
Saat malam menjadi sebuah saksi, seorang Papa yang ingin menemui putri kandungnya. Akhirnya di malam ini, sang Papa memberanikan diri, untuk menemui putri kandungnya.
Suasana hati menjadi rapuh, saat pertemuan itu. Tidak bisa di ungkapkan, perasaan kecewa yang dalam. Awalnya hanya membaca dalam sebuah pesan. Entah, kenapa itu terjadi pada sosok belia yang tak lain adalah Vallezia Varrez, atau yang dikenal dengan panggilan Vava.
Flashback
Satu jam sebelum pertemuan Vava dengan sang Papa.
"Permisi, apa saya bisa bergabung dengan kalian?" Tanya pria, yang berusia sekitar 38 tahun.
"Iya, silahkan." Jawab Pras yang melihat sekeliling coffea shop itu memang ramai. Bangku dan meja cukup penuh. Malam itu, banyak pemuda yang sedang menikmati malam bersama teman, atau bersama pasangan mereka. Walaupun bukan malam minggu, tetap saja coffea shop itu ramai pengunjung. Tidak salah bila namanya "Tarik Sis!".
Coffea shop yang belum genap sebulan dan Pras ingin mencoba merasakan kopi dan suasana di tempat tongkrongan baru itu. Kebetulan, tempat itu dekat dari rumahnya. Jaraknya tidak ada dua kilo meter.
"Om Pras, sumpah. Aku tadi nggak niat buat bikin Vava marah. Cuma, emang pengen aja video dia, nggak tahunya dia baper, langsung narik aja HP Aksa. Tadinya, iseng buat ledekin dia. Tapi dia marah." Ujar Aksa.
"Hemms. Iya, aku juga kena tadi. Dia kesal sama aku. Padahal aku cuma bilangin dia, jangan bawa mobil kalau emang belum bisa. Gitu aja marah." Ucap Pras, tapi sebenarnya masih ada hal lain. Pras hanya memberikan contoh saja kepada Aksa.
Seseorang tampan itu menoleh ke wajah Pras dengan tersenyum.
"Maaf Om, kita keasyikan ngobrol sampai tidak tahu kalau di meja kita ada Om." Ucap Aksa yang memandangi pria itu.
"Tidak apa-apa, anak muda asyik bercerita tentang pacarnya, pasti akan lupa dengan sekitarnya." Ujar pria itu.
"Hahaha. Bukan pacar Om. Mana mungkin dia pacar saya. Dia gadis garang, bukan tipe saya. Misalkan iya, pasti tidak bertahan satu hari." Balas Aksa.
Pras tersenyum dan meletakan cangkir kopinya, lalu berkata "Gething dadi nyanding." dan Aksa tidak mengerti apa yang Pras katakan, tapi pria itu mengerti apa yang Pras barusan ucapkan.
(Gething dadi nyanding artinya benci jadi bersanding)
"Benar, biasanya yang tidak suka tapi perlahan akan menimbulkan rasa, seperti saya." Ucap pria itu.
"Wah, sepertinya Om memang sudah banyak pengalaman ya. Kalau dia sudah menikah, kalau saya pacar aja tidak ada, gimana pengalaman." Ucap Aksa dan tampak ngakak sendiri.
"Saya tidak banyak pengalaman tentang pacar, tapi hanya satu dan membuat saya terluka sampai saat ini." Ucap pria itu.
"Mmh. Om patah hati? Di tolak?" Tanya Aksa yang mulai kepo.
"Bukan di tolak, tapi dia tidak mau mengatakan kalau sudah hamil anak saya. Saya sekarang sudah menemukan anak saya. Saya tidak ingin menyia-nyiakan lagi. Saya ingin bertemu anak saya, sudah lama dia sembunyikan ini dari saya." Ucap pria itu.
"Sepertinya, masalah anda yang cukup pelik. Semoga anda bisa kembali bersama orang yang anda cintai." Ucap Pras dengan cukup santai.
"Terima kasih Prasetya Wardana." Ucap Pria itu.
Pras seketika kaget dengan ucapan pria itu. Raut wajah Pras sangat tercengang, bagaimana pria ini bisa tahu namanya, bahkan nama lengkapnnya. Apa pria itu mengenal dirinya. Kapan, dimana, apa dia pernah bertemu sebelumnya.
"Anda mengenal saya?" Tanya Pras yang tidak basa basi.
"Iya, saya tahu anda siapa, dan dimana tempat tinggal anda. Bahkan anak saya sekarang ada di rumah anda saudara Prasetya Wardana." Jawab pria itu.
