PANGGIL AKU MAS!

PANGGIL AKU MAS!
Kucing Dan Tikus Beraksi


__ADS_3

Tahun lalu aku di kamar ini tidur masih sendiri,


Sekarang di tahun ini ada kamu yang menemani,


Berawal dari sebuah malam yang seperti mimpi,


Tertanya malam minggu itu takdir memberkahi.


Sore hari di teras rumah, duduk bersama keluarga dan bersenda gurau. Sangat jarang terjadi, hanya setiap acara tertentu saja bisa merasakan ini.


Pras dan Britney sedang mendengarkan cerita Pakde Woko, soal Bapaknya Pras waktu dulu kecil. Pakde Woko sekarang sangat bersyukur, melihat adik-adiknya sudah hidup berkecukupan.


Jaman dulu sang adik minta permen sampai menangis, tapi tidak bisa membelikannya. Pakde Woko, lalu mengajak pulang dan dibuatkan permen sendiri ala Pakde Woko.


Gula pasir dipanggang diatas sendok lalu dituang ke daun pisang, itupun gulanya nyolong dari rumah kerabatnya. Dulu gula pasir juga jarang, karena kerabatnya dapat jatah dari pabrik gula, jadi ada gula pasir di rumahnya.


Tapi setelah selesai, Pakde Woko baru bilang, kalau tadi mengambil gula pasir dan cuma sedikit. Terus kata kerabatnya "Woko sesok ojo nyolong meneh." Tapi kerabatnya memberikan satu kantong kecil gula pasir yang masih untuh.


(Woko, besok jangan mencuri lagi.)


Sekarang Bapaknya Pras, Pakde Woko dan adiknya yang perempuan. Sudah hidup lebih baik, dan sangat berkecukupan. Walaupun hidup sederhana, tapi bisa menguliahkan anak-anaknya dan bisa memberikan apa yang anak-anaknya minta.


Flashback


Satu jam sebelum cerita Pakde Woko di mulai. Ada kucing dan tikus sedang beraksi.


Ternyata ada yang kalah.


"Gur nyilih sedelo ora oleh." Ujar Pras.


(Cuma pinjam sebentar tidak boleh.)


"Wegah!!! Mengko Mas Pras tuman." Balas Pandu.


(Tidak mau!!! Nanti Mas Pras keterusan.)


"Nyilih sedelo. Aku gur penasaran." Ucap Pras.


(Pinjam sebentar. Aku cuma penasaran.)


"Emoh!!! Tuku dewe kono." Balas Pandu.


(Tidak mau!!! Beli sendiri sana.)


"Bu'e.... Anakmu lanang saiki cengit eram." Ujar Pras, dan mengadu kepada ibunya.


(Ibu.... Anakmu laki-laki sekarang pelit amat.)


"Pandu, Masmu silihi sedelo." Ucap Bu'e, yang berusaha meredam kedua putranya.


(Pandu, Kakakmu pinjami sebentar.)


"Mas... Sudahlah!! Jangan menggoda adik kamu." Ucap Britney, berusaha menarik suaminya.


Suaminya duduk di sebelah Pandu, dan sambil menatap permainan Pandu. Dari setengah jam yang lalu, Pras ingin meminjam ponsel Pandu, yang baru dibelinya setelah mendapatkan uang dari Bapaknya. Karena Pak Heru sudah berjanji, nanti akan membelikan ponsel baru untuk Pandu, setelah acara pernikahan kakaknya.


Siang tadi, bangun tidur Pandu ke kamar Pamela, dan kebetulan semuanya sudah selesai. Padahal Bapaknya sudah bilang, kalau nanti harus bantuin buka amplop. Malah tidur tidak bangun-bangun, bangun sudah jam 2 siang.


Bu'e dan Bapaknya melihat Pandu yang bingung, menanyakan uang untuk membeli handphone. Bapaknya menggoda, tidak jadi membelikan handphone, soalnya tidak membantu Bapaknya.


Pandu duduk di depan Bapaknya dan memegang lulut Bapaknya. Pandu juga sangat pandai merayu, apalagi untuk handphone dengan merek ternama, dan harganya sangat fantastis.


