PANGGIL AKU MAS!

PANGGIL AKU MAS!
Tentang Perasaan Gadis Belia


__ADS_3

Senja bewarna jingga perlahan pudar, dan akan tergantikan dengan malam yang datang bersama bulan dan bintang-bintang. Sang gadis belia duduk menatap langit malam itu, dan merasa ada yang salah dalam dirinya.


"Kenapa juga Bang Pras kesel sama Vava. Emang Vava salah kalau datang kesini. Bang Pras yang udah rebut Kakak dari Vava." Gumam Vava. Kedua kaki Vava menekuk di atas dan kedua tangannya merangkul kaki itu. Duduk di kursi santai di teras rumah, cukup membuat Vava nyaman. Walaupun sedikit ada kekesalan dalam dirinya.


"Padahal dulu masih manis. Walaupun dia marah, tapi masih senyum. Tapi tadi, matanya tajem amat. Suaranya pelan, tapi kejam banget. Vava sampai tercekek sama ucapannya." Vava yang menggerutu dengan segala kekesalannya terhadap Kakak iparnya.


Britney dan Pras sedang ada di Mushola untuk sholat berjama'ah. Dari sebelum maghrib sampai sholat isya'. Jadi Vava di rumah itu sendiri, dan cukup meluapkan kekesalannya.


"Kakak Britney emang nggak lihat apa, kalau Bang Pras itu nyebelin. Awas aja nanti kalau di rumah Kakek. Aku bikin kesal balik, biarin aja sekalian dia marah. Huft." Vava yang masih bergeming dan mengerutuki perkataan pedas untuk Pras.


Tidak lama sepasang suami istri itu kembali, dan Britney menghampiri Vava. Vava masih diam dan tak beranjak dari kursi santai itu. Entah kenapa, Pras juga menatap aneh Vava.


"Ini bocah kenapa lagi? Dari matanya melototin aku??" Batin Pras.


"Sayang, kamu kenapa duduk di luar?" Tanya Britney.


"Vava takut di dalam sendirian. Mendingan di luar." Jawabnya dan masih di posisi yang sama.


Pras menyunging bibirnya menarik alis sebelah kanan dan berkata "Tumben, kamu punya rasa takut."


"Memangnya apa yang Bang Pras tahu soal Vava? Bang Pras bisanya marahin Vava. Nggak dulu, nggak sekarang, marahin Vava terus." Jawabnya dan semakin cemberut.


"Kamu berlebihan. Aku nggak niat marahin kamu, aku cuma peduli sama kamu." Ucap Pras dan mendekati Vava duduk di sebelahnya. Pras yang melepas peci cukup tertegun.


Britney yang masih memakai atasan mukena, berdiri di sebelah Vava dan memeluknya, sambil mengusap rambut adiknya itu.


"Sayang? Kamu kesal sama Mas Pras?" Tanya Britney.


"Nggak Kak." Jawab Vava yang mulai menunduk, menutupi wajahnya.


"Iya, aku minta maaf. Kalau aku udah berlebihan. Aku bukannya mau marah, atau sok nasehatin. Aku begini karena aku peduli sama kamu, sama keluarga aku. Kalau kamu sampai terluka, pasti Britney dan yang lainnya juga akan akan sedih." Ucap Pras.


Vava hanya diam, dadanya mulai terasa sesak, perlahan air matanya dengan lembut membasahi wajah cantiknya, dan dia tidak berkata apapun.


Britney dan Pras saling mengedipkan mata, dan memberi kode.


"Vava, Mas Pras itu sayang sama kamu. Dari dulu udah sayang dan cinta sama kamu. Mas Pras nggak mau kamu terlibat masalah, dan melihat kamu sakit." Ujar Britney.


Pras menatap ke istrinya dengan bibir manisnya bergerak tanpa suara "Kapan aku sayang dan cinta sama dia? Hemms."


Britney membalas tatapan Pras lebih tajam "Biar adikku aku nggak nangis lagi." Ucap bibir sensual itu tanpa mengeluarkan suara.


Pras menggeleng dengan kesal. Ternyata istrinya menempatkan dirinya di poisisi yang salah, sejak kapan sang suami, punya rasa sayang dan cinta sama adiknya itu. Yang ada kesal dan selalu ingin menghindar.