Aksa menoleh ke wajah pria itu dan berkata "Anak Om? Vava? Anaknya Om yang tadi di ceritakan?" Aksa seperti menelan ludahnya dan sangat tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Anda? Papanya Vava?" Tanya Pras dengan teduh, dan ada rasa yang tidak nyaman dari dalam dada Pras saat ini. Pras juga mendengar dari apa yang istrinya pernah ceritakan kepadanya. Tapi Pras masih menencerca masalah ini.
"Iya, saya Papa kandung Vallezia Varrez. Saya juga sudah melakukan test DNA. Dari situ saya semakin yakin Vava putri kandung saya." Ucap pria itu.
Pria yang tampan dengan penampilannya juga sangat modis. Tidak seperti orang oriental, tapi dia sangat tampan dan kulitnya bersih, sangat menarik dan menawan di usianya yang baru menginjak 38 tahun.
Pras menggigit kecil bibir bawahnya, dan menatap heran sosok yang ada di depannya, dan tidak bisa berkata apa-apa. Hanya saja dia masih berdebar, kenapa harus dia yang menjadi jalan untuk pria itu bertemu dengan anak kandungnya.
"Om yakin?! Kalau Vava anak kandung Om?" Tanya Aksa.
"Om sudah yakin. Kamu bisa baca hasil test DNA ini." Jawab pria itu
Pras masih diam dan Aksa melihat tulisan yang menyatakan kalau Vava memang anak kandung dari pria itu. Tertulisa nama Angga Saputra, dan itu adalah nama Papa Vallezia Varrez yang biasa dikenal Vava.
"Om Pras, coba lihat ini." Ucap Aksa yang menyodorkan kertas itu.
Pras menerima kertas itu dan perlahan membaca dengan detail isi dari tulisan itu. Hasil test yang menyatakan kalau memang benar, Vava adalah anak kandung dari Angga Saputra.
Aksa dengan tatapan syahdu berkata "Om Angga, seperti Om harus bertemu Vava."
"Iya, Om ingin sekali bertemu dengan Vava. Tapi Vava belum membalas pesan Om. Beberapa waktu lalu Om mengirimnya sebuah pesan, Om juga pernah sekali ke tempat sekolahnya, dari kemarin, setelah mobilnya menabrak kerobak penjual ketoprak, Om mengikutinya. Bahkan tadi pagi, sebenarnya Om ingin mendekati Vava waktu menabrak kamu Aksa. Tapi Om tidak ada keberanian." Ucap Angga Saputra dengan tenang.
Aksa menoleh ke wajah Angga yang mulai syahdu. Lalu Aksa berkata "Om Angga, saya akan temani Om. Saya mau jadi saksi pertemuan Om Angga dan Vava. Soalnya tadi Aksa melihat Vava cukup sedih, padahal tadi pagi sok kuat, eh dia juga punya hati lembut. Tapi dia salah artikan juga, padahal niat Aksa baik. Dia melempar Hp Aksa Om. Uuhh... Matanya melotot tajem banget, jadi ya Aksa juga salah. Perempuan mamang sulit dimengerti."
__ADS_1
Aksa jadi curcol nggak jelas!
"Maaf Om Angga. Saya mengerti keadaan Om Angga. Tapi sebelum Om Angga bertemu Vava. Sebaiknya Om Angga bicara dulu dengan Tante Vanesa. Ini bukan hanya masalah pertemuan dengan putri Om Angga. Tapi sudah menjadi masalah keluarga." Ucap Pras dengan rasa cemas.
Aksa pergi meninggalkan Pras dan Angga saputra, dia keluar dari coffea shop itu tanpa berpamitan.
"Prasetya, Om sudah bertemu Vanesa. Bahkan Om hadir di pernikahan putri Direktur Ferdi beberapa waktu lalu. Om perwakilan dari perusahaan Era Sentosa. Om ingin melihat Vava lebih dekat, tapi Vanesa juga memperingatkan Om. Agar menjauh dari Vava. Dia terus saja mengelak dan tidak mengakatakan kalau Om adalah Papa kandung Vava." Ucap Angga Saputra.
Pras mengerti hal itu, cerita dari istrinya yang sebenarnya bukan sang pria yang pergi meninggalkan Tante Vanesa begitu saja. Tapi Tante Vanesa yang tidak mau mengakui, bahwa Angga Saputra adalah Papanya Vava.
