PANGGIL AKU MAS!

PANGGIL AKU MAS!
Keputusan Pimpinan RM


__ADS_3

Pagi yang tidak biasa, di ruangan pimpinan utama, di kantor Restu Mandiri. Berjalan dengan elegan, tapi itu sudah jadi karakter Britney Rhiannon, di kala dia sedang bersama para atasan dan pimpinan.


Britney sudah selesai meeting, dan pagi ini ada sang Kakek yang tidak lain adalah pemilik perusahaan Restu Mandiri. Kakek Restu pagi ini yang memimpin rapat penting, dan beliau membahas struktur jabatan di perusahaannya. Baik kantor pusat RM dan anak perusahaan.


Setiap tahun memang ada perubahan struktur jabatan, dan kali ini cukup mencengangkan bagi Britney Rhiannon, tapi dia menerima hasil rapat pagi ini dengan tersenyum manis.


"Jadi Mas Pras akan pindah?" tanya Britney yang tidak senang.


Evan yang tadinya duduk, berjalan mendekati Britney yang galau "Bukankah Pras sudah cerita sama kamu?"


"Enggak, semalam Mas Pras enggak cerita apapun." Jawab Britney.


"Harusnya kamu bangga, suami kamu akan ada di posisi itu. Baru setahun dia kerja di akuntan, tapi dapat surat promosi dari atasannya dan bersaing dengan beberapa karyawan yang lain." Ujar Evan dan saat ini Britney di ruangan Evan. Seperti biasa, disaat galau Britney lebih nyaman berbincang dengan Evan.


"Jadi kita enggak bisa satu ruangan lagi?!" Ujar Britney, dan mendongak ke atas melihat wajah Evan.


"Iya, bukan hanya tidak satu ruangan. Tapi kalian beda kantornya. Hanya saja masih dalam satu badan perusahaan kita tentunya. Om Jonny butuh rekan yang handal. Abah tadinya juga bingung, kamu juga lagi hamil. Tapi mau gimana lagi, ada beberapa kandidat dan hasil voting kemarin Pras yang banyak votenya." Ucap Evan.


"Tapi Mas Pras enggak cerita sama aku. Pantas saja hari ini aku suruh ijin, dia enggak mau. Terus tadi bilang ada meeting. Tumben amat Bu Nia pagi- pagi meeting, padahal aku pimpinan Bu Nia. Aku malah enggak tahu apa-apa." ketus Britney.


"Hemm. Selama kamu sering libur, Tania yang bekerja sama aku dan juga Pras. Kamu juga tidak pernah telfon Tania. Kamu bahkan tidak ingin tahu masalah perusahaan. Jadi siapa yang salah? Aku? Abah? Pras? Atau Kamu?!" Evan cukup tersenyum melihat sang adik yang cemberut.


Kakek Restu, Abah Ferdi dan Om Jonny masih di ruang pimpinan utama. Mereka hanya mengobrol masalah keluarga, Om Jonny sendiri adalah anak dari adiknya Kakek Restu, dan memimpin anak perusahaan yang ada di Mampang, Jakarta Selatan.


Walaupun masih satu wilayah Jakarta Selatan. Tapi cukup jauh juga untuk Pras. Pras juga masih memikirkan ini dengan tenang. Pras belum tahu hasil keputusannya, kemarin hanya tahu kalau Pras masuk dalam jajaran kandidat yang akan di tugaskan di kantor cabang, yang ada di Mampang. Tadi Pras memang ada meeting, tapi Bu Nia membahas perkerjaan akuntan dan juga pembaharuan tata kerja.


"Besok berarti Mas Pras enggak dikantor kita lagi." Keluh Britney.


"Iya, di perusahaan kita. Cuma beda tempat aja. Lumayan jauh juga. Kamu juga tahu sendiri kantor yang disana seperti apa, walaupun tidak besar tapi kebih keren gedungnya. Aku juga mau kalau di pindah kesana." Ujar Evan.


Britney mengetuk- ngetuk meja dengan jari-jarinya dan berkata "Aku mau bilang sama Om Jonny. Kalau sekretaris Mas Pras harus cowok. Aku enggak mau suami aku kerja sama perempuan."


Evan menggeleng dan merasa aneh. "Britney, kamu juga harus profesional sayang. Memang kamu enggak malu, bilang begitu sama Om Jonny?!"


Britney berdiri dan menatap Evan "Buat apa malu. Bang Evan, aku harus bilang sekarang sama Om Jonny, mumpung aku masih ingat. Bang Evan harus dukung aku."


