PANGGIL AKU MAS!

PANGGIL AKU MAS!
Vava Akhirnya Menyerah


__ADS_3

Di tanah yang miring sebuah mobil honda jazz warna merah terparkir. Terdengar suara nyaring dan masih berdebat. Entah, siapa yang salah. Yang jelas, Vava si gadis 17 tahun itu. Tidak menyerah dan tidak merasa bersalah.


"Mana lihat dulu SIMnya??" Tanya pemuda yang usianya sekitar 21 tahun.


"Buat apa?? Memangnya loe polisi?!" Vava yang memakai seragam sekolah, dan kedua tangannya berkacak pinggang. Menatap tajam pemuda itu, dengan sorot mata bagaikan singa betina yang buas, dan ingin menerkamnya hidup-hidup.


Hufft!


"Oke, kalau begitu kita ke kantor polisi saja!!" Teriak Pemuda itu, dan masih menatap Vava dengan tidak senang.


Vava pagi-pagi hendak ke rumah Britney, setelah tahu kalau Pras, abang yang pernah singgah di hatinya itu sedang sakit.


Vava tadinya mau ke sekolah. Sudah rapi dan sangat cantik. Tapi saat di meja makan, Kakek Restu mengatakan kalau Pras tidak enak badan. Vava langsung bergegas pergi ke Depok. Vanesa sang Mama hanya tersenyum, saat melihat tingkah putri semata wayangnya itu.


"Loe udah nabrak gue. Tapi loe nggak merasa bersalah sedikitpun?!" Ujar pemuda itu dengan keras.


"Iya, loe yang tiba-tiba nyelonong di depan mobil gue. Yang salah loe, bukan gue. Noh lihat, mobil gue juga lecet." Balas Vava dengan suara yang nyaring.


"Eh, bocah! Gue udah baik-baik. Tadi ada orang- orang, gue bilang nggak ada masalah. Kalau loe begini, gue bisa panggil warga sekitar sini. Lihat belakang loe, mereka masih lihatin loe." Teriak Pemuda itu.


Vava diam dan melihat sekelilingnya, masih ada beberapa orang yang melihat ke arah Vava dan pemuda itu. Mereka masih berdebat, setelah tadi kendaraan mereka berdua bersenggolan. Pemuda yang menunggang motor jantannya, tiba-tiba diseruduk sama si merah menawan.


Hemmss!


"Loe butuh duit berapa??" Tanya Vava, dengan santai dan mencoba mengambil ponsel dari sakunya.


"Loe emang nggak punya etika sama sekali. Loe harusnya minta maaf dulu sama gue. Tanya keadaan gue. Tanya itu motor gue gimana. Loe main gampang aja. Kalau begini, gue lebih baik telfon polisi." Ujar Pemuda itu, lalu mengambil ponsel yang ada di kantong jaketnya.


Vava mendengar hal itu, berlari mendekat dan merampas ponsel pemuda itu dengan cepat.


Sssstthh!


"Please gue mohon. Kita damai, oke. Kita damai aja. Gue minta maaf sama loe. Gue antar loe ke dokter. Iya, gue yang salah. Gue tadi itu buru-buru, soalnya Kakak gue lagi hamil, terus suaminya lagi sakit. Jadi gue kepikiran sama Kakak gue. Yah, kita damai. Kalau loe, nggak percaya gue telfon Kakak gue. Atau loe mau ikut gue, kita bahas disana." Rayu Vava dengan suara pelan.


"Jujur gue nggak ada waktu buat ngladenin gadis macam loe. Tapi gue korban, lihat motor gue. Dari tadi loe ngelak terus." Ketus Pemuda itu.


"Ya udah, kita bahas di rumah Kakak gue aja. Gue salah, gue minta maaf. Ayo, itu jalan ke kiri, tinggal lurus terus. Nah sebelah kanan, ada perumahan puri anggrek. Disitu tempat tinggal Kakak gue."


"Heeh, loe bilang perumahan puri anggrek?" Tanya Pemuda itu.


"Iya, Kakak gue tinggalnya di perumahan puri anggrek." Jawab Vava dengan tersenyum tapi pahit.


"Gue juga tinggal di puri anggrek. Tadi, gue dari rumah baru keluar gerbang, ke kiri lurus, mau ke kanan Duuuaaarr!! Loe nabrak gue." Ujar Pemuda itu dengan jelas.


"Iya, udah kita ke rumah kakak gue. Nanti kita bahas disana. Gue minta maaf sama loe." Ucap Vava dan menunduk.


Pemuda itu mengikuti perkataan Vava, dan dia juga kembali ke puri anggrek.


