PANGGIL AKU MAS!

PANGGIL AKU MAS!
Suasana Di Kantor & Perasaan Bu'e


__ADS_3

Siang hari di ruangan kantor, Pras makan siang bersama Britney. Mereka berdua sholat dzuhur juga di ruangan itu. Pras merasa pusing, cukup malas beranjak dari ruang kerjanya.


"Mas, di minum obatnya. Kalau masih pusing, Mas istirahat saja di sofa. Biar aku yang bantuin Mas kerja."


"Tidak apa-apa, nanti juga nggak pusing lagi."


Glek glek glek


Pras menelan obat tablet dan meneguk air putih dari botol air mineral. Dengan wajahnya yang rada pucat, bibirnya mengering dan matanya terlihat sangat sendu seperti berair. Pras memang sakit, badannya masih panas. Tapi masih saja ingin bekerja.


"Mas, yang sehat. Kalau nanti masih pusing, kita ke dokter ya Mas."


"Iya sayang, kamu nggak perlu cemas."


Pras memegang pipi istrinya dengan lembut dan tersenyum manis. Britney menatap suaminya dengan cemas. Bagaimana tidak cemas, suami tercinta sedang sakit.


Dreet... Dreet... Dreet...


"Assalamu'alaikum Bu'e."


"Wa'alaikumsalam cah ayu. Kamu gimana kabarnya? Sehat?"


"Alhamdulillah, Britney sehat Bu'e."


"Bu'e dari pagi kepikiran kamu sama Pras. Dari pagi di pasar Bu'e tidak tenang. Ini Bu'e sudah tutup toko, habis sholat dzuhur masih kepikiran kalian. Kalian baik-baik saja kan nak?"


"Britney baik Bu'e, kalau mual muntah itu udah biasa dan masih sering Bu'e. Britney kadang juga sampai lemas. Tapi Britney sekarang sudah mulai kerja lagi. Bu'e mau mengobrol sama Mas Pras."


"Syukur Alhamdulillah kalau kamu sehat, jagain cucu Bu'e juga ya. Bu'e cuma bisa do'ain kalian. Apa Pras ada di dekat kamu?"


"Iya Bu'e, ini kita baru saja selesai makan siang."


Britney memberikan ponselnya ke suami, dan pergi meninggalkan Pras.


"Assalamu'alaikum Bu'e. Niki Pras, Bu'e pripun kabare? Sehat?"


(Assalamu'alaikum Ibu. Ini Pras, Ibu gimana kabarnya? Sehat?)


"Wa'alaikumsalam cah bagus. Bu'e sehat. Bu'e kangen. Kowe yo sehat- sehat wae to? Bu'e ket esuk mau, neng ati kepikiran Britney karo kowe. Wis krungu suaramu, Bu'e ayem."


(Wa'alaikumsalam anak tampan. Ibu sehat. Ibu rindu. Kamu juga sehat-sehat saja kan? Ibu dari pagi tadi, di hati kepikiran Britney sama kamu. Sudah dengar suara kamu, Ibu tenang.)


"Nggeh Bu'e, Pras sehat. Alhamdulillah, Britney kaleh Pras kabare sae-sae mawon. Bu'e mboten sah mikir nopo-nopo malih. Pras nuwun dongo pangestune Bu'e mawon, mugi-mugi diparingi lancar kerjaanne Pras, kaleh keluarga sehat danten."


(Iya Ibu, Pras sehat. Alhamdulillah, Britney sama Pras kabarnya baik-baik saja. Ibu tidak perlu mikir apa- apa lagi. Pras minta do'a berkah Ibu saja, semoga diberi kelancaran kerjaannya Pras, sama keluarga sehat semua.)


"Iyo, kowe ora njaluk. Saben sholat, Bu'e dongo kanggo kabeh keluargane Bu'e lan anak-anake Bu'e. Opo meneh kowe cah bagus sing neng adoh dewe, Bu'e saben dino eling karo kowe."


(Iya, kamu tidak minta. Setiap sholat, Ibu berdo'a untuk semua keluarga Ibu dan anak-anaknya Ibu. Apalagi kamu anak tampan yang berada jauh sendiri, Ibu setiap hari ingat sama kamu.)


"Nggeh Bu'e matur nuwun. Pras niki nembe katah kerjaan, ajeng telfon Bu'e kesupen."


(Iya Ibu terima kasih. Pras ini baru banyak kerjaan, mau telfon Ibu lupa.)


