
Sseeett!
Dua mobil sudah terparkir di halaman rumah kakek Restu. Britney melepas seatbeltnya dan Pras mematikan mesin mobil yang ia kendarai. Britney keluar lebih dulu, membuka pintu belakang dan kedua orang tua Pras turun dari mobilnya.
Di mobil yang dikemudikan Pandu, mereka juga semua turun. Mereka mendekati Britney dan Pras.
"Iki omahe simbahmu?" Tanya Putri.
(Ini rumah kekekmu?)
"Iya, mbak Putri. Mari masuk." Ucap Britney.
Sebelum keluarga Pras sampai di rumah itu, Britney sudah telfon Vanesa lebih dulu. Untuk memberi tahu, akan kedatangan tamu istimewa dari Semarang.
Vanesa ternyata sudah berdiri di depan pintu rumah. Vanesa dengan ramah menyambut keluarga Pras dan kakeknya juga keluar untuk menyambut besannya.
Kakek Restu dengan ramah mengajak keluarga besannya ke ruang keluarga.
"Mari silahkan duduk. Begini keadaan kami." Ucap Kakek Restu yang tidak henti tersenyum.
Semua duduk di ruang keluarga, Vanesa sudah menyiapkan minuman dan juga kue, Britney sudah mengatakan kalau keluarganya semua muslim. Britney meminta Vanesa untuk memesan di outlet halal.
"Bapak Heru, Ibu Ningsih, silahkan minum. Ini seadanya. Tadi Britney bilangnya juga mendadak. Untung saya sedang ada di rumah." Vanesa tersenyum.
"Ini, lebih dari seadanya bu Vanesa. Malah semuanya ada di meja ini." Bu'e tersenyum.
Mereka semua minum dan memakan kue, karena Vanesa dari tadi tidak henti menawari mereka semua. Apalagi ke Pandu dan Pamela, Vanesa selalu menyodorkan botol minuman dan beberapa jenis coklat.
"Begini, Pak Restu, Ibu Vanesa. Saya dan keluarga datang kemari, ingin bersilaturahmi dan ingin mempererat keluarga. Saya sebagai orang tua dari Prasetya, mohon maaf atas kekurangan anak kami." Ucap Bapak Pras dan semua menatapnya.
Nyeesss!
"Saya senang keluarga Pak Heru, jauh-jauh dari Semarang berkenan datang kemari. Karena saya sudah tua Pak Heru. Saya juga bilang sama Vanesa, agar nanti berkunjung ke Semarang bersama keluarga Ferdi. Setidaknya untuk mengenal keluarga besan. Kalau soal Prasetya, saya sudah mendengar banyak dari Ferdi anak saya. Waktu pertama bertemu Prasetya, saya yakin dia adalah suami yang baik untuk cucu saya. Sebagai orang tua, saya hanya mendo'akan mereka, agar selalu diberi rahmat Tuhan dan berlimpah kebahagiaan." Ucap Restu dengan tersenyum.
Yuupss!!
Masih banyak lagi obrolan para orang tua. Tibalah, sang tuan putri belia turun dari lantai dua dan mengenakan dress warna putih.
Vava menyalami semua keluarga Pras. Kecuali Pras yang dianggap tidak ada dihadapannya.
__ADS_1
"Iya, ini anak saya. Masih SMA." Ucap Vanesa, lalu mengajak Vava duduk disampingnya.
Britney mencoba mengenalkan Pamela dengan Vava, mereka akhirnya mengobrol, bahkan Vava mengajak Pandu dan Pamela mengelilingi rumah kakek Restu.
Vava cukup ramah dengan mereka, awalnya Pamela kaget, dengan gaya bicara Vava yang elo gue elo gue. Pandu tersenyum, dan mereka cukup akrab.
Putri dan Candra juga tampak akrab dengan Vanesa. Bahkan Vanesa memberi satu set bodymist hasil endorse. Putri dengan senang hati menerimanya. Vanesa tahu Putri akan segera menikah dan Vanesa berjanji akan menghadiri pernikahan Putri dan Candra nanti, bahkan Vanesa ingin bernyanyi lagu campursari.
Setelah dua jam di kediaman kakek Restu, mereka pamit dan dengan berat hati kakek Restu juga Vanesa membiarkan mereka pulang.
Vanesa sebenarnya ingin mereka semua menginap satu malam, apalagi jauh-jauh dari Semarang. Vanesa kurang puas rasanya berbincang dengan mereka semua.
Mereka hendak ke rumah Ferdi yang ada di kawasan Depok. Tepatnya di Perumahan Raflessia Residence. Hampir satu jam perjalanan dari rumah kakek Restu. Kecuali macet bisa dua jam. Tapi hari ini tidak terlalu macet, jadi lebih cepat sampai.
Sesampainya di rumah Ferdi. Evan sudah lebih dulu berdiri di pagar rumah untuk mencarikan tempat parkir. Karena rumah Ferdi halamannya tidak luas. Hanya bisa untuk dua mobil, dan itupun sudah dikeluarkan Evan, agar tidak menghalangi tamu saat hendak masuk ke dalam rumah.