Vava yang mengendarai mobil dan masih tidak percaya apa yang baru saja dia alami. Seorang pemuda yang berani meneriaki dia, dan belum pernah ada yang seberani dia, melawan Vallezia Varrez kecuali Pras. Vava juga sangat takut kalau berhadapan dengan Prasetya Wardana.


Setelah semalaman tidak tidur, karena kehilangan tetangga dekatnya. Pras dan Britney masih duduk termenung bersandar tempat tidur.


Suasana di rumah almarhum juga sepi, tadi setelah subuh masih ada beberapa tetangga yang berdatangan untuk mendo'akan almarhum Bagas. Setelah jam 7 pagi, sudah tidak ada siapapun yang datang, kecuali beberapa kerabat yang menjaga rumah itu.


"Mas,...."


"Sayang, kamu dari tadi enggak tidur?" Tanya Pras.


"Aku enggak bisa tidur. Aku kepikiran kita. Mas, kamu jangan sakit."


"Aku udah sehat. udah nggak demam lagi sayang."


Satu persatu rasa sendu menyatu dalam jiwa,


Gelisah hati tak menentu dan sangat menyiksa,


Perasaan sedih dengan teguh dan terus berdoa,


Pasangan ini berharap agar semua baik baik saja.


"Aku kepikiran sama Bilqis." Ucap Britney.


"Iya sayang. Aku juga memikirkan Bilqis. Kamu tahu, waktu itu aku tanya sama Mas Bagas, kalau jadi Papa gimana rasanya? Katanya Mas Bagas lebih bersemangat dan aku juga mulai ngrasain hal itu, semenjak kamu hamil."


Kedua orang ini saling menyadarkan kepalanya, Britney bersandar di bahu suaminya dan Pras juga menyandarkan kepalanya. Tangan kanan Britney memegang erat tangan kiri suaminya. Mereka berdua masih mencerca hal ini. Semua terasa mendadak, bahkan Almarhum Bagas awalnya sehat dan baik-baik saja. Tapi ternyata serangan jantung membuatnya tidur untuk selama-lamanya.


Hiikkks! 😒


"Mas, kamu juga harus jaga kesehatan. Jangan maksain diri. Kurangin begadangnya."

__ADS_1


"Iya, sayang. Aku juga udah jarang begadang. Kamu tidak perlu cemas."


Biim Biim.


Tidak lama setelah itu, terdengar klakson mobil yang nyaring.


"Mas, siapa yang datang?"


"Nggak tahu. Coba aku lihat, siapa yang datang."


Di luar pagar sudah ada yang mematung.


"Ini rumah kakak loe?


"Iya, ini rumah kakak gue."


Klek!


Greet!!


"Pagi Bang Pras." Sapa Vava, dengan suara nyaring, dan crunchy seperti kerupuk yang renyah.


"Vava, ternyata kamu." Balas Pras.


Pemuda itu menatap Pras, dan betanya "Om Pras, dia beneran adiknya Om Pras?"


Pemuda yang sangat tampan, dengan penampilan trendy khas anak muda dan menawan. Yang biasa bertemu Pras saat dia sholat maghrib berjama'ah di mushola, yaitu Aksa Ardiwiguna. Anak pertama dari Pak RT dan Bu RT.


"Aksa. Kamu tumben pagi-pagi kesini? Ada apa?" Tanya Pras dan Aksa hanya menyalami Pras dengan mencium tangan Pras.


"Jadi beneran loe tinggal di komplek ini?" Tanya Vava yang menoleh ke wajah Aksa.


"Gue, emang tinggal di perumahan ini. Rumah Ayah gue noh yang tadi di lewati. Paling ujung, kanan jalan. Gue anaknya Pak RT. Puas loe." Jawab Aksa yang sangat jelas, dan masih kesal.


Pras mengerutnya keningnya, dan memegang bawah bibirnya, menatap kedua orang yang saling gencar beradu, tampak dari sikap dan perkataan keduanya.


"Heii... Kalian, ayo masuk dulu. Nggak enak sama tetangga depan. Ada yang berkabung, malah ribut di luar." Ucap Pras dengan pelan, dan mengajak mereka berdua masuk ke dalam ruang tamu.


Britney penasaran dengan apa yang terjadi di luar, Britney keluar dari pintu kamarnya.


"Kakak, Vava datang." Ucap Vava saat berlari, dan langsung memeluk Britney.


Vava masih memeluk Britney, dan Aksa masuk ke dalam bersama Pras.


"Sayang, kamu bolos sekolah?" Tanya Britney.


