
Sore menjelang maghrib sang suami berkendara, melewati jalanan yang macet dan hujan deras mengguyurnya.
Pras nekat dan memakai jas hujan, dia tidak sabar ingin segera bertemu istri tercinta.
Tiiin..... Sseeeettt!!!
Suara klakson motor Pras dengan kencang. Pras hampir saja menabrak pengendara lain. Orang itu juga kaget, padahal Pras di posisi benar dan orang itu tiba-tiba berbelok tanpa sein.
Hemms!!
"Astaghfirullah... Bang, hati- hati. Hampir saja aku tabrak kan." Gumam Pras dan orang itu berlalu hanya melambaikan tangannya.
Pras kembali melajukan motornya, perlahan hujan sudah mulai reda, tidak sederas tadi.
10 menit kemudian
Pras sudah hampir tiba di puri anggrek. Adzan maghrib juga sudah berkumandang. Tapi Pras mengisi bensin dulu dan melepas jas hujannya.
Hujan sudah reda, tinggal gerimis. Pom bensin, tidak begitu ramai. Biasanya antrian panjang, mungkin karena masih hujan, jadi cukup sepi, apalagi sudah maghrib.
"Ini uang kembaliannya Pak." Ucap petugas pom.
"Iya, terima kasih." Balas Pras dan menerima uang kembaliannya.
Pras mulai mengendarai motor maticnya.
Woosssh!!
Pras hanya memikirkan istrinya dan ingin segera sampai di rumah. Walaupun istrinya baik- baik saja, tapi entah kenapa dia ingin segera bertemu Britney.
"Assalamu'alaikum... Sayang." Salam Pras saat mengetuk pintu. Tapi tidak di balas istrinya.
Ceklek!! Greeet!
Pras masuk ke dalam rumah, pintu rumah tidak di kunci. Britney ternyata sedang mengaji setelah selesai sholat maghrib. Pras lega setelah masuk ke dalam rumah, dan mendengar istrinya yang sedang belajar surat- surat pendek. Suara Britney cukup merdu, Pras tersenyum saat melepas sepatunya dan meletakan di rak sepatu. Perlahan masuk ke kamar belakang, dan meletakan tas ranselnya. Jaket yang ia kenakan masih di atas motor karena basah. Pras membuka kancing kemeja satu persatu. Britney sudah mulai selesai mengaji.
"Wa'alaikumsalam... Mas." Balas Britney, karena tadi juga mendengar salam suaminya ketika masuk ke dalam rumah. Pras masih mengucap salam dengan suara lembut.
Britney berdiri mendekati suaminya, dan mencium tangan suaminya yang begitu dingin.
"Mas kehujanan." Ucapnya, dan mengambil kemeja yang dilepas suaminya.
"Iya sayang. Hujannya deras. Tapi disini cuma gerimis." Balas Pras, lalu mengambil handuk.
"Ya, Mas sana mandi. Jangan lama- lama." Ucap Britney, dan Pras ke kamar mandi.
Pras hanya diam tanpa menjawab ucapan sang istri. Britney membawa baju kotor suaminya, dan ingin meletakan di kantong baju kotor tapi sebelum itu.
"Kenapa aku suka mencium aroma baju suamiku? Sayangnya Mama, kamu kangen Papa ya, ini kenapa kamu suka kalau Mama cium kemeja bekas Papa kamu nak." Gumam Britney saat mencium dan memeluk kemeja bekas pakai suaminya.
Britney meletakan kemeja itu dengan berat hati, rasanya masih belum puas. Tapi Britney ingin membuat makanan dan minuman hangat untuk sang suami yang baru pulang.
Pras mandi dengan cepat, dan langsung ke kamar belakang untuk ganti baju. Lanjut mengambil air wudhu dan segera sholat maghrib. Waktu hampir telat, untuk menunaikan ibadah sholat maghrib.
Britney sibuk di dapur membuat sop isian jagung, kentang dan wortel. Mengiris tipis kentang lalu mulia mengorengnya, tidak lupa membuat kaldu bening. Jagung yang sudah di pipil tinggal di rebus. Merebus potongan wortel sampai berwarna cantik. Sayuran, ia letakan di sebuah mangkok. Kemudian di beri taburan bawang goreng, dan setelah itu membuat teh manis panas.
Britney tadi sore hanya membuat sambal, menggoreng ikan cuek dan juga tempe. Tapi ternyata hujan, perlu sop hangat untuk menu pembuka makan malam hari ini.
"Sayang, kamu masak apa?" Tanya Pras. Setelah selesai sholat dan memeluk sang istri dari belakang. Dagu Pras bersandar di bahu istrinya.