Vava yang meneteskan air mata itu perlahan mengusap wajahnya dan berkata "Vava menangis bukan karena Bang Pras, tapi Vava nyesel. Vava selalu buat masalah. Nggak di sekolah, nggak di rumah, dan setiap bertemu orang, Vava selalu memaki. Kemarin juga. Vava jadi ingat bapak- bapak itu. Vava tidak meminta maaf, malah melemparkan uang."


Mendengar hal itu Britney dan Pras menjadi terkejut.


"Kamu nabrak orang? Bapak-bapak??" Tanya Britney dan Pras hanya menghembuskan nafasnya yang tertahan saat mendengar hal itu.


"Iya, tapi Vava nggak sengaja. Dekat sekolah Vava, ada penjual ketoprak." Jawabnya yang masih menangis.


"Kamu sadar kalau kamu salah. Besok kita cari bapak itu, kamu harus meminta maaf dan bertanggung jawab sayang." Ucap Britney dengan rasa sesak di dalam dadanya.


Pras menunduk dan melipat pecinya dengan gemas. Tapi rasanya juga sangat tidak nyaman, bagaimanapun Vava sekarang adiknya, dan Pras juga harus peduli terhadap keluarga istrinya.


"Besok aku antar kamu mencari bapak itu. Terus aku antar kamu pulang." Ucap Pras dan berdiri lalu meninggalkan Vava dan Britney begitu saja.


Britney tidak bisa berkata apapun, suaminya sakit tapi masalah Vava, menambah beban suaminya. Yang seharusnya sang suami beristirahat, tapi malah harus seperti ini.


"Vava bisa sama Bang Evan, Bang Pras biar istirahat saja." Ucap Vava.


Britney dengan rasa sesak dalam hatinya, butiran- butiran air bening perlahan menetes dari ujung kelopak matanya, berkata "Sayang, sepertinya besok kita harus pulang ke Pondok Indah, dan keluarga harus tahu tentang kamu sayang. Kakak juga menyesal, selama tinggal disini, Kakak tidak peduli sama kamu."


"Kakam, maafin Vava." Ucapnya dengan sesenggukan.


Vava yang lahir tanpa seorang Ayah, hanya Vanesa yang membesarkan seorang diri.

__ADS_1


Biasanya Britney yang lebih mempedulikan Vava selama di rumah itu. Kakek Restu juga hanya memanjakan Vava dengan fasilitas, bahkan apa saja permintaan Vava dan Kakek menurutinya. Vanesa juga begitu, dia bisa peduli dengan Britney tapi tidak dengan anak kandungnya. Vanesa juga hanya memanjakan Vava. Tidak peduli, Vava yang memiliki watak keras kepala, dan selalu bersikap sombong bila berhadapan dengan orang lain.


Yuuppss!!


Vava yang belum pernah merasakan kasih sayang Papanya. Dari kecil hanya Abah Ferdi dan Evan, sosok pria yang memperhatikannya. Sama seperti Britney, tapi Abah Ferdi tidak terlalu dekat dengan Vava, seperti Britney yang lebih bermanja dengan Abah Ferdi.


Vanesa dulu hamil semasa kuliah di luar negeri, dan pacarnya pergi meninggalkannya. Setelah itu, Vanesa kembali ke rumah dan tidak mengatakan siapa Papa kandung Vava. Sampai sekarang, Venesa tidak mengatakan, siapa Papanya Vava dan dimana tinggalnya.


"Kakak sayang kamu. Jangan menangis lagi. Besok biar Bang Evan kesini, nanti kita semua akan mencari bapak itu." Ucap Britney yang berusaha menenangkan sang adik.


Walaupun hanya adik sepupu, tapi Britney tinggal serumah, dari Vava lahir Britney sudah sangat menyayanginya. Bahkan yang tadinya namanya Vallezia Varrez tapi Britney menyingkatnya jadi Vava. Akhirnya semua keluarga memanggilnya dengan nama Vava.


"Sayang, ayo masuk. Kakak mau ganti baju." Ucap Britney setelah meredam perasaannya. Vava juga sudah mulai tenang dan tidak berkata apapun.


"Kakak masuk aja, Vava masih mau duduk disini." Balasnya dengan senyum, saat menatap wajah Britney.


Britney masuk ke dalam rumah, Vava masih merenungi kesalahannya. Semua nasehat Kakak iparnya memang benar, dan dia memang harus bisa menjaga dirinya dengan baik. Britney sudah berkeluarga, apalagi sedang hamil. Kalau sampai terjadi masalah dengan Vava, pasti Britney lebih sedih. Pras tidak ingin itu terjadi dengan istrinya.


