PANGGIL AKU MAS!

PANGGIL AKU MAS!
Pendamping Hidup Pras


__ADS_3

Siiikk... Sikkk.. Srriikkkk...


Gesekan sikat lantai terdengar mengerit.


Byuurrr....


Siraman air dari gayung dengan deras.


Tidak lupa dengan memberinya pembersih lantai yang wangi buah apel.


Britney setelah mencuci pakaian, Britney menggosok lantai kamar mandi. Setelah sholat subuh Pras kembali melanjutkan tidurnya, karena semalam begadang bersama teman-temannya bermain game di depan kamar.


Heemmmss


Pras mendengar suara itu langsung menuju kamar mandi dan mendekati istrinya "Sayang, sudah biar aku saja." Ucap Pras sembari tangannya menarik sikat lantai itu.


"Mas... Aku tadi habis nyuci. Lantainya harus digosok biar nggak licin." Ucap Britney.


"Kamu bisa bangunin aku. Sudah sana, aku yang bersihin." Pinta Pras dan Britney keluar kamar mandi dengan bibir yang cemberut.


Pras menggeleng melihat ekspresi sang istri.


Britney yang masih mengenakan baju tidur melangkah ke depan dan ingin menggantungkan jemuran di teras depan yang sudah ada tempat untuk menjemur baju. Tapi Britney mengurungkan niatnya, karena banyak orang di samping dan dirinya merasa malu.


"Kenapa banyak orang yang belum pergi. Padahal sudah hampir jam delapan." Gumam Britney.


Pras setelah menggosok lantai, keluar kamar mandi dan melihat Britney yang mematung menghadap pintu kamar.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Pras.


"Mas, aku mau jemur baju di depan. Tapi aku malu, di kamar sebelah banyak orang." Ucap Britney.


"Mana embernya, aku saja yang jemur." Ucap Pras, kemudian mengangkat ember kecil berwarna biru.


Britney bergegas membuka kopernya dan mengambil satu stel baju santai dan menuju ke kamar mandi. Tidak lupa membawa handuk kering diselempangkan dipundak kanannya.


Pras menjemur baju dan Anton mendekatinya "Kak, rajin amat. Baru bangun sudah jemur baju." Ucap Anton.


"Kamu juga tumben sudah bangun, padahal tadi baru selesai mabarnya." Ucap Pras.


"Aku belum tidur, ini baru selesai mandi. Mau beli ketoprak dulu. Kakak mau nitip nggak??" Tanya Anton.


"Boleh, beliin dua bungkus. Tapi satunya jangan pedas. Duitnya nanti." Ucap Pras sembari tangannya mengaitkan kaos ke hanger.


"Siaap...." Ucap Anton lalu bergegas ke parkiran motor dengan seorang teman. Ada teman kuliah Anton yang menginap dan itu sudah biasa. Pras juga cukup mengenal mereka.

__ADS_1


Pras meletakan ember dipojok dekat pintu kamar mandi, Pras mengetuk Britney kenapa tidak ada suara air. "Sayang, kamu mandi?"


"Iya, aku lagi ganti baju." Jawab Britney.


Pras berajalan ke tempat tidur dan kembali berbaring. Britney keluar kamar mandi, kepalanya terikat handuk putih dan menatap suaminya "Mas, aku pengen makan ketoprak." Pinta Britney mendekati suaminya.


"Anton sudah membelinya." Jawab Pras.


Britney dengan penasaran "Anton? Kamu menyuruhnya?"


"Iya, Anton menawari aku. Aku titip saja. Dia juga sama temannya." Ucap Pras.


Britney penasaran tentang Anton dan juga beberapa temannya. Mereka juga baik waktu kemarin Britney datang, Anton bergegas ke rumah ibu kost dan melihat Anton sosok anak muda yang baik. Usianya juga seumuran Pandu.


Pras menceritakan tentang Anton yang keterima di Universitas Negeri itu, dia juga sangat cerdas. Dan dia juga jauh dari keluarganya. Padahal Pras baru mengenalnya, tapi sudah sangat akrab.


Tidak berselang lama Anton mengetuk pintu yang terbuka itu. Britney menghampirinya dan menerima satu kantong plastik makanan.


"Anton, ini uangnya." Ucap Britney memberikan uang merah kepada Anton.


"Nggak ada yang kecil kak? Aku harus tuker dong." Ucap Anton karena tidak ada kembaliannya.


"Buat kamu aja. Buat jajan." Ucap Britney.


"Ah... Kakak.. Aku jadi nggak enak." Ucap Anton.


"Baiklah, aku terima. Makasih Kak." Anton setelah menerima uang itu kembali ke kamarnya.


Pras masih dikamar mandi. Britney mengambil piring dan sendok. Lalu membuat dua gelas teh hangat.


Pras yang keluar kamar, sudah melihat istrinya yang menggelar karpet lantai dan duduk menunggunya.


