PANGGIL AKU MAS!

PANGGIL AKU MAS!
Perasaan Seorang Adik


__ADS_3

Sreek... Sreek... Sreek...


Sapu lidi itu bergerak dengan irama, seorang gadis sedang menyapu halaman depan rumah.


Britney setelah sholat ashar beranjak ke teras depan rumah.


Perlahan Britney mendekati sang kakak ipar. "Mbak Putri, sangat rajin." Sapa Britney yang melihat Putri yang sangat sibuk dari tadi siang tidak berhenti, ada saja yang dia kerjakan.


"Iya, aku sudah biasa seperti ini." Ucap Putri.


"Boleh aku bantuin mbak Putri." Pinta Britney.


"Tidak perlu, kamu baru datang nanti capek." Ucapan Putri dengan rasa tidak enak.


Britney hanya tersenyum dan Pamela yang baru pulang dari membeli jajan mendekati Britney.


"Mbak Britney mau nggak?" Pamela menawari jajanan yang dia beli.


Lalu Britney hanya mengangguk dan tersenyum, dia juga penasaran apa sudah dibeli Pamela.


Pamela mengajak duduk di sebuah bangku dibawah pohon mangga. Disitu ada bangku yang terbuat dari bambu dan sangat nyaman untuk bersantai.


"Mbak Britney ini namanya pentol." Ucap Pamela.


"Owh.. Iya, di Jakarta juga ada yang jual cilok." Ucap Britney.


"Nah.. Iya cilok. Enak nggak mbak?" Pamela dengan penasaran apakah kakak iparnya doyan.


"Iya enak, tapi aku nggak suka pedas." Ucap Britney dan Pamela langsung memberikan es teh poci berserta sedotannya.


Britney yang sudah kepedasan, merasakan kesegaran es teh poci yang Pamela berikan. "Tehnya sangat nikmat."


Pras yang ada dikamar melihat dari balik jendela, dia tersenyum melihat istrinya yang sudah mulai akrab dengan saudaranya.


Putri selesai menyapu lalu mencuci tangannya dan menghampiri mereka berdua. "Dek, mau kok ora tuku mie ayam sisan?"


(Adik, tadi kenapa tidak beli mie ayam sekalian?)


"Mengko wae karo mas Pras." Ucap Pamela.


(Nanti saja sama kak Pras.)


Putri ikut duduk dengan mereka, Pamela membeli beberapa bungkus pentol mercon dan es teh poci.


Britney tersenyum, Putri yang seumurannya, juga gemar dengan jajanan Pamela. Britney jadi rindu dengan adiknya yang ada di Jakarta. Dia sampai lupa tidak mengatakan sama adiknya kalau dia saat ini sudah menikah dan berada di Semarang.


Pras keluar dari rumah "Hemms.. Bagianku endi?"


(Hemms.. Mana bagianku?)


"Ora ono nggo mas Pras. Wis entek lagi rene." Ucap Pamela.


(Tidak ada untuk Kak Pras. Sudah habis baru kesini.)


Britney menawari cup yang dia pegang "Mas, punyaku masih banyak, ini terlalu pedas."


Pras yang sudah tahu kalau Britney tidak suka pedas. Mambantu Britney dihadapan para saudaranya. "Sesok nek tuku meneh, ojo sing pedes."


(Besok kalau beli lagi, jangan yang pedas.)


"Ok, siiap mas Pras." Ucap Pamela.


Pandu yang hendak pergi mengeluarkan motornya dari samping rumah. Pras mentapnya, semakin lama adiknya semakin keren. Mungkin karena sudah punya pacar. "Mas, Mbak.. aku lungo disik. Arep neng gone Rahma."


(Kakakku .... Aku pergi dulu. Aku mau ketempat Rahma.)

__ADS_1


"Iyo, ngati-ngati." Ucap Putri.


(Iya, hati-hati.)


Pras dan Britney hanya menatap dengan senyuman.


Ngeeeng....


Woosssh


...


Dijauh sana di sebuah kafe ada yang duduk sendirian, menunggu kedatangan seseorang.


"Bang Pras mana sih." Ucapnya yang gelisah.


Vava sudah menunggu hampir satu jam, Pras juga lupa tidak memberitahu Dony kalau sabtu dan minggu dia tidak bisa berangkat ke kafe.


"Vava... ini kopi kedua kamu. Mungkin Pras masih sakit." Ucap Dony yang memberikan sendiri kopi buatannya.


"Bang Pras sakit? Sakit apa?" Tanya Vava dengan cemas, tapi beberapa waktu lalu Vava melihat bang Pras sedang bersama wanita, dan katanya Pacarnya. Apalagi hari ini bang Pras sudah janji akan mentraktir Vava.


"Iya, minggu lalu dia sebenarnya...." Belum selesai bicara, Dony dipanggil Bos pemilik Kafe Senja.


Vava mulai cemas.


~Maaf, nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi~


Huuuuffftttt!!


"Bang Pras..... Kamu bikin Vava khawatir."


Vava mengacak rambutnya dan merasa jengkel sendiri.


"Bang Dony... Vava pergi..." Ucap Vava yang melewati Dony dan menuju Kasir.


Vava tidak ingin menyapa saudaranya, dia langsung ke kamar dan melemparkan tasnya.


"Adikku tersayang..... Kenapa cemberut?"


Vava tidak menghiraukan dia, Vava tengkurap dikasur dan memeluk guling.


