PANGGIL AKU MAS!

PANGGIL AKU MAS!
Britney Semakin Sensi


__ADS_3

Tertawa geli saat mengangkat panggilannya,


Britney mengadu seraya membujuk dirinya,


Ghea masih pura-pura tidak mendengarnya,


Britney dengan kesal lalu menutup telfonnya,


Satu minggu setelah Britney dari salon kecantikan.


Pagi hari di sebuah apartemen mewah, seorang saudara ipar, menertawakan Britney yang ingin mengurung suaminya.


"Sayang, aku gemes banget. Masak sahabat aku jadi cemburuan enggak jelas begini." Ucap Ghea.


Evan yang sedang sarapan tersenyum manis, saat istrinya menceritakan kalau tadi Britney menelfon dan mengatakan kalau Britney tidak ingin Pras berangkat ke kantor. Lalu meminta solusi kepada Ghea, bagaimana agar suaminya bisa bekerja di rumah saja.


"Biarkan saja, aku juga bingung. Abah kemarin bilang, Britney merengek seperti anak kecil. Akhirnya Abah menuruti kemauannya." Ucap Evan.


"Tapi bagaimana pekerjaan mereka berdua, apa bisa dikerjakan di rumah?" Tanya Ghea, yang tidak tahu menahu soal pekerjaan Britney dan Pras.


"Bisa sayang, tapi tetap saja ada prosedur dari perusahaan. Semua karyawan, dan atasan tetap harus kerja di kantor. Entahlah, aku juga bingung." Jawab Evan.


Ghea berfikir dan bertanya "Sayang, kalau aku hamil nanti apa akan seperti adik kamu itu??"


"Mana aku tahu sayang, mungkin iya, mungkin tidak. Bawaan orang hamil sepertinya tidak sama." Jawab Evan.


Ghea bingung, bagaimana nanti kalau dirinya hamil akan seperti Britney. Ghea tersenyum sendiri dan masih menatap suaminya.


Evan mengelus rambut Ghea dan berkata "Sayang, aku punya ide untuk Britney dan Pras."


Ghea bingung, apa maksud suaminya. Tidak jelas, tapi Ghea setuju saja atas ide suaminya. Semoga saja tidak ide gila, yang benar-benar akan ikut mengurung Pras di dalam rumah.


Di rumah Abah Ferdi.


"Abah, biarkan saja dulu Pras kerja di rumah, kalau itu permintaan Britney." Ucap Mamah Sarah.


"Mah, tapi tetap saja Pras harus ke kantor. Semua ada prosedurnya, walaupun Britney wakil direktur perusahaan." Ucap Abah Ferdi.


Maeva yang tidak peduli dengan kemauan Britney, hanya asyik sarapan. Dirinya hanya memikirkan, hari pernikahannya yang sudah dekat. Jadi buat apa memikiran adik sepupunya yang bucin itu.


"Mamah, terlalu memanjakan Britney." Ketus Maeva, sambil menyendok bubur ayam yang dia makan.


"Bukan begitu sayang, adik kamu itu sedang hamil muda, dan perasaannya itu akan mempengaruhi janin nantinya. Mamah cuma memikirkan kesehatannya saja, agar Ibu dan bayinya sehat. Apalagi Britney dari kecil tidak banyak keinginan. Apa salahnya, saat ini kita memanjakan Britney." Ucap Mamah Sarah, yang duduk di sebelah Maeva.


"Mamah kamu benar Maeva. Abah juga ingin sekali menuruti kemauannya. Tapi tetap saja, perusahaan membutuhkan Britney sebagai wakil direktur, dan Pras juga sangat dibutuhkan team kerjanya. Semua akan terbengkalai kalau mereka bekerja di rumah." Ucap Abah Ferdi.


"Lagian, Britney juga apa- apa cemburu. Salah sendiri punya suami tampan. Mau diumpetin ke ujung dunia juga enggak akan mempan. Itu karena perasaan Britney sendiri." Ucap Maeva dengan santai.


"Nah... Itu dia sayang, makanya Mamah bingung karena perasaan Britney yang saat ini sensi. Ibu hamil ada saja yang dirasakan. Tapi dulu Mamah enggak begitu." Ucap Mamah Sarah.


