PANGGIL AKU MAS!

PANGGIL AKU MAS!
Hadir Dengan Rasa Cinta


__ADS_3

...🥀Hadir dengan cinta mengobati luka,...


...Hati yang terluka perlahan berubah rasa. 🍂...


Sosok manis itu menatap Vava, gadis jutek yang duduk bersandar di sofa, Vava sudah pulang dari rumah sakit, dan sekarang ada di apartemen yang di sewa Vanesa. Vava membaca sebuah novel dan tatapan Nicholas dari tadi hanya tertuju padanya.


"Kenapa lihatin gue begitu? Gue udah sehat. Loe buruan balik sana ke Jakarta." Ujar Vava dengan tatapan tidak senang. Dari dulu selalu bersikap kasar dengan sahabat dekatnya itu. Tapi Nicholas, tidak pernah membalas semua perkataan pedasnya.


"Gue mau disini dulu. Sampai loe bisa lupain Jonathan." Balasnya dengan senyuman imutnya. Nicholas usianya lebih tua dua bulan dari Vava. Tapi wajahnya itu sangat menggemaskan, dan sepertinya tidak berubah, masih tetap baby face.


Vava yang tadinya duduk akhirnya beranjak berdiri dari sofa, dan bergegas pergi meninggalkan ruang tamu. Nicholas tersenyum manis melihat tingkah Vava yang tidak berubah. Masih seperti dulu, saat Vava selalu bersama dirinya. Mengingat masa SMA itu, masa yang paling manis.


"Loe bisa berubah manis di hadapan Jonathan, tapi kalau sama gue. Loe nggak berubah. Gue suka itu. Vava, loe nggak akan bisa jauh dari Gue." Gumamnya dengan percaya diri.


Vanesa sedang berbelanja dan ditemani Evan, Vava masih ingin sang Mama ada di Jerman untuk menemaninya, jadi Evan akan segera kembali lebih dulu ke Jakarta, bersama Nicholas.


Dassh!!


Lengan yang tampak berotot tapi manis, sungguh mengaggetkan Vava. Nicholas tampak bersandar lemari dapur, dengan lengan tangan tampak manis itu sudah menopang kepalanya dan senyuman Nicholas sangat manis sekali.


"Loe ngapain ngikutin gue??" Tanya Vava yang tadi membuka kulkas. Setelah menutup pintu kulkas melihat mata Nicholas sudah berbinar.


Nicholas dengan tersenyum berkata "Gue jagain loe, gue udah janji sama Mama Vanesa, buat jagain loe."


Sangat percaya diri, kedua tangannya berpindah masuk ke dalam kantong celana, dan menunduk dengan senyuman.


Vava tampak menggeleng dan bertanya "Loe bilang apa barusan? Mama? Mama Vanesa? Gue nggak salah denger?!" Vava dengan ketusnya dan sangat tidak percaya dengan apa yang baru saja Nicholas ucapkan.


Kreesssh!


Vava dengan geram, tangan kanannya yang memegang buah apel, dan langsung menggigit apel hijau itu dengan keras. Tatapan mata Vava sangat dingin, dan menyeramkan.


Dengan gaya yang sok cool, Nicholas berdiri menatapnya. Wajah itu sangat dekat. Lalu dia berkata "Iya Mama, Mama mertuaku."



Huuggkh! Uuhuugkh! huugkh!!


Mendengar kata-kata Mama mertua, Vava jadi tersedak. Nicholas dengan segera mengambil minuman yang ada di dekatnya. Tangan Nicholas begitu cekatan, saat menuang air minum dari teko kaca.


Vava mulai minum dari gelas yang ada ditangan kanan Nicholas, dan tangan kiri Nicholas menepuk-nepuk pelan punggung Vava.


"Kamu bikin aku khawatir." Ucap Nicholas dengan santai. Vava semakin tersedak, saat mendengar kata kamu.