"He'em. Aku bolos sekolah. Lagian ini hari jum'at nggak banyak pelajaran. Tadi waktu sarapan, Kakek bilang Bang Pras sakit, aku jadi kepikiran Kakak. Padahal Kakak lagi hamil, harus ngurusin orang sakit. Kakak baik-baik aja? Gimana kabar dedeknya tante?" Dengan suara gemas, perlahan memegang perut Britney.


Britney hanya tersenyum dan Pras hanya diam. Pagi-pagi si bawel udah datang, bukannya jadi sembuh, Pras jadi semakin pusing, kalau mendengar suara Vava.


"Pagi, tante Britney." Sapa Aksa yang terbiasa memanggilnya tante.


"Aksa, kamu kesini juga. Tumben, ada apa?" Tanya Britney, dan Aksa mencium tangan Britney.


"Kakak, tadi mobil Vava nyeruduk motornya dia. Tadi dia marahin Vava. Masak Vava mau di bawa ke kantor polisi. Huuuaaaaa." Ucapnya dengan suara manja, dan Pras semakin pusing mendengar suara nyaringnya Vava.


"Sudah, ayo duduk dulu. Jelasin sama Kakak. Jangan nangis dong." Ucap Britney, dan mengajak duduk di sofa.


Aksa duduk lebih dulu, mulai bercerita kronologi kejadiannya. Pras hanya diam, dan Britney juga mendengarkan cerita dari Aksa.


"Idiih. Loe yang tiba-tiba ada di depan gue. Gue jadi kaget. Loe pinter juga ngarang ceritanya." Ketus Vava.


"Emang bener, loe yang salah. Dari tadi masih ngeyel, minta maaf aja kagak." Balas Aksa.


Pras dan Britney bingung, keduanya masih saja adu argumen.


"Loe budeg ya? Jelas-jelas gue udah minta maaf."


"Gue tahu. Tapi itu, gara-gara loe takut. Waktu gue bilang mau laporin loe ke polisi. Awalnya apaan, loe tanya keadaan gue aja kagak. Malah, loe bilang, butuh duit berapa. Heeeh!!" Ujar Aksa yang tidak terima.


Britney menatap keduanya "Sudah, tenang dulu. Jangan pakai emosi. Nggak enak sama tetangga depan. Mereka masih berkabung, disini malah pada ribut begini."


"Maaf tante Britney, kalau Aksa tidak sopan." Ucap Aksa.


"Memangnya ada yang meninggal?" Tanya Vava yang tidak tahu.


"Loe, emang nggak lihat ada bendera kuning di pagar tetangga depan!" Seru Aksa.


"Mana gue tahu. Gue nggak lihat." Balas Vava.

__ADS_1


Pras mulai berkata "Kalian berdua, memang cocok. Aksa dan Vava, perdebatan yang manis."


Pras tersenyum dan Britney tersenyum manis, sambil memegang tangan Vava.


"Aksa. Maafin adiknya tante Britney. Vava memang begini. Jadi tante yang akan bertanggung jawab. Kamu pasti juga sakit. Nanti biar Om Pras antar kamu ke dokter. Nanti Tante juga akan bicara sama Ayah kamu. Jadi Tante mohon, kita berdamai saja."


Aksa menunduk diam, sebenarnya Aksa juga tidak terluka. Tapi dia hanya ingin sikap baik dari Vava, dan Vava bertanggung jawab atas motornya yang tergores.


"Aksa mengerti Tante Britney. Sebenarnya Aksa juga tidak terluka. Tapi dari tadi dia udah ngeyel duluan. Di pinggir jalan situ tadi, kita berdebat panjang. Tadinya ada orang yang mendekat, tapi Aksa bilang baik-baik aja. Eh, yang nabrak malah berkilah. Untung aja tadi Aksa nggak apa-apa, kalau sampai Aksa pingsan, dia bisa diamuk sama orang-orang." Ucap Aksa dengan pelan.


Pras menghela nafas panjang "Vava, kamu harus minta maaf sama Aksa."


"Bang Pras, tadi itu Vava udah minta maaf." Balas Vava dengan egonya.


"Sayang, kamu nggak boleh begitu. Kamu minta maaf yang tulus. Kakak tahu, kamu bersalah, ayo kamu minta maaf." Ujar Britney.


"Vava nggak salah." Desis Vava pelan dan Britney mendengarnya.


Semua diam dan menatap Vava dengan teduh, Vava mulai tidak enak, berkata "Aksa, maafin gue. Emang gue yang salah. Tadi gue mau jalan ke kiri, tapi gue lupa malah lurus, terus ngegas, jadinya gue nabrak motor loe. Maafin gue ya, gue mohon sama loe, jangan laporin gue ke polisi. Gue janji akan tanggung jawab. Gue akui, gue yang salah."


