PANGGIL AKU MAS!

PANGGIL AKU MAS!
Empat Pria Nakal


__ADS_3

Pagi hari masih berada di hotel mewah, setelah semalam acara resepsi pernikahan Maeva dan Rehan.


Britney dan Pras berjalan mesra, melewati koridor hotel mewah itu, dengan perasaan manis dari keduanya.


"Mas, apasih yang kamu senyumin?!" Tanya Britney, yang merasa kalau suaminya senyum- senyum sendiri.


"Aku senang saja, kamu pagi ini sangat manis." Jawab Pras, yang sedang berjalan dengan rasa bahagia.


Britney yang merasa suaminya sedang bahagia, hal itu membuat perasaan Britney juga senang.


"Aku tahu. Tapi tadi malam, Mas pergi keluar." Ketus Britney, yang tahu kalau suaminya semalam pergi keluar dari kamar mereka berdua.


Pras menoleh ke arah istrinya, dan menghentikan langkah kakinya, dengan serius bertanya "Kamu semalam terbangun?!"


"He'em. Aku bangun. Hayo kamu pergi kemana?!" Tanya Britney.


"Aku hanya bertemu Rendy, Bang Evan dan Rehan." Jawabnya dengan senyum, tapi juga merasa salah telah meninggalkan istrinya yang tidur sendirian.


"Aku tahu. Ya sudah, tidak usah mengatakannya" Ucap Britney dengan tersenyum, suasana hatinya juga sedang manis, jadi tidak masalah kalau suaminya semalam pergi.


Suaminya semalam berpesta dengan para suami- suami yang takut sama para istri. Kecuali Rendy yang belum menikah, tapi dia juga sudah bucin sama Almeera.


"Sshhhtt. Kamu enggak marah sama aku?" Tanya Pras.


Pras menggigit bibirnya, tangannya menyentuh rambut sang istri. Perlahan menyematkan rambut istrinya itu kebelakang telinga. Pras mulai berbisik "Sayang, kamu harus menghukum aku."


Suara Pras yang nakal dan sangat lembut itu membuat Britney merinding, lalu menatap tajam suaminya "Okey Mas. Memang aku harus kasih hukuman sama kamu. Apalagi, semalam kamu juga sangat lama, aku tidur sendirian."


"Mmssh.. Kamu tidak sendirian. Kamu ditemani dedek utun." Ucap Pras yang tengil, dan tangannya mulai mengusap perut istrinya.


Britney hanya mengangguk pelan, dan berkata "Hemmsh bagus!! Kamu sekarang memanfaatkan bayi kamu yang belum lahir, dan membuatnya sebagai alasan."


"Bukan begitu sayang. Memang benar, kamu tidak sendirian sayang. Ya sudah, ayo kita restaurant dulu, semua keluarga sudah menunggu kita." Ucap Pras, dan mereka berdua kembali berjalan.


Pras dan Britney sudah berkumpul bersama keluarga besarnya, di restaurant hotel mewah, tempat resepsi pernikahan Maeva dan Rehan digelar semalam.


Pasangan ini tampak kompak, mengenakan baju batik sarimbit yang dibelikan oleh Budhe Woko. Waktu Budhe Woko berbelanja di Pasar Klewer Solo.


Britney terlihat manis dengan drees batik ungu model kerut bawah dada dan Pras cukup keren dengan batik model kemeja slim yang tampak pas dibadannya.


"Ayu tenan. Pilihanku ora salah." Batin Budhe Woko yang senang, ketika melihat keponakannya itu, langsung memakai pakaian yang ia berikan.


(Cantik benar. Pilihanku tidak salah.)


Pras dan Britney mengambil makanan terlebih dulu, dan baru duduk bersama keluarga besarnya. Pengantin baru, juga sudah tampil menawan dan terlihat sangat bahagia.


"Kowe keri dewe Pras. Sing manten anyar wae, uwis teko disik dewe." Ujar Pakde Woko.


