PANGGIL AKU MAS!

PANGGIL AKU MAS!
Vava, Jonathan & Penggemar


__ADS_3

Vava masih berbaring, dengan perasaan yang tidak menentu. Bang Evan dan sang Mama masih menemaninya, sang Papa datang setelah mengantar Britney ke Bandara.


Papa Angga yang selama ini menjaga Vava dengan kasih sayang. Bahkan Bunda Zahra dan kedua putranya juga diajak ke Jerman. Selama Vava berkuliah di Jerman, Papa Angga yang menemani Vava. Bahkan mereka tinggal bersama.


Bunda Zahra anak pertamanya sudah berusia 11 tahun, dan sangat tampan. Putra yang kedua itu adiknya Vava sedarah dengan sang Papa. Umurnya seusia Giel. Baru sekitar 5 tahun, sangat tampaan dan sangat menggemaskan.


"Papa, apa pesawat Kak Britney sudah take off?" Tanya Vava.


Papa Angga mendekati sang putri dan berkata "Sudah sayang, pesawatnya sudah terbang satu jam yang lalu. Terus Papa pulang dulu ke rumah, tadi adik kamu ikut ke Bandara."


Vava dengan tersenyum berkata "Pasti, Alishba sangat merindukan Mamanya. Apalagi Bang Pras, pasti dia sudah tidak kuat menahan rindu."


Evan mendekati Vava dan berkata "Vava kamu benar, bukan hanya Alishba yang bikin gelisah Britney. Pasti Pras yang bikin kakak kamu itu buru-buru pulang."


"Lagian Vava udah baikan, kalian aja yang baper. Vava udah sehat. Lihat dong, Vava udah bisa makan sendiri." Ucapnya dengan semangat.


"Bang Evan tetap mau disini dulu, sampai kamu pulang ke rumah." Ucap Evan dengan santai.


Vanesa mendekat dan berkata "Evan harus sama Tante, nggak mau Tante sendirian. Kemarin kan Britney bilang sama Tante, katanya Evan harus tinggal lama, sebetahnya Tante gitu."


"Ya nggak sebetahnya Tante juga. Evan juga kangen Giel." Balas Evan.


Vanesa dan Vava tersenyum melihat wajah Evan yang berubah rindu, tertawa menahan gelisahnya. Angga merangkul pundak Evan dan berkata "Evan, setelah dari sini ajak Ghea untuk bulan madu ke dua. Giel sudah 5 tahun, dia waktunya punya adik."


Evan tersenyum dan berkata "Hemms, Pras dan Britney aja santai-santai. Padahal Alishba udah 6 tahun itu."


"Emms, Bang Evan nggak tahu aja gimana Bang Pras dan Kak Britney. Aku aja ngakak, tiap Kak Britney cerita." Ucap Vava yang sudah ceria.


"Kalau itu aku juga tahu. Britney juga suka curhat. Tapi emang Alishba gemesin banget. Pras juga manjain anaknya. Aku juga akan begitu kalau anakku perempuan, tapi Giel nggak manja, tidur aja dari umur 3 tahun udah sendiri." Ujar Evan.


"Alishba emang gemesin, pernah aku aja jalan berdua. Alishba bilang gini, Oma Oma, ayo pulang, Alishba mau sama Papa sama Mama. Akhirnya cuma beli es krim, terus pulang." Ujar Vanesa dengan tersenyum.


"Uuhh.... Vava jadi kangen sama Alishba, pasti makin ceriwis aja. Kalau telfon, juga bilang aunty jangan lupa makan. Katanya Mama, aunty nggak boleh diet. Selalu begitu, padahal Kak Britney sama Bang Pras aku tanyain, dia nggak ngajarin Alishba bilang gitu." Ucap Vava dengan gemas.

__ADS_1


Papa Angga mendekati Vava "Mulai sekarang, Papa juga harus memperhatikan pola makan kamu sayang, biar nggak sakit lagi."


"Papa, Vava sakit buat karena diet." Ujarnya Vava.


Evan tersenyum dan berkata "Bukan karena diet, tapi karena cinta dan cinta."


"Mama, Bang Evan itu. Bang Evan ngeselin." Ucap Vava.


Tidak lama, sosok tampan berjalan melewati lorong rumah sakit, dan membawa seikat bunga. Dengan senyuman manis, dan membawa hati juga perasaan untuk sang kekasih tercinta.


"Pagi Om Angga." Sapa Jonathan.


"Pagi Jonathan." Balas Angga.


Evan dan Vanesa membalas dengan senyuman, lalu pergi keluar.


"Vava, ada Jonathan, Papa tinggal dulu. Kamu bisa ngobrol berdua sama Jonathan." Ucap Angga yang mengelus rambut sang putri tersayang.