He. he. he.


"Yowis, Bu'e ngerti. Bu'e gur pengen krungu suorone Britney karo kowe, nek do sehat, Bu'e yo ayem cah bagus. Opo meneh Britney lagi lekasan. Sing sehat, usum mendung angin, awakke di jogo."


(Ya sudah, Ibu paham. Ibu cuma ingin dengar suaranya Britney sama kamu, kalau pada sehat, Ibu juga tenang anak tampan. Apalagi Britney baru ngidam. Yang sehat, musim mendung angin, badannya di jaga.)


"Nggeh Bu'e. Sampun riyin nggeh Bu'e, Pras ajeng kerjo malih."


(Iya Bu'e. Sudah dulu ya Ibu, Pras mau kerja lagi.)


"Iyo cah bagus. Ndang kerja. Ojo lali, telfon- telfon Bu'e karo Bapak."

__ADS_1


(Iya anak tampan. Sana kerja. Jangan lupa, telfon- telfon Ibu sama Bapak.)


"Nggeh Bu'e."


(Iya Ibu.)


Pras mengakhiri dengan salam dan menutup panggilannya. Pras yang suaranya masih sendu, tapi saat telfon Bu'e suaranya kembali segar. Pras juga tidak ingin orang tuanya menjadi susah dan kepikiran. Hanya masuk angin biasa, nanti juga akan segera sembuh, itu yang ada dalam benak Pras, si anak tampan.


"Mas, Mas Pras. Aku sudah buatkan teh hangat. Kamu minum ya, kamu jangan sakit Mas. Aku sedih lihat kamu begini." ucap Britney dan duduk dekat suaminya.


"Iya sayang, aku cuma masuk angin aja. Sayang, kamu yang harus sehat, apalagi ada dedek utun. Nanti kalau aku udah pindah kantor, kamu baik- baik disini, semangat. Nanti aku juga nitip sama Bang Evan dan Abah untuk ngecek keadaan kamu selama kerja. Tania juga biar mantau kamu terus."


"Mmh. Kalau soal ini, aku akan baik- baik saja. Ya udah aku mau kerja dulu. Mas kalau masih pusing, nggak usah dipaksain. Nanti aku bantuin kerjaan Mas, paling cuma ngisi data, gampang."


"Kamu lihat sendiri itu yang baru aku ambil dari Bu Nia, kamu sanggup? Kalau iya, aku mau tidur."


Britney jalan mendekati meja kerja suaminya, dan melihat data perusahaan dan masih belum rapi.


"Udah, Mas tidur aja. Aku bisa ngerjain ini, kerjaan aku juga hampir selesai." Ucap Britney yang masih memegang file bermap hijau.


Pras duduk bersandar di sofa, perlahan matanya mulai redup. Apalagi setelah minum obat, hawa kantuk pasti menyerang lebih cepat. Pras masih tersenyum dan menatap wajah cantik istrinya.


"Mas, Mas. Kamu ini sakit. Tapi masih saja ingin kerja. Hemms." Gumam Britney dan kembali ke meja kerjanya.


Britney memakai kacamatanya dan mulai bekerja kembali. Pras sudah terlelap dan masih bersandar di sofa. Britney yang sedang mengetik, ia sesekali menoleh ke arah suaminya.


"Sabar ya Mas, sebentar lagi kita pulang. Kamu harus istirahat dulu." Gumam Britney. Tangannya mengetik dengan terampil dan sangat cepat.


Setelah sekitar satu jam Pras tidur, sudah lebih baik. Pras yang sudah bangun dan mendekati Britney.


"Sayang, mana filenya. Aku bisa kerjain sendiri."


"Kamu masih sakit Mas."


"Aku udah mendingan. Yang penting aku udah nggak pusing lagi."


Britney pergi ke pantry untuk membuatkan teh hangat untuk suaminya. Pras sudah merasa lebih baik. Tidak seperti tadi, yang sangat pusing, dan ingin sekali menyandarkan kepalanya diatas bantal.


"Istriku cepat juga ngetiknya. Britney kamu buat aku gemas."


Pras tidak lupa mengecek ulang data itu, hasil pekerjaan istrinya sangat baik, tidak salah kalau istrinya juga bisa duduk di kursi wakil direktur.


"Mas, minum dulu tehnya. Emms, aku tadi juga ketemu sama Pak Miko, dia lagi buat kopi. Katanya ngantuk berat."


