PANGGIL AKU MAS!

PANGGIL AKU MAS!
Pertemuan Pras & Britney


__ADS_3

Sungguh cinta yang luar biasa, perlahan datang tak disangka, di saat kedua orang sedang terluka.


Mengingat kenangan manis, pertemuan pertama dan rasanya sungguh tidak biasa.


Flashback pertemuan awal Pras dan Britney.


Sebuah pagi yang enggan menampakan sinarnya. Cuaca mendung dengan rintik gerimis membasahi sosok pemuda, yang sedang mengendarai sepeda motor menuju tempat test lamaran kerjanya.


Saat pagi yang cukup syahdu dengan rasa optimis tersirat di wajah tampannya. Pemuda itu, dengan rasa berdebar tapi tetap menampakan senyuman manis.


Degh Seeerr!!


Rambut yang tertata rapi dengan kemeja panjang putih, dasi hitam dan celana bahan hitam. Tidak lupa sepatu pantofel hitam, yang sudah sedikit basah terkena rintikan hujan.


"Deg-degkan...." Gumam pemuda tampan itu.


Mulai berjalan dengan tenang dan penampilannya juga cukup rapi.


"Bismillahirrahmanirrahim" Ucapnya dalam hati dan mengehela nafas, saat pertama kali dirinya menginjakkan kaki, di depan pintu utama kantor Restu Mandiri.


Yuuppss!!


Pemuda itu adalah Prasetya Wardana, pemuda asal Kota Semarang yang sedang mengadu nasib di Ibukota.


Pras datang pertama kali ke kantor RM, dan duduk diantara para peserta test kala pagi itu.


Sempat mengobrol dengan peserta lainnya, dan saat ini dia di panggil oleh seorang wanita, yang duduk di samping pintu masuk tempat test itu.


"Prasetya Wardana." Panggilnya.


"Iya, saya." Jawabnya, dan duduk di depan wanita yang berkacamata.


Pras memberikan map biru yang berisi fotocopy ijazah berserta CV, dan surat lamaran kerja yang tertulis rapi, serta dokumen penunjang lainnya. Tidak lupa foto berwarna ukuran 3×4, disematkan dalam dokumen itu.


Lamarannya sudah diterima dua minggu yang lalu, tapi Pras harus melengkapi data lagi sebelum test di laksanakan.


Hari ini adalah test tertulis untuk seluruh pelamar kerja yang dipanggil berdasarkan hasil seleksi awal. Bila pelamar pekerja lulus seleksi test ini, akan segera di wawancara, sesudah jam makan siang.


Pras masuk ke ruangan yang cukup luas, ada sekitar 20 orang di dalam ruangan itu.


Pras dengan tenang, mulai mengisi data diri. Kemudian Pras mulai mengerjakan beberapa lembaran soal, yang sudah disiapkan oleh team penyeleksi.


Sekitar hampir dua jam, Pras menyelesaikan test tertulis itu. Semua perserta seleksi juga cukup tenang, dan mereka juga menyelesaikan tepat waktu.


"Saya Prasetya." Ucapnya, ketika ada laki-laki yang bertanya namanya.


Pras mengobrol dengan teman barunya itu. Cukup dekat dan tidak kaku, walaupun cara bicara Pras masih terlalu logat jawa, dan belum terbawa arus bahasa khas Ibukota.


"Prasetya gabung sini."


"Haii..."


"Sini duduk, kenapa bengong!"


Masih banyak lagi suara yang memanggilnya, untuk mengajak duduk bersama. Beberapa gadis dan pemuda dengan penampilan rapi, duduk di kursi.


Yuuuhhhuuu!!


Mereka sedang makan di kantin kantor RM.


"Iya,..." Jawab Pras, setelah itu meletakan piring dan botol minum yang dia pegang, lalu menggantungkan tas ranselnya di sisi kursi.


Pras dengan kepolasannya, dan masih merasa aneh saat itu, mungkin belum terbiasa saja.


"Kenapa loe masukin lamaran di kantor ini? Loe bisa jadi programer." Tegur salah salah satu gadis, yang ada di meja panjang itu. Karena mereka membahas jurusan kuliah mereka masing- masing.


"Gue, masukin lamaran ke banyak perusahaan. Terus kemarin dapat telfon dari kantor ini." Balas Pras dan ngomongnya medok.


Jam siang!!


Memang disengaja oleh para atasan, untuk melihat para peserta test seleksi karyawan baru.


Sosok anggun dan menawan berjalan melewati mereka yang sedang makan siang. Semua mata tertuju padanya, apalagi yang baru melamar kerja, dan masih menjalani tahapan seleksi.


"Siang Bu Britney." Sapa salah satu karyawan, yang berpapasan dengan wakil direktur RM.

