
Suasana malam di balkon kamar Britney. Kedua orang yang sedang berada dalam manisnya cinta, menatap jalan raya ibukota.
Rumah kakek Restu depannya jalan raya, banyak mobil berlalu lalang melewati rumah mewah itu.
Pras yang memeluk istrinya dari belakang membisikan kata "Sayang, takdir kita begitu nikmat."
Britney tersenyum, merasakan detak jantungnya seperti senandung cinta. Kalau bisa dilihat dengan alat pengukur debaran cinta, pasti angkanya lebih dari 100bpm.
sorry ya para single *AuthorHalu
Tangan halus Britney mengusap pipi sang suami. Kepala Pras posisinya bersandar ke depan, kedua pipi itu bahkan menempel. Sesekali sang suami menciumnya dengan lembut dan sangat manis.
"Mas, langit malam ini begitu cerah" ucap Britney yang menatap ke cahaya rembulan yang tampak bulat sempurna.
"Sayang, ayo kita ke kamar" ajak Pras karena jam sudah menunjukan pukul 21.30 WIB.
Setelah setengah jam di kamar, Pras tampak risau.
"Uuh... Aku ora iso turu." ucapnya dengan pelan, lalu menatap istrinya.
(Uuh... Aku tidak bisa tidur.)
Britney mendengar suara suaminya, lalu membuka matanya dan bertanya "Mas tidak bisa tidur?"
"Kamu belum tidur??" tanya Pras.
Britney mendekati suaminya dan memeluknya "Mas kenapa? Apa tidak nyaman tidur di kamar ini?"
Pras belum terbiasa tidur di kamar yang seperti ini, di hotel saja dirinya tidak bisa tidur dengan nyaman.
"He'em" balas Pras dengan menatap dekat wajah istrinya.
Bibir Britney cemberut dan tangannya mengusap rambut suaminya "Apa yang membuat mas risau? Apa kita pulang saja" ucapnya.
Pras lalu memeluknya dan berkata "Tidak perlu, aku hanya belum terbiasa."
"Mas, dulu masa kecilnya gimana??" tanya Britney yang ingin mendengar cerita dari suaminya.
"Aku kecil dulu bandel. Suka main diluar, kadang sampai lupa waktu. Umur 7 tahun, aku suka main kelereng. Aku punya kelereng sampai satu botol aqua ukuran satu liter" jawab Pras.
Britney berkata "Aku dulu mainan boneka. Sampai sekarang masih ada. Mas mau lihat?"
Pras juga penasaran, dia bahkan belum melihat foto kecil Britney, tapi istrinya sudah melihat foto kecilnya waktu di Semarang.
Di rumah kakek Restu hanya ada satu foto yang di bingkai besar di ruang tengah, itupun Britney sudah remaja dan bersama keluarga besarnya.
__ADS_1
"Ini kotak simpanan aku" ucap Britney saat dirinya mengambil kotak itu dari lemari. Box seperti koper yang cukup besar dan berwarna coklat muda.
Pras melihat saat Britney membukanya dan Pras tersenyum. Istrinya seperti berdongeng, saat Britney mengambil boneka alive yang bisa menangis saat dotnya ditarik.
"Tapi ini sudah rusak" ucapnya dan boneka itu satu-satunya yang tersimpan. Itu hadiah terakhir dari sang ayah, ketika Britney masuk playgroup.
Pras tersentuh mendengar cerita istrinya, Britney tidak menangis, Britney bahkan tersenyum dengan gemas waktu menceritakan ayahnya. Britney juga cerita tentang hari terakhir ayahnya mengantarkan Britney ke sekolah.
"Lalu ibu?" tanya Pras setelah mendengar cerita Birtney, awalnya Pras tidak ingin mencari tahu, tentang hal lalu. Bahkan Vanesa dan kakek Restu tidak menceritakan apapun. Pras hanya tahu dari Sarah, waktu sebelum dirinya menikahi Britney.
Pras waktu itu hanya diberi tahu Sarah, kalau sosok gadis itu anak yatim piatu. Sarah juga sudah menganggap gadis itu seperti putrinya sendiri.
"Ibu, sangat cantik" ucap Britney.
Britney memperlihatkan foto ayah dan ibunya di bingkai kecil, yang tersimpan di kotak itu juga.
"Ibu lebih dulu pergi, bahkan aku tidak sempat mengenali ibuku" ucapnya dan Pras menatapnya dengan syahdu.
Britney mengusap foto itu lalu menciumnya dan kembali berkata "Ibu juga yatim piatu, dulu tinggal di panti asuhan. Kemudian ada keluarga yang mengadopsi. Mereka tinggal di luar negeri. Tapi semenjak Omma meninggal dua tahun lalu. Aku tidak lagi kesana."
Ketika Britney bercerita tentang ibunya, raut wajah Britney berubah syahdu. Pras memeluk istrinya dengan rasa sayang. Britney merasa damai dalam dalam pelukan suaminya.
"Aku akan menjaga kamu" ucap Pras yang masih memeluk istrinya.
Britney merasakan pelukan suaminya semakin erat, lalu dia berkata "Terima kasih mas."