"Mas, kamu marah?" Tanya Britney seraya melipat mukena. Pras di kamar belakang membersihkan karpet dan menggelar kasur kecil.


"Aku tidak marah. Benar, tadi aku nasetin Vava. Habisnya, kalau ada apa-apa sama Vava, kamu lebih baper. Aku nggak mau kamu sakit, apalagi sekarang kamu lagi hamil." Jawab Pras.


Setelah merapikan mukenanya, Britney mendekati suaminya dan memeluk punggung suaminya, lalu berkata "Aku tahu Mas, terima kasih udah peduli sama keluarga aku."


Pras masih di posisi membelakangi istrinya dan berkata "Aku sayang sama istriku, aku juga harus menyayanginya keluarganya."


Britney belum melepas pelukannya dan berkata "Mas, maaf nanti malam kamu tidur sendirian."


"Iya, demi istriku. Aku tidak masalah." Balas Pras dan mulai membalikan badannya lalu berkata "Aku cinta sama kamu Britney, aku tidak mau kamu bersedih. Aku tahu kamu sangat menyayangi Vava, tapi kamu harus ingat, saat ini kamu hamil, jangan terlalu berfikir tentang masalah orang lain, baik itu Vava atau lainnya."


"Iya, bojoku. Aku ngerti, aku akan menjaga dedek utun kita. Mas, nggak perlu cemas." Ucap Britney dan memberikan kecupan manis di bibir manis sang suami.


Kedua bibir yang saling menyentuh lembut dan merasakan hal manis untuk keduanya. Mereka berdua keasyikan, sampai tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar rumah.


Pyaaaar!!! Dszzzt!


"Loe modus." Teriak Vava dengan keras.


"Siapa juga yang modus?!" Balas Aksa dengan rasa tidak nyaman.


"Memangnya gue setuju, loe potho-potho gue. Loe video gue." Ketus Vava.


"Gue____." Ucap Aksa yang tidak dilanjutkan dan memang dia tidak ijin waktu merekam saat Vava menangis.


"Loe sengaja rekam gue, terus mau loe sebarin di medsos, kalau ada yang nangis gara-gara nabrak loe, iya, gitu!!!" Teriak Vava.


Pras dan Britney mendengar teriakan Vava mereka berdua langsung keluar rumah.


"Vava sayang, kamu kenapa?" Tanya Britney, melerai adiknya yang matanya sudah sebab.


Aksa masih menatap Vava dan mematung, Pras melihat ke wajah Aksa, lalu bertanya "Aksa, kalian ada masalah apa lagi?"


"Aksa kesini mau anterin ini buat Tante Britney dari Bunda. Terus tadi lihat Vava yang nangis, Aksa video dia, Vava tahu langsung ambil HP Aksa, dibanting. Itu HP Aksa." Jawab Aksa dan menunjuk ponselnya yang masih di dekat pot bunga.


"Vava, jangan begitu sayang." Ucap Britney setelah mendengar perkataan Aksa.


Vava hanya melotot ke wajah Aksa dan tidak berkata apapun. Aksa menyadari kalau dia juga salah, lalu berkata "Maaf Tante Britney, Aksa yang salah. Vava benar, harusnya tanpa seijin Vava, Aksa tidak merekamnya."


Setelah itu Aksa meletakan kantong hitam ke meja ruang tamu. Lalu dia mengambil ponselnya yang sudah retak. Pras tidak bisa berkata apapun, dan Britney juga hanya diam. Vava masih dengan rasa kesal terhadap Aksa.


"Ponsel kamu rusak. Nanti Tante akan ganti." Ucap Britney yang melihat Aksa merapikan ponselnya.


"Tidak apa-apa Tante. Aksa masih ada HP satunya." Balas Aksa.


Vava masih menatapnya dengan rasa tidak suka dan muak.


"Aksa, ayo ikut aku." Ucap Pras setelah mengambil kunci motornya, dan ingin mengajak Aksa pergi keluar, untuk mengobrol dengan Aksa.

__ADS_1


Aksa yang diam dan mengikuti ajakan Pras. Britney mangajak sang adik masuk ke dalam rumah. Britney yang tadinya ingin berganti baju, tidak jadi karena mendengar teriakan sang adik.