Dengan langkah menawan bak model yang sedang jalan di catwalk Britney bergegas menemui Om Jonny, untuk memintanya mencarikan sekretaris pria untuk pimpinan baru yaitu, Prasetya.


"Kakek, Abah, Om Jonny. Kalian pasti lagi ngobrolin Britney." Ucap Britney yang datang tanpa salam, dan langsung duduk di dekat Om Jonny.


"Apa kabar kamu sayang? Kamu sudah lama tidak ke rumah Om, ketemu cuma di perayaan nikah Evan, terus ketemu lagi di resepsi Maeva. Kamu ini anak Om Jonny bukan?" Tanya Om Jonny yang sangat dekat dengan Britney.


"Mmh... Mhmm.. Britney mau bahas kerjaan, Om Jonny yang Britney sayang. Apa bener Om Jonny tinggal memantau RM Property? Tapi Om, Mas Pras masih harus banyak belajar dulu. Mana bisa langsung jadi pimpinan. Kakek juga asal tanda tangan aja tadi. Kalian kenapa kasih pengumuman penting, tapi mendadak." Ujar Britney kesal.


"Britney, dua hari lalu Abah sudah bicara sama Pras dan ada tiga kandidat yang dicalonkan. Pras juga awalnya tidak mau, nanti karyawan mengira yang diutamakan adalah keluarga. Tapi kita semua, bahkan semua karyawan diminta untuk melakukan voting. Suami kamu yang dapat hasil tertinggi. Tapi kita juga belum bicara lagi sama Pras, soal keputusan pagi ini." Ucap Abah Ferdi.


"Terus kenapa Om Jonny mau pensiun dini? Cuma ingin memantau saja. Om Jonny sehat- sehat saja, enggak sakit juga." Ujar Britney.


"Om bukannya pensiun dini. Tapi Om sudah tidak bisa seperti dulu lagi. Ini juga karena tante kamu, sekarang tante kamu kesepian di rumah, anak cucunya enggak ada yang tinggal di rumah. Tante kamu jadi sering sakit. Om juga masih sering ke kantor. Tapi tidak akan seperti biasanya. Minggu depan, setelah semua berkas perusahaan beres. Pras baru penempatan disana. Om dengar dari Evan, katanya Pras juga mulai merencanakan bisnis sama Ghea, dan managemennya juga Pras yang mengendalikan. Tapi kata Evan tidak masalah. Kalau Om sendiri belum bicara sama suami kamu." Ucap Om Jonny.


"Britney apa yang kamu pikirkan sayang? Suami kamu hanya memimpin karyawannya. Kantor sana hanya berpusat di property. Kamu sendiri tahu hal itu. Apa yang membuat kamu kepikiran?" Tanya Kakek Restu yang melihat kegelisahan Britney.


Cabang perusahaan RM hanya menangani proyek property. Jadi tidak lebih dari itu, berbeda dengan RM pusat yang menangi proyek- proyek besar, seperti pembangunan hotel, gedung, jalan dan mall. Dunia konstruksi memang sangat luas, dan ini jauh dari apa yang Pras pelajari. Pengalaman Pras hanya dibidang IT, dan managament. Pras juga masih harus banyak belajar.


"Om, tetap disana. Hanya saja tidak sering ke kantor. Om akan mengawasi pekerjaan Pras dan juga disana ada beberapa pekerja yang hebat. Pasti Pras akan lebih hebat lagi nantinya." ucap Om Jonny dan tersenyum.


"Abah, Kakek. Terus Britney gimana dong? Mas Pras jadi jauh dari Britney." Ujar Britney dengan manja. Walaupun sudah jadi istri dan calon Mama, tapi Britney bila berhadapan dengan keluarganya dia cukup manja.


"Apa kamu tidak senang, suami kamu memulai pekerjaan baru yang lebih bagus. Gajinya naik, dapat fasilitas dari perusahaan. Bahkan jabatan juga sangat bagus. Walaupun hanya mengurus proyek property tapi klien disana para orang hebat. Apa kamu tidak bangga, suami kamu ada di posisi itu. Pras juga ramah, pasti dengan mudah menempatkan dirinya. Pras pasti bisa menarik para klien untuk bekerjasama." Ucap Abah Ferdi.


Britney hanya diam dan berfikir tentang hal- hal lain, apalagi yang berbau wanita. Perasaan Britney memang begini saat ini.

__ADS_1


"Om Jonny sekretarisnya Mas Pras nanti pria atau wanita?" Tanya Britney.