(Kamu terakhir sendiri Pras. Yang pengantin baru saja, sudah datang awal sendiri.)


"Lakon niku, dugine wingking Pakde. Mboten wonten lakon dugine teng ngajeng." Ucap Pras.


(Tokoh utama itu, datangnya terakhir Pakde. Tidak ada tokoh utama datang di awal.)


"Halah nggaya. Paling bar karipan." Ucap Pakde Woko.


(Hah gaya. Paling habis begadang/kurang tidur.)


Pras tersenyum dan mulai makan. Evan ternyata juga baru datang bersama Ghea.


"Nah, kae lakone Pras. Dudu kowe." Ujar Pakde Woko yang mengabsen para pasangan muda itu.


(Na, itu tokoh utamanya Pras. Bukan kamu.)


Pras hanya tersenyum tengil dan melanjutkan makannya.


Semua keluarga sudah berkumpul, dan Ghea tampak muram. Evan cukup melirik Pras, entah misi apa yang mereka jalanankan saat ini.


"Britney kamu tidak marah sama Pras?!" Tanya Ghea yang berbisik kepada Britney.


"Buat apa aku marah. Mereka hanya ingin status baru. Suami- suami tidak takut istri" Jawab Britney.


Ghea tampak kesal dan hanya diam. Tante Vanesa berkomedi di pagi hari, dan memberikan ucapan selamat kepada pengantin baru. Keluarga besar Pras juga hanya tersenyum. Almeera cukup diam saja dan Rendy sudah kelabakan.


"Ghea, kamu tahu. Para suami kita bisa berpesta, kenapa kita tidak bisa. Kita bahkan bisa lebih dari semalam." Bisik Britney.


"Maksud kamu?" Tanya Ghea yang belum paham.


Britney kembali menoleh ke Ghea dan berkata pelan "Setelah semua keluarga pulang. Kita bisa tinggal disini dulu, apa salahnya sesekali kita menikmati pesta."


"Emmmssh. Kamu benar juga. Tapi aku tidak mau disini. Aku ada tempat untuk kita berpesta." Balas Ghea dengan pelan.


Mereka para istri merencanakan sesuatu, dan Pras masih tersenyum. Para istri masih mencari cara untuk membalas para suaminya yang nakal.


Satu jam kemudian.


Semua sudah pulang secara terpisah, tapi keluarga Pras mampir dulu ke tempat tinggal mereka.

__ADS_1


"Bu'e, biar Britney saja." Ucap Britney saat ke dapur, dan melihat Bu'e yang hendak membuat minum untuk para bapak-bapak yang berbincang di ruang tamu.


"Kamu duduk saja. Biar Bu'e saja yang buat kopi." Balas Bu'e yang sudah mengambil cangkir.


Budhe Woko juga sudah bersiap memasak untuk Britney. Tadi Pras dan Britney juga sudah mampir ke Pasar, untuk berbelanja bahan soto ayam.


Sudah lebih dari jam 10 pagi, Pandu tampak berbaring di tempat tidur, karena nanti dia yang menyetir mobil. Pamela terlihat membantu Budhe Woko di dapur, dia mengupas bawang merah dan bawang putih untuk bahan bumbu dasar soto.


"Birtney, apa kamu juga suka masak?" Tanya Budhe Woko, yang melihat banyak bahan bumbu yang sudah tersedia di kotak bumbu.


"Jarang Budhe, kalau hari sabtu saja baru Britney masak. Itupun juga paling masak sop, bikin ayam goreng, tempe dan tahu. Kalau yang sayur kental belum bisa. Masak sayur lodeh aja, rasanya jadi aneh. Tapi Mas Pras juga tetap makan." Jawab Britney.


"Nanti budhe ajarin kamu bikin bumbu dasar." Ucap Budhe Woko.


Budhe Woko lalu memberi tahu Britney untuk membedakan bumbu- bumbu, dari bahan bumbu dasar sampai bumbu kuning. Britney juga tidak lupa mencatat semua resep bumbu itu.