Pandu tidak henti merayu Bapaknya. Lalu sang Bapak bertanya, apakah Pandu sudah sholat. Pandu mengatakan baru bangun tidur. Bu'e lalu bilang, duitnya akan dikasih setelah Pandu melaksanakan kewajibannya.


Pandu dengan wajah tersenyum, ternyata Bapak Ibunya hanya bercanda, tetap sesuai janjinya. Maklum Pandu anak laki-laki, banyak sekali permintaannya. Berbeda dengan Pras, yang gengsi bila diberi uang Bapaknya.


"Pras, Bapak tukokke gelem ora?" Tanya Bapaknya. Karena Pandu sama sekali tidak mengijinkan kakaknya menyentuh ponsel itu.


(Pras, Bapak belikan mau tidak?)

__ADS_1


"Mboten purun." Jawab Pras, dan hanya menatap Pandu yang sedang bermain.


(Tidak mau.)


Pras akhirnya keluar dari kamar Pandu, dengan wajah lesu. Britney mengikutinya, dalam hati Britney, suaminya tadi seperti anak kecil yang berebut mainan. Tapi disaat Bapaknya menawari untuk membelikannya, malah mengutamakan gengsinya.


"Mas, aku beliin mau??" Tanya Britney dengan rasa takut, takut suaminya tersinggung.


"Sayang, aku bukan masalah ponselnya. Aku jadi kesal saja. Semakin kesini, Pandu semakin manja dan pelit." Jawab Pras dengan kesal.


Siapa yang tidak kenal Pandu, awal kuliah sudah minta motor Ninja. Terus komputernya juga yang bagus, bisa bermain game dengan lancar.


Alesannya untuk desain grafis dan lain-lain. Tapi selalu keturutan, kadang Ibunya menyuruh Pandu untuk berjaga kios beras di pasar menggantikan Ibunya, kalau mau keinginannya terwujud. Pandu menurut awalnya, tapi setelah mendapatkan keinginannya, Pandu pura-pura lupa.


Wkwkwkwk


"Dek, Masmu silihi sedelo. Kowe pora kangen karo masmu. Masmu neng omah gur seminggu." Ucap Putri.


(Adik, Kakakmu pinjami sebentar. Kamu tidak rindu sama kakakmu. Kakakmu di rumah cuma satu minggu.)


"Sesok tak silihi. Tapi saiki ora oleh." Balas Pandu.


(Besok aku pinjemi. Tapi sekarang tidak boleh.)


Putri akhirnya keluar dari kamar Pandu, dan ikut mengobrol di teras depan rumah.


Di depan rumahnya awalnya hanya ada Pakde Woko, Budhe Woko. Kemudian ada Bapak, Bue, Candra, Pras dan Britney ikut duduk di teras depan rumah dan saling bergurau.


Pamela dan Claudia di ajak Tante Fitri jalan-jalan ke Mall, bersama Om Satria juga anak-anaknya Tante Fitri, jadi mereka tidak melihat kucing dan tikus bermain kejar-kejaran.


"Nyoh... HPne." Ucap Pandu sambil menyerahkan ponselnya.


(Ini ~memberikan... HPnya.)


"Wegah, wis ora mood." Balas Pras dengan kecut.


(Tidak mau, sudah tidak mood.)


"Tenan wegah?? Mengko wis ora ono nyileh- nyileh." Ujar Pandu.


(Benar tidak mau?? Nanti sudah tidak ada lagi pinjam- pinjam.)


"Dek. Kui rego piro?" Tanya Putri.


(Adik. Itu harganya berapa?)


Pandu mendekati Putri dan berbisik.


"Pras, sasi sesok tak tukoke gelem?" Tanya Putri.


(Pras, bulan besok aku belikan mau?)


"Kui HP larang, aku perkewoh karo Mas Candra." Jawab Pras.


(Itu HP mahal, aku tidak enak sama Mas Candra.)


"Ora opo-opo, dinggo adiku aku ora itung-itungan." Ucap Putri dan mengedipkan mata ke suaminya.


(Tidak apa-apa, buat adikku aku tidak perhitungan.)


Candra menambahi perkataan Putri. Candra juga tidak keberatan. Apalagi untuk adik istrinya itu. Kalau Pras mau menerima pemberian Putri, malahan senang.