Om Jonny seketika ketawa mendengar hal itu. Abah Ferdi dan Kakek Restu ikut tertawa.


"Britney, apa kamu tidak pernah ke RM cabang?" Tanya Om Jonny.


"Pernah om, enam bulan lalu juga Britney kesana. Ada pekerjaan yang proyek Arya Guna Sentosa. Britney ikut rapat waktu itu. Emang kenapa om? Britney juga tahu kalau sekretaris Om Jonny itu cowok. Nah, kalau Mas Pras nanti gimana?"


"Iya, semua pekerja disana tidak ada perempuan. Kantor tiga lantai, tapi pria semua yang bekerja." Ucap Om Jonny dengan tertawa terbahak -bahak.


Britney bingung saja melihat Om Jonny yang hanya tertawa. Wajah Om Jonny yang oriental, bila tertawa, matanya semakin terlihat sipit. Badannya yang gemuk dan tampan. Tidak kalah dari Abah Ferdi, tapi kalau Abah Ferdi campuran betawi, berbeda dengan Om Jonny yang masih oriental seperti Kakek Restu.


"Britney, kalau kamu pengen tahu, main ke RM Property. Sekretaris Om Jonny nantinya yang membantu pekerjaan Pras." Ujar Om Jonny.


Sudah lebih dari lima belas tahun RM Property berdiri, tapi semua staff yang ada di kantor itu adalah pria. Entah kenapa Om Jonny tidak menerima wanita dalam kantor itu. Awalnya kantor itu juga masih menyewa gedung, perlahan bisa berdiri dengan bangunan yang modern. Bahkan fasilitas kantor itu lebih memadai dari RM pusat.


"Iya, Britney tahu sekarang. Tapi nanti Mas Pras akan jauh. Britney hamil, kalian tidak kasihan sama ibu hamil?" Ketus Britney.


Tiga laki-laki yang sangat menyayangi Britney itu saling melihat, dan Kakek Restu tidak henti tertawa saat melihat ekspresi ibu hamil itu. Dengan wajah penuh harap, dan sangat teduh. Meminta sebuah perhatian dari mereka, agar mengerti keadaannya.


"Britney kamu ini sudah mau jadi Mama. Tapi kenapa Abah melihat kamu semakin manja. Abah mengerti bawaan ibu hamil itu memang aneh. Tapi Abah juga heran. Perubahan kamu begitu drastis. Kamu dulu paling profesional, paling rajin tentang pekerjaan dan paling tegas. Tapi kenapa sekarang kamu begini sayang. Suami kamu hanya pindah kantor. Bukan bertugas ke medan perang." Ujar Abah Ferdi dan Om Jonny semakin ingin menggoda Britney.


"Apa Britney mau pindah ke sana juga. Nanti bisa mengawal suami kamu dan kamu tidak akan gelisah lagi. Tapi ya itu tadi, Om Jonny tidak menerima staff perempuan." Ucap Om Jonny.


Britney mulai tersenyum dan menatap Omnya dengan gemas.


"Iya, Britney mengerti. Kalau gitu, Britney mau kerja dulu." Britney berdiri dan berjalan mendekati Kakeknya dan memeluk Kakek Restu dengan rasa sayang. Britney juga merindukan Kakeknya, dan terkadang Britney juga ingin bersama Kakeknya, tapi sekarang sudah menikah dan lebih nyaman tinggal bersama suaminya, walaupun di rumah kontrakan.


Abah Ferdi dan Om Jonny juga sangat mengerti perasaan Britney. Pras susah di raih, bila keluarga memberi bantuan cuma-cuma, pasti akan ditolak. Bisa saja Kakek Restu mendirikan sendiri kantor untuk Pras, atau membelikan rumah mewah untuk Britney. Tapi Kakek Restu dan Abah Ferdi tidak ingin membuat Pras dan Britney jadi tidak enak hati.


Om Jonny juga memiliki dua anak, yang satu di luar negeri dan masih membujang. Yang anak satunya sudah berkeluarga dan tinggal di luar kota. Britney juga cukup dekat dengan mereka, tapi tidak sedekat Britney dengan Evan. Hanya Evan sodara laki-laki yang memahami Britney.


Ceklek!!


Pras menoleh saat pintu yang terdorong. Britney dengan wajah datar tanpa salam atau menyapa. Berjalan menuju meja kerjanya. Pras mengerti dan lebih baik diam saja.


Tok. Tok. Tok.