"Aku tahu dari tante Vanesa. Kamu tidak ingin perayaan pernikahan untuk kita. Karena kamu takut merindukan ayah ibu" ucap Pras dan Britney hanya mengangguk.
Britney menatap suaminya dan berkata "Mas, tapi kita bisa foto wedding."
"Iya, nanti kita akan foto. Ada Rendy, kamu tinggal memilih temanya seperti apa. Aku menurut saja." ucap Pras.
Karena sore tadi setelah keluarga membahas tentang pernikahan Evan dan juga tentang resepsi Maeva. Sebenarnya Vanesa juga ingin merayakan pernikahan Britney, tapi Britney menolak, dengan alasan yang penting adalah akad nikah bukan resepsi. Britney mengatakan kalau dia dan Pras sudah suami istri, untuk apa harus di rayakan lagi.
Setelah Britney memperlihatkan apa saja tentang masa kecilnya, mereka kembali ke tempat tidur. Sudah larut, mereka harus tidur. Karena besok pagi ada acara akad nikah Evan dan Ghea.
Pras yang merasakan hati istrinya dan matanya masih menatap lembut wajah istrinya.
"Mas, ayo bobo" ucap Britney yang sadar kalau suaminya masih menatap wajahnya.
Dalam hati Pras "Aku wae isih pengen cedak Bu'e"
(Aku saja masih ingin dekat ibu)
Bahkan setelah menikah saja, waktu pulang ke Semarang, Pras masih minta tidur di sebelah ibunya dan minta di usap-usap rambutnya.
__ADS_1
Tapi dari kecil, istrinya tidak merasakan hal itu. Pras merasa sakit dalam hatinya, tidak henti dalam hati mendoakan mertuanya yang sudah tiada.
Pras mencium kening istrinya, tanpa sadar ada ada yang membasahi pipinya. Britney mulai tidur, dan suaminya masih menatap dirinya. Tangan Pras tidak henti mengelus rambut istrinya.
"Sayang, aku janji akan menjaga kamu" ucapnya dengan rasa sesak dalam dadanya.
Evan juga pernah berkata, Britney sangat pandai menutup luka dalam hatinya. Walaupun semua keluarga menyayangi dia, tetap saja dia terluka.
Pernah suatu hari, Britney berumur 9 tahun, dia demam tinggi dan sangat merindukan ayahnya. Ferdi semalaman menjaga Britney dan Evan waktu itu sudah mengerti, pasti Britney juga ingin seperti Maeva yang sangat manja dengan abahnya.
Dari situ, Evan sangat peduli dengan Britney, dirinya lebih memperhatikan Britney dibanding Maeva. Tapi terkadang Maeva juga tidak suka dengan Evan yang lebih peduli kepada Britney.
Pagi tiba, suasana berubah bahagia.
Akad nikah kakaknya sudah berlangsung dan berjalan dengan lancar. Evan dan Ghea sudah resmi menjadi suami istri.
"Abang... Selamat" ucap Britney memeluk kakak kesayangannya.
"Iya sayang, berkat kamu juga." balas Evan.
Britney kembali berkata "Abang harus jagain Ghea, dia sahabat aku satu-satunya. Walaupun abang kakak aku, tapi perasaan Ghea juga penting."
"Abang akan ingat hal itu, pasti abang akan jagain istri abang. Kamu juga harus bahagia." ucap Evan tersenyum dan mengusap rambut adiknya.
Pras menatap kedua orang itu, lalu Ghea datang mendekati mereka. Ghea yang mengenakan kebaya putih dan dipadukan kain batik. Sangat cantik, terlihat anggun dengan gaya make-up sunda siger.
"Kamu sekarang jadi kakak aku, tapi aku tidak bisa memanggil kamu kakak." ucap Britney
"Aku juga tidak suka dipanggil kakak, bahkan usia aku lebih muda dari kamu. Aku juga tidak mau, kalau terbawa tua nantinya." balas Ghea dengan tersenyum.
"Aku sayang kamu Ghea" ucap Britney sambil memeluk sahabatnya.
"Aku juga sayang kamu" balas Ghea.
Pras sadar, kalau istrinya sangat terharu melihat pernikahan kakaknya. Britney memeluk Ghea dengan rasa haru, dan dia tidak henti memberi ucapan agar pernikahan kakak dan sahabatnya selalu diberkahi rasa bahagia.
Mereka berfoto bersama, empat orang dengan senyuman manis dan penuh cinta.
Cekreek... Cekrreek
"Aku bahagia melihat kamu tersenyum." ucap Pras.
"Aku bahagia, juga berkat kamu mas." balas Britney memeluk suaminya dan mereka selfie berdua.
Tidak lupa untuk berfoto dengan keluarga besar ketika di rumah, karena kakek Restu dan Vava tidak ikut. Hanya Vanesa yang ikut ke Masjid bersama keluarga Syarif.
__ADS_1
Sarah dan Ferdi bahagia melihat Evan sudah menikah, sekarang tinggal Maeva, yang sebentar lagi juga akan segera akad nikah dengan Rehan Husein.