"Mas... Buruan duduk." Pinta Britney.


Sungguh hal yang tidak terbayangkan, seorang Britney yang dari lahir sudah terdidik dan hidup dengan limpahan materi. Tapi Britney juga bisa menyesuaikan diri dengan baik dalam lingkungan kehidupan Pras.


Pras bersyukur, dia semakin menambah persaannya. Tidak henti Pras menatap istrinya. Dengan senyuman yang manis Pras mengecup pipi merona itu. "Aku sayang kamu."


"Emmss.. Aku juga. Ayo, mas makan dulu." Ucap Britney yang sudah mulai makan, tapi suaminya dari tadi hanya menatapnya.


Sarapan dengan ketoprak bungkus, pagi ini sangat terasa nikmat. Biasanya dikala sabtu dan minggu pagi, Pras hanya berbaring diatas tempat tidur juga kesepian. Sekarang sudah ada yang mendampingi dirinya, dan untuk seumur hidupnya.


Setelah keseharian bersama istrinya, Britney yang bersantai menonton drama korea dan Pras tidur di samping istrinya. Britney juga tidak henti mengelus rambut suaminya. Britney merasakan seperti menikmati masa pacaran.


Sore tiba setelah sholat ashar, Pras sudah rapi dan bersiap ke kafe. Britney dengan rasa tidak senang. Tapi Pras masih harus kesana, menunggu orang yang menggantikannya. Pras sudah ingin keluar dari Kafe Senja, tapi sang pemilik masih berat hati. Apalagi dikala sabtu dan minggu kafe itu sangat ramai.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan ke rumah Mamah. Aku bisa belajar mengaji sama Mamah." Ucap Britney.


"Aku janji tidak akan nakal. Kamu hati-hati kalau menyetir. Salam buat Mamah sekeluarga." Ucap Pras lalu beranjak pergi.


Britney yang masih memegang kunci kamar yang diberikan Pras, lalu mengikuti Pras sampai tempat parkir. Setelah suaminya pergi, Britney juga bersiap untuk segera ke rumah Sarah.


Britney tiba di rumah Sarah, ada Maeva yang bersiap dengan calon suaminya.


"Assalamu'alaikum....." Salam Britney yang melihat mereka berdua.


"Waalaikumsalam..." Mereka menjawab salam bersamaan.


Rehan hanya selikas menatap Britney, karena dia selalu menjaga pandangan terhadap lawan jenis.


"Kak, Mamah mana?" Tanya Britney.


"Mamah lagi pengajian. Di rumah cuma ada Abang. Abah juga pergi nganterin kakek ke Bogor." Ucap Maeva.


"Owh... Iya kalau Abah aku tahu. Kakek kemarin sudah bilang." Ucap Britney lalu bergegas masuk ke dalam rumah itu.


Maeva juga langsung pergi dengan Rehan untuk melihat gaun pengantinnya.


Rehan Al-Husein adalah calon suami Maeva. Rehan juga lulusan Universitas Negeri yang ternama itu. Sekarang Rehan mengelola usaha toko smartphone di daerah Depok.


Pras sudah membuat kopi, tangan itu sangat terampil, Pras dengan aura yang sedang bahagia terpancar dari wajahnya.


"Pras, senang bener. Loe pasti lagi jatuh cinta." Ucap Dony yang melihat wajah Pras tampak berseri.


"Iya gitu.. Memang kelihatan?" Tanya Pras.


"He'em.. Kelihatan banget malah, loe senyum-senyum sendiri." Ucap Dony.


"Gue jatuh cinta sama istri gue." Ucap Pras dan Dony yang mendengar itu kaget.


Dony yang penasaran bertanya "Loe udah merried? Kapan? Gue nggak terima undangan?"


"Jum'at lalu gue nikah, terus sabtu gue ijin itu balik ke Semarang." Ucap Pras.


"Waaah... Keren loe. Tapi bakal banyak yang patah hati, apalagi si Vava. O ya, sabtu lalu Vava nungguin loe di meja no.5. Gue kasian lihatnya. Kalau tahu loe sudah merried gimana perasaannya." Ucap Dony.


"Emmss... Iya Vava, dia sudah tahu. Sampai sekarang Vava masih marah sama gue." Ucap Pras.


"Iya, walaupun masih bocah. Sepertinya emang doi berharap lebih sama loe." Ucap Dony.


"Ntahlah, gue sudah berusaha menjauh. Tapi tetap saja jadi tidak nyaman. Sudah mulai ramai, sana kerja." Ucap Pras dan Dony kembali ke tempatnya.

__ADS_1


Mendengar ucapan Dony, Pras jadi memikirkan keadaan Vava yang masih marah. Sampai sekarang Vava belum bisa menerima Pras sebagai keluarga barunya. Pras akan berusaha untuk jadi kakak ipar yang baik, bila Vava sudah menerima dirinya.


__ADS_2