Di Negeri Paman Sam. Vanesa mulai berkuliah, dia seperti Vava belia, dengan segala sifat dan sikap arogannya. Lalu bertemu sesorang pemuda yang baru meniti kehidupannya di negeri orang, pemuda itu juga baru memulai berkuliah, bahkan dia juga bekerja di sebuah restoran.
Vanesa yang saat itu sama seperti Vava yang suka menggoda Pras ketika di Kafe Senja.
Sosok Vanesa muda yang menaruh harapan cinta kepada Angga Saputra. Segala hal dia lalukan untuk meraih hati pemuda itu. Tapi Angga awalnya sangat tidak suka, bahkan membencinya. Angga tidak ingin tergoda dan menjadi hancur di negeri orang.
Tapi ternyata, sebuah malam Angga terjebak pada gadis berusia 22 tahun. Angga yang lebih muda, tidak tahu menahu, akan malam itu, terjadi begitu saja dan menggunggah hasratnya kelakiannya. Tapi setelah malam itu Vanesa pergi dan tidak meninggalkan jejaknya. Angga bertahun-tahun dalam hati terluka, bahkan sampai sekarang dia belum menikah. Karena masih merasa bersalah, malam itu selalu menghantui perasaannya.
Setelah beberapa tahun yang lalu, melihat Vanesa yang ada di sosial media. Angga pergi ke ibukota, dan mencari keberadaan Vanesa. Setelah lulus kuliah, Angga kembali ke negeri tercinta, dengan gelar Master of Bussines Admistration (MBA). Tapi itu hanya sebuah gelar bagi Angga Saputra. Angga memilih menjadi pengusaha kota kelahirannya. Saat ini dia sementara pergi dari kotanya, untuk menemui Vava, sang putri kandungnya.
"Om Angga, saya mengerti perasaan Om Angga. Britney juga pernah bercerita dengan saya. Saya akan mencoba menelfon Britney dulu. Sebelum nantinya Om Angga bertemu Vava." Ucap Pras.
Perlahan Pras mengambil ponselnya dan berusaha menelfon Britney. Tapi tidak di angkat juga telfonnya. Sudah panggilan ke tiga kalinya, tapi Britney masih tidak menjawabnya.
"Sayang, kamu kemana? Kenapa nggak diangkat telfonnya. Hemms!" Gumam Pras.
Pras kembali ke meja itu dan berkata "Om Angga, kita ke rumah saja. Britney tidak angkat telfon saya. Nanti Om bisa bertemu dan berbicara sama Vava."
Pras membayar tagihannya dan Angga juga berdiri di sebelah Pras, lalu Pras berkata "Om Angga sudah, biar saya saja. Om tunggu di luar saja sama Aksa."
Angga Saputra menggangguk dengan tersenyum, dan berjalan keluar dari coffea shop Tarik Sis!
"Om Angga sudah selesai ngobrolnya?" Tanya Aksa yang menghampiri Angga yang berjalan keluar.
"Iya, Om mau bertemu Vava. Kamu mau ikut dengan Om?" Tanya Angga dengan tersenyum.
"Tidak Om, saya sama Om Pras. Om nanti ikuti kita saja." Jawab Aksa dengan santai.
"Kamu sangat lucu, tadi pagi saya juga gemas melihat kalian berdebat di pinggir jalan." Ucap Angga dengan senyum merekah.
"Maaf Om, kalau tadi pagi saya memarahi anaknya Om. Habisnya bukannya minta maaf, masih saja ngeyel, Aksa jadi emosi juga." Ucap Aksa.
"Iya Om Angga, Aksa turut bahagia. Semoga Vava bahagia bertemu Om Angga." Ucap Aksa.
Pras menghampiri kedua orang yang asyik berbincang itu. Lalu berkata "Om Angga, bisa ikuti saya dari belakang."
"Iya, Om ikuti kalian saja." Ucap Angga.
Angga juga memakai pakaian santai, bahkan tadi mengenakan jaket sporty dan menggendong tas ransel. Motor ninja yang dia tunggangi juga keren, Angga Saputra mengendarai motor agar mudah mengikuti Vava.
Papa Gaul OTW!!!
Setibanya di perumahan puri anggrek rumah block B no. 18 bercat ungu, tapi tampak sepi.
"Om Angga, mari silahkan masuk." Ucap Pras yang membuka pintu pagar.
Angga masuk dan ikuti oleh Aksa. Britney ternyata ada di kamarnya bersama Vava. Tadi setelah makan malam bersama Vava, Britney muntah- muntah lagi, dan Vava mengusap keringat di wajah Britney.