"Pak Miko kalau habis makan siang bawaannya ngantuk. Udah biasa dia begitu. Kalau di rumah, siang- siang dia bisa tidur pulas, beda sama aku kalau di rumah siang susah tidur. Kecuali kalau sama istriku. Soalnya istriku pinter bikin suaminya cepat tidur."


Britney tersenyum mendengar hal itu, dan kembali ke meja kerjanya.


Waktu terasa begitu cepat, saat jari-jari itu menari diatas keyboard dan mata menatap layar serta melihat ke lembaran file yang ada di atas meja. Tidak ada suara apapun, kecuali ketukan dari jari-jari itu mengenai tombol keyboard.


Pras sudah tidak demam lagi, tapi tetap saja rasa badannya belum pulih seperti kemarin- kemarin. Pras dengan santai bekerja dan tidak masalah. Seberat apapun pekerjaannya, Pras selalu ingin kerja dan memastikan pekerjaannya selesai tepat waktu.


"Sayang, aku mau ngeprit dulu. Terus ke ruangan Bu Nia."


Britney hanya tersenyum saat melihat keuletan suaminya. Tidak salah bila dulu Britney juga suka kinerja Pras. Tapi Britney tidak tahu pribadinya, hanya tahu dari penilaian managernya dan hanya melihat hasil pekerjaannya yang selalu rapi dan tepat waktu. Bahkan selama bekerja, tidak ada masalah apapun dalam file, data atau dokumen yang Pras kerjakan.


Ting


Suara lift terbuka


"Pras, kamu masih sakit?"


"Bang Evan, aku baik-baik saja."


"Kalau sakit jangan dipaksain. Tapi sebentar lagi sudah waktunya pulang." Evan dengan tersenyum.

__ADS_1


"Bang Evan mau ke ruang Britney? Aku mau ke ruangan Bu Nia."


"Ya sudah sana, aku tunggu kamu di ruangan Britney."


"Siap Bang Evan. Tidak lama, tunggu aku."


Pras dengan tersenyum dan bergegas ke ruang Bu Nia untuk menyerahkan hasil pekerjaannya. Tadi dari ruang cetak dokumen, disitu ada alat foto copy dan beberapa printer. Ruangan yang cukup besar dan ada beberapa staff disitu, ruangan itu dekat dengan pintu lift, jadi waktu Pras keluar dari ruangan itu, langsung bertemu Evan saat pintu lift terbuka. Evan ruangannya di atas, bersama staff yang ahli gambar, dari arsitek, insiyur teknik sipil, dan juga beberapa pekerja ahli, di bidang gedung dan bangunan.


"Britney, suami kamu pucat gitu. Kamu nggak bawa dia ke dokter." Tegur Evan saat masuk ke ruangan Britney.


"Iya nanti Bang Evan, dari kantor nanti ke dokter. Bang Evan tahu sendiri, Mas Pras nggak mau santai-santai. Tadi tidur nggak ada satu jam, tapi kata Mas Pras sudah mendingan. Ya sudah aku biarin dia nyelesain pekerjaannya."


"Hemms. Pras memang giat bekerja, tapi kalau lagi sakit mending istirahat di rumah dulu. Besok tidak perlu ke kantor."


"Bang Evan kasih tahu saja Mas Pras sendiri. Aku ini atasannya, tapi nggak di dengerin, apa aku harus lebih bawel lagi."


"Iya, kamu harus bawel." Sahut Pras saat kembali, dan membuka pintu. Pras sudah mendengar sang istri yang bawel.


Britney pura-pura tidak mendengarnya, dan kembali ke file yang dia pegang.


Evan mendekati Pras dan berkata "Pras, ikut aku. Aku mau ngobrol sama kamu. Tapi jangan disini, bos kamu nanti akan berubah galak."


"Hemms. Aku galak. Bang Evan mau ajak kemana suami aku?"


"Saya mau ajak staff handal, ke ruangan pimpinan. Bu Britney kerja saja. Setengah jam lagi sudah waktunya pulang."


Evan dengan senyuman menggoda Britney dan Pras hanya diam. Pras akhirnya ikut Evan pergi dari ruangan Britney. Tapi Britney senang, melihat Evan dan sang suami begitu akrab.


"Pras, kamu sakit?" Tanya Abah Ferdi, saat Pras sudah ada di ruangannya.


"Iya Abah, Pras cuma tidak enak badan." jawab Pras.