"Enggak apanya, waktu hamil Maeva saja. Abah buruan pulang, Mamah kangen." Ucap Abah Ferdi dengan tersenyum, sesuai yang ia rasakan dulu.


Maeva dan Sarah jadi tersenyum.


"Abah, kenapa buka kartu di depan anak gadis kita." Ucap Mamah Sarah.


"Maeva juga harus belajar Mamah, lagian Maeva bukan gadis kecil lagi. Mamah sama Abah masih romantis begini, Maeva jadi kangen sama Rehan." Ucap Maeva dengan gemas.

__ADS_1


"Eehhmmm dulu saja enggak mau Abah, Maeva takut nantinya kalau enggak cocok, huuuftt!" Ucap Abah Ferdi, menirukan gaya bicara Maeva.


"Iiihhh... Apaan sih Abah. Iya Maeva senang berkat Abah, sama itu...gara-gara Britney juga yang mancing Maeva. Sekarang Maeva suka sama Rehan." Ucap Maeva dengan tersipu malu.


Sarah mengelus rambut panjang Maeva, dan mengecup pipi putrinya itu. Abah Ferdi juga sangat gembira melihat putrinya yang sebentar lagi akan menikah.


Dua jam kemudian di kantor RM.


"Britney enggak sutuju kalau satu ruangan sama Mas Pras." Ketus Britney.


Saat ini Britney, Pras, Evan dan Abah Ferdi ada di ruangan Britney. Mereka membahas tentang pekerjaan dan Evan membuat ide baru.


Britney dari sebelum tiba di kantor, sudah kesal sama Abah Ferdi dan Evan, karena mereka tidak mengijinkan Britney dan Pras untuk bolos, ataupun bekerja di rumah.


"Britney, dengan begitu kamu tidak akan cemburu lagi, suami kamu akan terus di dekat kamu." Ucap Evan.


"Yang benar saja Bang Evan, aku di rumah sudah satu ruangan, dan di tempat kerja satu ruangan lagi. Ada Mas Pras, mana bisa aku kerja." Balas Britney dengan sewot.


Pras hanya tersenyum melihat ekspresi wajah istrinya yang kesal dan bibirnya dari tadi sudah cemberut.


"Kamu cemburuannya sudah berlebihan, di luar cemburu, di kantor sama si A cemburu, sama si B cemburu, gimana suami kamu juga bisa kerja dengan tenang." Tegas Evan.


"Aku juga enggak tahu. Yang jelas aku enggak mau satu ruangan sama Mas Pras. Titik." Ucap Britney.


"Tapi ini solusinya biar kamu kerja tenang, enggak kepikiran suami kamu. Jadi kamu bisa lihat itu suami kamu ada di dekat kamu." Ujar Evan.


"Sudah Evan, biarkan saja apa maunya Britney, yang jelas selama Britney sehat, itu sudah baik." Ucap Abah Ferdi.


Serba salah, Ibu hamil susah dimengerti, pikir Evan.


"Iya Abah, Britney tahu itu. Ya sudah Britney mau kerja. Kalian semua keluar dari sini." Ucap Britney.


Evan mendekati adiknya itu dan memeluknya, lalu berkata "Britney, Abang tahu kamu sedang hamil muda, dan lebih sensitif. Tapi Abang mohon sama kamu, jangan terlalu mengekang suami kamu. Tetap saja kamu yang harus menurut sama imam kamu."


"Iya, tapi jangan marahin Britney." Ketus Britney dan mulai berkaca-kaca.


"Abang tidak marahin kamu, tapi kamu juga harus mengerti hal itu. Suami tidak harus menuruti terus kemauan istrinya, kamu juga jangan terlalu manja, sebentar lagi jadi Mama, kamu harus dewasa." Ucap Evan.


"Entahlah Britney juga bingung." Balas Britney.


Evan mengerti hal itu, ini hanya sementara pikirnya.


Ferdi juga mengusap rambut Britney dan memeluk putrinya itu, berkata "Sudah, jangan cemberut lagi, Abah cuma tidak mau kamu terus menerus berfikir buruk tentang suami kamu. Kamu harus rajin bekerja, jaga kesehatan kamu, jangan ngambekan, kasihan Pras. Apa kamu tidak kasihan melihat suami kamu tersiksa?!"