"Aku bikin sop. Sebentar Mas. Ini sudah selesai." Jawab Britney. Tangan kirinya mengelus pipi sang suami dengan lembut. Britney yang sedang menuang kaldu sop di mangkok tadi, tapi dia juga merasakan pelukan sang suami.
Pras melepas pelukannya. Mengambil mangkok sop yang panas itu. Mengangkat dengan hati- hati dan meletakan di meja makan.
"Emm, aku suka ini. Terima kasih sayangku." Ucap Pras. Dia memegang tangan istrinya yang ada di hadapannya. Setelah mencicipi masakan Britney dan rada sedikit asin tapi bagi Britney. Kalau kata Pras tidak begitu asin. Malah pas, dan rasanya enak.
Setelah mematikan kompor dan melepas celemek, Britney juga duduk di kursi meja makan, dan ikut makan bersama sang suami.
"Iya Mas, ini agak keasinan.' Ucapnya.
"Tidak masalah, tapi tidak berlebih asinnya." Balas Pras. Dia mulai makan nasi dengan sambal dan juga ikan cuek goreng.
Britney yang tadinya diminta untuk menyuapi sang suami di kala chat tadi siang. Malah sekarang Pras membuat istrinya makan dengan lahab dari tangannya.
"Udah Mas, aku bisa sendiri. Mas yang makan." Ucapnya.
Pras masih saja membuat istrinya agar makan.
"Aku menyuapi dedek utun juga. Seharian Papa tinggal, pasti kangen sama Papa. Apalagi tadi pagi kamu lemas di rumah, mana aku jauh dari kamu sayang. Pikiran aku selama di RM enggak bisa tenang." Ucap Pras.
__ADS_1
Pras tidak henti memandangi sang istri yang tersenyum di depannya. Britney sudah tampak segar, tidak seperti tadi pagi yang lemas karena kehabisan tenaga saat muntah-muntah.
"Mas, aku ini baik- baik saja. Lagian tadi aku cuma pusing biasa. Mual, muntah dan kehabisan tenaga. Kamu juga tahu, aku sering begitu." Balas Britney.
"Tapi tetap saja aku cemas. Kamu di rumah sendirian. Gimana aku bisa tenang. Apa kita perlu di rumah Kekek dulu, setidaknya di sana ada Kakek dan pembatu yang menemani kamu." Ucap Pras.
"Enggak Mas, aku besok mau kerja aja, biar Mas enggak kepikiran. Lagian aku cuma duduk manis, jadi aku juga bisa mengawasi karyawan aku." Balasnya dan Pras mulai tersenyum.
"Iya, bos aku cuti terus. Aku kerja jadi santai- santai." Ledek Pras dan Britney tersenyum.
Sudah jam 10 malam.
"Mas, ayo bobok." Ajak Britney dan Pras yang bersandar masih memegang laptop. Entah apa yang ia kerjakan. Sudah satu jam Pras menatap layar laptop.
"Iya sayang, sebentar." Ucap Pras sembari mengelus rambut istrinya.
Britney sudah tertidur, suara nafasnya sudah terdengar. Pras menoleh ke wajah sang istri, meletakan laptop yang sudah ia matikan. Dan kembali ke tempat tidur, tidak lupa mematikan lampu dan mulai terbaring.
Pras memeluk istrinya.
"Sayang, kamu bobok ya. Aku juga udah ngantuk." Ucap Pras sembari mengelus rambut halus istrinya.
Perlahan matanya redup dan tertidur. Suara dengkuran juga menyertai di waktu tidurnya.
Pras terlalu capek, dan sampai mendengkur. Apalagi setelah kena hujan jadi badannya tidak enak.
Dua jam kemudian.
"Mas, badan kamu demam." Ucap Britney setelah terbangun dari tidurnya. Britney merasakan hangat saat Pras memeluknya dan menjadi terbangun.
Pras dengan lirih berkata "Sayang, ayo bobok."
Britney memegang dahinya dan mulai mengambil termometer digital untuk mengecek suhu badan sang suami.
"Iya Mas. Kamu demam." Ucapnya, setelah ia melihat hasil suhu tubuh suaminya yang sudah menunjukan angka 39 derajat Celsius.
"Aku demam biasa. Sudahlah ayo bobok sayang." Ucap Pras.
Britney keluar kamar dan mengambil kotak obat. Bulan lalu Pras sendiri yang menyiapkan kotak obat di laci tengah kitchen set. Britney mencari obat penurun demam dan mengambil minum untuk suaminya.