Mata dengan tajam memancarkan kilat yang dahsyat dan sangat geram.


"Nicholas, Loe bikin gue kesel." Ujar Vava.


"Vava, aku serius. Aku akan menjaga kamu." Ucap Nicholas dengan senyuman khasnya, yang begitu unyu dan menggemaskan.


"Hufft. Loe mending buru-buru pulang sana, dan jangan bikin gue semakin kesal." Balas Vava, lalu pergi begitu saja.


Nicholas tidak berhenti sampai disitu saja, tangan itu menarik Vava dengan cepat. Vava yang sudah berjalan, akhirnya badan itu berbalik dan mulai ada dalam dekapan Nicholas.


"Vava, aku serius. Aku sayang kamu. Aku cinta sama kamu." Nicholas tampak serius, Vava diam dalam pelukannya dan tidak tahu apa yang harus dia katakan. Tangan kanan Nicholas, mengelus lembut rambut pendek Vava.


Vava hanya cemberut, bibirnya tampak manyun dan tidak ingin larut dalam dekapan Nicholas. Vava berusaha pergi dan mendorong Nicholas begitu saja. Tapi Nicholas masih memeluknya dengan erat.


"Vava, aku serius. Aku mohon, percaya sama aku. Aku tidak akan menyakitimu. Vava, tolong terima perasaan aku." Ucap Nicholas dengan pelan, tapi sangat memaksa.


Di tempat lain yang jauh dari Vava dan Nicholas. Papa muda yang tengil sedang bekerja, tampak duduk di kursi hitam dan menatap layar monitor. Di tempat Pras saat ini sudah jam sore, tapi dia masih kerja.


"Mas, rasah ngongso." Ujar Pandu yang tersenyum dan seolah mengejek kakaknya.

__ADS_1


(Kak, jangan memaksakan diri.)


"Sopo sing ngongso? Kowe ngekei aku gayang akeh eram. Alishba wis telfon wae." Ucap Pras yang masih sibuk mengeroksi pekerjaan para karyawannya dan Pandu hanya menatapnya.


(Siapa yang memaksakan diri? Kamu kasih aku pekerjaan banyak sekalu. Alishba sudah telfon saja.)


"Yowes ndang mulih. Tak rampungke. Kowe terimo beres, tapi bonusnya tambah neng kantongku." Ucap Pandu dengan bercanda.


(Ya sudah cepat pulang. Aku selesaikan. Kamu terima beres, tapi bonusnya tambah ke kantongku.)


"Wegah, kowe balino disik. Aku malah ora rampung, nek kowe neng kene terus." Ujar Pras.


(Tidak mau, kamu pulang duluan. Aku malah tidak selesai, kalau kamu ada disini terus.)


"Yowes, aku bali disik. Iso makan malam karo Rahma neng Hotel." Ucap Pandu dengan gemas.


(Ya sudah, aku pulang duluan. Bisa makan malam sama Rahma di Hotel.)


"Gayamu koyo sultan. Anakmu susune entek ora mbok pikir." Ujar Pras dengan santai.


(Gayamu seperti sultan. Anak kamu susunya habis tidak dipikir.)


"Soal kui gampang, pisan-pisan ora masalah, ngejak bojo dinner neng Hotel." Ucap Pandu.


(Soal itu mudah, sesekali tidak masalah, ngajak istri dinner di Hotel.)


Pras menatap Pandu dan berkata "Pandu, adikku yang paling ganteng seperti Nakula, cepat cari asisten tambahan, biar Bu'e bisa ke rumahku. Aku tahu anakmu kembar, lebih diperhatikan Bu'e. Tapi aku mau Bu'e gantian ke rumahku."


"Siap Mas Pras, tapi bonusku ditambah ya. Pakde Pras pasti sayang sama ponakannya." Ujar Pandu dengan gemas dan seraya merayu.


Pras masih menatapnya dan Pandu bangkit dari kursi yang ada di hadapan meja kerja Kakaknya.