Budhe Woko dengan cepat mengulek bahan bumbu dasar soto, Britney memperhatikan semuanya. Tampaknya mudah, tapi prakteknya sangat susah bagi seorang Britney.


Ditempat lain sebuah ketegangan terjadi.


"Sayang, aku tahu aku salah. Tapi kamu juga enggak harus begini juga." Ucap Evan, saat istrinya ingin pergi sementara ke rumah kedua orang tuanya.


"Aku cuma ingin bermalam disana." Jawab Ghea dengan santai.


"Lagian semalam itu aku cuma karaoke, enggak lebih dari itu sayang." Ucap Evan.


"Sayang, aku sudah capek dari kemarin. Aku juga butuh istirahat." Balas Ghea, yang sudah rapi dan menarik kopernya.


"Aku suami kamu. Aku tidak mengijinkan kamu pergi." Ujar Evan.


"Aku juga istri kamu. Aku semalam juga tidak ikhlas kamu pergi." Balas Ghea.


Evan memegang kedua lengan istrinya, memeluk erat istrinya "Sayang, aku sudah bersalah. Aku minta maaf sama kamu. Aku mohon jangan pergi."


Ghea hanya diam dan tidak berkata apapun. Ghea juga lelah, dari beberapa hari yang lalu sudah tidak ada waktu berdua dengan suaminya.


Apalagi, semenjak Evan ada proyek besar. Selalu lembur dan tidak ada waktu untuk istrinya, ketika pulang ke apartemen, pasti Ghea sudah tidur dan Evan sampai di rumah juga sudah lelah. Sebulan mereka menikah hanya manis di bulan madu saja.


"Maafin aku, semalam karena ada Pras dan yang lain, jadi aku tidak bisa menolak ajakan mereka. Aku juga tidak macam-macam. Aku tahu kamu lelah, makanya samalam aku tidak bangunin kamu sayang. Ghea, maafin aku. Aku sayang kamu." Ucap Evan dengan penuh rasa bersalah.


Ghea yang tadinya sangat kesal, jadi berubah syahdu saat mendengar ucapan suaminya. Walaupun diam tanpa kata, tapi hatinya sudah luluh atas permintaan maaf suaminya.


"Jangan menangis. Aku lebih sakit melihat kamu menangis. Kamu berhak membalas aku, tapi aku mohon jangan pergi. Walaupun hanya sehari, aku tidak mau kamu pergi." Ucap Evan, lalu mengecup bibir manis istrinya.


Ghea pasrah atas tindakan suaminya yang nakal itu, sungguh suami yang keterlaluan. Perempuan mana tahan kalau digituin, apalagi Ghea sangat mencintai Evan, jauh sebelum Evan mencintainya.


Di sebuah mobil yang sedang melaju, sepasang calon pengantin tampak berdiam dan sangat canggung tapi bergejolak.


"Enggak, mana bisa aku sama Mas Rendy." Jawab Almeera, tapi tampak ketus dan bibirnya dari tadi sudah manyun.


"Aku minta maaf, semalam Pras yang ngajakin aku." Ucap Rendy dengan membela diri.


"Aku tahu. Aku tidak marah, lagian cuma nyanyi. Semalam kita juga duet. Mana mungkin aku bisa marah sama Mas Rendy." Balas Almeera.


"Aseem!! Aku salah ngomong. Mengko nek Almeera telfon Britney. Pras iso diamuk bojone. Sorry Pras,," Batin Rendy dan masih merayu Almeera.


(Aseem!! Aku salah bicara. Nanti kalau Almeera telfon Britney. Pras bisa di marahi istrinya. Sorry Pras,,)


Kedua orang tua dan adiknya masih di rumah Abah Ferdi. Almeera sengaja diajak jalan Rendy, untuk mencairkan suasana mereka berdua. Tapi Pras yang dijadikan biang keroknya.


Ambyaaar!!!


Di kamar sang pengantin baru, mereka berdua masih berada di hotel mewah itu. Rehan duduk di tempat tidur, dan Maeva sedang memakai lotion.


