berbunyi, dan sudah cukup lama.


Dua orang yang baru selesai dalam kenikmatan romance vaganza dan untuk kesekian kalinya.


Mereka mendengar suara bel pagar yang terus saja berbunyi, yang memanggil mereka, agar segera membukakan pintu pagar rumahnya. Ternyata ada seseorang yang datang. Sudah tampak berdiri, di sisi pintu pagar putih itu. Pria tampan dan rupawan.


"Pras suwe timen. Neng omah opo ora? HPne mati kabeh, Britney opo isih neng luar negeri?"


(Pras lama sekali. Di rumah apa tidak? HPnya mati semua, Britney apa masih di luar negeri?"


Gerutunya sambil melihat ke layar ponsel, dan juga memandangi halaman rumah Pras dari balik pagar. Pintu rumah tampak tertutup, mobil Pras tampak terparkir di carport luar, dan lampu teras menyala terang. Terlihat jelas ruangan dalam rumah itu, lampunya juga menyala terang.

__ADS_1


"Hems. Sopo sing rene? Iki wis bengi."


(Hems. Siapa yang kesini? Ini sudah malam.)


Untung saja kedua orang yang bercinta itu sudah selesai. Kalau tidak, Pras pasti merasa geram. Karena sudah hareudang, sudah diujung tanduk, dan gelora hasratnya, bisa saja hilang bersama kekesalannya.


"Mas, kamu bukain pintunya." Ucap Britney, dan mengusap rambut suaminya dengan handuk.


"Santai sayang." Balasnya dan dengan cepat dia berpakaian. Bilangnya santai, tapi buktinya tidak begitu.


Pras yang kalang kabut setelah mandi, akhirnya saat memakai kaos, jadi sempat terbalik kaosnya. Sungguh hiburan malam, saat melihat kekocakan suaminya yang begitu tengil. Papa muda itu tengil terlewat maksimal, lalu bergegas membuka pintu pagarnya.


"Mas Pras, kamu sangat tengil, aku gemas lihat senyuman tengilmu itu." Ujar Britney, dan masuk ke kamar mandi.


Grreekkh!!


Dengan cepat setelah membuka pintu rumah dan berlari ke luar, ternyata dia adalah Rendy, sahabat yang selalu datang tanpa berkabar.



"Tak kiro tamu penting, jebule kowe." Ujar Pras dengan gaya tengilnya.


(Aku kirain tamu pentung, ternyata kamu.)


"Suwe eram." Rendy tampak berdecak.


(Lama sekali.)


"Aku lagi adus." Balas Pras dengan santai.


(Aku baru mandi.)


"Bengi-bengi lagi adus?" Rendy memandangi Pras yang rambutnya masih basah, lalu tersenyum dan bertanya "Mbok wedok, wis bali soko Jerman?"


(Malam-malam baru mandi?)


(Istri kamu, sudah pulang dari Jerman?)


(Sudah, kemarin pagi datangnya.)


"Oleh-olehe ora teko gonanku?".


(Oleh-olehnya tidak sampai tempatku?)


"Urung sempet, kowe rene meh ngopo?"


(Belum sempat, kamu kesini mau apa?)


"Arep njileh mobilmu. Kowe buka lawang suwene eram. Ndang cepet, njikuk kunci. Aku arep jemput Bapak Ibukku, Bulek Paklek, karo Adiku neng stasiun. Pandu tak kon jemput, malah telfon, ora iso jemput, kembar lagi rewel." Ucap Rendy.


(Mau pinjam mobilmu. Kamu buka pintu lama sekali. Buruan cepat, ambil kunci. Aku mau jemput Bapak Ibukku, Tante Om sama Adikku di stasiun. Pandu aku suruh jemput, malah telfon, tidak bisa jemput, kembar baru rewel.)


Pras mendengar hal itu, tanpa berkata dengan cepat bergegas mengambil kunci mobilnya. Rendy hanya duduk di teras, dan mengirim chat untuk adiknya.


"Mau ora telfon disik?" Tanya Pras, dan memberikan kontak mobilnya dan suratnya.


(Tadi tidak telfon dulu?)


"Aku mau wis telfon. Hpmu mati." Jawabnya dan berdiri dari kursi. Lalu berkata "Mobilmu, tak gowo sik. Kowe gowo gonanku, mengko lebokke dewe yo. Aku ndang mangkat."


(Aku tadi udah telfon. ponselmu mati.)


(Mobilmu, aku bawa dulu. Kamu bawa punyaku, nanti masukin sendiri ya. Aku buruan berangkat.)


"Iyo, ati-ati." Balas Pras.


(Iya, hati-hati.)


Rendy membawa si gagah hitam, dan perlahan mobil pajero milik Pras sudah pergi dari pandangannya. Pras mulai mamasukan mobilnya Rendy, di dalam garasi ada mobilnya Britney masih yang dulu dan dua motor, satu motor lama Pras, dan satunya motornya Britney. Semenjak dua tahun lalu, Britney bisa mengendarai motor matic, hanya untuk ke warung dan berjalan ke luar komplek. Ketika bermotor, Britney juga tidak berani pergi jauh, dan Pras juga melarangnya.


"Mas, siapa yang datang?" Tanya Britney, yang sudah selesai mandi, dan mendatangi Pras di ruang tamu.

__ADS_1


"Rendy, tukeran mobil. Keluarga Semarang datang. Pandu yang harusnya jemput, tapi si kembar rewel. Iya, kemarin Pandu juga bilang, mertuanya mau ke Jakarta, nengokin cucunya." Jawab Pras, dan memandangi istrinya.


"Terus kenapa kamu lihatin aku begitu?" Tanya Britney.


