
Sosok berparas sexy dan berjalan dengan anggun, sangat menawan dan memikat. Memakai pakaian bewarna merah, terlihat sangat cantik. Apalagi dia memakai kacamata coklatnya. Berjalan menarik koper silver dan menatap ke arah depan, perlahan dia melambaikan tangan kanannya.
"Mama. Mama." Teriak dengan suara melengking, berlari ke arah sang Mama. Sudah lama tidak bertemu, dan inilah waktunya merajut rindu sang putri kecilnya.
Setelah kurang lebih 16 jam perjalanan, Britney tiba di Bandara Internasional yang ada di Jakarta dengan selamat. Tersenyum manis dan mencium putri kecilnya, memeluknya dengan erat dengan perasaan rindu menggebu, perlahan mulai terobati.
"Mama kangen banget sama Alishba." Ucap Britney, yang tidak henti menciumi wajah mungil itu.
Pras masih berdiri di samping istrinya yang cantik itu. Tangan kirinya memegang koper istrinya, dan Britney tidak peduli dengan sekelilinginya. Britney yang berjongkok perlahan berdiri dan sudah menggedong Alishba.
"Mas, aku kangen." Ucap Britney.
Pras mencium kening istrinya, lalu berkata "Kita pulang dulu. Enggak enak sayang-sayangan di tempat umum."
Dengan gaya Pras yang tengil, dan gemas. Mulai memeluk istrinya dan mengelus rambut Britney mencium lagi kening istrinya.
"Mas." Sang istri sudah bertemu, bukannya terobati rasa rindunya, tapi semakin menjadi-jadi.
"Sayang, ayo kita pulang." Ucap Pras dan mulai berjalan.
"Mas, kamu bikin aku gemas." Bisik Britney saat berjalan di sebelah kanan suaminya. Alishba masih dalam gendongan Britney disisi kanan.
"Sayang, kamu tahu. Aku lebih merindukanmu. Jadi, kamu harus pintar-pintar mengatur waktu untuk Alishba." Bisik Pras dan sang istri pura-pura tidak mendengarnya.
Pras dengan senyuman merekah, dan mulai memakai kacamata hitamnya. Papa muda itu semakin tengil saja. Begitu menawan, sungguh terlewat maksimal bagi sosok Prasetya Wardana.
Tidak heran, bila beberapa pasang mata sangat tertuju pada pasangan keluarga muda ini. Bahkan Alishba, si gadis kecil ini, juga menarik perhatian.
"Mama. Mama, Aunty Vava sembuh?" Tanya Alishba yang masih dalam gendongan Britney.
"Iya sayang, Aunty Vava sudah sembuh. Mama juga bawa boneka buat Alishba dari Kakek Angga, Nenek Zahra juga beliin baju buat Alishba." Ucap Britney dengan gemas, dan kembali mencium pipi Alihsba.
__ADS_1
"Hore, Alishba punya boneka baru." Ucapnya dengan suara ceria dan memegang wajah sang Mama. Menciumi wajah sang Mama dengan sayang dan sangat manja.
Pras melihat anak dan istrinya yang begitu gemas. Perasaan Papa muda ini, juga sangat bahagia.
Tangan kanannya meraih tangan kiri istrinya. Britney menoleh ke arah suaminya, dengan rasa rindu menggebu.
Tidak lama mereka bertiga sudah berada dalam mobil berplat B. Mobil Pejero hitam yang sangat disukai Pras, dan itu hasil keringat Pras selama beberapa tahun terakhir, cukup membanggakan dirinya. Pras bersyukur, atas segala nikmat yang ada, dan semuanya butuh proses yang panjang.
"Mas, maafin aku. Kamu pasti capek ngurus Alishba sendirian." Ucap Britney dan mengusap lembut pipi suaminya.
Pras yang menyetir mobil, dengan tengil meraih tangan istrinya dan menciumi tangan itu. Sang putri kecilnya asyik bermain boneka di kursi belakang, jadi tidak memperhatikan sikap sang Papa, yang sudah bermanja dengan Mamanya.
"Sayang, aku tidak capek. Cuma aku juga butuh kamu, kamu jangan tinggalin aku lagi. Aku susah tidur, apalagi kalau malam. Alishba sudah tidur, aku bingung mau ngapain." Ucap Pras dengan tengil dan perlahan melepas tangan istrinya, saat anaknya memanggil sang Mama.
Britney menoleh ke arah Alishba yang bermain boneka teddy bear berbulu soft pink, sangat lucu dan Alishba begitu senang.
Di negeri yang sangat jauh dari Pras dan Britney berada saat ini. Pemuda tampan dan sangat menggemaskan, terlihat duduk di sebalah ranjang pasien, sambil memandangi gadis yang tidur pulas. Sesekali tangan kanannya, mengelus rambut gadis itu dengan rasa sayang.