"Mmmssh, Abah bisa saja. Iya abah, Britney akan berusaha mengendalikan perasaan Britney, dulu Britney juga tidak begini." Balas Britney.


"Abah tahu. Ya sudah, kamu kerja. Abah juga akan ke Proyek." Ucap Ferdi.


Evan tadi juga mengatakan kepada Pras, untuk bersabar mengahadapi adiknya. Evan juga bilang tidak semua hal yang Britney inginkan, harus dituruti. Tidak baik, terlalu memanjakan Britney.


"Sayang, aku kerja dulu. Sudah dong, aku mau kamu senyum. Senyum dulu, aku mau lihat kamu tersenyum." Ucap Pras yang saat ini memeluknya.


Setelah Evan dan Ferdi pergi meninggalkan ruangan Britney, hanya Pras yang masih ada di ruangannya. Pras juga tidak ingin melihat istrinya yang sering cemberut dan ngambek, tapi Pras juga tidak bisa menuruti semua kemauannya.


Pras juga tidak tahu kalau tadi pagi, istrinya sudah menelfon Abah Ferdi dan Ghea soal keinginnya, agar bisa bekerja di rumah saja.


"Mmshh... Ya sudah sana Mas kerja. Aku juga harus memeriksa laporan dari akunting." Ucap Britney.

__ADS_1


Pras mengecup kening istrinya, dan pergi dari ruangannya itu. Britney juga bingung, kenapa semakin hari, rasanya semakin sensitif.


"Bu Britney..." Panggil Tania.


"Iya, ada apa?" Tanya Britney.


"Ini dokumen dari Bu Nia, kemarin saya sudah memeriksanya. Bu Britney tinggal tanda tangan saja." Ucap Tania.


"Apa kamu lembur lagi?" Tanya Britney.


"Iya Bu Britney, tapi tidak masalah. Karena saya juga ingin menabung." Jawab Tania.


Britney membuka dokumen itu, dan melihat pekerjaan Tania. Britney juga sangat percaya dengan kinerja Tania, jadi tidak masalah tinggal tanda tangan saja, itu yang biasa Britney lakukan.


Eiitsss!! Tapi tidak saat ini, Britney meminta Tania pergi dan akan mengecek ulang pekerjaan Tania.


Tania dengan bingung dan berjalan keluar, tapi tadi Evan sudah mendatangi Tania, untuk tidak mengambil hati apapun sikap Britney kepadanya. Tania juga berfikir, Britney semakin hari sepertinya berubah, tidak seperti dulu.


"Apa ibu hamil seperti itu? Bagaimana nanti kalau aku hamil??" Batin Tania, yang penasaran tentang wanita hamil dan Tania membayangkan bila hamil nanti, apakah akan seperti Britney yang berubah sikapnya.


"Aku sendiri bingung sama sikapku. Huuft!" Gumam Britney dengan kesal.



Haii Haii, semoga kalian masih setia sama Mas Pras, hehehe. . .


Jangan lupa tinggalkan jempol kalian, terima kasih atas komentar manis kalian semua. Author gemes setiap baca komentar dari kalian semua, apalagi tentang Mas Pras. Hehehe. . .


Sosok tengilnya apa akan berubah bila sang suami jadi Papa nanti??! Semoga saja tidak, semakin tengil akan semakin menarik gadis mendekatinya.


Haruskah ada wanita lain?? πŸ˜…βœŒ Untung saja Mas Pras tidak play boy, bisa -bisa Britney menangis terus menerus nantinya.


Ini hanya cerita, jadi tidak masalah bukan kalau Mas Pras berubah juga nantinya. Hehehe. . .


Ataukah Mas Pras akan BuCin??!


Semua ini hanya cerita.


Salam manis.


Mas Pras. ✌😎


🌼🌼🌼🌼🌼


Buat kalian yang suka novel romantis dan baper, bisa juga mampir ke novel yang ada dibawah ini, ini beberapa karya sahabat author yang terkece!!


πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡






__ADS_1


__ADS_2