Pras merapikan rambut Britney, yang sering menutupi wajah cantiknya.


"Istriku semakin cantik." Ucap Pras.


"Mas, aku mau tidur sama Alishba." Ucap Britney.


"Ya udah, Alishba bobok di kamar kita aja. Aku juga kangen sama istriku. Semalam, kamu sudah tidur sama Alishba, aku tidur cuma ditemani guling." Ujar Pras.


Pras ke kamar putri kecilnya dan menggendong Alishba, Pras dengan gemas memeluk anaknya dan berjalan ke kamarnya. Alishba masih nyenyak, Britney mulai mematikan AC yang menyala, dan memadamkan semua lampu di kamar pink itu.


Keluarga kecil yang cukup harmonis, tapi pernah juga ribut kecil, tidak selalu akur.


Semasa Alishba baru lahir, dan belum genap satu bulan, ada saja masalah suami istri ini, tapi Pras cukup sabar saat menghadapi istrinya, yang baru mulai menepatkan dirinya. Pastilah, seorang yang tadinya single, menikah, dan langsung punya anak, ada rasa tidak nyaman dalam jiwanya, entah itu masalah statusnya, yang beralih dengan sebutan Mama, bisa tentang fisiknya yang tiba-tiba berubah bentuk, perubahan hormon pasca melahirkan, dan juga sydrom ibu baru.


Britney sempat down ketika menyusui, dan sangat sulit baginya. Ketika bayinya rewel di tengah malam, ketika harus begini dan begitu, Pras juga sempat kerepotan. Untung saja keluarga besar Britney, yang saat itu selalu ada dan memberi semangat untuk kedua orang itu. Keluarga Pras dari Semarang juga sempat datang, tapi tidak lama, hanya satu minggu saja. Mereka juga selalun memberikan semangat dengan cinta dan kasih sayang.


"Mas, aku ngantuk." Ucap Britney.


"Kamu tidur saja. Aku mau kunci pagar dulu. Tadi lupa belum aku kunci lagi." Ujar Pras.


Britney mengusap rambut Alishba "Sayangnya Mama, bobok ya. Mama juga ngantuk."


Pras kembali ke kamar, melihat istrinya sudah tidur, dan memeluk erat putri kecilnya.


"Kesayanganku udah pada bobok." Ucapnya, dan mulai berbaring di sebelah Britney.


Pras ternyata sangat merindukan istrinya, dan tangan kirinya mulai memeluk istrinya.


Tiada hal yang istimewa ketika tidak bersamanya. Sesungguhnya selalu ada yang kurang, bila tiada sosok istri dalam kesehariannya. Bukan hanya saat ini saja, Pras selalu ingin bersama istrinya. Tapi setiap harinya, Pras memang selalu ingin bersama istrinya tercinta.


"Sayang, jangan tinggalin aku lagi, aku tak bisa tanpamu." Ucap Pras, dan mulai memejamkan matanya.


Papa muda yang tengil itu memang baru kali itu, berpisah sesaat dengan istrinya tercinta. Biasanya, kemana-mana selalu bersama sang istri dan juga anaknya. Tapi, beberapa hari lalu, harus ditinggal pergi, dan hanya bersama anaknya saja.


Uwuh, kasian Papa Muda tengil itu. 🀭



Hallo semuanya,,


Ini hanya cerita suka-suka othor.


Nanti othor atur jadwal update Mas Pras dan Britney, untuk semua yang setia sama Mas Pras.


Othor sebenarnya sudah susah menulis, apalagi saat ini masih di kampung. Tapi untuk penggemar setia Mas Pras, dan Britney othor selalu utamakan. Karena kalian semua, adalah penyemangat setia othor gesrek ini.


Buat kalian yang mau gabung grub chat silahkan masuk, klik aja GC Vie-Gv di profil othor, atau mau chat privasi boleh, banyak juga dari beberapa pembaca setia yang DM, dan ngobrol-ngobrol di IG.


Mau lihat tengilnya Mas Pras, dan senyuman khas Mas Pras, bisa lihat di IG Othor. Beberapa pembaca setia, sudah melihat sebagian ketengilan Mas Pras, yang begitu menggoda dan nakal. Memang, tatapannya Mas Pras bikin ser-seran, dan senyumannya bikin meleleh.


Othor saja nggak kuat lihatnya πŸ˜….


Mungkin karena sudah lama ngefans sama aktor Thailand itu. Yang sebenarnya, karakter Mas Pras lebih tengil dari sosok aktor itu. Itu belum seberapa, bila Mas Pras ada dikehidupan nyata. Lagi-lagi, Othor menghalu saja.


Eitss, ini cerita Fiksi dengan alur seperti kehidupan nyata. Jadi jangan salah artikan, kalau Mas Pras itu nyata. Karena beberapa pembaca setia, mereka benar-benar menanyakan. Apakah, kisah Mas Pras ini nyata?? 🀭... Entahlah, othor hanya suka-suka saja, dan menghalu.


IG : vie_gv05.


πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


Terima kasih buat kalian yang sampai saat ini, masih memberikan dukungan dalam bentuk Like, Komentar, Vote, dan ada juga yang mendukung dengan pulsa, sungguh terharu, dan rasanya bahagia 🀭.


Padahal othor cuma melantur, memang di kampung susah wifi, tapi dikirimin pulsa, nggak menyangka aja, ada yang benar-benar pengen Mas Pras selalu aktif disini. Othor sangat terharu, jadi baper 🀭🀭🀭.


Terima kasih banyak. πŸ₯°πŸ˜˜


Loppe Loppe seabrek untuk kalian semua.

__ADS_1


Salam dengan senyuman manis. πŸ€—πŸ˜˜


__ADS_2