"Kakak tidur saja. Kalau Bang Pras pulang biar aku yang bukain pintu." Ucap Vava.
"Kakak udah biasa begini. Cuma lemes aja. Nanti juga membaik lagi." Balas Britney.
Tok Tok Tok
Biasanya pintunya tidak di kunci, tapi tadi di kunci sama Vava, saat Britney terbaring di kamar.
"Iya sebentar." Teriak Vava dengan suara nyaring.
Klik... Cekklek!!
"Bang Pras___" Ucap Vava tapi tidak jadi heboh, yang tadinya mau mengadu soal sang Kakak yang lemas terbaring di ranjang.
"Vava, kenapa di kunci?" Tanya Pras.
"Iya, Kakak tidur." Jawabnya, lalu mendekati Pras dan bertanya pelan "Bang Pras dia siapa?? Terus Aksa juga kesini lagi."
__ADS_1
Pras tidak menjawab Vava dan mengajak Angga Saputra masuk ke dalam rumah.
"Om Angga silhkan duduk." Ucap Pras dan Angga mulai duduk di sofa di temani Aksa.
Vava hanya diam saat Angga menatapnya dengan berkaca-kaca. Senyuman manis dari bibir Angga, manik mata Angga hanya melihat ke arah gadis belia itu.
"Vava, kamu tolong bikinin minum buat tamunya abang." Ucap Pras dengan pelan.
"Bang Pras nyuruh aku? Serius Bang Pras?!!" Tanya Vava yang tidak percaya kalau dirinya disuruh membuatkan minum.
"Iya, kamu. Britney lagi tidur. Perempuan cuma ada kamu." Ucap Pras.
"Tapi Vava nggak bisa nyalain kompor." Ucap Vava.
"Itu ada dispenser buat apa nyalain kompor." Ujar Pras.
"Udah Prasetya tidak apa-apa. Om hanya sebentar saja." Ucap Angga yang membela anaknya.
"Om Angga tamunya Pras, dia adiknya Pras. Biar saja dia belajar, ini bukan di Pondok Indah, jadi dia harus bisa mandiri." Ucap Pras.
"Uuuhh... Bang Pras nyebelin." Ucap Vava yang bergegas pergi ke dapur.
"Om Pras, Aksa bantuin Vava dulu. Pasti dia bingung mana gula, mana garam." Ucap Aksa.
"Ya udah sana." Ucap Pras.
Angga Saputra dengan wajah tersenyum dan merasa senang. Walaupun sang putri belum tahu siapa dirinya dan apa tujuannya datang ke rumah ini. Apalagi sudah malam, tapi Kakak iparnya mengajak seorang tamu.
Sudah lebih dari jam 9 malam.
"Om Angga, maaf. Saya tinggal dulu. Mau melihat Britney dulu." Ucap Pras.
"Iya, tidak apa-apa." Ucap Angga dan cukup lega setelah melihat Vava.
Di dapur.
"Ini gula." Ucap Aksa.
"Iya gue tahu. Ada tulisannya, gue juga bisa baca." Balas Vava.
"Jangan banyak-banyak. Kemanisan." Ujar Aksa.
"Loe berisik. Terserah gue." Ucap Vava.
Aksa hanya menggeleng saja, melihat Vava yang membuat teh hangat.
"Eh.... Loe tahu siapa tamu yang datang sama Bang Pras?" Tanya Vava sambil mengaduk minuman yang dia buat.
"Emh.. Tahu. Loe juga akan tahu." Ucap Aksa.
"Maksud loe?" Tanya Vava.
"Loe kenalan aja sendiri." Jawab Aksa.
Vava sudah selesai dan menuju ke ruang tamu. Tapi Britney sudah ada di ruang tamu. Cukup membicarakan dirinya.
Pyarrr!!! ggrueezzjg!!
Cangkir di atas tatakan terjatuh dan Vava mematung.
"Papa? Papa????!!" Seolah apa yang Vava dengar itu hal yang tidak disukainya. Vava berlari ke kamar dengan air mata yang membahasi wajahnya.
πΌπΌπΌπΌ
Haii.... Maaf terlambat update.
Semoga kalian suka ya. π€π₯°
Masih dengan cerita Vava. ππ
πΌπΌπΌπΌ
__ADS_1
Perkenalkan, ada cerita baru sahabat othor. Cerita Dewasa dan tentang Mafia. Cerita romantis yang menarik π€©ππ