"Kakak keluar dari kamarku." Pinta Vava.


"Kamu tahu, kakak kesayangan kamu sudah mualaf?"


"Maksud kakak?" Vava langsung bangkit dari kasurnya.


"Britney... Dia sudah mualaf dan menikah dengan seorang muslim." Ucap Maeva dengan tersenyum.


Yuuhuuu *Author gendeng*


Kalian dari sini akan mengerti siapa Vallezia Varrez yang sering dipanggil Vava.


Yupps.... Dia adik sepupu kesayangan Britney Rhiannon. Anak dari Vanesa Artika.


Hemmmsss... Bagaimana nanti nasibnya Prasetya Wardana? *Author


Maeva mulai bercerita dan memperlihatkan video saat Britney menjadi mualaf dan menikah dengan Prasetya.


Vava yang sangat kaget dan bergemuruh.


Maeva melihat kalau adiknya sepertinya tidak senang. Maeva kepo dan bertanya.


Vava tidak mengatakannya, sebaliknya Vava langsung menelfon Britney.

__ADS_1


Britney yang baru selesai mandi dan masih mengeringkan rambutnya dengan handuk, mengangkat panggilan dari adiknya tersayang.


"Kakak jahat!!!" Teriak Vava.


"Vava... Kamu kenapa sayang?" Tanya Britney yang bingung karena teriakan Vava.


"Kak Britney udah nyakitin hati Vava." Ucap Vava dengan kesal.


"Apa maksud kamu sayang?" Tanya Britney yang semakin tidak mengerti.


"Kakak, bang Pras yang jadi suami kakak itu. Dia Oppa yang aku ceritain sama kakak. Kakak ngerti sekarang?" Suara Vava terdengar sangat geram.


"Oppa, Pras? Suami kakak?" Britney dengan bingung, dadanya mulai tidak enak, bulu kudunya berdiri dan seakan ada badai menerjang dirinya.


"Iya, dia orangnya. Kakak, satu jam Vava nungguin dia di kafe tempat dia bekerja. Nggak tahunya malah bulan madu sama kakak. Vava kecewa sama kalian." Ucap Vava dengan kesal.


"Vava sayang.. Dengerin dulu penjelasan kakak." Ucap Britney dengan cemas.


"Kak Maeva sudah cerita semuanya. Vava nggak mau ketemu kakak. Vava benci sama kakak." Vava penuh kekesalan, dengan tumpahan rasa yang ada dalam dadanya.


"Vava.. Sayang...Vava... Vava..." Suara Britney begitu panik, dadanya semakin terasa sesak.


Tut.. Tut.. Tut...


Vava adik yang paling Britney sayangi, dari Vava lahir Britney sudah menjadikannya adik sendiri. Bahkan Britney yang pertama kali memanggilnya dengan nama Vava.


"Vava sangat marah, aku harus bagaimana. Kenapa bisa jadi begini. Aku sudah menyakiti adikku sendiri." Keluh Britney.


Maeva yang dari tadi menyaksikan pertengkaran kakak beradik tersenyum "Gimana? Apa katanya?"


"Kak Maeva keluar dari kamar aku!!!" Teriak Vava dengan kesal.


"Ok, tapi kamu harus ingat. Britney tetaplah Britney, dia tidak mungkin mengalah untuk kamu. Sama seperti aku dulu, dia bilang mengalah. Tapi hemmsss..... Pria itu pergi." Maeva tidak berhenti sampai disitu, dia tetap ingin Vava marah dengan Britney.


"Keluar... Kak Maeva keluar dari kamar aku!!!" Vava melemparkan bantal ke wajah Maeva.


"Ok, bye bye... Adikku yang malang."


Maeva pergi dengan tersenyum, dia berhasil membuat Vava membenci Britney. Padahal Britney sangat menyayangi Vava, apapun permintaan Vava akan selalu dituruti Britney.


Britney gelisah, ponsel Vava dimatikan.


Vava yang tidak bisa menangis saat masih ada Maeva, dia mulai menangis, semua perasaannya tumpah saat itu juga.


Maeva tersenyum dan di ruang keluarga tidak berkata apapun tentang Vava, tapi Evan sangat tahu sifat adiknya "Vava kenapa?"


"Entahlah, dia sedang malas bertemu kita." Ucap Maeva.


Evan langsung bergegas ke lantai dua dan ingin melihat keadaan adiknya. Kamarnya tidak dikunci, Evan telah melihat adiknya yang paling kecil menangis dan air matanya sudah membasahi guling yang dipeluknya.


"Vava sayang, kamu kenapa?" Evan mengangkat adiknya dan memeluknya.


"Abang, Vava sedih." Ucap Vava dengan berlinang air mata.


Hikkksss!! 😭😭 *Author lebay*


Evan belum mengerti apa yang telah terjadi, tapi Evan merasakan, sepertinya Vava sangat merasa sedih. "Kamu cerita sama abang."


Vava dengan sesenggukan menceritakan kepada Evan, ternyata masalah Vava sama seperti Maeva dulu.


Dalam hal ini Evan tidak tahu harus bagaimana, tapi Evan sangat tahu Britney tidak seperti itu, bahkan dari kecil Britney yang selalu mengalah dan hanya menuruti para orang tua.


Evan tidak bisa menahan dirinya, dia larut dalam kesedihan. Evan berusaha membuat Vava tenang. Evan juga memikirkan keadaan Britney karena kemarahan Vava.


__ADS_1




__ADS_2