"Sayang, kamu marah sama aku?" Tanya Rehan.


"Rehan, aku tidak marah sama kamu." Jawab Maeva.


"Tapi kamu tadi diam saja. Saat makan juga tidak mau memperhatikan aku?!" Ujar Rehan.


"Rehan, aku capek. Semalam kamu pergi, aku tidak masalah, aku malah bisa tidur nyenyak." Ucap Maeva dengan santai.


"Apa maksud kamu?" Tanya Rehan, lalu mendekati istrinya itu.


"Mmmshh. Aku capek, jadi tidur lebih awal. Kamu kalau capek juga akan cepat tidur. Sama, aku capek ya tidur. Semalam kamu pergi, aku tidur nyenyak. Jadi aku tidak perlu capek bikin kamu tidur." Jawab Maeva.


Rehan masih tidak mengerti apa yang dimaksud istrinya "Aku tidak capek sayang. Aku tidak tidur."


"Iya, sekarang tidak. Tapi nanti malam, aku yang akan capek." Ketus Maeva dan beranjak pergi.


Rehan mulai tersenyum saat mendengar kata terakhir Maeva.


Hadeeeeh!!!


Sudah siang, keluarga Pras makan siang bersama, setelah tadi sholat dzuhur di Mushola perumahan.


"Budhe, terima kasih. Britney mau nambah sotonya." Ucap Britney.

__ADS_1


Pras tersenyum melihat istrinya yang makan dengan lahab.


Bapak dan Ibu mertuanya juga sangat senang melihat Britney yang tampak sehat, walaupun sedang hamil muda.


"Britney, nanti Pakde akan kesini lagi. Kamu sama Pras yang rukun. Kalau Pras nakal, bilang sama Pakde, nanti Pakde yang akan marahin suami kamu." Ucap Pakde Woko.


Britney tersenyum mendengar perkataan Pakde Woko dan berkata "Iya Pakde, Mas Pras enggak nakal, tapi suka tebar pesona. Sampai sekarang masih begitu terus."


Bapak dan Ibu mertuanya tersenyum, dan semua menatap ke arah Pras.


Pras merasa semua orang menatapnya "Bener omonganne bojoku. Aku ora nakal, aku gur sumeh."


(Benar perkataannya istriku. Aku tidak nakal, aku cuma murah senyum.)


"Mas Pras. Tebar pesona karo sumeh kui bedo yo!!" Seru Pandu yang membalas ucapan Pras.


(Mas Pras, tebar pesona sama murah senyum itu beda ya!!)


"Pandu, rasah mbok gatekke omonganne Pras, kowe mengko iso kalah." Ucap Bapaknya.


(Pandu, tidak usah diperhatikan perkataannya Pras, kamu nanti bisa kalah.)


"Memang sumeh itu apa?" Tanya Britney yang tidak mengerti.


"Sumeh itu murah senyum cah ayu." Ucap Bu'e, sambil mengelus rambut Britney yang disebelah kirinya.


(Sumeh itu murah senyum anak cantik.)


Mereka duduk di karpet dan makan bersama, Pras yang duduk disebelah kiri Britney tersenyum manis. Memang tidak salah kalau Pras murah senyum, tapi terkadang bikin orang salah prasangka.


Setelah selesai sholat ashar, keluarga besar Pak Heru pulang ke Semarang. Kakek Restu kemarin juga sangat senang, ketika berkenalan dengan Pakde Woko yang baru pertama bertemu.


Keluarga Pras juga akan datang lagi nanti, untuk acara 7 bulanan kehamilan Briney. Karena Ibu dan Bapak mertuanya, tidak mau Britney nanti capek di perjalanan, lebih baik acara 7 bulanan diadakan di Jakarta.


Sore hari di teras rumah, saat Pras berbincang dengan tetangga depan rumah. Britney di telfon Ghea dan Almeera juga tampak mengirim pesan. Maeva juga mengatakan kalau biang keroknya adalah Pras suami Britney.


