
Malam minggu, dimana jiwa muda meronta untuk merasakan kebebasan masa mudanya. Jalanan ibukota dengan hiruk pikuk yang ada, semakin menjelang malam, jalanan semakin bising.
Cuaca malam ini tidak seperti kemarin, sangat terang. Bahkan terlihat bulan yang tampak cahaya bundar sempurna.
Beewwmmm!!
"Kita mau kemana?" Tanya Vava yang sebenarnya enggan untuk pergi.
"Emmss kita ke Depok. Gue ada kencan." Jawab Jihan.
Vava tampak gelisah, jangan-jangan mereka akan ke Kafe Senja. "Depok?? Tempatnya??"
"Kafe Senja. Memangnya kenapa?" Tanya Jihan.
Hhuuffftt!!
Vava mendengar itu seketika membeku.
Hanny menatap Vava sepertinya tidak senang, lalu dia bertanya "Vava, loe dari kemarin badmood muluk? Ada masalah? Cerita dong!!"
"Nggak, gue baik-baik ajah. Cuma lagi malas." Jawab Vava.
Nicholas yang sibuk menyetir mobilnya, karena sangat macet, dia berusaha untuk lebih cepat, dari tadi mobilnya sudah mepet.
"Ketempat yang lain aja. Lagian macet parah." Ucap Vava.
Nicholas yang ada di depan Vava menggoda, "Hemms... Biasanya loe yang paling semangat, Nicholas buruan... Gue mau ketemu abang tampan. Kenapa loe berubah?"
"Resek loe." Ucap Vava yang tampak kesal.
Nicholas dari spion dalam mobil, melirik Vava yang cemberut dan Nicholas berfikir Vava pasti lagi ada masalah.
Sekarang jam 19.40 WIB dan mobil Nicholas sudah berhenti di halaman parkiran Kafe Senja.
Vava dengan malas berjalan dengan mereka. Nicholas mendekatinya. "Loe kenapa? Nggak seperti biasanya."
Vava tidak mempedulikan Nicholas.
Mereka sudah dapat tempat duduk. Walaupun sangat ramai, Jihan sudah meminta teman kencannya untuk memesan tempat lebih dulu.
Vava duduk di kursi paling ujung, jadi dia tidak akan melihat Pras. Hanny mengambil daftar menu, lalu ada pelayan menghampiri mereka.
Tiiikkttokk... Tiiikkkttokk...
Setengah jam sudah Vava dan sahabatnya berada di Kafe Senja. Pras yang di pantry tidak tahu ada Vava, kemudian ada pelayan yang ketemu Vava, lalu mengatakan kepada Pras.
Pras melepas apronnya dan menghampiri meja Vava.
Deegh!
"Sial, kenapa bang Pras malah jalan kesini sih." Bantin Vava dengan gelisah. "Gimana kalau mereka jadi tahu, kalau dia suami kakak gue."
__ADS_1
Vava sangat gelisah, dia beranjak pergi tapi tasnya malah menyenggol gelas.
Pyaaaarrr!!
Gelas berisi es vanila latte yang masih setengah isi itu jatuh pecah. Kepingan kaca itu melukai kaki Vava dan Pras langsung mendekatinya.
Nicholas yang disebelahnya juga terkejut.
"Vava, kamu tidak apa-apa?" Tanya Pras.
Vava yang gemetar karena kaget, masih berpegang pada kursi dan Pras memegang lengannya.
"Vava, enggak apa-apa" Ucap Vava dan Pras melepaskan tangannya.
Pelayan mendekati mereka dan mengambil pecahan gelas itu. Hanny mendekati Vava dan Jihan juga teman kencannya berdiri menatap Vava.
"Vava, mau ke toilet." Ucap Vava dan Hanny mengikutinya.
Pras membantu pelayan membersihkan pecahan gelas itu.
Nicholas menatap aneh. "Bang, bisa kita ngomong sebentar."
Pras mengangguk dan Nicholas mengajak ke samping Kafe.
"Abang tahu, kalau Vava suka sama abang?" Tanya Nicholas.
"Iya, tahu." Ucap Pras.
"Tidak. Aku sudah menikah." Ucap Pras.
Nicholas berfikir mungkin karena ini, Vava jadi berubah. "Vava tahu abang sudah menikah?"
"Sudah, makanya aku mau ngobrol sama dia. Aku juga berharap dia mengerti." Ucap Pras.
Nicholas tidak bertanya banyak, dia akhirnya pergi dan Pras menyusul Vava ke toilet. Hanny melihat Pras datang dan meninggalkan mereka berdua.
"Vava, aku mau ngomong sama kamu." Ucap Pras.
"Iya, abang ngomong ajah." Ucap Vava.
"Aku tahu keadaan kamu. Aku tidak mau kamu dan Britney menjadi jauh. Kakak kamu sangat mencintai kamu, dan aku sekarang suami kakak kamu. Aku harap kamu mengerti." Ucap Pras.
"Aku tahu. Aku tidak akan mengganggu kalian. Tapi aku tidak bisa menerima abang sebagai kakak iparku." Ucap Vava dengan rasa sesak dalam dadanya.
Nicholas menceritakan kepada Hanny dan Jihan. Kalau Pras sudah menikah. Karena itu sahabat mereka menjadi sedih.