Aksa masih diam, Pras menggeleng saja. Britney mengelus rambut Vava dan berkata "Vava, kamu seharusnya bilang seperti itu sayang, kenapa harus berdebat. Kalau kamu salah, kamu yang harus meminta maaf, bukannya di tegur dulu baru kamu minta maaf. Kamu sudah lupa ajaran-ajaran di tempat sembahyang. Hemss, kakak nggak mau Vava begini, Aksa bukan sahabat kamu yang bisa kamu aja berdebat, seperti Nicholas, Jihan dan Hanny. Ya sudah, kamu jangan menangis. Kakak tidak marah, tapi kakak juga kecewa."


Vava masih menunduk dengan deraian air mata yang mengalir lembut. Pras mengambilkan tisue dan mengelap wajahnya, Britney juga hanya diam dan memeluknya erat.


Walaupun adiknya bersalah, Britney juga bersyukur kalau Aksa baik- baik saja. Tidak terbayangkan, kalau Vava sudah menabrak orang, dan sampai orang itu terluka parah. Pasti saat ini Vava sudah di kantor polisi, dan akan menerima hukuman. Aksa hanya kaget, dan motornya hanya lecet di bagian tertentu.


"Sudah, jangan menangis. Kakak sayang kamu, Tuhan juga masih melindungi kamu sayang. Yang penting kalian berdua baik-baik saja." Ucap Britney.


Pras keluar bersama Aksa, untuk melihat seberapa parah motor dan mobil Vava tergores.


"Om Pras, sebenarnya Aksa juga tidak serius tadi. Habisnya dia ngeyel aja. Ya gitu, Aksa juga bisa teriak dan marahin dia." Ucap Aksa.


"Udah, nggak apa-apa. Vava memang begitu, dia terlalu di manja. Yang penting kalian baik-baik saja." Balas Pras.


Mereka berdua kembali masuk ke dalam rumah, Vava di kamar mandi, dan Britney di dapur untuk membuatkan minuman.


"Aksa, memangnya tadi kamu mau pergi kemana?" Tanya Britney, setelah meletakan minuman di atas meja ruang tamu.


"Tadi mau ke tempat pertandingan futsal. Ada temen yang mau tanding, jadi pengen nonton." Jawab Aksa.


Pras berjalan ke belakang, dan Vava baru keluar dari kamar mandi.


"Bang Pras ngapain ngelihatin Vava begitu?" Tanya Vava saat Pras menatapnya dengan senyuman aneh.


"Nggak apa-apa, kamu punya mobil baru udah lecet- lecet. Kamu sering nabrak?"


Vava menutup mulut Pras, dan menatap tajam "Bang Pras diem, atau aku___"


Pras menjauhkan tangan Vava dan berkata "Atau apa? Aku nggak bilang, Britney juga pasti tahu. Nggak mungkin itu cuma gara-gara nabrak motor Aksa doang. Belakang kebentur tembok, Iya? Emang Mama atau Pak Sakir nggak ngecek mobil kamu?"


"Udahlah, itu cuma tergesek dikit waktu di parkiran sekolah. Udah diem, nanti Kakak ceramahin Vava." Balasnya.


Pras menatapnya dingin, dan Vava tidak berani melihat tatapan Kakak iparnya itu.


Britney duduk di sofa dan minum teh. Aksa juga menikmati kopi pagi buatan Britney. Mereka berdua berbincang soal kegiatan Aksa. Mereka tidak mendengar Pras, yang sedang sedang menasehati Vava.



🌼🌼🌼


Hallo para pembaca tercinta, 😘


Semoga kalian suka cerita di bab ini. πŸ€—


Hari ini othor dapat ilmu dari author hebat,


agar meningkatkan tulisan othor ambyar. 🀩


Memang benar, tulisan othor masih acak-acakan, dan asal menulis saja. Level juga di bawah dan tidak berubah sama sekali. 🀭🀭


Othor mohon, buat pembaca. Tolong kasih saran othor, dan kritik yang membangun. Othor butuh dukungan dari para pembaca tercinta, soalnya othor masih harus banyak belajar. πŸ˜‰πŸ™


Terima kasih πŸ™πŸ€—


🌼🌼🌼


Buat kalian yang suka dengan cerita tentang CEO, kalian bisa mampir di novel karya sahabat author di bawah ini. πŸ‘‡πŸ€—πŸ€©


__ADS_1


__ADS_2