"Mas, kamu minum obat dulu. Biar demamnya turun." Ucap Britney dan Pras mulai duduk bersandar.
Obat yang berbentuk tablet sudah di minum bersamaan air putih, dan Pras masih duduk bersandar. Matanya masih redup, dan badannya sangat panas. Pras beranjak ke kamar mandi dan Britney membuat teh hangat.
"Mas, kamu baik- baik saja kan? Apa kita ke dokter sekarang. Aku khawatir Mas." Ujar Britney setelah mereka di kamar.
"Aku cuma demam. Pasti besok aku juga sudah sehat. Aku cuma butuh istirahat. Ayo tidur lagi." Ucap Pras setelah minum teh.
Pras mulai tidur kembali tangannya masih memeluk sang istri. Britney tidak tenang dan masih memandangi suaminya yang tidur. Sudah dua jam berlalu, Britney masih belum bisa tidur. Perlahan Pras sudah mulai berkeringat, Britney kembali mengecek suhu tubuh suaminya, sudah turun tidak sepanas tadi. Tapi Britney masih saja khawatir.
"Mas, aku sayang kamu. Kamu jangan sakit." Ucap Britney memeluk erat suaminya. Perlahan Britney tidur, sudah jam 2 pagi lewat 15 menit. Sepasang suami istri itu akhirnya tidur. Britney yang tidur dan masih berpegangan tangan suaminya.
Subuh tiba.
"Sayang, bangun. Sayang... Bangun." Ucap Pras lalu mengecup kening istrinya.
"Emm.. Mas, kamu sudah bangun." Lirih Britney, perlahan mulai menyikap selimutnya.
Pras sudah rapi dengan peci dan sarung. Britney mulai memakai mukena. Mereka berdua sholat subuh berjama'ah.
Pagi menyambut diiringi do'a dari dalam kalbu.
Lantunan ayat-ayat suci dengan suara merdu.
Sepasang suami istri dalam perasaan syahdu.
Pras mencium kening Britney dengan rasa haru.
"Mmms... Jangan sakit." Ungkap Britney yang memeluk suaminya.
"Hemms.. Kamu mencemaskan aku. Aku cuma demam. Aku baik-baik saja sayang." Balas Pras, dan masih memeluk istrinya.
Britney yang masih memakai mukena putih dengan renda berwarna ungu. Sangat manis, memeluk suami yang masih demam.
"Kamu masih demam. Kamu hari ini tidak usah kerja dulu." Ucapnya dan menatap ke wajah Pras.
"Aku harus kerja, lagian aku cuma demam biasa sayang. Fisik aku kuat. Aku juga tidak merasa pusing. Kecuali aku pusing berat, berarti aku memang sakit." Ucap Pras untuk menghibur istrinya.
"Demam juga sakit Mas. Ya udah, Mas istirhat aja. Aku mau pesan bubur, habis Mas sarapan, minum obat, terus bobok lagi." Ucap Britney saat melepas mukenanya.
__ADS_1
"Bobok? Nanti aku ketiduran lagi. Kamu enggak bangunin aku lagi nanti." Ujar Pras.
"Emm.. Nanti telat satu jam enggak masalah. Penting kerja. Nanti aku juga ke kantor." Balas Britney, dan mulai keluar dari kamar belakang.
Pras mulai melepas sarung dan melipatnya. Peci yang ia pakai juga di letakan di atas sarung itu.
Britney mulai memesan bubur dari aplikasi, dan Pras mendekati istrinya. Pras berbaring dan tangannya memegang perut istrinya. Britney yang duduk bersandar masih asyik di depan ponsel. Tidak hanya memesan makanan, tapi dia juga mengirim chat kepada Evan.
"Sayangnya Papa. Kamu lagi apa? Papa kangen sama kamu. Papa cuma demam. Tapi Mama kamu cemas." Ucap Pras, saat mengusap lembut perut istrinya.
Britney hanya tersenyum mendengar percakapan Pras dengan anaknya yang masih di dalam perut istrinya.
"Dedek utun sayang. Peluk Papa, biar Papa sehat. Papa pengen dipeluk. Tapi Mama kamu sibuk sendiri." Ucapnya.
Britney semakin tersenyum. Tidak tahan, saat mendengar ucapan suaminya.
"Sayangnya Papa. Besok kalau libur, kita jalan- jalan ya. Dedek utun mau kemana? Ke Mall? Ke Bioskop? Atau ke Kebun Binatang? Papa suka jalan- jalan sama kamu sayang." Ucapnya, dan Britney semakin gemas dengan ucapan suaminya.