"Jangan lupa, besok antar Bu'e ke rumahku." Ujar Pras dengan tengil, tapi cukup serius dengan Pandu.


Sudah sebulan Bu'e di rumah Pandu, karena istri Pandu baru melahirkan anak kembar. Dua anak laki-laki kembar, sangat tampan dan gemas. Dua tahun yang lalu, Pandu menikahi Rahma, adiknya Rendy. Anak pertama mereka ternyata kembar, seperti anaknya Om Satria yang memiliki anak kembar cowok. Keturunan dari Bu'e memang ada gen kembar. Jadi wajar, pasti anak yang menuruni gen kembar itu.


"Aku yo kangen Bu'e. Anakne lanang emange gur Pandu Pradipta, Prasetya Wardana iki yo anake Bu'e." Gumamnya tengil, dan kembali menatap layar monitor.


(Aku juga anaknya Ibu. Anaknya laki-laki memangnya cuma Pandu Pradipta, Prasetya Wardana ini juga anaknya Ibu.)


Ruang kerja dengan konsep minimalis modern dan bernuansa warna abu-abu muda. Pras sendiri yang mendesain ruang kerjanya itu, sekitar satu tahun yang lalu, setelah kantor RM cabang itu direnovasi.



Jam pulang kerja, sudah lebih dari jam 7 malam, setelah sholat isya' Pras baru pulang dan jalanan ibukota malam ini sangat macet, mobilpun jalan merayap.


Jenis musik barat menemani perjalanan Prasetya malam ini, ponsel bergetar sang putri kecil telah memanggilnya.


"Assalamu'aikum Papa." Ucapnnya, dengan suara gemas.


"Wa'alaikumsalam sayangnya Papa." Balas Pras, dan masih dalam kemacetan.


"Papa pulang?" Tanya Alishba dengan singkat.


"Iya, ini Papa jalan pulang. Tapi macet, jadi Papa sampai rumah bisa malam." Jawab Pras, dengan santai dan mulai bertanya tentang putri kecilnya "Sayang, kamu sudah makan?"


"Alishba belum makan. Alishba nungguin Papa." Jawab Alishba dengan kencang.


Pras tersenyum dan berkata "Sayang, kamu makan dulu sama Mama. Papa masih lama sampainya. Nanti kamu ngantuk kalau nungguin Papa."


Alihsba berkata "Iya Papa Alishba makan duluan. Papa hati-hati, Alishba sayang Papa."


"Iya, Papa juga sayang banget sama Alishba. Ya udah, Alishba makan duluan sama Mama." Ucap Pras dengan suara yang manis, dan benar-benar sangat menyayangi putri kecilnya.

__ADS_1


"Iya Papa." Ucapnya dengan senang dan sangat unyu suaranya, setelah salam, panggilan itu juga terputus.


Pras dengan gemas, ternyata sang istri juga sudah mengirimnya pesan. Alishba memiliki nomor khusus untuk menghubungi Papa, Mama dan semua keluarga besarnya. Alishba juga gencar menghubungi Vava. Terkadang Alishba berbicara bahasa Inggris bukan pengaruh youtube melainkan dari Vava dan sang Mama yang sering mengajak Alishba untuk berbahasa Inggris.


"Sayang, Papa bilang apa?" Tanya Britney, yang mendekati sang putri kecil itu.


"Papa kejebak macet." Jawab Alishba, dengan suara kencang dan meletakan ponselnya.


Britney tampak menggeleng melihat tingkah anaknya, yang semakin hari sangat mirip dengan sepupunya yang bernama Maeva Fahrani.


"Papa bilang, Alishba harus makan duluan sama Mama. Kata Papa, nanti sampai rumah malam." Ucap Alishba yang mulai duduk di ruang makan.