"Baik, kalau kamu masih seperti itu. Tapi aku sudah menganggap kamu seperti adikku sendiri, dari awal kita kenal disini, aku hanya menganggap kamu seperti adikku. Apalagi sekarang kita jadi saudara." Ucap Pras.
"Iya, Vava tahu. Vava mau ke depan." Ucap Vava dengan menahan rasa yang ada dalam dadanya.
Pras juga tidak tega dan merasa kasihan. Tapi tidak ada jalan lain. Bagaimanapun mereka akan sering bertemu dan mereka satu keluarga.
__ADS_1
Di tempat lain, Britney menata kue buatannya ke dalam kotak kue. Setelah dari pengajian, Sarah mengajak Britney ke dapur untuk membuat bolu tape juga brownies.
Maeva yang baru pulang menatap Britney yang tersenyum "Hemmss.... Britney, kamu perhatian amat sama suami kamu." Ketus Maeva.
"Harus dong. Sama suami harus perhatian." Ucap Britney.
"Memang kamu sudah mengenal dekat suami kamu? Kalian menikah dadakan. Terus Vava, ternyata suka sama suami kamu." Ucap Maeva.
"Aku berusaha mengenal suami aku. Aku tahu hal itu, suami aku sudah cerita. Vava memang suka, wajarlah kalau perasaan suka. Tapi aku percaya suami aku dan juga adik aku." Tegas Britney.
Sarah yang di dapur berjalan ke meja makan dan melihat kedua perempuan ini tampak saling menyerang.
"Maeva, kamu juga mau bikin kue untuk Rehan?" Tanya Sarah berusaha menengahi mereka berdua.
"Enggak, Rehan tidak suka makanan manis. Lagian buat apa aku belajar masak. Rehan harus siapin pembantu kalau dia sayang istrinya." Ucap Maeva dan Sarah hanya tersenyum.
"Iya, pembantu kamu harus ada lima. Satu di dapur, satu di ruang tamu, satu di halaman belakang, satu di halaman depan, dan satunya di kamar. Jadi kamu tidak perlu sibuk mengurus suami kamu." Ucap Britney.
"Ide yang bagus. Aku tidak akan capek seperti kamu." Balas Maeva.
"Benar, kamu perlu pelayan. Nanti yang mengurus kamar harus yang muda dan cantik. Biar Rehan puas." Ucap Britney menggoda.
"Maksud kamu apa? Kamu menyuruh pelayan menggoda suami aku?" Tanya Maeva dengan kesal.
"Bukan. Perasaanmu terlalu sensitif. Maksud aku asisten pribadi. Nanti bisa nyiapin air mandi, pakaian dan make-up buat kamu. Asistennya harus cantik, jadi kamu akan lebih cantik. Rehan pasti akan puas." Ucap Britney.
Evan menyela "Apasih ini?? Dua adik perempuan, kalau bertemu selalu berdebat."
"Abang, masak Britney nyuruh pelayan buat godain Rehan. Bener, sumpah!! Dia bilang aku disuruh cari asisten yang cantik." Ucap Maeva.
"Britney apa itu benar?" Tanya Evan.
"Benar abang. Tadi dia bilang, tidak ingin sibuk mengurus suaminya. Abang bilang sendiri kemarin, seorang istri harus tahu kesukaan suami, dan mengurus kebutuhannya." Britney melirik Evan "Bukankah begitu bang Evan??!"
"Emmss benar, Maeva kamu harus belajar dari Britney. Kemarin abang sudah kasih nasehat. Sepertinya nanti abang juga perlu menasehati kamu." Ucap Evan.
"Enggak.. Nggak perlu.. Mamah... Ini mereka kompak ngerjain Maeva." Maeva mengadu.
"Mamah, maksud Britney bukan begitu." Pembelaan Britney.
Sarah tersenyum "Anak Mamah sebentar lagi menikah, besok kita belajar masak untuk Rehan."
"Enggak!!! Kalian semua bersekongkol kan??!!Maeva nggak mau memasak. Maeva enggak mau dengerin kalian." Ucap Maeva dan dia langsung kabur dari ruangan itu.
Britney tertawa dan Evan tersenyum "Anak Mamah sepertinya tertukar. Mamah perlu test DNA."
Sarah tersenyum mencubit Evan "Evan... Jangan bilang begitu. Maeva adik kamu."
Maeva memang berbeda dengan mereka semua, tapi Maeva tersenyum di dalam kamar, menatap foto keluarganya. "Britney aku iri sama kamu, dari kecil kamu paling cantik, dan paling disayang sama semua keluarga. Tapi aku juga sayang sama kamu. Sepupuku yang nyebelin, semoga kamu bahagia. Mmmuuuaach!!"
Britney juga merasakan hal yang sama, Britney hanya suka menggoda Maeva, tapi Britney sayang Maeva. Setelah berdebat dengan Maeva, Britney jadi teringat Vava dan merindukannya. "Vava, kamu lagi apa sayang?"
__ADS_1
Tidak lama Britney kembali ke kost dan Pras masih di Kafe Senja. Setelah kejadian tadi, Vava langsung pulang bersama sahabatnya.