"Dedek utun maunya Papa istirahat dulu." Balas Britney, lalu mencium dahi suaminya.
Pras merasakan kasih sayang dari istrinya. Britney keluar rumah untuk menerima pesanan makanan paginya. Dua kotak bubur ayam sudah di terima. Britney tidak lupa membuat teh manis hangat.
"Mas makan, terus minum obat lagi. Nanti kita ke kantor, terlambat juga tidak masalah. Penting Mas bisa kerja." Ucap Britney.
Pras seperti anak kecil yang mengangguk saat dinasehati orang yang lebih tua darinya. Pras jadi ingat Bu'e dan juga masa lalunya, kala demam Bu'e juga sangat perhatian.
Morning.
"Mas, badan kamu sudah enggak panas." Ucap Britney dan menyentuh pipi suaminya.
Britney yang menyetir mobil, suaminya duduk sambil menatapnya.
"Iya, aku enggak sakit sayang. Kamu aja yang manjain aku terlalu berlebihan." Balas Pras, tapi sangat senang mendapat perhatian dari istrinya.
"Emm.. Kamu suami aku Mas. Emm.. Sekarang kamu juga jadi Papa. Aku enggak mau kamu sakit, aku engga mau Mas. Kamu harus sehat dan selalu di dekat kita." Ucap Britney sambil tangan kirinya mengusap perut.
Pras melihat itu dan tangan kanannya memegang perut Britney, berkata "Sayangnya Papa. Kamu lagi apa sayang? Dedek utun sudah mimik susu ya, emm.. Papa sehat. Papa janji, papa akan selalu ada di dekat kamu dan juga Mama. Sayangnya Papa harus sehat, harus kuat. Mama kamu lagi nyetir ini. Mama kamu juga kuat, Mama kamu wanita yang hebat. Papa bangga sama Mama kamu sayang." Ucap Pras dengan suara lembut dan tersenyum manis.
Mereka terlambat satu jam. Evan menunggu di lobby dan bertemu mereka. Evan sudah tahu kalau Pras tidak enak badan, dan Britney juga beberapa hari tidak ke kantor.
"Kalian, ini kantor bukan tempat berpacaran." Ujar Evan, yang melihat mereka berdua bergandengan mesra. Resepsionis juga memperhatikan mereka berdua dan tersenyum.
"Bang Evan, aku tahu kalau ini kantor. Tapi aku harus menjaga kesayangan aku. Dia lagi demam, jadi aku harus menjaganya." Balas Britney.
"Pak Evan, saya bisa menjelaskan. Bu Britney sepertinya sudah lupa. Saya akan masuk dulu, kalian bisa mengobrol." Ucap Pras, lalu mengedipkan matanya kepada Evan.
"Iya, silahkan. Saya juga mau bicara dengan wakil direktur, yang sering cuti mendadak." Balas Evan.
Pras tersenyum dan Britney menyungging bibirnya ke kanan, bertanya "Kalian berdua bersekongkol?"
"Maaf Bu Britney saya harus segera ke ruang Bu Nia. Saya ada rapat penting, sudah di tunggu yang lainnya. Permisi." Ucap Pras dan berjalan lebih dulu.
"Mas... Mas Pras, kamu ninggalin aku? Mas??" Teriak Britney dan tidak peduli ada beberapa orang yang melihatnya.
"Wakil direktur yang terhormat, mari silahkan ikut saya ke ruang pimpinan." Ucap Evan.
"Kalian menyebalkan." Balas Britney dan mulai berjalan.
Evan tersenyum melihat ekspresi Britney yang tampak kesal.
"Kita sudah dari tadi menunggu kamu." Ujar Evan.
"Siapa? Memangnya ada masalah apa?" Tanya Britney.
"Nanti kamu juga akan tahu sendiri." Jawab Evan dan Britney merasa bingung. Tidak biasanya Evan begini.
πΌπΌπΌπΌ
Hallo semuanya, semoga kalian semua sehat ya.
Mas Pras cuma masuk angin, efek kehujanan dan kepikiran istrinya. Siang tidak nafsu makan, jadi perut kosong kena guyuran hujan, demam deh malamnya. He.. He.. (padahal othornya yang K.O).
Mohon maaf semuanya, bila terdapat kata yang kurang asyiik, dan semakin hambar. Othor akan terus menulis cerita Mas Pras. Tapi tolong, Like, Vote dan komentarnya tambahin lagi ya , βπ
πΌπΌπΌπΌ
Buat kalian yang suka novel mengandung bawang bisa ke novel dibawah ini. Dijamin ikut syahdu.
__ADS_1