Evan duduk di sebelah Abah Ferdi, ruangan yang besar dan mereka duduk di sofa abu-abu muda.


Abah Ferdi menatap teduh ke wajah Pras dan berkata "Pras, kamu pasti sudah mendengar hasil keputusan pimpinan utama kita. Kalau kamu yang terpilih untuk menjadi pimpinan kantor cabang. Minggu depan kamu akan serah terima jabatan, dan penempatan kerja di kantor RM property."


"Iya Abah, Pras sudah mendengarnya, tadi Britney juga sudah cerita. Tapi Abah, apakah Pras layak menempati jabatan itu? Pras sendiri masih harus banyak belajar. Pras juga belum tahu, dunia kerja dalam bidang property itu bagaimana." Balas Pras dengan tenang.


Abah Ferdi, mulai berkata "Kamu tidak perlu cemas soal itu. Kamu bisa belajar dari pimpinan sebelumnya, Jonny akan membantu pekerjaan kamu. Sebenarnya hal ini sudah lama Jonny inginkan, dia hanya ingin memantau karyawannya saja. Kalau untuk stay di kantor, dia sudah tidak sanggup lagi. Jonny dari awal, ingin kamu bekerja disana, tapi karena ada dewan perusahaan, agar berjalan adil, jadi kita adakan pemilihan dari nilai kinerja karyawan. Jonny memilih karyawan yang jujur dan pantang menyerah. Bukan karena dari gelar maupun jabatan di RM pusat. Karena disana, bukan hanya pembangunan property, tapi juga ada yang di pasarkan sendiri. Beberapa property milik RM jadi kebanggaan tersendiri, di kalangan agen property lainnya."


Pras mulai mengerti dan cukup santai, saat dia mendengarkan penjelasan dari Abah Ferdi.


"Iya Abah, Pras mengerti. Pras akan berusaha dan akan belajar dari Om Jonny. Waktu di rumah Abah saat Maeva akad nikah, Om Jonny juga sempat bilang begitu sama Pras. Tapi Pras juga belum mengerti apa maksud Om Jonny. Jadi Pras cuma dengerin saja apa yang Om Jonny katakan. Waktu itu juga ada Kakek." Ungkap Pras.


"Tadi Kakek kamu dan Jonny cukup lama disini, istri kamu juga kesini. Kita sangat tahu, apa yang Britney rasakan saat ini. Tapi kita juga ingin, kamu membantu kita memimpin kantor itu. Pras, ini kesempatan kamu, kamu harus meraih peluang ini. Kamu pasti bisa Pras. Abah percaya, kamu pasti bisa jadi pimpinan yang handal."


Pras hanya diam dan Evan berkata "Pras jangan terlalu di pikirkan, kamu santai saja. Disana tidak seperti disini. Pekerjaan juga lebih santai, kecuali kalau target pemasaran tidak stabil. Tapi aku yakin, kamu pasti bisa menarik klien."


"Tapi masalahnya Bang Evan tahu sendiri, gimana istri aku Bang Evan."


Abah Ferdi tersenyum dan berkata "Soal Britney kamu tidak perlu khawatir. Dia memang sedang sensitif. Kamu pasti merasakan sendiri, gimana dulu rajinnya Britney, tegas, dispilin, tapi sekarang, Abah kenapa sih Britney harus ke kantor? Britney malas Abah. Bawaanya pengennya di rumah aja!" Ucap Abah Ferdi dan menirukan ucapan Britney ketika di telfon.


"Pras juga bingung, entah kenapa Britney memang berubah. Apalagi semenjak hamil, tapi Pras tidak masalah. Semakin hari, memang semakin manja."


Evan dan Ferdi tersenyum milihat ekspresi wajah Pras. Mereka juga bahagia, ternyata Britney yang mereka sayangi, mendapatkan suami yang baik dan sabar menghadapi Britney, yang sudah berubah manja.




Hai.. Haii... Semuanya dimanapun kalian berada, semog kalian sehat. Mas Pras masih tidak enak badan, tapi tidak apa-apa, masih bisa bekerja.


Semoga kalian suka di cerita bab ini. Jangan lupa untuk Like, Vote dan komentar ya, soalnya othor ingin dukungan dari kalian semua 🤭.


Buat kalian yang mau dukung othor juga bisa ke novel baru othor yang satu ini. Kisah perjodohan Arjuna dan Cinta.

__ADS_1


Lihat novel di bawah ini, okey 🤗👇😘



__ADS_2