"Sayang, kamu lagi apa?" Tanya Pras yang melihat istrinya sedang duduk bersandar di kursi sambil menatap layar ponsel.


"Mas, semalam kamu yang mengajak mereka semua?" Tanya Britney.


Pras tersenyum bertanya, "Aku?? Kamu bilang aku yang mengajak? Sayang, kamu lebih percaya sama mereka? Dibanding suami kamu sendiri."


"Aku percaya sama suamiku. Tapi aku juga belum menghukum suamiku, yang diam-diam pergi tanpa pamit." Jawab Britney.


"Ya udah, sini hukum aku. Kamu mau cubit aku? Kamu mau pukul aku?" Tanya Pras.


"Gendong aku ke kamar." Pinta Britney.


Pras mau mengangkat istrinya, tapi Britney tidak mau dibopong. Maunya di gendong punggung. Pras tersenyum tengil, hukuman apa yang akan dia terima, mana bisa istrinya yang sedang hamil akan memberi pukulan kepada suaminya.


Britney bersandar di dada suaminya dan berkata "Mas, untung saja mood aku lagi bagus. Kalau tidak, semalam aku tidak akan mengijinkan kamu tidur di kamar. Aku tahu, waktu kamu keluar kamar. Tapi aku tidak peduli, lagian kamu juga bandel semalam. Udah tahu aku capek, masih saja gangguin aku."


"Terus, kamu mau hukum aku?" Tanya Pras, sambil mengecupi tangan halus istrinya.


"Iya aku hukum. Besok semua pekerjaan rumah, Mas yang kerjaain. Mas dengar sendiri tadi kata Bu'e, aku tidak boleh capek-capek." Ucap Britney dengan gemas.


"Soal itu kamu tidak perlu khawatir. Pekerjaan kamu cukup satu." Ucap Pras.


"Apa itu cukup satu?" Tanya Britney.


"Pekerjaan kamu cuma manjain aku kalau malam." Jawab Pras.


"Kamu mintanya gitu ya Mas. Mmsshh.. Enak ya Mas, He'em... Manjain. Ini sekarang aku manjain." Ucap gemas Britney sambil menggelitik suaminya.


"Sayang... sudah dong.. Haaa... Sudah... Aku geli.. sayang... Ampun.. Iya, aku salah.. Please.... Sayang!!"


Pras bukan lagi suami yang takut sama istrinya, tapi sejujurnya semalam yang tidak menikmati pesta itu cuma Pras. Britney tahu hal itu dari rekaman video yang di kirim Vava.


Karena itu Britney tidak marah sama sekali. Vava rela bergadang hanya memantau saudaranya. Lebih mengejutkan lagi bila Maeva yang akan melihat Video itu. Tapi Britney tidak membagikan video itu. Pras merasa malu saat melihat video yang berdurasi cukup panjang itu.


"Mmssh... Kalian bekerja sama??!" Tanya Pras.


"Tidak, tapi adikku tidak segan menghakimi kamu kalau kamu sampai nyakitin aku." Jawab Britney.


"Terserah kalian. Tapi aku sayang kamu. Mana mungkin aku nakal, apalagi aku mau jadi Papa." Ucap Pras sembari memeluk istrinya.


"Emms.. Tapi aku lebih percaya kamu Mas. Perasaan aku sendiri yang mengatakan kalau suami aku tidak nakal." Ucap Britney.


Pras memeluk istrinya dengan gemas.


"Aku sayang kamu istriku." Balas Pras dan tidak henti menciumi wajah istrinya.


Setelah berpesta malam Pras kembali juga begitu, diatas ranjang, tidak henti mencium gemas wajah istrinya itu, dan mengatakan kalau tadi dia pergi keluar sebentar, bersama para saudara iparnya yang nakal.


"Aku tresno karo bojoku." Ucapnya gemas.


(Aku cinta sama istriku.)

__ADS_1




__ADS_2