__ADS_1


"Iya, selamat siang." Balas Britney.


Britney bergegas mencari tempat duduk, dan terkaget saat Evan merangkulnya.


"Bang Evan, bikin kaget saja." Ketus Britney, lalu menuju ke kursi dan mengambil krupuk kulit yang ada di meja panjang itu.


"Hemmss... Cuma gitu aja kaget?!!" Ujar Evan.


"Gimana enggak kaget, aku pikir..." Ketus Britney.


"Pikir siapa? Hayo... Bram? Iya?" Ledek Evan.


Memang saat itu, Britney masih berbunga dengan pria yang bernama Bramastha.


"Apasih, suka deh bikin mood aku anjlok." Kesal Britney.


"Anjlok apa menanjak?? Hemms!!! Britney, kamu mau makan apa?" Tanya Evan, seraya tadi masih menggoda adiknya.


"Aku mau makan nasi rendang." Ucap Britney, dan Evan segera memesankan makan siang Britney.


Di bangku ujung, beberapa yang berpakaian putih hitam itu, tidak mengalihkan pandangannya pada Britney. Mereka bahkan sudah kepo, dan mencari tahu tentang Britney, tapi Pras hanya mendengar saja dan tidak ingin tahu apapun.


Setelah jam makan siang. Peserta test sudah mendapatkan hasilnya. Hanya 7 peserta yang lulus seleksi, dan akan segera di wawancara.


Pras tersenyum manis saat melihat hasilnya.


Mereka bertujuh kembali ke tempat test seleksi, Pras masih menunggu gilirannya.


"Prasetya Wardana." Panggil wanita berkacamata, dan menyuruhnya masuk.


Degh Seerr!!


Pras berusaha tenang, dan tatapannya cukup fokus.


Saat itu ada team penguji, dan juga ada Britney.


Britney hanya menyaksikan, seperti apa hasil test dan wawancara para pelamar kerja itu.


"Prasetya Wardana, kamu baru lulus kuliah. Nilai kamu juga cukup baik. Kenapa kamu memutuskan untuk melamar kerja di kantor Restu Mandiri?" Tanya seorang pria dari team penguji, setelah tadi banyak pertanyaan yang detail tentang masalah pekerjaan.


"Menguji nasib??" Tanya pria itu lagi dengan santai.


"Iya, menguji nasib saya. Saya datang ke Jakarta baru 2 minggu yang lalu. Saya langsung memasukan lamaran kerja saya ke beberapa perusahaan. Salah satunya Kantor Restu Mandiri. Kemudian saya bisa disini, atas panggilan dari kantor Restu Mandiri. Ini wawancara kerja saya yang pertama." Jawab Pras dengan polos, tanpa basa basi dan jujur apa adanya.


"Cukup menarik, kamu masih sangat muda. Kamu masih harus mencoba beberapa pengalaman lain. Kalau kantor ini tidak bisa menerima kamu, berarti kamu akan menambah pengalaman wawancara kerja kamu, bukankah begitu saudara Prasetya Wardana." Ucap jelas pria berkacamata itu, sedikit mengerutkan dahinya.


"Benar sekali. Kegagalan juga sebuah pengalaman yang berharga dan menuju peluang yang ada. Bila saya tidak diterima di kantor ini, pasti ada sisi baik untuk menambah pengalaman dan juga wawasan saya." Balas Pras.


"Kamu dari tadi cukup gigih dan tidak basa basi. Bagus!! Kamu tunggu saja hasilnya dari kami. Semoga kamu berhasil." Ucap jelas pria penguji itu.


"Baik..., terima kasih." Balas Pras.


Tidak hanya itu saja, Pras cukup humoris saat seorang wanita dari HRD menanyakan tentang gaji, kelayakan kerja dan masalah pribadi Pras.


Britney menutup mulutnya dan tersenyum saat mendengar jawaban Pras soal pribadinya. Pras hanya sekilas melihat Britney yang terkikih.


Dua hari kemudian.


"Nasibku lagi mujur, aku sido kerjo neng kene." Gumam Pras dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor RM.


(Nasibku baru baik, aku jadi kerja di sini.)


Satu jam kemudian.


Setelah berkenalan dengan rekan satu team di bagian divisi akunting. Pras diajak manager bagian team itu, untuk ke ruangan pimpinan management.


"Pagi Bu Britney, ini karyawan baru yang akan bekerja di divisi akunting." Ucap Bu Nia.


"Iya Bu Nia." Balas Britney.


Britney melepas kacamatanya, dan menatap karyawan baru itu.


"Siapa nama kamu?" Tanya Britney.


"Prasetya Wardana." Jawab Pras.