Sorot mata yang teduh dan penuh cinta untuk gadis yang bernama Vava.
Nicholas Madava, sosok tampan dan penggemar setia Vava. Dari usia 16 tahun, yang sudah mulai bersahabat, tapi Nicholas menyimpan sebuah cinta dan hanya untuk Vava, gadis yang dikenal arogan dan selalu suka memakinya itu. Tapi, Nicholas tetap suka, dan semakin suka.
"Vava, apa aku tidak pernah ada dalam hatimu?" Tanya Nicholas dengan suara pelan.
Di Jerman masih dini hari, masih gelap dan Vava tidur nyenyak, mana mungkin bisa mendengar suara Nicholas, yang becerita dan menanyakan soal perasaan Vava terhadap dirinya.
Setelah lulus SMA, Nicholas berkuliah di Jepang, dan cukup fokus dengan study, tidak ingin terlalu memikirkan sosok Vava. Tapi setelah pulang dari Jakarta, dan bertemu Pras beberapa waktu lalu, Nicholas akhirnya terbang ke Jerman.
Kembali ke Pras dan Britney yang masih di dalam mobil, yang menuju ke perumahan puri anggrek.
"Mas, jadi kamu yang nyuruh Nicholas ke Jerman?" Tanya Britney yang mendengar dari cerita Nicholas, saat membicarakan tentang Vava. Britney tiba di Jerman, ketika Vava masih berbaring lemah.
__ADS_1
"Aku cuma bilang sama Nicholas, kalau masih cinta, kenapa nggak ungkapin perasaannya, kenapa harus dipendam terus. Entah diterima Vava atau tidak, yang penting lega, tidak mengganjal." Jawab Pras dengan santai dan senyuman Pras sangat manis.
"Mas, harusnya cerita sama aku. Tapi aku tahu dari Nicholas." Ketus Britney dengan kesal.
"Aku sudah cerita sama kamu sayang. Waktu itu aku bilang, sayang aku di Senayan ketemu sama Nicholas, terus kamu nggak tanya macam-macam, malah sibuk ngurus kerjaan kamu. Ya, udah aku nggak cerita semuanya." Ucap Pras yang tidak mau kalah.
"Iya juga sih Mas, untung aja Nicholas ngikutin Vava waktu itu. Kalau nggak, entah apa yang terjadi. Aku juga marah sama Jo Jo, udah tahu Vava susah bujukannya, malah menduakan Vava. Om Angga tidak mau ikut campur urusan hati Vava, tapi aku kesal Mas. Jo Jo benar-benar keterlaluan." Ketus Britney.
"Jadi aku nggak salah dong, nyuruh Nicholas ke Jerman. Setidaknya Nicholas sudah lega, bisa mengungkapkan perasaannya. Tapi aku yakin, perlahan Vava juga bisa terima Nicholas. Soalnya dari awal aku lihat Jonathan, kurang respect aja." Ujar Pras dengan tengilnya.
"Ya Mas, aku juga lebih kenal Nicholas. Tapi aku juga kasihan sama adik aku Mas. Sekarang makin kurus, susah banget makannya." Ucap Britney.
"Kita sabagai Kakaknya boleh memberikan nasehat, tapi sebatas yang kita tahu aja. Selebihnya biar Vava sendiri yang buat keputusan. Makanya, kadang aku juga nggak suka kalau kamu telfon, Vava harus begini begitu, Vava sudah dewasa, pasti tahu mana yang baik dan tidak untuk dirinya sendiri. Sekarang kamu fokus sama anak kamu, semakin hari aku ingin buat adik untuk Alishba." Ujar Pras yang terkikih dan Britney menoleh suaminya.
"Mas!!! Kamu,,," Gemas Britney.
Alishba yang tadi tidak menghiraukan obrolan sang Papa dan Mamanya, akhirnya mendengar kata Mas, yang keluar dari bibir sang Mama.
"Mama. Mama. Papa bukan Mas. Papa Papanya Alishba, Papanya Alishba bukan Mas." Teriak Alishba dengan kesal.
Pras yang masih menyetir mobil, tersenyum tengil dan berkata "Iya sayangnya Papa, Papa kan Papanya Alishba, bukan Mas. Mama gimana sih, ini Papanya Alishba, kenapa Mama bisa lupa sama Papa."
Britney dengan gemas dan mulai meredam kekesalan Alishba.
Hallo semuanya, maaf hanya secuil kisah Mas Pras yang bisa di update hari ini.
Semoga kalian suka, othor masih di kampung halaman, jadi belum maksimal nulisnya.
Nanti othor usahakan, membuat cerita yang lebih menarik lagi. ✌🤩🤗😘
__ADS_1