Vava dengan raut wajah suram berkata "Iya Papa, Vava sudah sehat. Papa tenang aja."


"Vava, kamu sudah sehat. Aku senang, saat tahu kamu sudah pulih." Ucap Jonathan.


Vava dengan tersenyum berkata "Aku sehat, aku bahkan jauh lebih sehat. Kata dokter, besok aku juga sudah boleh pulang."


Jonathan mendekati Vava, mencoba untuk mengelus rambut Vava, tapi Vava menghindar.


"Jo Jo, kita tidak ada hubungan lagi. Apa kamu sudah lupa?" Vava dengan santai dan senyuman manis tapi palsu, tersirat di wajah cantiknya. Tetap saja Vava masih menyimpan cinta, dan luka dalam perasaannya.


"Vava, apa yang aku lakukan bukan karena cinta. Aku tahu aku salah, tapi aku cuma cinta sama kamu." Ucap Jonathan dengan tatapan syahdu. Jonathan memang mencintai Vava, tapi godaan hasrat lelakinya tidak kuat menahannya. Vava hanya gadis biasanya, yang hanya ingin dicintai dengan perasaan, begitu juga dengan Vava yang mencintai Jonathan dengan apa adanya dirinya.


"Jo Jo, aku cukup mengenalmu. Lebih dari dua tahun aku mengenalmu. Aku tahu Jo, tapi kali ini aku nggak bisa. Aku nggak bisa lagi kasih kamu kesempatan. Aku hanya ingin, hubungan yang sehat dan saling mengerti satu sama lain, aku udah berusaha untuk mengerti kamu. Tapi kali ini aku benar-benar nggak bisa." Ucap Vava dengan tenang.


Jonathan dengan tatapan teduh, lalu tersenyum dan berkata "Baiklah, aku mengerti. Aku tidak akan memaksa kamu. Tapi tolong, jangan mengindari aku, setidaknya kita bisa berteman. Vava, aku tahu aku yang bersalah, maafkan aku. Maafkan aku."

__ADS_1


"Iya, aku memaafkanmu. Tapi aku tidak bisa lagi berteman denganmu. Jo Jo, sebentar lagi aku akan pulang ke Jakarta. Misalkan, nantinya kita akan bertemu lagi disana. Anggap saja, aku hanya Vava dan bukan teman atau sahabat kamu. Aku harap kamu mengerti Jo." Ujar Vava.


"Vava, mana mungkin aku bisa begitu. Bila kita bertemu. Tetap saja masih ada perasaan dalam hatiku. Sulit buat aku, Vava." Ucap Jonathan.


"Itu masalah kamu Jo Jo. Bisa saja, aku nantinya akan menganggap kamu sebagai teman, tapi aku juga tidak tahu, kapan akan dimulai pertemanan kita. Yang jelas, aku sudah punya sahabat, jadi aku tidak menerima sahabat baru." Ujar Vava.


Kedua tangan yang masuk ke dalam kantong jaket dan berjalan masuk ke rumah sakit, dengan rasa bahagia dan senyuman khas terlihat jelas di wajah tampannya.


Sang penggemar Vava sudah datang rupanya, dengan wajah yang bersinar terang, penuh cinta dan rasa sayang untuk Vava seorang. Sudah dari umur 17 tahun, dan kali ini adalah kesempatannya, untuk meraih perasaan Vava.


"Vava, Vava..... Aku mencintaimu! Aah... Kenapa aku jadi makin deg-degan gini." Gerutunya sambil berjalan, dengan gayanya yang cool dan begitu manis.


Ceklik!


Kedua orang yang ada di ruangan itu menoleh ke arah pintu yang terdorong. Sosok yang seolah memancarkan sinarnya itu, dengan senyuman manis dan sangat bahagia. Perlahan melihat ke arah Vava dan Jonathan.


"Kenapa Jonathan datang lagi?" Batinnya yang tidak senang, akan sosok Jonathan yang berdiri dan menatap pujaan hatinya.


Dia Dia Dia... 😅



Eheems.... Semoga kalian suka, hehehe.


Othor nulisnya suka-suka, dan ada-ada saja.


Maaf, kebanyakan nonton drachin, jadinya begini deh. Maaf ya para pembaca setia Mas Pras.


🤭


Semoga saja, Vava mau menerima penggemar beratnya. Sudah bertahun-tahun lamanya. 😌


Haii, kalian team mana ini? Team Jonathan atau sang Penggemar?? ✌😅

__ADS_1


Sebenarnya Jonathan itu cinta, tapi begitulah laki-laki juga bisa tergoda. Lalu gimana Vava bisa move on, kalau si Jo Jo masih saja menghantui Vava.


__ADS_2