__ADS_1


"Selamat datang di kantor Restu Mandiri. Saya suka orang yang rajin, setiap bulan saya melihat kinerja karyawan saya. Jadi kamu juga harus tunjukkan kinerja kamu." Jelas Britney dengan tegas.


"Baik Bu Britney." Balas Pras, yang sudah tahu namanya walaupun tidak berkenalan. Karena Pras sudah melihat struktur dewan kerja dan para pimpinan lainnya.


Bu Nia juga sudah menceritakan tentang wakil direktur itu. Jadi Pras dengan sendirinya menyebut nama Bu Britney.


Britney sendiri juga baru menjabat wakil direktur sekitar dua tahun yang lalu. Itu juga memakan waktu dan proses yang panjang, walaupun RM adalah perusahaan keluarganya sendiri.


"Bagus kalau kamu cepat menyesuaikan diri. Selamat untuk kamu, silahkan bekerja." Ucap akhir Britney, setelah cukup mengenal dan memberikan intruksi kepada karyawan barunya itu.


"Baik Bu Britney, terima kasih. Saya permisi dulu." Balas Pras dengan tenang dan kembali ke ruangannya.


Britney kembali memakai kacamata, dan menatap layar laptop yang ada dihadapannya.


"Pemuda yang manis." Gumam Britney, dan kembali fokus dengan pekerjaannya.


Pras tersenyum saat berjalan ke ruangannya "Bu Bos yang menawan, cantik juga." Batin Pras.


Yayaya...


Sebenarnya perkenalkan mereka cukup ada kesan manis. Tapi tetap saja, hanya sebuah kekaguman yang wajar. Pras memang pemuda yang manis, dan Britney memang bu bos yang cantik.


Kedua orang itu tetap saja tidak saling dekat selama bekerja. Pras yang sopan dan hanya menyapa sebatasnya saja. Layaknya bawahan ketika bertemu atasannya.


Begitu juga Britney yang membalas sapaan karyawannya, dengan sikap profesional dan menawan.


Semua itu sekitar satu setengah tahun yang lalu, mereka berdua memang hanya atasan dan bawahan saja. Tidak ada yang special, tidak ada hal menarik diantara mereka berdua.


Hemmss!!


Tapi setelah kejadian malam minggu kecelakaan itu, semua alur kehidupan mereka berubah. Kedua insan yang kaku saat bertemu, menjadi saling kenal dan perlahan jadi dekat, dan semakin tercipta rasa diantara mereka berdua.


Suasana setelah terjalin ikatan cinta membara.


Pagi hari setelah kemarin jalan-jalan sore.


Di ruangan kerja.


"Mas...." Panggil Britney.


"Bu Britney, kita sedang di kantor." Balas Pras.


"Mas.. Kamu??!" Ketus Britney.


"Bu Britney sebaiknya bekerja. Saya sedang menyelesaikan pekerjaan saya." Ucap Pras.


"Kesel deh, aku beneran di cuekin. Awas saja nanti kalau di rumah." Batin Britney.


Pras memandangi istrinya dari meja kerjanya. Pras tersenyum dan berfikir semua ini cukup menarik.


[Sayang... Tahan ya! Aku kerja dulu 😘.]


Britney membaca pesan suaminya yang menjengkelkan. Britney menatap suaminya dengan rasa kesal.


Pras pura-pura tidak melihat istrinya.


[Mas, awas!! Nanti malam, kamu tidur peluk guling aja. Hufft. 😏]


[Sayang, jangan ngambek ya. Bu Bos aku lagi sensi. Nanti aku kena marah lagi, aku harus menyelesaikan perkerjaanku. Oke. 😘😘😘 ]


Britney semakin kesal, dan suaminya benar-benar membuatnya jengkel. Britney keluar dari ruangannya.


Pras berjalan mendekati meja kerja istrinya, dan menyelipkan sesuatu yang manis.


Tidak lama Britney kembali dengan cangkir yang dipegangnya. Britney ternyata dari pantry dan membuat secangkir kopi.


"Buat suamiku, yang sibuk bekerja." Ucap Britney dan kembali ke tempatnya.


Pras tersenyum dan memimun kopi yang dibuatkan istrinya.


"Uuh... Panas. Ini sengaja??!!" Desis Pras, yang biasanya dibuatkan kopi capuccino hangat.


Britney melihat selipan kertas di atas mejanya. Setelah membaca isi tulisan itu, Britney tersenyum menatap suaminya, yang saat ini telah merasakan lidahnya kepanasan.


"Sorry Mas, kamu juga tidak sabaran. Kenapa tidak ditiup dulu." Gumam Britney dengan tersenyum.

__ADS_1



__ADS_2