Soalnya Putri juga pernah bilang sama Candra. Paling susah kalau merayu Pras lagi ngambek, dan Pras itu gengsian kalau Bapaknya yang duluan memberikan sesuatu.


"Ora usah. Aku sokben tuku dewe." Ucap Pras.


(Tidak perlu. Aku nanti beli sendiri) ~Sokben itu nanti tapi lama.


"Ora ngono. Aku urung tahu ngekei kowe. Pamela saben dino jaluk sangu. Pandu duit bensin, angger dolan karo Rahma jaluk sangu." Ucap Putri sesuai keadaan setiap hari.

__ADS_1


(Tidak bergitu. Aku belum pernah kasih kamu. Pamela setiap hari minta uang saku. Pandu uang bensin, setiap main sama Rahma minta uang saku.)


Putri dari lulus kuliah, ikut test cpns dan langsung keterima. Bahkan Putri rajin menabung, acara pernikahan hampir semuanya juga dia sendiri. Makanya Bapak dan Ibunya cukup ringan, tidak banyak biaya untuk pernikahan anak-anaknya.


"Pras, aku dadi kowe gelem bianget!!!" Seru Pakde Woko.


(Pras, aku jadi kamu mau banget!!!)


Lalu Pakde Woko mulai menceritakan masa kecilnya bersama adik-adiknya.


Setelah berfikir dan mulai santai. Pras berkata "Yowes aku gelem. Tapi tenan Mbak Putri ora Bapak."


(Ya sudah aku mau. Tapi bener, Mbak Putri bukan Bapak.)


"Iyo, tapi nunggu sasi sesok. Ngenteni sertifikasi metu. Mengko langsung tak transfer neng kowe." Ucap Putri.


(Iya, tapi menunggu bulan besok. Menanti sertifikasi keluar. Nanti langsung aku transfer ke kamu.)


Pras mulai tersenyum, Britney juga merasakan kelucuan wajah suaminya itu. Terkadang saat bersama keluarganya, Pras juga berubah manja, dan ingin diperhatikan. Bu'e langsung memeluk anaknya yang tampan dan mengusap-usap rambutnya.


"Bu'e kui luwih sayang kowe Mas." Ujar Pandu.


(Ibu itu lebih sayang kamu Mas.)


Pras menatap Pandu dan membalas perkataan Pandu itu dengan ketus "Yoben!! Ngopo, kowe iri karo aku?!!"


(Biarin!! Kenapa, kamu iri sama aku?!!)


"Ora, aku ora iri." Balas Pandu, yang bermain game lagi disebalah Pras. Kedua kakinya diatas dan Pras menggodanya. Bulu kakinya dicabut Pras.


(Tidak, aku tidak iri.)


Nyooosss!!


"JANCOOKK!!" Teriak Pandu, dan berbalas untuk menarik bulu kaki Pras, tapi Pras berlari dengan gesit.


Britney tersenyum, ternyata suaminya sangat nakal. Apalagi dengan Pandu, bagaikan kucing mengejar tikus.


Uppss!!


Yang tikus siapa?? Yang kucing siapa??


Entahlah, inilah persaudaraan dengan rasa ambyar dan sangat losss doll.


Selesai maghrib, Pandu membocengkan Pras dengan motornya. Ternyata di perjalanan mereka tetap saja ribut, tapi hanya bercanda.


Lampu Merah 🚦


Pandu mengajak kakaknya itu untuk menggoda cewek. Boro-boro menggoda, yang ada sang kakak malah digodain duluan.


Wooosssh!! 🏍


Mereka berdua pergi untuk membeli sesuatu, tanpa seorangpun tahu. Karena waktu pamit, hanya ingin jalan dengan sang adik.



🌼🌼🌼🌼🌼


Semoga kalian suka dengan cerita dalam bab ini. Bila ada kata yang kurang tepat, dan ada Typo, kalian bisa memberi tahu author di kolom komentar.


Terima kasih πŸ™πŸ€—πŸ€—


🌼🌼🌼🌼🌼


Dibawah ini ada beberapa novel karya sahabat author dengan cerita dewasa. Kalau ada yang suka dengan cerita menegangkan, kalian bisa mampir ke novel yang ada di bawah ini. πŸ…πŸ‘‡



__ADS_1




__ADS_2