"Iya, masuk." Ucap Britney terdengar nyaring.


"Selamat siang, Bu Britney." Sapa Tania


"Selamat siang Tania." Britney membalas sapaan Tania, dan saat ini sudah jam 11 siang.


"Bu Britney ini dokumen dari Bu Nia kemarin, saya sudah cek semua. Terus yang map di meja, juga sudah saya kerjakan. Terus ini kemarin dokumen pajak semua sudah rapi, Bu Britney tinggal cek ulang saja." Ucap Tania.


"Siapa yang mengerjakan ini?? Kamu semua?" Tanya Britney.


"Bukan, dibantu Pak Evan dan juga Prasetya." Ucap Tania yang tersenyum dan menoleh ke arah Pras.


Britney hanya melirik suaminya dan Pras hanya fokus dengan pekerjaannya.


"Kalau begitu saya permisi dulu Bu Britney." Ucap Tania dan berlalu.


Britney masih menyangga dagunya dan menatap suaminya.


[Mas, kenapa kamu tidak cerita sama aku, soal pemindahan tugas kantor?? 😔🙄 ]


Lama tidak dijawab, Britney jadi sangat kesal.


Britney membuka laptopnya dan menatap layar laptop. Membuka data yang sudah dikirim Tania. Britney mulai bekerja dan Pras membuka ponsel.

__ADS_1


Pras tidak menjawab pesan istrinya dan hanya menatap istrinya.


Pras berjalan mendekati istrinya yang sibuk mengecek ulang data yang ada dalam file.


"Sayang, kamu marah sama aku?" Tanya Pras.


Britney pura- pura tidak mendengarnya, dan tidak menghiraukan suaminya yang sudah di depannya.


Pras yang tadinya berdiri di depan meja Britney, perlahan berjalan ke tempat duduk Britney. Pras memutar kursi Britney dan Britney hanya diam.


Britney masih menunduk dengan wajah kesal, dan kedua tangan Pras berpegang pada gagang kursi putar, dimana tempat Britney duduk saat ini.


"Sayang, lihat aku!" Pinta Pras dengan suara lembut. Apalagi Pras masih tidak enak badan, suaranya berubah jadi sendu.


Perlahan Britney mengangkat wajahnya dan mendongak, menatap wajah suaminya.


Nyeess!!


Kedua wajah itu saling dekat. Britney dengan bibir yang cemberut dan Pras yang tengil tersenyum manis.


"Aku tahu istriku sedang kesal. Tadi kamu bilang mau jagain kesayangan kamu. Aku tidak enak badan. Kamu masih mau marahin aku, yang lagi sakit ini? Kamu tega marahin aku?" Tanya Pras dengan sedikit menggigit kecil bibirnya sendiri.


Britney menatap lembut suaminya, dan kedua tangannya meraih wajah suaminya.


"Hmm!"


Britney mencium bibir suaminya, dan ini pertama kalinya mereka berciuman di dalam ruangan kantor kerja mereka.


"Kamu mencium aku. Kamu enggak marah sama aku?"


"Bagaimana aku bisa marah. Aku bangga sama suami aku. Tapi aku kecewa, kamu masuk kandidat pekerja hebat, tapi aku tidak tahu. Bahkan aku tahu dari pimpinan. Harusnya surat promosi, aku yang tanda tangan. Tapi kenapa tidak tahu apa - apa."


"Aku juga tidak tahu, kalau aku di promosiin sama pimpinan HRD, Bang Evan yang bilang sama aku. Aku juga kaget, ternyata aku masuk kandidat."


"Aku sayang kamu Mas. Selamat bojoku."


Pras tersenyum saat istrinya berdiri, dan memeluknya erat.


"Aku juga bangga sama kamu. Kamu juga dulu pernah jadi staff biasa, dan saat ini duduk disini."


"Iya, Mas. Mas masih sedikit demam. Nanti habis makan siang minum obatnya.".


"Iya, aku juga enggak mau sakit."


"Mmuuach"


Pras mengecup kening istrinya, dan kembali berpelukan.



Hallo pembaca hebat.


Semoga masih suka cerita Mas Pras yang ngalor ngidul ini ya. He. he. he.


Semakin ambyar rasanya. ✌🤩


Jangan lupa like, komentar dan vote ya. 🤗


Dibawah ini ada novel yang seru. Dengan tokoh Raka dan Jelita, pertemuan mereka juga di sebuah perusahaan. Raka atasan yang kaku, dan ini cerita romance yang asyik 🥰


__ADS_1


__ADS_2