"Vava, kontrol emosi kamu sayang." Ucap Britney, dan mengambil piyama yang ada di dalam lemari.


"Apa nanti Bang Pras tidur di kamar ini?" Tanya Vava untuk mengalihkan masalah tadi. Vava tidak ingin membahas soal Aksa.


Britney yang mengerti juga ingin mencairkan suasana hati adiknya dan berkata "Iya, Mas Pras udah bikin tempat khusus untuk tidurnya. Malam ini dia mau tidur disini. Kamu sama kakak di kamar depan."


Vava dengan tersenyum, langsung berbaring dan berkata "Vava aja yang tidur disini, Vava jadi merasa di tempat camping."


"Hemms. Kamu sama Kakak aja, Kakak juga kangen sama kamu." Ucap Britney.


"Nggak, Vava mau disini aja. Ini enak, udah harum juga spreinya. Vava suka disini." Ucap Vava dan mulai memeluk guling dengan erat.


"Ya sudah terserah kamu. Kakak mau ganti baju dulu." Ucap Britney.


Vava terlihat garang, tapi dalam hatinya terdalam, Vava sosok yang rapuh. Tidak ada yang tahu hal itu, kecuali dirinya sendiri dan Tuhannya. Vava beberapa hari lalu mendapatkan sebuah pesan, dan mangatakan kalau dia itu Papa kandungnya. Vava hanya menyimpan seorang diri.


Sang Mama sudah cukup terkenal di dunia sosmed. Tidak banyak gosip miring tentang dirinya dan Vava tidak peduli hal itu.


"Papa? Aku tidak percaya." Ucapnya dan dalam hatinya sangat tidak suka.


Britney selesai berganti baju, melihat bungkusan plastik yang di bawa Aksa tadi. Ternyata ada dua kardus kotak ukuran besar. Isinya kue bolu ketan yang utuh, dan satu kardus adalah ayam bakar utuh, lengkap dengan lalapan juga sambal.


WhatsApp


[Bu RT terima kasih banyak, saya jadi merepotkan β˜ΊπŸ€—.]


[Tidak apa-apa Bu Britney, saya juga senang. Tadi sore Aksa minta ayam bakar, jadi sekalian saya buatkan untuk Bu Britney. πŸ€—πŸ€—]


Britney cukup senang, dan menyajikan di atas meja makan.


"Sayang, kamu makan ya. Ini ada ayam bakar dari Bu RT. Kamu dari tadi belum makan nasi." Ucap Britney.


Vava yang ke dapur mengambil minum, akhirnya duduk di kursi meja makan dan menatap menu di atas meja.


"Oke. Vava mau makan." Balasnya dan Britney mengambilkan nasi hangat, meletakan di meja. Vava dengan tersenyum lalu mengambil lauk yang dia inginkan. Vava suka ayam kremes, tadi sudah di belikan, tapi dia tidur dan tidak makan sama sekali.


"Udah nggak renyah, tapi aku suka. Udah lama tapi baru menyapa." Ucap Vava.


"Tadi masih renyah kamu tidak mau makan. Memangnya siapa yang menyapa?" Tanya Britney.


Vava menikmati makannya dan bertanya "Kakak tahu siapa Papa kandung Vava?"


Deegh!


Britney dengan wajahnya tidak nyaman dan cukup kaget. Sudah lama sekali Vava tidak menanyakan hal itu. Kenapa jadi tanya itu lagi, Britney berkata "Kakak nggak tahu. Hanya Mama kamu yang tahu."


Di sebuah coffea shop Pras dan Aksa sedang membicarakan Vava. Perlahan, ada seseorang yang tampan mendekati mereka berdua.


🌼🌼🌼🌼


Hallo pembaca hebat, apa kabar? apa kalian masih suka dengan cerita Mas Pras? ✌😎


Semoga kalian suka dengan cerita di Bab ini, walaupun sedikit drama, tapi ini bukan cerita bawang merah atau bawang bawangan. Othor nggak bisa kasih bawang merah, hehehe. 🀭


Jangan lupa berikan jelak manis berupa Like, Komentar, Vote dan Rate 5.


Terima kasih


Salam othor ambyar πŸ™


🌼🌼🌼🌼


Perkenalkan, novel romantis karya sahabat author yang membawa perasaan manis. πŸ˜πŸ€—


__ADS_1


__ADS_2