PANGGIL AKU MAS!

PANGGIL AKU MAS!
Penerimaan Yang Terpaksa


__ADS_3

Sinar mentari menyelinap masuk dari kaca jendela kamar. Seorang wanita masih tidur dan berselimut tebal. Rasanya seperti waktu masih gadis, yang sering bangun siang disaat hari libur.


Setelah sholat subuh, Britney tertidur saat dirinya membaca sebuah novel nuansa islami.


Britney yang tadinya bersandar memegang buku, perlahan matanya redup dan sangat mengantuk karena pagi itu hujan turun, udara jadi terasa sangat sejuk. Britney tidur dengan pulas, Pras membaringkan istrinya dan menyelimutinya.


Sampai jam 7 pagi, Britney masih tidur nyenyak.


Sang mentari sudah mulai menampakan diri, setelah waktu subuh hujan cukup deras dan mendung, tapi sekarang sudah tampak cahaya menyilaukan.


Matanya yang sayup-sayup, dengan perlahan bangkit dari tempat tidur dan melihat jam di ponselnya.


"Hah? Jam 8. Pantas saja matahari sudah menyengat." ucapnya dan tampak gelisah.


"Mas Pras" gumamnya merasa khawatir.


Pras dihalaman depan rumah, tampak asyik mencuci motornya, tersenyum saat melihat istrinya keluar dan mendekatinya.


"Mas, maafin aku" ucap Britney dan tangannya menarik-narik ujung kaos Pras.


"Kenapa minta maaf?" tanya Pras dan dia berhenti mengelap motornya.


Britney merasa tidak enak hati, harusnya pagi ini sudah menyiapkan sarapan untuk suaminya dan bersih-bersih rumah, tapi dirinya malah keenakan tidur dengan nyenyak.


Setelah Britney bangun tidur, hendak mencuci pakaian, ternyata baju kotor sudah berpindah ke jemuran. Lantai rumah sudah berkilau dan harum semerbak aroma apel.


Britney berjalan ke dapur ternyata juga sangat rapi lalu melihat ke meja makan sudah ada lontong isi, pastel dan juga risol.


"Mmm... Mas sudah beresin semuanya." ketus Britney dengan cemberut, tangannya masih memilin kaos suaminya.


Pras menatapnya dan tangannya mengelus rambut istrinya. "Sayang, aku tahu kamu capek. Semalam aku sudah membuat kamu lelah."


Britney masih cemberut berucap "Mmm.. Tetap saja, harusnya mas bangunin aku."


"Sayang, cepat sarapan dan mandi, kita akan pergi ke kost." pinta Pras dan Britney beranjak pergi.


Britney tersenyum sendiri saat membuat teh hangat, lalu duduk di kursi dan makan lontong.


Britney tersenyum mengingat kejadian semalam.


Suaminya syok, dengan apa yang dipakai istrinya dan Britney juga dengan malu, menarik selimut seperti ulat bulu yang berubah jadi kepompong.


Pras tertawa dan merasa ada yang membuat dirinya terpingkal, bagaimana istrinya bisa memakai lingerie seperti itu.


Britney dengan gelisah menatap suaminya dan mengatakan kalau Ghea sudah menukar lingerie yang dia pilih. Pras lalu mengerti, kenapa dari tadi istrinya salah tingkah.


Pras dengan sabar membuat Britney tersenyum, dan memperlakukan Britney bagaikan permaisuri.


Britney tersipu malu, tapi sangat bahagia. Suaminya sangat pandai membuat suasana berubah romantis.


"Sayang" panggil Pras saat melihat istrinya senyum sendiri.


"Mas, sudah selesai cuci motor?" tanya Britney.

__ADS_1


"Sudah, aku mau mandi." jawabnya, lalu ke kamar mengambil celana dalam dan boxer.


Britney masih menatap suaminya yang berjalan ke kamar mandi dan Pras berbalik menatapnya "Sayang, kamu lihat apa? Kamu ingin mandi bareng aku?"


Britney tersentak, lalu menjawab "Tidak, aku masih belum selesai sarapan."


Britney dengan gemas, kenapa suaminya yang lebih muda darinya, tapi sangat pandai membuat dirinya terjatuh dalam sekejap.


Britney masih senyum-senyum sendiri, tapi gelisah karena perkataan suaminya.


"Mas... Kamu terbuat dari apa? Bahkan kamu lebih dari Oppa korea" gumannya dan menggigit risol dengan geregetan.


Satu jam kemudian


Triiing Triing... Suara ponsel Britney tidak henti berdering.


Pras mengangkat telfon itu, karena sudah 3 kali berdering disaat istrinya sedang mandi. Pras yang masih memakai sarung setelah sholat dhuha lalu mengangkatnya.


Pras mengehela nafas saat menerima telfon itu dan dirinya cukup terkaget.


Setelah menutup panggilan itu. Pras melepas sarung dan pecinya, meletakan di lemari ujung kamar belakang.


Yuppss..


Kamar kedua rumah itu di gelar karpet, ada lemari putih besar dengan isian baju kerja mereka dan juga aksesoris Britney. Sebelahnya ada lemari susun untuk tempat mukena, sarung dan sajadah.