Britney dengan gemas menyiapkan makan malam untuk Alishba. Biasanya Alishba selalu bersama Pras, ketika tidak padat pekerjaannya. Dari berangkat sekolah dan setelah selesai sekolah. Sang Papa yang menjemput Alishba di TK swasta ternama, yang di daerah Jakarta Selatan.


Sekolah seperti tempat penitipan, karena dari pagi jam 8 sampai sore jam 4. Alishba dulu juga ada suster yang menjaganya, tapi setelah Alishba sekolah, suster itu pindah ke apartemen Maeva dan mengurus anaknya Maeva.


"Sayang, makannya dihabiskan. Kenapa? Apa Alishba tidak suka?" Britney dengan gemas dan tangannya mengelus rambut Alishba.


"Nggak ada Papa. Alishba tidak enak makan." Ucapnya dan tampak sendu.


Beberapa hari hanya dengan Papa. Pras sangat memanjakan anaknya dan menuruti semua kemauan anaknya, ketika sang Mama tidak di rumah. Pras mengajak makan di luar dan Britney tidak tahu hal itu.


"Sayang, memangnya selama Mama nggak di rumah, Alishba makan apa? Papa beli apa buat Alishba?" Tanya Britney, yang menatap putri kecilnya.


Alishba tidak pandai berbohong, tapi sang Papa sudah bilang. Kemanapun Papa mengajak jajan Alihsba, tidak boleh bilang Mama. Kata-kata itu masih terngiang di kepala kecil Alishba.


Britney itu sangat disiplin kalau soal makanan untuk Alishba, Mamanya sangat mengatur agar makanannya sesuai gizi dan kebutuhan vitamin anaknya.


"Alishba jajan. Papa ngajak Alishba jajan. Malam... Papa ngajak Alishba pergi di nasi goreng, pecel ayam, dimana-mana." Jawab Alishba dengan senang dan sangat ceria, menceritakan semua tempat yang dia kunjungi dengan sang Papa.


Britney yang mendengar hal itu tampak tersenyum. Britney mulai menggendong anaknya, mengajak ke kamar, dan Alishba masih bercerita banyak, tentang apa saja yang dia kerjakan dengan Papanya.


"Tapi Alishba kangen Mama." Ucapnya, dengan cemberut dan kedua tangan kecilnya menyentuh pipi cubby Mamanya.


"Mama juga kangen banget sama Alishba. Mama janji, nggak akan pergi-pergi tanpa Alishba dan Papa." Ucap Britney, lalu memeluk putri kecilnya.


Britney mulai membacakan sebuah buku cerita, dengan gemas Alishba tertawa, saat melihat ekspresi sang Mama yang berakting, sesuai isi buku cerita itu.


Hampir dua jam, Pras baru tiba dengan rasa lelahnya.


"Papa. Papa." Teriak Alishba, yang berlari dan menuju teras depan rumah, dengan senang menyambut kedatangan Papanya.


Pras yang sudah memarkirkan mobilnya, keluar dengan senyuman manis. Rasa jenuh dan lelah dalam perjalanan, sudah tergantikan rasa bahagia ketika melihat keceriaan putri kecilnya.


"Ems.... Sayangnya Papa belum bobok." Ucap Pras, yang sudah menggendong anaknya dan dengan gemas menciumi pipi Alishba.


"Alishba nungguin Papa dulu." Balasnya, dengan suara yang imut dan menggemaskan.


Britney tampak sedang menerima telfon dari seseorang. Pras melihat istrinya, yang cukup serius saat berkomunikasi.



Hallo semuanya, gimana kabarnya?


Mohon maaf, updatenya tidak menentu, semoga kalian suka.


Terima kasih untuk Like, Komentar dan Vote yang sampai sekarang masih aktif kalian berikan. 🥰😘


Semoga sedikit cerita ini mengobati rasa rindu kalian sama Mas Pras, Britney dan juga Alishba. 🥰.


Nantikan lanjutan ceritanya ya.... 🤭🤗


Matur nuwun🙏

__ADS_1


__ADS_2