"Mari silahkan masuk." Ucap Evan, setelah tadi berkenalan.
Sarah dan Ferdi juga sudah di depan pintu rumah, mereka sangat senang dan Sarah langsung memeluk ibunya Pras.
"Monggo Pak Heru, Bu Ningsih." Ucap Ferdi.
Ferdi menyambut keluarga besannya dengan sangat ramah dan terasa akrab.
"Owh... Kowe mau ora ngomong." Ucap Ibunya.
(Owh... Kamu tadi tidak bilang.)
"Terima kasih Pak Ferdi, Bu Sarah. Putra saya ini juga banyak kekurangan." Ucap Ibunya.
Karena dari tadi Sarah dan Ferdi selalu memuji Prasetya.
"Pras orang yang baik dan sholeh. Saya sangat yakin, kalau saya tidak salah memilih Pras untuk putri saya." Ucap Sarah.
"Iya, Bu Sarah, waktu Pras bercerita saya kira bercanda. Karena Pras itu terkadang suka bercanda. Tapi setelah mendengar ceritanya, saya jadi terharu. Kami semua bahagia, melihat anak kami sudah menikah. Kita sebagai orang tua, hanya merestui dan memberinya do'a." Ucap Bapaknya Pras.
"Kalau Maeva akan menikah bulan depan dan Evan juga dua bulan lagi, saya senang akhirnya harapan saya tahun ini memiliki menantu terwujud." Ucap Ferdi.
Jam Siang
__ADS_1
Banyak perbincangan mereka semua. Tanpa terasa waktu dzuhur telah tiba. Mereka semua ke Masjid Nur Falah. Keluarga Pras jadi tahu, tempat dimana Pras dan Britney saat melangsungkan akad nikah.
Setelah dari masjid, Sarah mengajak keluarga Pras untuk makan siang bersama. Sarah dari pagi sudah menyiapkan berbagai hidangan. Akhirnya keluarga besar berkumpul makan bersama di ruang makan.
Pras tampak memperhatikan Ibunya dan Britney memperhatikan Bapak dan juga saudaranya. Maeva tampak manis dan tanpa banyak berkata.
Selama tiga jam mereka disana untuk saling mengenal dan banyak yang diperbincangkan. Keluarga Pras akhirnya pamit, karena nanti masih harus perjalanan jauh.
Mereka kembali ke hotel. Candra dan Pandu harus tidur. Sedangkan Bapak Ibunya masih berbincang dengan Pras di kamar. Britney tampak asyik dengan Pamela dan juga Putri. Mereka bertiga membahas nanti acara pernikahan Putri. Bahkan Putri sudah menyiapkan kain seragam untuk dibuat kebaya. Kainnya akan segera dijahitkan dengan model kebaya kutubaru.
"Nggeh Pak, Pras ngertos." Ucap Pras karena dia mendapat beberapa nasehat dari Bapaknya.
(Iya Pak, Pras mengerti.)
"Kowe kudu dadi imam sing tanggung jawab. Ojo mergo bojomu manut karo kowe, kowe rumangsa dhuwur. Sesok ndang golek omah, mesakke bojomu. Kowe ora usah gengsi karo bapakmu." Ucap Bapak, karena Pras selalu mengelak atas pemberian bapaknya.
(Kamu itu harus jadi imam yang tanggung jawab. Jangan karena istri menurut sama kamu, kamu merasa tinggi. Besok cepat cari rumah, kasian istrimu. Kamu tidak perlu gengsi sama bapakmu.)
"Pras saget piayambak. Bapak mboten sah repot." Ucap Pras.
(Pras bisa sendiri. Bapak tidak perlu repot.)
"Opo kowe arep urip neng kost terus?" Tanya Bapak.
(Apa kamu akan hidup di kost terus?)
"Mboten, Pras sampun pados griyo. Mengke nggeh saget. Bapak Ibu mboten sah mikirke Pras.".
(Tidak, Pras sudah cari rumah. Nanti juga bisa. Bapak Ibu tidak perlu mikirin Pras.)
"Uwis Pak, awak'e dewe percoyo wae karo Pras." Ucap Ibu dan Bapaknya diam.
(Sudah Pak, kita pecaya saja sama Pras.)
Pras juga terdiam, dari awal niat merantau ke ibukota, Pras tidak ingin menyusahkan kedua orang tuanya.
"Cah bagus, kowe dadi imam. Ojo lali ngibadah, sing sregep sholate, bimbing bojomu. Bu'e percoyo kowe iso dadi wong sukses." Ucap Ibunya lalu memeluk Pras.
(Anak tampan, kamu jadi imam. Jangan lupa ibadah, yang rajin sholatnya, bimbing istrimu. Ibu percaya kamu bisa jadi orang sukses.)
__ADS_1
Setelah itu, sore tiba. Keluarga Pras berangkat pulang ke Semarang. Pras tampak merenungkan nasehat kedua orang tuanya.