"Mas, siapa tadi yang telfon aku?" Tanya Britney, karena ia juga mendengar suara ponselnya yang memanggil.


"Vava di rumah sakit. Tadi gurunya yang telfon." jawab Pras, lalu Britney melihat ponselnya dan benar itu dari wali kelas Vava.


"Ayo mas, kita berangkat." ucapnya yang duduk di kursi kiri.


Pras mengemudi mobil itu dan menuju ke rumah sakit, jalanan tampak lenggang. Hanya macet sebentar di perempatan jalan ke arah Jakarta.


Setengah jam kemudian mereka tiba di rumah sakit swasta yang cukup ternama. Rumah sakit itu juga sangat dekat dengan sekolah Vava.


Vava sekolah di SMA swasta internasional. Yang terkenal mewah dan mahal. Mungkin gaji Pras saja tidak cukup untuk membayar spp di sekolah Vava.


Grrethhs!!


Saat pintu terdorong dan ada sosok yang Vava kenal masuk ke kamar pasien. Saat melihat kedatangan Pras, dirinya jadi membeku.


"Kenapa Mrs. Carla harus telfon kakak." bantin Vava dengan gelisah.


Britney lebih dulu berbincang dengan wali kelas Vava, karena guru itu menunggu di depan pintu kamar pasien. Pras dengan santai menatap adik iparnya, Vava yang duduk bersandar dan tampak menunduk.


Pras duduk di samping tempat tidurnya dan bertanya "Kenapa bisa jatuh? Katanya anggota cheerleader paling hebat di sekolah."


Vava tidak menjawabnya, hanya cemberut dengan kekesalan. Vava juga ketua cheerleader, setiap hari sabtu jadwal untuk kegiatan ekstra sekolah.


Britney setelah berbincang dengan gurunya Vava, langsung mendekati adiknya dan memeluknya "Sayang, untung kamu baik-baik saja. Tidak cedera serius."


"Iya, tapi kaki Vava sakit. Padahal mau tanding." ketus Vava.

__ADS_1


"Nanti juga pulih. Soal tanding, kamu sudah sering juara, kasih kesempatan untuk yang lain." ucap Britney menggoda.


"Kenapa kalian kesini? Vava baik-baik saja." ketusnya dengan kesal.


"Benar, kamu baik-baik saja. Padahal tadi kita sangat khawatir. Ternyata kamu cuma terkilir." balas Britney.


"Ya sudah kalian pulang, aku tidak butuh kalian berdua." ujarnya.


Vava semakin kesal setelah Pras merebut kakak kesayangannya, seandainya belum menikah pasti Vava masih termanjakan seperti dulu.


Vava bukan hanya sakit hati karena patah hati. Tapi Vava membenci Pras, karena membawa kakak kesayangannya pergi dari rumah kakeknya.


Dulu dengan Bram awalnya Vava juga tidak suka, tapi Bram sangat pandai mengambil hati Vava, dia juga memanjakan Vava. Akhirnya Vava menerima Bram sebagai calon kakak iparnya.


Ternyata takdir berkata lain, kakaknya yang dia sayang menikah secara mendadak dan suaminya adalah cinta pertama dirinya.


"Bang Pras kejam. Sudah pisahin adik sama kakaknya" ucap Vava dengan kesal dan Pras menatap bingung.


Britney tersenyum melihat ekspresi Vava. "Mas, Vava sudah menerima kamu."


Pras menatap istrinya dan bertanya "Memangnya aku kejam?"


"Iya, mas terlalu kejam. Adikku jadi kesal" jawab Britney.


"Ok, aku kasih waktu hari ini buat kalian berdua." ucap Pras.


"Cuma hari ini?" tanya Vava dengan pelan.


"Aku tidak mau seperti waktu itu. Aku akan pulang, tapi besok akan datang menjemput kakak kamu." jawab Pras.


"Mas" Britney mengedipkan mata dan Pras mengerti dengan kode istrinya.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Pras.


Vava hanya diam dan tidak berkata apapun.


Vanesa masih berada di luar kota karena pekerjaannya, lalu menelfon Britney.


Britney keluar dari kamar itu dan mengangkat panggilan Vanesa. Pras masih menatap Vava dengan penasaran.


"Apa kakakku sangat bahagia?" tanya Vava dengan suara pelan.


"Kakak kamu sangat bahagia. Aku akan membuat istriku selalu bahagia bersamaku" jawab Pras.


"Aku harap bang Pras tidak menyakiti kakak, seperti kak Bram. Kalau sampai itu terjadi, Vava tidak akan tinggal diam" ucapnya dengan tegas.


"Memang kamu mau berbuat apa? Lagian aku juga satu kantor sama kakak kamu. Mana ada aku seperti itu" ucap Pras.


"Bisa saja itu terjadi. Aku tidak mau melihat kakakku sakit nantinya. Tolong jaga kakakku dengan baik" ucap Vava.


Pras mendengar hal itu cukup nyaman.


Vava sudah memahami keadaan saat ini. Vava tidak lama di rumah sakit, Pras mengantarnya pulang dan Britney juga akan menemani adiknya, besok Britney dijemput suaminya.

__ADS_1


Britney lega, akhirnya Vava menerima Pras menjadi kakak iparnya.



__ADS_2